warna warni hidup

Sudah hampir satu bulan aku berada di rumah. Segala kenangan kala masa kecil pun terputar kembali. Kerinduanku pada mama membuncah. Memang pantas seluruh rasa sayang kupersembahkan untuk seorang wanita yang telah berjuang mengabdi kepada keluarganya. Terutama, mama berubah menjadi wonder woman ketika tahun 1999. Di kala terjadinya konflik di Aceh. Saat itu mama dan ayah berpisah karena ancaman keamanan. Ayah mengungsikan kami ke rumah orangtua mama, dan ayah kembali melanjutkan perjuangan untuk mengais rezeki di tanah konflik. Rumah ini pun menjadi saksi atas suka duka kami selama konflik. Kini mama dan seorang saudara perempuanku kembali lagi merantau ke tanah rencong yang sudah aman. Tak ada lagi konflik. Mama pun kembali mengabdi untuk keluarga seutuhnya. Hidup bersama ayah, adalah kebahagian untuknya.

Oke. Kita kembali ke sebuah desa kecil di bawa kaki gunung Ciremai, tempat rumahku berada. Desa yang asri dengan pemandangan gunung yang sangat jelas dan indah. Desa Manislor itulah namanya. Konon, menurut cerita saksi hidup (baca: Abah), desa Manislor sebelum tahun ‘50-an adalah tempat perhelatan para dukun untuk mengadu ilmunya. Kepercayaan-kepercayaan terhadap hal-hal yang klenik pun masih dimiliki. Bau kemenyan dimana-mana. Dan cara berpakaian pun belum tertutup. Mengaku Islam, tapi baru Islam KTP saja. Begitulah kira-kira gambaran desa tempat mamaku lahir.

Kontras. Sangat berbeda jauh dengan keadaan sekarang. Ketika mendengar Abahku bercerita keadaan Manislor pada zaman dahulu, rasanya aku sedang berada dalam cerita di sinetron “Misteri Gunung Merapi” atau “Drama Kumbara”. Dan ketika aku sadar kembali pada masa sekarang, aku melihat sekitar. Rasanya tak pernah ada yang namanya “perdukunan” di desa Manislor. Secara, di desa Manislor terdapat 8 mushala dan dua Masjid yang letaknya tidak berjauhan. Desa Manislor hanyalah sebuah desa kecil, tapi Luar Biasa. Salah satu kelebihannya adalah memiliki mushala dan masjid dibangun sendiri tanpa meminta dana pada pemerintah atau meminta sumbangan di pinggir jalan. Alhamdulillah. Semua adalah hasil dari bahu membahu antar penduduk desa yang ingin memiliki mushala di setiap RT-nya. Oya, perlu diketahui, dulu jumlah mushala ada 10, tapi 2 mushala dibakar oleh orang yang terdapat kebencian di dalam hatinya. Sebenarnya, hampir semua mushala di sini pernah mengalami perusakan oleh oknum-oknum yang berteriak “ALLAHU AKBAR”, tapi tingkah seperti bangsa BARBAR. Alhamdulillah, berkat Karunia Allah ta’ala warga Manislor bisa membangun kembali mushala-mushala yang telah dirusak tersebut.

Manislor yang sekarang tak seperti Manislor yang dulu. Kini hampir 80% penduduknya sudah menggunakan baju yang menutup aurat. Adzan selalu berkumandang dari setiap mushala selama 5 waktu. Bau kemenyan sudah tidak tercium lagi di setiap sudut rumah para penduduknya. Seminggu sekali selalu ada majelis ta’lim sebagai asupan gizi rohani agar selalu sehat. Anak-anaknya yang masih kecil sudah dibiasakan untuk belajar Al-Qur’an dan artinya, belajar sejarah Islam, serta belajar hadits, setiap sore hari di madrasah. Lalu, ba’da maghrib sambil menunggu adzan Isya, anak-anak yang rata-rata berumur sekitar 7 hingga 10 tahun meramaikan teras mushala. Mengulang kembali pelajaran yang telah mereka dapat di madrasah.

