Halimatunisa: Gadis Kecil Yang Penuh Hikmah

Namanya Halimatunisa. Dia salah satu anak dari abangnya mama. Usianya 13 tahun. Kini dia menjadi anak bungsu di rumahku, setelah si Sameera. Kami memanggilnya Nisa. Nisa mulai tinggal di Manislor saat momen Clean The City 01 Januari 2017. Dia yang memaksa ayahnya untuk ikut ke Manislor. Ingin tinggal di Manislor. Ayahnya pun kaget, sama halnya seperti aku dan keluarga besar mama. Nisa selama ini justru paling tidak suka berlama-lama liburan di Manislor. Namun, di awal tahun 2017 dia membuat keputusan itu. Dan dia ikut ayahnya mudik tanpa sepengetahuan ibunya. Ibunya sibuk ikut qosidahan di RT dan RW. Setelah 2 pekan tinggal di Manislor, dia baru menceritakan alasannya ingin tinggal di Manislor. Dia selalu mimpi almarhum abah (ayahnya mama dan ayah dia). Dia merasa bersalah dan sedih, dulu dia tidak mau tau kabar abah. Sibuk dengan dunianya. Makanya, sekarang dia tidak mau menghilangkan kesempatan untuk kedua kalianya. Dia ingin menemani emak yang sudah tua. Dia pun kabur dari pondok pesantrennya.

Iya, dia dikompori oleh ibu dan saudara ibunya untuk pondok di pesantren. Pesantren yang khusus untuk baca alquran dan mendetoksifikasi orang sejenis Nisa yang kecanduan gadget, serta mendoktrin agar Nisa tidak ikut apa yang diyakini oleh ayahnya. Dan yang membuat kami kaget, ternyata pesantrennya masih di bawah binaan Arifin Ilham dan konco-koncone. Waw, bertolak belakang dengan keluarga di Manislor. Nisa sekarang memiliki cita-cita untuk bisa membaca Alquran dengan benar. Soalnya dia sangat sadar dengan disleksia yang dia bawa dari lahir. Baginya, dengan menguasai Alquran, itu sudah cukup menjadikannya seorang anak yang shalihah dan bisa selalu mendoakan kedua orangtuanya dengan makharijul huruf yang baik. Itulah latar belakang dia masuk pondok pesantren. Katanya dia mau menguasai Alquran dulu, baru melanjutkan sekolahnya di tingkat SMP.

Ayahnya sangat bahagia dia mau pindah ke Manislor. Sudah sejak lama ayahnya ingin anak-anaknya pindah. Namun pengaruh ibunya sangatlah kuat untuk anak-anaknya. 2017, tahun penuh karunia bagi Nisa. Karunia (yang menurutku) dari jawaban atas doa-doa, salah satunya doa-doa dari almarhum abah selama hidupnya. Kami selalu memikirkan anak-anak dari abangnya mama. Dibesarkan dari ibu yang hanya bai’at di formulir dan lingkungan Jakarta yang butuh tenaga ekstra untuk mendampingi tumbuh kembang anak.

Begitu tau Nisa tinggal di Manislor, aku pribadi sangat bahagia. Adik perempuanku akan bertambah satu. Memang dibutuhkan kesabaran saat berinteraksi dengannya. Sabar menyimak dia berbicara yang terpatah-patah dengan artikulasi yang kurang jelas. Sabar mencari metode yang pas untuk dia bisa menerima penjelasanku saat sedang belajar Alquran. Alhamdulillah si Sameera sudah lulus PPTQ juga. Jadi aku tak sendiri untuk berproses bersama Nisa.

Aku pernah bertanya kepada Nisa tentang alasan dia ingin bisa mengaji. Meski sangat sulit meluruskan lidahnya yang agak kelu untuk makharijul huruf yang benar. Dia menjawab dengan penuh optimis dan kepasrahan yang tulus bahwa Allah pasti akan membuka pola pikir Nisa dan membuka otak Nisa jadi cerdas. Dia optimis dengan menguasai Alquran, nanti Allah akan menguasai semua pelajaran di sekolah.

Alhamdulillah. waktu datang dia hanya hapal cangkem dengan artikulasi yang berantakan. Tapi kerja keras tak akan pernah mendustai hasil. Sekarang lidahnya tidak sekelu pertama kali dia datang ke Manislor. Dia tak pernah bosan untuk mengulang. Sehari bisa 5 kali dia mengaji iqra’. 30 menit setiap kali belajar. Jadi dalam sehari dia bisa menghabiskan 150 menit. Dan setiap mengawali mengakhiri belajar, dia selalu membaca doa untuk kedua orangtua. Dalam waktu belajar berarti 10 kali dia mendoakan orangtuanya. Belum lagi kalau shalat.

Alasan ayahnya tidak setuju dengan nisa pondok pesantren karena ayahnya tidak ingin keturunan-keturunannya keluar dari bahtera yang penuh nikmat. Nikmat yang paling utama dan gak semua orang bisa merasakannya adalah nikmat kenabian. Jadi, ayahnya ingin Nisa kembali ke asal. Ikut gaya hidup emak yang selalu melaksanakan seluruh ibadah fardhu dan sunnah. Bagi ayahnya, hidup satu rumah dengan emak sama saja seperti di ponpes. Bahkan lebih baik dari ponpes.

Ayahnya pernah cerita kepadaku saat aku masih lajang. Ayahnya sempat menyesal telah menikah dengan seorang perempuan yang baru bai’at karena ingin menikah dengannya. Sedangkan ayahnya Nisa keturunan dan seorang musi’. Awalnya ibunya Nisa aktif di organisasi. Ternyata berpura-pura pasti ada titik lelahnya. Saat anak ketiga lahir, ibunya kembali seperti dulu. Tak pernah menentang dengan lisan, tapi justru menentang dengan sikap. Seperti ikut kegiatan-kegiatan di luar organisasi, lebih prioritas dengan kegiatan sejenis efpei. Ayahnya Nisa tak menyalahkan ibunya Nisa. Semua salah ayahnya nisa. Dan beliau menasehatiku, agar tak sembarang memilih pasangan. Jangan asal membai’atkan seseorang karena pernikahan. Yang kasihan nanti anak-anak. Mereka akan kebingungan untuk ikut siapa. Jangankan sama yang bai’at karena pernikahan, yang jemaat keturunan saja kadang kita sering beda cara didik anak, dan akhirnya ribut. Ayahnya pun menasehatiku bahwa harus berhati-hati. Banyak yang ingin menghancurkan jemaat dari pernikahan. Mereka bai’at dengan modus menikahi anggota. Setelah punya anak, mereka akan kembali pada asalnya. Kalau lelakinya jemaat, bisa punya kekuatan untuk mempertahankan anak-anaknya. Sedangkan kalau perempuannya yang jemaat, pasti akan terbawa oleh suaminya, tapi keputusan terpahit yaa berpisah. Banyak sekali kejadia  yang telah terjadi. Namun jarang dari kita mengambil pelajarannya. Intinya gak enak hidup dalam dua peta. Tegasnya begitu kepadaku.

Sekarang, perlahan beliau membawa satu per satu anaknya ke Manislor. Nisa adalah anak yang paling dekat dengan ayahnya. Dan paling taat dengan perkataan ayahnya. Sering diajak dalam kegiatan-kegiatan jemaat.  Berbeda dengan dua orang saudara Nisa. Pengaruh ibunya sangat kuat melekat hingga darahnya. Kebenciannya terhadap jemaat sangat luar biasa. Aku pun tak paham, doktrin apa yang telah ditanamkan oleh ibunya hingga membentuk dua orang saudara Nisa yang seperti itu. Sekarang Nisa pun selalu berdoa agar ibu dan kedua saudaranya dilembutkan hatinya serta diberikan karunia untuk menerima kebenaran.

Aku semakin sayang kepada Nisa. Sama halnya seperti aku menyayangi adikku Sameera. Dia seorang anak kecil yang banyak sekali membawa hikmah kehidupan. Nisa adalah guruku. Yang mengajariku realitas kehidupan. Yang mengajariku bahwa pernikahan adalah pintu gerbang penentu maju mundurnya sebuah peradaban. Yang mengajariku arti sebuah kerja keras dan doa harus selaras. Yang mengajariku arti kesabaran dan ketulusan. Yang mengajariku bahwa hidup di dunia fana ini hanya sebentar. Yang mengajariku bahwa tak ada gunanya semua yang kita punya, tanpa belajar alquran. Dan banyak hal kain yang bisa aku pelajari dari seorang gadis kecil bernama Halimatunisa.

Terimakasih, Nisa. Kamu telah hadir di dalam kehidupanku, menambah warna dalam hari-hariku. Semoga Allah memberikanmu jodoh yang shalih yang berada dalam satu bahtera. Aamiin Allahumma aamiin.

Bagi teman-teman yang sudah terlanjur melangkah jauh, perbanyak istighfar dan berdoa agar pasangan dan anak keturunan diberikan karunia untuk menerima imam zaman yang membawa kebenaran. Semoga bukan kalian yang terseret arus akhir zaman. Berpegang teguhlah pada tali Allah agar kalian tidak terlempar dari bahtera nuh yang kokoh. Aku berdoa, semoga kalian diberikan kekuatan untuk membawa keluarga kalian berada dalam satu bahtera nuh di akhir zaman. Betapa indahnya hidup dalam satu peta yang sama. Berlimpah keberkahan yang tak akan pernah kita dapatkan di luar sana.

Dan bagi teman-teman yang masih lajang, atau memiliki saudara, anak, atau tetangga yang masih lajang; semoga kisah ini bisa menjadi pertimbangan untuk menentukan siapa pasangan kalian. Ingat, Allah tidak menjodohkan kita pada satu pilihan. Allah menawarkan pilihan-pilihan jodoh untuk kita di setiap level. Tinggal kita yang memantaskan diri ingin berada pada level yang mana. Pikirkan masa depan keturunan kita. Sebab menikah bukan hanya setahun dua tahun. Bukan hanya untuk mengejar kebahagiaan duniawi semata. Menikah itu ibadah kepada Allah, yang kita kejar adalah keberkahan dan ridha Allah. Selamat memilih dan dipilih. Semoga kalian mendapatkan jodoh yang satu peta dan membawa keberkahan dalam hidup kalian. Sekian.

image

(Konstalasi orion – 17022017 – 01.00 am)

Keajaiban Dari Sebuah Keyakinan

Beberapa bulan lagi aku akan meninggalkan usia seperempat abad. Semakin hari, aku benar-benar semakin berhati-hati memposting tulisan. Banyak tulisan yang sudah kuketik, akhirnya hanya tersimpan di dalam folder pribadiku. Kuurungkan untuk diposting karena makin banyak hal yang kupertimbangkan. Terlebih lagi, banyak hal yang akhir-akhir ini terjadi di sekitarku. Banyak sekali pelajaran hidup yang kudapat. Intinya, Allah Ta’ala akan menguji kita dengan semua yang telah kita tulis dan kita ucapkan. Dan Allah Ta’ala akan menguji kita tidak hanya dengan kesedihan, tapi juga dengan kesenangan. Tidak hanya menguji dengan kekurangan, tapi juga menguji kita dengan kelebihan. Sesungguhnya, pada dua hal tersebut membutuhkan kesabaran ketawadhuan. Berbahagialah bagi kita yang bisa lulus dari dua jenis ujian tersebut. Jujur, kebanyakan dari kita justru sangat lengah pada saat menghadapi ujian kesenangan. Tak sedikit dari kita yang sulit untuk sabar dan tawadhu dari kesenangan yang dirasakan. Tak jarang dari kita sulit untuk meneteskan air mata saat berada pada ujian jenis ini. Bahkan terkadang kita lupa bersyukur terhadap Zat Yang Maha Pemberi kesenangan tersebut. Ya, itu termasuk aku.

 

Kali ini, aku ingin cerita ringan tentang keyakinan yang kupegang dari jaman SMP kelas 2. Entah mengapa, aku tetiba teringat obrolanku dengan teman sekelasku yang selalu juara umum saat itu. Keinginan untuk menulis dan mempostingnya di blog sangatlah besar. Seperti ada desakan kuat di dalam diri untuk berbagi cerita ini. Padahal sudah hampir tiga minggu kupendam dan kubiarkan begitu saja keinginan tersebut. Bukannya menghilang, desakan tersebut semakin kuat. Hingga akhirnya aku buat tulisan ini dan mempostingnya. Daripada aku harus selalu dihantui dengan desakan tersebut. Membuatku merasa bersalah karena menyimpan kebaikan dan nikmat Allah yang telah diberikan kepadaku.

Namanya, Annifa Iqramitha. Mitha, nama yang ia kenalkan kepadaku saat aku menjadi siswa pindahan. Kala itu, Mitha selalu menjadi juara umum. Anaknya yang freak, tetap menjadi incaran para siswa yang malas belajar untuk mencontek tugas-tugas dari guru. Bahkan saat Ujian pun, Mitha tak pernah pelit memberikan lembar jawaban untuk disebarkan ke seluruh siswa di kelas. Kini, aku tak pernah berkomunikasi lagi dengannya karena jarak dan kesibukan masing-masing. Selenting kabar Mitha telah menikah dengan seorang lelaki yang saat SMP adalah teman sekelas kami. iya, dia menikah dengan pacar pertamanya. Mitha pun sudah menjadi seorang dokter.

Bukan, aku bukan menceritakan siapa Mitha. Aku hanya akan menceritakan keyakinan kami yang sama. Saat kelas kenaikan kelas dua SMP, dalam hidupnya dia dapat nilai jelek (baca: nilai 7). Dia sedih. Aku bertanya kepadanya, “apakah Mitha lupa belajar?”. Aku rada kaget dengan jawabannya. Dia bilang bahwa selama ini dia tidak pernah belajar. Dia hanya belajar dan menyimak dengan baik saat guru sedang menjelaskan semua materi di kelas. Lepas itu, dia tak pernah membuka buku catatannya di rumah. Justru di rumah dia melakukan hal yang lainnya.

“Aku gak pernah belajar, Lik. Nilaiku kali ini jelek, karena aku sudah jahat sama adikku. gak mau bantuin dia buat PR. Karena aku punya keyakinan, aku akan dicerdaskan dan dilancarkan sekolahku oleh Allah, kalau aku selalu berbuat baik dan melancarkan urusan orang lain.”

Aku sedikit melongo.

“Mitha, kamu memang aneh. Tapi kali ini, kamu menjadi manusia normal. karena Aku pun memiliki keyakinan yang sama sepertimu. Jika dua orang aneh bertemu, maka mereka menjadi dua orang yang normal.”

====================

Semenjak obrolan itu terjadi, hingga detik ini aku memiliki keyakinan yang sama. Dulu, kami meyakini itu berdasarkan hati kecil. Semakin tua, aku semakin yakin karena banyak sekali hadits-hadits tentang hal tersebut.

” Siapa yang menolong  saudaranya yang lain maka Allah akan menuliskan baginya tujuh kebaikan bagi  setiap langkah yang dilakukannya ” (HR. Thabrani).

Sesungguhnya Allah akan menolong seorang hamba-Nya selama  hamba itu menolong orang yang lain”. (Hadits Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi)

Masih banyak lagi hadits-hadits shahih yang mengisahkan tentang kebaikan Allah Ta’ala jika mempermudah orang lain. Dan aku semakin yakin dengan apa yang kuyakini selama ini. Terlebih di awal tahun 2017, aku sangat merasakan buah dari sebuah keyakinan.

Sudah hampir sebulan aku menjadi perantara antara anggota dengan sang khalifah waqt. Di grup whatsapp, para ibu-ibu yang baru punya hape cerdas berkeluh kesah dan kebingungan untuk berkirim surat ke Huzur. Salah satu di antara mereka langsung meminta tolong kepadaku. Kata almarhum Abah, sebuah kepercayaaan dari orang lain kepada kita adalah sebuah karunia yang tidak boleh ditolak. Akhirnya aku menyangggupi, meski aku sadar dengan keterbatasan bahasa inggrisku yang ala kadarnya. Di sisi lain, aku mau karena melihat keinginan yang sangat kuat dan antusias yang sangat besar dari mereka. Yap, aku pun jadi semangat.

Setelah itu, aku kembali menjadi kalong di malam hari  untuk mengetik satu per satu surat dari mereka. Aku mengirimnya. Setiap Minggu ada 50 surat yang kuterima. Sudah sebulan aku selalu mengaminkan doa-doa mereka saat aku sedang menerjemahkan surat-surat mereka. Tak jarang aku terharu dan menangis membaca kalimat-kalimat mereka yang berantakan dan tulisan tangan yang acak kadut, tapi sangat tulus. Bahkan ada beberapa nama yang tak pernah masuk dalam hitunganku, ternyata nama-nama tersebut masih ada benih-benih cinta kepada sang Khalifah. Mereka yang kukira tak ada minat untuk menikah dengan orang-orang satu organisasi, ternyata di hati kecil mereka pun masih ada keinginan tersebut.

Dan kini, aku sangat merasakan segala kemudahan yang Allah berikan pasca aku menerjemahkan surat-surat dari saudara-saudara rohaniku untuk sang Khalifah. Omset bisnisku melonjak naik, Rejekiku mengalir dari banyak arah, aku jadi sehat wal afiat (padahal sebelumnya aku sakit-sakit terus, selalu konsumsi obat), suamiku mendapatkan kemajuan di tempat kerjanya, dan aku semakin disayang mertua. Hidupku semakin berwarna. Semua urusanku yang dulu sempat mandeg,  Alhamdulillaah sekarang dipermudah begitu saja. Yap, semua berkat Allah Ta’ala dan sugesti yang kuat dari dalam diriku tentang kebenaran dari apa yang kuyakini.

Sebelumnya, aku sempat sedikit lupa. Lupa bahwa Allah Maha Berkuasa. Aku terlalu mengandalkan pada hidupku sendiri. Aku terlalu mengandalkan manusia. Aku sempat merasa bahwa semua nikmat yang kudapatkan karena ikhtiarku. kadang  kita yang masih lebih “mempercayai apa yang ada ditangan kita, ketimbang apa yang ada di tangan Allah”.

11142969_771851076244850_43651199_n

Padahal seluruh hidupku, jiwa ragaku, ada di tangan Allah. Tapi aku sempat lebih mempercayai apa yang ada di tanganku, ketimbang apa yang ada di tangan Allah. Aku sempat pada titik lebih mempercayai akal pikiran /logikaku.

Padahal Allah Ta’ala Yang Maha Menggenggam segala sesuatu, Allah Ta’ala Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi nantinya, seperti, apa yang akan terjadi bila Allah memberikan pertolongan dan apa yang akan terjadi bila Allah menunda untuk memberikan pertolongan, yang sebenarnya Allah mampu untuk menolong.

Allah Ta’ala Maha Memudahkan, Maha Menyaksikan, Maha Mengatur segalanya. Maha Meninggikan, Maha merendahkan. Allah Ta’ala yang Maha  Kuasa Memberikan apa saja kepada siapapun yang dikendaki-Nya dan menarik atau mengambil apa saja, dari siapapun yang dikendaki-Nya. Kekuasaan Allah Ta’ala tidak terbatas dan tidak terhingga.

Sebaiknya kita menjadi seorang hamba yang benar-benar bisa “mempercayai apa yang ada di tangan Allah, ketimbang apa yang ada di tangan kita sendiri”. Dan sebaiknya kita benar-benar bisa menjadi hamba Allah yang lebih mempercayai Ilmu Pengetahuan Allah yang Maha Meliputi segala sesuatu, ketimbang akal pikiran/logika kita yang sangat terbatas, agar kita tidak ragu terhadap segala kemungkinan yang terjadi bila kita memberikan bantuan pertolongan terhadap seseorang.

Aku semakin sadar; bahwa semua, seluruh hidup kita ini, berada dalam genggaman-Nya. Allah yang Maha Menggenggam segala sesuatu, Mengatur segala sesuatu. Jangan sampai akal pikiran kita yang terbatas serta kecemasan kita memikirkan “bagaimana atau apa yang akan terjadi pada kita, kedepannya nanti bila kita memberikan pertolongan” membuat kita menjadi hamba Allah yang tidak perduli dan enggan memberikan pertolongan walau sebenarnya kita mampu.

Ketika kita mempermudah, menolong, dan berbuat baik kepada orang lain; sesungguhnya kita sedang berbuat baik untuk diri kita sendiri.

Janganlah mengundang kesulitan dalam hidup kita, jangan mempersempit urusan kita, dan jangan mengundang azab dan murka Allah. Tapi undanglah kemudahan, kelapangan urusan, cinta, kasih sayang dan pertolongan dari Allah, dengan memberikan bantuan, pertolongan kepada orang yang membutuhkan. Sekian.

 

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

Artinya:

“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”.

images

(Konstalasi Orion – 07022017 – 15.15 – Selasa Penuh Asa)

Fashbir!

K A P A N P U N Y A A N A K?

Pertanyaan yang kian kemari semakin menginvasi psikisku. Namun suami selalu saja menghiburku dengan mengatakan “anggap saja itu doa dengan bahasa yang berbeda”. Intinya apapun bentuk respon yang diberikan oleh orang-orang, kami harus selalu bertawakal dan bersyukur. 

Terkadang aku berpikir, apakah sudah habis semua bahan yang bisa dijadikan untuk basa-basi? Aku pribadi lebih bahagia jika harus didiamkan, daripada harus diramahi dengan berbasa-basi tentang takdir yang masih ghaib, yang bahkan aku pun kebingungan dan blank untuk menjawabnya. Aku pribadi bisa memaklumi jika pertanyaan takdir itu muncul dari orang-orang yang sudah lama tidak berkomunikasi denganku. Nah, agak risih dan mengganggu jika muncul dari orang-orang yang sehari-hari bersua denganku. Akan tetapi, sedari kecil mama selalu mengatakan bahwa kita tak akan bisa mengendalikan lidah orang lain, sebab itu hak mereka. Jika tidak suka, lebih baik selamatkan hati sendiri tanpa harus melarang hak orang lain. ya mungkin salah satu caraku untuk menyelamatkan hatiku, aku menyibukkan diri dengan duniaku sendiri. Salah satunya aku aktif di tempat orang-orang yang punya pola pikir yang sama.

Aku sering berpikir tentang orang yang terus menerus bertanya kapan dengan segala takdir orang lain yang masih ghaib. wahai kalian yang termasuk bagian dari golongan tersebut; aku beritahukan kepada kalian bahwa tanpa harus kalian tanyakan, setiap kabar pasti akan kami beritahukan, terlebih lagi jika seputar kabar bahagia. Naluri setiap manusia pasti ingin berbagi kebahagiaan yang sedang mereka rasakan. Jangan khawatir kami akan menyembunyikan kabar bahagia itu dari kalian.Tenang saja. jika memang peduli, doakan kami untuk segera mendapatkan jawaban atas pertanyaan seputar takdir yang kalian tanyakan. 

Aku senang mengobrol. Terlebih lagi mengobrol dengan orang-orang yang memiliki pemikiran yang terbuka dan jam terbang yang tinggi dalam berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda. Seperti halnya Minggu kemarin (20/11), aku menghadiri undangan diskusi dengan para pemuda lintas agama dan kepercayaan. Di sana aku bertemu dengan rekan-rekan fasilitator Sekolah Cinta Perdamaian regional Kuningan. Di sela-sela diskusi, Mbak Alif yang usianya terpaut kurang dari 10 tahun dariku, duduktepat di sebelahku dan berbisik kepadaku tentang hal di luar topik diskusi. 

“Lika, aku hamil. Baru lima minggu.” Sambil tersenyum bahagia.

“Wah, selamat ya mbak. Semoga sehat hingga lahiran nanti.” Responku yang agak kaget campur bahagia.

“Iya nih, aamiin. Aku senang banget, Lik. semoga kamu bisa ketularan aku. Hihi.” Ungkap mbak Alif sambil menepuk-nepuk lengn kananku.

Obrolan singkat yang sangat membuatku bahagia. Pertama, Mbak Alif hamil setelah menanti bertahun-tahun. Pernikahannya lebih dulu dari pernikahanku. Setiap bertemu dengannya, aku menahan diri untuk tidak bertanya yang sangat pribadi, tapi pada dasarnya manusia akan berbagi kabar bahagia tanpa harus ditanya. Dan kedua, Mbak Alif mendoakanku dengan cara yang sangat menyejukan dan meningkatkan jumlah hormon endorphin. Sehingga muncul rasa bahagia dan optimis. Jarang sekali aku bertemu dengan orang yang semacam Mbak Alif pola pikirnya. masih bisa dihitung dengan jari tanganku.

Aku mendoakan agar Allah memberikan kesabaran untuk teman-teman yang selalu bertanya seputar takdir orang lain. Dan semoga diberikan kekuatan bagi teman-teman yang masih menunggu jawaban atas pertanyaan dari takdir yang masih ghaib. 

Karena hartaku belum bisa membanjiri dunia, maka hanya kabar bahagia yang bisa kubagikan untuk teman-teman. Doakan agar kami selalu bahagia dan mampu untuk menyebarkan kebahagiaan. Sekian.

——–

(Konstalasi Orion – 1.45 am Senin 211116)

Hikmah Di Balik 25 Minutes 

Alkisah, sepasang kekasih berpisah karena pihak laki-laki menghianati pihak perempuan, dengan melibatkan perempuan lain di dalamnya (klise banget ya?).  Sebenarnya, mereka masih saling cinta. Hanya saja, ego laki-laki yang ingin memiliki banyak wanita, dan ego wanita yang tak ingin berbagi cinta. Mereka pun terpisah lama, dengan memendam rasa yang sama. Bertualang sendiri-sendiri, berteman kenangan dan sepi. Hingga akhirnya, sang wanita menemukan tambatan hatinya, seseorang yang mampu menyembuhkan lukanya. Cintanya 

masih ada, tapi ia tepis demi masa depan hidup dan hatinya. seseorang, yang ia tahu, tak kan membagi cintanya dengan siapapun. Sedangkan sang lelaki, merenung setiap hari, menyadari bahwa hatinya masih menghangat setiap kali memikirkan wanita itu.

After some time I’ve finally made up my mind

She is the girl and I really want to make her mine

I’m searching everywhere to find her again

To tell her I love her

And I’m sorry ’bout the things I’ve done

Tuhan, sudah sekian lama, dan hatiku masih hangat tiap kali mengingat tentang dirinya. Dialah seseorang itu, seseorang yang selama ini kucari, namun kusiakan saat telah kumiliki. Kini ia menghilang, aku tak tahu ia tinggal di mana, nomor telpon pun berganti. Teman-temannya, seolah melindungi, tak mau memberiku informasi. Biarlah. Kucari ia ke seluruh pelosok negeri, ke tempat-tempat yang mungkin ia kunjungi. Kuubek-ubek jejaring social, tak ada dirinya, tak ada tanda-tandanya. Aku ingin memilikinya lagi. Dialah perempuan terbaik untukku. Pemilik kecupan terindah di hatiku. Seseorang yang mampu mengerti aku tanpa harus kujelaskan. Aku ingin menemukannya, aku ingin mengatakan padanya bahwa aku masih mencintainya, dan akan kusampaikan padanya, betapa aku menyesal pernah melukainya. Dia tak ada di mana-mana. Aku hanya bisa mengadu padaMu, Tuhan, karenanya kukunjungi rumahMu, dan kutemukan ia di sana.

I find her standing in front of the church

The only place in town where I didn’t search

She looks so happy in her wedding dress

But she’s crying while she’s saying this
Aku  melihatnya berdiri di depan rumahMu, tempat yang tak pernah kudekati selama ini. Mataku hampir-hampir tak mengenalinya. Dia cantik luar biasa. Gaun putih panjang berenda, rambutnya tersanggul rapi, berhias mahkota bunga putih yang mungil. Make upnya sederhana, lehernya yang jenjang hanya berhias mutiara. Ia cantik, sungguh cantik. Dan ia, kelihatan bahagia. Perutku seperti ditonjok melihatnya. Ia, sedang melemparkan bunga pada para undangan, berkaca-kaca waktu melihatku diantara mereka. Ia menghampiriku, menangis, dan dengan menyesal berkata, bahwa ia sudah dimiliki orang lain.

Chorus:

Boy I missed your kisses all the time but this is

Twenty five minutes too late

Though you travelled so far boy I’m sorry you are

Twenty five minutes too late

Ia bilang, andai aku datang dua puluh lima menit lebih awal, aku mungkin masih bisa menyelamatkan suasana. Tapi tidak, katanya. Ia sudah memilih jalan ini. Ia sudah memutuskan untuk menikah. Ia tahu kalau aku masih mencintainya, dan ia masih mencintaiku. Ia bilang, aku juga lelaki terbaik dalam hidupya, yang member kecupan terindah di hatinya. Terlambat dua puluh lima menit, dan dia sudah ada yang punya.

Against the wind I’m going home again

Wishing be back to the time

when we were more than friends

Still I see her in front of the church

The only place in town where I didn’t search

She looks so happy in her wedding dress

But she’s cried while she’s saying this

Aku lesu. Ingin memaki tapi tak mampu. Harusnya saat mencari, sudah kupikirkan kemungkinan ini. Tapi hatiku menolak, karena yakin ia akan mengerti dan kembali padaku. Kuputuskan untuk pulang meski ia mengundangku untuk berpesta. Air mataku berderai saat berkendara kembali, tersapu angin, mongering, menyisakan rasa dingin di pipi. Kukenang kembali kebersamaan kita, dan aku ingin mengulang masa-masa itu, saat kita berkencan dan mesra. Tapi, sekarang ia sudah ada yang punya. Ia tampak bahagia, meski menangis saat berkata, bahwa cintanya untukku masih ada.

Out in the streets

Places where hungry hearts have nothing to eat

Inside my head

Still I can hear the words she said

I can still hear what she said

Di jalanan ini, terus terngiang kata-katanya, andai aku datang 25 menit lebih awal, aku bisa memperbaiki suasana, membatalkan segalanya. Tuhan, iiinkan aku memutar kembali waktu, saat ia mengucapkan ikrar sehidup semati dengan lelaki itu, dan kan kuseret ia keluar, kuhujani  dengan kecupan, hingga ia bersedia kembali padaku, karena aku tahu, kami masih memiliki rasa yang sama.

Copas from http://arti-lirik-lagu.blogspot.co.id/2014/02/25-minutes-michael-learns-to-rock.html

Rabu ini suhu tubuhku 39ºC. Mengendap lagi di kamar ditemani lagu favoritku dari MLTR yang berjudul 25 minutes. Aku suka liriknya. Penuh makna dan pembelajaran dalam sebuah hubungan. Makna lagu tersebut kurang lebih seperti yang aku kutip di atas. Boleh copas dari blog orang lain, sebab aku malas ketik di tablet. Aku mau fokus menulis pembelajaran yang bisa diambil dari lagu tersebut. Aku buatnya dalam poin-poin aja yaa. Lagi tak sanggup berpikir banyak dan capek juga mengetik.hyahaha. Baiklah, berikut ini hikmah yang bisa kita pelajari dari lagu ini:

PEREMPUAN

  1. Jangan membuang waktu untuk seseorang yang tidak memberimu kepastian
  2. ‘Lelaki yang memberikan kepastian’ lebih berarti daripada ‘lelaki yang hanya melambungkan perasaan kemudian menjatuhkannya ‘
  3. Jagalah dirimu baik-baik. Sebab pacaran sebelum pernikahan hanya akan melukaimu
  4. Cinta yang muncul sebelum pernikahan hanya perasaan semu yang akan hilang, cinta sejati hanya ada setelah pernikahan
  5. Jangan menerima pinangan yang lain jika kamu telah dikhitbah oleh seorang lelaki.
  6. Jangan pacaran, biar gak ada mantan. Meminimalkan kenangan. Biar hatimu seutuhnya bisa diberikan untuk suamimu
  7. Sabar dalam penantian jodoh yang tepat. Sekali gagal, move on. Life must go on, sistah.
  8. Cinta akan tumbuh karena terbiasa, setelah menikah perasaanmu akan semakin berkembang untuk suami yang baru dikenal.

PRIA

  1. Tundukan ego dan nafsumu yang akan mebuat dirimu menyesal di akhir. Sebab kalau di awal namanya bukan penyesalan, tapi pendaftaran 😀
  2. Jika telah menemukan sosok perempuan yang mampu memahamimu dan kau mencintainya, rawatlah dia dalam sebuah ikatan yang lebih kuat: pernikahan.  Datangi orangtuanya.
  3. Cari kabar secepatnya. Jangan membuat dia menunggumu. Karena dia butuh kepastian. Jangan hanya berdiam diri dalam penyesalan.
  4. Jangan ragu untuk meminta maaf atas kekhilafan dan kelemahan diri 
  5. Jika semua usaha telah dilakukan, dekatkan diri pada Tuhan. 
  6. Harus Rajin ke masjid atau tempat ibadah tepat waktu. Bisa jadi ketemu dia di sana
  7. Jangan ganggu calon istri orang yang dulu mantanmu. 
  8. Kalau dia sudah menikah, jangan ganggu hidupnya. Biarkan dia bahagia.
  9. Ikhlaskan semuanya. Makanya jangan pacaran sebelum menikah. Kan gak enak punya mantan. Gimana coba kalau mantanmu bakal jadi besanmu di masa depan? Sedangkan kamu masih menyimpan kenangan bersamanya? Kikuk loh.
  10. Ayok move on! Berarti dia tidak cocok untukmu, ada perempuan lain di luar sana yang ditakdirkan Tuhan untuk menjadi jodohmu. Agar bisa saling memberi kebaikan dan keberkahan.
  11. Jika sudah bertemu jodohmu, jaga hatinya seperti kamu menjaga barang antik yang langka dan mahal.
  12. Dan ingat, fitnah wanita itu sangat berbahaya. Makanya, sibukan dirimu dalam kegiatan keagamaan. Bisa jadi jodohmu menunggumu di sana. Jangan sampai terlambat 25 menit lagi yaa~I

Sekian

(Konstalasi Orion – Rabu 16 nov 2016 | 15 safar – 08.00 am)

Berbagi Jodoh

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Dewasa ini, aku semakin menyaring setiap hal yang akan kutulis. Berhati-hati dalam becanda atau bertutur kata. Dan kali ini, aku sengaja membuat tulisan tidak ada maksud untuk menggurui. Hanya sekedar berbagi pengalaman. Tulisan ini pun dibuat sebagai sebuah jawaban atas sebuah pertanyaan yang sama dari beberapa temanku.

Sebelum menikah, konsep jodoh suami masih abu-abu bagiku. Terlalu banyak definisi tentangnya. Itu salah satu penyebab munculnya kegalauan pada hati ini. Ditambah lagi invasi pertanyaan yang bertubi-tubi dari keluarga dan kerabat, pertanyaan yang bahkan saat itu aku pun tidak tau sama sekali jawabannya. Pertanyaan yang semakin ekstrim intensitasnya seiring semakin banyaknya koleksi angka pada umurku.

Ada beberapa orang teman yang bertanya kepadaku pasca aku menikah.

“Lika, gimana caranya agar bisa cepat mendapatkan jodoh yang baik?”

Aku terkadang menjawabnya dengan becanda, tanpa sebuah keseriusan. Karena, aku pun termasuk telat mendapatkan jodoh jika dibandingkan dengan hidupku yang telah kurencanakan.Namun, jika dibandingkan dengan masa ta’arufku dengan suami, bisa dibilang cepat untuk menuju pernikahan. Hidupku penuh kriteria, saat itu. Tapi ketika memasuki umur 20, dan dipertemukan dengan pengembara yang hanya sekedar singgah memberikanku pelajaran, aku semakin pasrah dalam arti berserah, bukan menyerah. Setelah itu, aku hanya mempunyai modal keyakinan bahwa Allah pasti telah menyediakan jodoh yang baik untuk saling memperbaiki diri yang belum baik.

Percayalah, manusia hanya bisa menentukan rencana, target, atau harapan. Pada akhirnya Tuhan lah Yang Maha Menentukan.

Meyakinkan diri sendiri akan keberadaan Tuhan bukan merupakan hal mudah. Nabi Muhammad saja membutuhkan waktu belasan tahun untuk mendakwahkan ajaran agamaNya. Karena hal paling esensial dalam beragama adalah mempercayai, Dengan hati, lisan, dan perbuatan.

Begitu juga dengan urusan jodoh. Seperti halnya hujan, seberat apapun awan menggantung di udara, segelap apapun langit saat siang, toh tidak ada seorang manusia pun yang tau apakah benar akan turun hujan. Kita boleh saja menuliskan harap tentang masa depan. Tentang usia berapa kita idealnya menikah, atau menimang anak pertama, atau mengantar mereka ke sekolah. Tidak ada yang melarangnya sama sekali. Namun, akan lebih baik jika itu semua dibalut dalam doa yang tulus. Dengan segenap rasa pasrah akan kebesaran kuasa Tuhan.

Untuk mencapai titik pasrah yang sebenarnya adalah untuk merelakan apa yang sudah terjadi. Mengejawantahkan usaha ikhlas paling murni.

Aku yakin, semua orang punya masa lalu. Punya harapan yang belum terkabul. Punya kenangan yang belum sepenuhnya diajak berdamai. Dan tentu saja punya banyak jalan yang belum dan masih akan harus terlewatkan.Yang di setiap tikungannya menawarkan pengalaman baru. Kesempatan yang lebih segar dan tak terduga.

Dari itu semua itu, kita seharusnya berdiri lebih tegap. Bukan dalam arti menantang datangnya jodoh, tapi memberikan diri ruang lebih lapang untuk berkontemplasi. Kemudian merengkuh rasa pasrah yang tidak bikin gerah. Pasrah yang ikhlas dan menenangkan. Yang bukan menyerah, tapi berserah.

Hampir semua yang bertanya senada padaku, menjawab hal yang sama saat aku bertanya balik kepada mereka atas kondisi hati mereka saat ini.

“Di hatimu saat ini, masih menyimpan perasaan mendalam pada seseorang kah?”

“Iya, Lik. Aku menyimpan rasa terhadap seseorang selama bertahun-tahun. Kamu kok tau?”

Jelas aku tau. Sebab aku pernah ada di fase itu. Dan itu yang paling menghambat doa-doaku selama ini. Aku tak bisa menolak fitrah kita sebagai manusia untuk menyukai seseorang lawan jenis. Akan tetapi, jangan sampai perasaan suka yang sangat mendalam itu menjadi penghambat datangnya jodoh yang sebenarnya.

Menikah itu memang masalah perasaan, tapi libatkan logika di dalamnya agar seimbang. 5 tahun lebih aku memiliki perasaan yang mendalam dan hanya kupendam seorang diri kepada seseorang, yang akhirnya dia pun menikah dengan orang lain. Selama 5 tahun, doa-doaku dalam hal jodoh sedikit memaksa kepada Allah Ta’ala. Doa-doaku masih penuh obses tanpa ada kepasrahan dalam berserah diri. Hingga suatu ketika, Allah memberikanku sebuah pemahaman baru. Sebuah sudut pandang baru yang mengubah caraku berpikir.

Hampir semua dari kita, aku yakin selalu berdoa agar diberikan jodoh terbaik. Namun di saat yang bersamaan, hati kita masih compang camping. Hati kita masih condong kepada satu nama. Secara logika, mana mungkin Allah Yang Maha Penyayang mendatangkan jodoh terbaik saat kondisi hati kita masih seperti itu. Allah pasti akan melindungi dan menjaga hati si jodoh terbaik itu. Allah tidak ingin si dia hanya mendapatkan remehan hati kita yang masih kacau. Bagiku, ini kunci utama sebelum kita berdoa meminta jodoh. Dan aku merasakannya. Aku pun begitu. Begitu aku ikhlaskan semua perasaan yang kupendam 5 tahun, keajaiban doa pun terjadi. Sekarang kembali lagi kutanyakan kepada hati kecil kita, apakah kamu mau dijodohkan dengan orang yang belum bisa mengikhlaskan masa lalunya?

Lelah berikhtiar? Jengah dengan pertanyaan kapan nikah? Itu manusiawi. Nikmati saja.

“Lika, aku kadang merasa lelah. Aku sudah berikhtiar, gak nikah-nikah. Sedangkan temanku yang santai bahkan mungkin biasa saja, pada cepat nikah.”

Pada dasarnya aku sedikit kurang sependapat dengan ungkapan “lelah berikhtiar”. Namun, yang namanya manusia, rasanya naif jika aku menafikan hal itu. Sebab aku pun pernah berada di fase itu. Pasti ada perasaan menyerah dan lemah atas segala usaha yang telah dilakukan.

Tapi, memangnya usaha apa saja yang telah dilakukan? Berkenalan dengan seribu lawan jenis? Atau memasang foto paling keren di sosial media? Atau menanyakan perihal jodoh kepada seluruh kerabat? Atau bahkan ikut serta dalam kegiatan biro jodoh? Jika itu semua telah dilakukan namun hasilnya nihil, mungkin ada baiknya kita melakukan ikhtiar yang lebih mendasar dan sederhana.

Mematut diri di depan cermin. Menenggelamkan diri sedalam-dalamnya ke masa lalu. Tentang apa yang telah kita lakukan untuk menjadi pribadi yang lebih shalih/shalihah. Tentang sejauh mana pengatahuan kita mengenai agama dan hukum muamalah. Tentang seberapa arif kita melerai masalah hidup. Tentang bagaimana hari-hari kita di mata orang lain.

Sabar menunggu dengan istiqamah berdoa dan memantaskan diri dengan sedekah dan istighfar.

Demi Tuhan! Ini memang sulit. Aku tau mengetik kalimat “Sabar menunggu dengan istiqamah berdoa dan memantaskan diri dengan sedekah dan istighfar” jauuuuhhh lebih mudah dibanding melaksanakannya. Sebab aku pernah berada di fase itu. Aku tau benar itu. Untuk bersedekah dan beristighfar secara lisan sangatlah mudah. Istighfar di sini tak hanya sekedar lisan, tapi dalam bentuk amalan.

Fashbir Shabran Jamiilan (Bersabarlah dengan sebaik-baik sabar)

Wa li Rabbika Fashbir (Maka bersabarlah untuk Tuhanmu)

Tolong jangan hakimi aku karena dengan begitu mudahnya menulis hal demikian. Karena aku  yang tidak tau apa-apa ini nyatanya belum menemukan jawaban atau kalimat paling tepat untuk tema tulisan ini. Hanya kalimat itu yang aku rasa pantas menjadi penutup tulisan ini. Semoga menginspirasi dan menguatkan. Sekian.

 

==================

*gambar-gambar dari berbagai sumber yang lupa linknya*

(Konstalasi Orion – 16062016 – Kamis – 03.15 am)

‘Perjuangan’ Bang Gagah Menjadi Huruf Y Untuk Dekta

Tetiba, aku mendapat undangan pernikahan lewat media viral dari teman di masa putih abu-abu. 1 Maret kemarin dia baru saja mengadakan walimatul ‘ursy. Aku sedikit kaget bahwa yang menikah adalah dia.  Seorang teman yang berani mengambil keputusan menikah di usianya yang belum genap 25 tahun. Sering sekali dia menyebut dirinya Bang Gagah. Sebutan yang sangat jauh dari sosok seorang lelaki gagah yang digambarkan orang pada umumnya. Badannya yang sangat kurus untuk ukuran lelaki seusianya, kulitnya yang putih da bermata sipit kaya Cina (padahal dia punya marga Harahap), dan rambut ikal hitamnya yang dia paksakan untuk lurus itu terkesan kaya orang yang habis terkena setruman listrik. Itu gambaran yang kulihat 6 tahun yang lalu saat temu kangen dengan teman-teman SMA. Lelaki berdarah Batak itu jauh dari gambaran lelaki gagah ala Batak. Lebih terlihat seperti Tomingse yang puasa 40 hari. (Maaf yang Bang Gagah, kapan lagi aku sejujur ini).

 

Aku masih berasa mimpi saat teman-teman yang masih tinggal di Aceh mengirim foto-foto pernikahannya Bang Gagah. Seketika pikiranku melayang ke jaman SMA. Bang Gagah itu termasuk anak yang culun dan polos di kelas, punya teman dekat. Saking dekatnya dan mereka sama-sama tidak punya pacar, teman-teman sekelas sering mengatakan mereka sepasang kekasih. Bang Gagah berusaha untuk ‘normal’ seperti anak seusianya. Aku sempat dengar dia pacaran dengan teman sekelas juga.  Tapi hanya bertahan beberapa hari. Setelah itu, aku tidak pernah mendengar dia dekat dengan seorang perempuan pun hingga undangan pernikahannya terkirim ke grup SMA. Bang Gagah orangnya murah senyum, tapi aku sendiri tidak bisa membedakan antara murah senyum dengan cengar-cengir. Namun pada dasarnya dia anak yang baik, makanya saat SMA ada beberapa teman perempuanku yang terbawa perasaan karena cengar-cegirnya.

 

Siang ini, Bang Gagah menghubungiku. Dia ingin kado dariku sebuah tulisan tentang perjalanan cintanya hingga berlabuh ke pelaminan. Aku yang membaca alur singkatnya, sungguh terharu. Bang Gagah yang terakhir kali kutemui 6 tahun silam sekarang menjelma dalam wujud lelaki dewasa. Penuh keberanian dan kegagahan untuk lelaki seusianya. Aku jadi paham alasan dia tidak langgeng pacaran dan tidak ingin pacaran, karena sejak SMP dia sudah memendam perasaan ke teman SMP yang sekelas dengannya. Bisa dibilang cinta pertamanya. Perempuan itu bernama Dekta.

 

Dekta selalu membuat Bang Gagah Jatuh hati. Dekta seorang perempuan Cantik dan Pintar. Saat SMP, jangan kan untuk mengungkapkan perasaannya, untuk berada di dekatnya saja Bang Gagah tidak berani. Bang Gagah selalu bersembunyi bersama perasaannya untuk Dekta dalam sebuah hubungan yang bernama persahabatan. Bang Gagah bersahabat dengan Dekta. Komunikasi di antara mereka terputus saat mereka memilih SMA yang berbeda. Ditambah lagi saat kuliah semester 4, Bang Gagah memutuskan hijrah ke kota megapolitan, Jakarta. Mereka tidak saling berkomunikasi, meski begitu Bang Gagah masih tetap memiliki perasaan yang semakin besar dan berubah menjadi cinta. Yap, cinta dalam diam. Namun,  Bang Gagah tidak terlena dengan kegalauan memendam cinta kepada Dekta. Bang Gagah memantaskan dirinya. Memapankan Raganya biar beneran gagah, memapankan finansialnya, dan memapankan pendidikannya. Hingga akhirnya dia lulus S1 dan sekarang sedang menjalani S2. Aku salut kepadanya, dia membiayai kuliahnya sendiri.

 

Mereka hanya sebatas bersenyum sapa sekejap, saat Bang Gagah sesekali mudik ke Aceh. Agustus 2015 semua menjadi momen yang akan menjadi awal mula takdir mereka dimulai. Bang Gagah memberanikan diri untuk bertemu dengan Dekta di rumahnya. Pertemuan kedua mereka jalan-jalan ke Goa Jepang, dan Bang Gagah semakin gagah saat pertemuan ketiga. Pada pertemuan ketiga, keberaniannya telah bulat untuk melamar Dekta yang saat itu telah menjadi Bidan di salah satu Rumah Sakit Perusahaan di Aceh Utara. Dekta menguji keseriusan Bang Gagah untuk berani melamarnya langsung ke ibunda dekta. Tanpa ragu dan bimbang, saat idul Adha 2015, Bang Gagah langsung melamar Dekta dan diterima dengan baik oleh orangtuanya. Ibunda Dekta sangat kagum dengan perjuangan Bang Gagah, terutama dengan perjuangan Bang Gagah dalam menjalani pendidikannya. Padahal sebelumnya, banyak lelaki yang berusaha meminang Dekta, tapi Dekta belum mau melabuhkan hatinya.

 

Hanya selang beberapa bulan dari lamaran, mereka melangsungkan akad nikah di akhir Februari 2016. Bang Gagah bercerita kepadaku bahwa cinta terpendamnya selama ini telah menyata. Dan ternyata, dia baru mengetahui setelah akad nikah bahwa Dekta nan cantik ternyata menyimpan perasaan yang sama seperti yang dirasakan oleh Bang Gagah. Akan tetapi, Bang Gagah yang dulu belum gagah seperti sekarang. Makanya Dekta memilih untuk mencintainya dalam diam juga. Seperti kisah Fatimah dan Ali. Terharu.

 

Aku semakin yakin akan kekuatan cinta dalam diam. Karena jika dia yang kita cintai adalah sang jodoh, maka mau dipisahkan sejauh apapun dan tidak ada komunikasi selama apapun, Tuhan akan menyatukan mereka pada waktu yang tepat. Dan jika dia bukan jodoh kita, cinta akan sirna tanpa ada seorangpun yang mengetahuinya.

 

Bersyukurlah Bang Gagah, selama ini Tuhan menjaga dengan berbagai cara agar engkau tidak pacaran sebelum menikah, karena Tuhan ingin hati dan ragamu utuh  untuk sang bidadari halalmu nan cantik jelita.

 

Bersyukurlah keberanian itu baru ada sekarang, sebab kau tidak pernah tau apa yang terjadi jika engkau menyatakan semuanya saat di SMP. Bisa jadi kau malah merusak bidadarimu, hingga membuatnya layu sebelum berkembang.

 

Bersyukurlah Bang Gagah, kini kau telah gagah dalam kedewasaanmu. Telah berani untuk menyempurnakan separuh dari agamamu.

 

Dan teruslah bersyukur, Bang Gagah. Karena nikmat Tuhanmu yang manakah yang hendak engkau dustakan?

 

Selamat dan Berkah untuk pernikahannya. Jaga hati istrimu seperti barang antik langka. Penuh dengan perasaan dan perhatiaan. Sebab, jika sekali saja kau merusaknya, maka tidak akan lagi kau temukan hati yang sama di luar sana. Bang Gagah sekarang telah gagah. Akhirnya Perjuangan Bang Gagah untuk memantaskan diri menjadi huruf Y di antara Nona Dekta telah mendapatkan hasil. N(y)on(y)a Dekta Perjuangan. Sekian.

Hasil gambar untuk bang gagah muslim kartun

(Lika Vulki – Konstalasi Orion – Sabtu 5032016 – 1.10 pm)

 

 

Ada Kisah Di Kereta Malam

Rabu. Semua orang masih saja berbicara tentang fenomena alam yang menunjukan kebesaran Allah ta’ala. Ada 3 jenis golongan yang menyikapi fenomena ini. Pertama, orang-orang yang sibuk mencari tempat yang strategis untuk bisa menikmati gerhana. Baik itu untuk hiburan semata, atau berjualan dadakan untuk tambahan pendapatan. Kedua, orang yang santai dan mungkin nyaris tidak peduli. Toh menurutnya, gerhana atau tidak tetap saja masih sama. Tetap saja masih jomblo yang ngelembur dan judul skripsi ditolak berkali-kali. Dan yang ketiga, orang-orang yang berkumpul di masjid untuk berjamaah shalat kusuf (gerhana).

Bagiku, Rabu itu waktunya quality time dengan suami. Setelah beberapa hari ditinggal kerja dan pulangnya selalu larut malam karena ada sedikit masalah di tempat kerjanya, akhirnya bisa menghabiskan seharian penuh bersama-sama. Dia pun bertanya kepadaku mau jalan-jalan ke mana, tapi aku tidak tega untuk jalan-jalan karena kondisi kesehatannya lagi menurun. Aku memutuskan untuk di rumah saja. Tetiba, ba’da ashar suami (yang sudah rapih dan kegantengannya naik 200%) membangunkanku yang sedang tidur siang. Katanya ingin jalan-jalan naik commuter ke rumah adiknya ayah. Oke, semua yang dadakan selalu jadi. Padahal di luar rumah, awan sudah mendung-mendung manja.

Suamiku orang yang sangat terencana hidupnya. Akan tetapi, dia sangat tau bagaimana membahagiakan istrinya yang seorang sanguinis. Sesuatu yang dadakan selalu menyenangkan bagi istrinya. Selama perjalanan banyak sekali drama yang terjadi.

1. Melakukan hal yang gila, kami mencoba sistem keamanan stasiun. Kami membeli tiket sampai tanah abang, tapi kami naik commuter sampai ke sudimara. Kami berpikir hanya modal Rp 4.000 bisa melakukan perjalanan sejauh 2 jam. Tidak ada yang menegur kami, mulus. Drama dimulai saat di gate out sudimara. Kartunya tidak berfungsi, dan kami didatangi oleh satpam stasiun. Setelah diceramahi oleh sang satpam mengenai aturan mainnya, kami bisa keluar dari stasiun, meskipun uang jaminan hangus. Yap, Rp 20.000 melayang. Aku dan suami tertawa sambil jalan kaki menuju rumah adiknya ayah yang tidak jauh dari stasiun. Yang membuatku tertawa adalah suami bisa juga diajak melakukan kekonyolan bersamaku, jauh dari karakternya. Dan sistem keamanan di stasiun sangat bagus dan teratur.

2. Tetiba hujan saat kami melangkah 20 meter dari stasiun. Hujan deras. Kami basah kuyup ketika tiba di rumah adiknya ayah. Allah ta’ala gak pernah salah dalam mengabulkan doa. Yap, semua adalah ketidaktepatanku dalam berdoa. Aku berdoa tanpa henti saat di perjalanan agar tidak hujan sampai ke stasiun sudimara. Aku memanfaatkan posisiku yang sedang jadi musafir untuk berdoa yang baik-baik. Karena kata ayah, doanya musafir itu sangat mustajab. Benar, sangat mustajab. Aku seharusnya berdoa jangan hujan sampai tiba ke rumah lagi. Oke, bisa dibayangkan kami pun pulang dalam kondisi kedinginan.

3. Di perjalanan pulang, jam 10 malam, kami duduk bersebalahan dengan seorang lelaki tua yang wajahnya kemerah-merahan. Lelaki itu menggunakan baju koko putih dan celana bahan cokelat susu. Aku dan suami sibuk mengobrol tentang banyak hal. Lelaki itu berada di sisi kanan suamiku, dan aku berada di sisi kiri suami. Sesekali aku melirik ke lelaki itu yang mulutnya komat kamit. Kulirik lagi tangannya, ternyata jemarinya sedang disibukan bertasbih. Kulebarkan pandanganku ke sekeliling ruangan, di antara semua penumpang yanh sibuk main gadget, lelaki iu sibuk berdzikir. Aku berinisiatif untuk mengakhiri obrolan dengan suami, karena aku malu hati di samping kami ada yang sedang berdzikir. Kami lalai berdzikir karena kebahagiaan hari Rabu. Di tengah keheningan antara aku dan suami, tetiba lelaki tua yang tidak pernah kuketahui namanya itu menyapa kami.

“Sudah malam, kereta tetap penuh yaa. Padahal hari ini tanggal merah. Ohya, adik2 ini pacaran kah?”

“Kami sudah menikah, pak.” Jawab suamiku.

“Alhamdulillaah, tanpa harus saya tanyakan lagi, kalian berdua pasti orang islam, karena you (sambil nunjuk ke aku) memakai kerudung.” Katanya.

Kami hanya tersenyum karena orang itu sangat asing. Tetapi lelaki itu melanjutkan perkataannya yang seperti ceramah dari tanah abang menuju depok baru. Sebab lelaki itu turun di depok baru. Intinya saja yang akan kutulis di sini.

Beliau menjelaskan hak dan kewajiban suami dan istri. Keutamaan menjadi istri dan kemuliaan menjadi suami. Tetapi beliau selalu mengulang berkali-kali agar jangan pernah meninggalkan shalat dan jangan pernah memakan riba, serta jaga selalu kehormatan dan kesucian diri.

Pesan untuk you (nunjuk ke suami):
– jaga istrimu lebih daripada menjaga diri sendiri. Karena perempuan yang berstatus istri, pesonanya lebih terlihat oleh beberapa orang lelaki di luar sana.
– Istri punya kelemahan malas shalat, tegakan selalu shalat dalam kelurga, insya Allah semua permasalahan akan hilang, Allah pun akan melindungi kalian dari zina dan perbuatan keji lainnya,
– berikan uang yang banyak kepada istri menurut kemampuan you. Maksudnya, lebihkan uang untuk belanja, agar istri tidak bermain dengan riba, tidak menjadi korban peminjaman uang keliling,
– jangan sekalipun menceritakan tentang kecantikan perempuan lain di depan istri. Sebab itu akan mengikis cintanya istri, sama istri pun jangan begitu.

Pesan untuk istri nih:
– jangan bermanis suara selain kepada suami.
– jangan tinggalkan shalat
– takutlah hanya kepada Allah, hingga terhindar dari perbuatan keji
– jangan hanya menggunakan jilbab jika berpergian jauh saja, tapi gunakan jilbab di sekitar rumah, dan saat ada tamu dari temannya suami.
– banyaklah bersyukur agar tidak kufur dari nikmat yg Allah berikan.

Sebenarnya masih banyak lagi obrolan di kereta malam itu. Tapi tak mungkin kujelaskan secara rinci di blog. Selain itu beliau menjelaskan tentang fiqih, tentang psikologi, tentang bagaimana mendidik anak. Beliau juga mengatakan bahwa generasi islam dirusak dari 2 hal: riba dan pernikahan. Bersyukurlah kalian yang menikah dengan yang seiman, ingatkan kerabat dan famili agar tidak menikah yang berbeda iman.

“Saya berdoa agar kalian diberikan anak2 yg shaleh(ah), menjadi penerus islam. Semoga rezeki kalian berlimpah, semoga shalat kalian terjaga, semoga terhindar dari riba, dan semoga segala kebaikan Allah selalu tercurah untuk kalian. Saya sudah memberikan hak kalian, kewajiban kalian adalah sebagai penyambung lidah akan pesan yang saya katakan tadi, semoga kita bisa bertemu kembali dalam kebaikan. Kalau tidak di dunia, semoga bertemu di surga-Nya.”

“Jazakallaah bikhayr, pak. Semoga Allah memberikan keberkahan yang berlimpah untuk hidup keluarga bapak. Aamiin Allahumma aamiin.” Suamiku membalas.

Aku? Aku tak henti mengaminkan setiap kata dan untaian doa yang sangat sejuk di hati. Pesan2nya begitu menamparku. Yap, aku tidak boleh dilalaikan urusan dunia. Begiu indah cara-Mu mengingatkan kami, sungguh indah cinta-Mu kepada kami. Lelaki tua itu malaikat yang diutus oleh Allah untuk menyempurnakan perjalanam kami di Rabu akhir, 11.30pm.

“Assalaamu’alaykum!” Lelaki itu pun meninggalkan kami seraya melambaikan tangan dan tersenyum.

“Wa’alaykumus salaam wa rahmatullaah” kami berdua menatapnya yang keluar dari pintu kereta hingga punggungnya menghilang seiring pintu kereta yang tertutup kembali.

Aku sudah berjanji kepadanya untuk menyambung lidah atas pesan kebaikan darinya. Semoga dengan menulisnya di blog ini, mampu melunasi kewajibanku.

Memang, malaikat itu tanpa sayap, tapi berbaju koko dan bercelana bahan. Sekian.

(09032016 – 11.45pm)