Selama istirahat di rumah, aku pun sering bergabung ba’da maghrib di teras mushala. Menjadi pembimbing (yang masih perlu bimbingan) bagi adik-adik kecil yang lucu (terkadang juga nyebelin). Seperti tadi malam, agar para ibu yang sedang mendengar ceramah dari Pak Mubaligh, aku pun menggiring para anak ke teras mushala. Menulis adalah salah satu hal yang anak-anak kecil sukai.

Menulis sambil bersenda gurau agar mereka tak bosan. Itu yang aku lakukan. Tiba-tiba saja ada seorang anak balita yang berusia sekitar 4 tahun. Balita perempuan yang cerdas dan lucu. Aulia, itulah namanya. Balita lucu itu kini berada di pangkuanku. Aulia kini telah bersahabat dengan diriku. Awalnya Aulia malu-malu kucing jika aku menyapanya dan mengajaknya untuk belajar bersama yang lainnya.

Aulia duduk sambil menyandarkan kepalanya di dadaku. Berhubung dia belum bisa menulis, dia pun hanya bisa memerhatikan anak-anak lain yang sedang menulis. Sambil sesekali dia pun menoleh pada ku sambil nyengir. Dia pun memerhatikan bagaimana aku berbicara pada anak-anak. Sesekali dia menarik-narik mukena yang sedang kukenakan, jika aku tidak menanggapi langsung apa yang dia katakan.

Sekonyong-konyong, kepala Aulia terkulai. Kini kepalanya berada di lengan kiriku. Aku pun kaget. Ketika aku berusaha untuk membangunkannya, dia pun langsung melotot sambil berteriak “BAAAA!”. Aiiih… ternyata dia sedang mengajak ku bercanda. Beberapa kali dia lakukan hal yang seperti itu. pura-pura pingsan, lalu mengagetkan ku sambil ketawa khas anak kecil. Sekali dua kali masih kutanggapi, tapi aku pun tak menanggapinya lagi karena ada beberapa orang anak yang bertanya padaku seputar masalah tulisan yang mereka buat.

Aulia masih dalam keadaan pura-pura pingsan. Dan kepalanya masih bersandar pada lengan kiri. Dia masih dalam pangkuanku. Sesekali kulirik wajahnya yang terlihat damai dan tenang. Wajah polos khas anak kecil masih kentara terpancar pada wajahnya. Bulu matanya yang lentik pun menambah ke-imut-an pada diri balita yang bernama Aulia. Adzan Isya pun berkumandang. Anak-anak yang lain membenahi peralatan tulis yang berserakan di lantai. Aulia masih juga pura-pura pingsan. Pandai sekali balita ini berpura-pura. Hingga aku menggelitik perut dan kakinya, dia tak bergeming dari posisinya.

Aku masih mengira bahwa dia sedang pura-pura. Sambil meletakan dia di atas lantai dengan perlahan, aku pun bercanda padanya agar Aulia terbangun dari kepura-puraannya itu.
“Aulia, bangun! Udah ah, teteh tinggal di sini sendirian yaaa.. kami semua mau masuk.” Aku dan anak-anak yang lain pun melangkah masuk ke dalam mushala. Akan tetapi, Aulia tak bergeming sama sekali. Aku yang sudah melagkahkan kaki kanan di ambang pintu, kemudian berbalik arah menghampiri Aulia. Dan ternyata, Aulia yang pura-pura pingsan, malah tidur pulas. Walhasil, aku pun menggendong dan membawanya masuk ke dalam mushala.
Setibanya di dalam mushala, kuserahkan Aulia yang tengah tertidur lelap kepada ibu kandungnya. Lalu, menceritakan apa yang terjadi di luar tadi hingga akhirnya membuat gadis kecil itu tertidur pulas. Ibunya hanya tertawa kecil. Katanya, jarang sekali Aulia bisa tertidur pulas bila dipangku oleh orang lain. Paling dia akan tertidur, bila dia merasa nyaman pada orang tersebut.

“wah! Iko sudah berbakat tuh. Buruan cari, Ko. Udah ada calonnya belum?” mamanya Aulia pun mengedipkan mata sambil tersenyum penuh makna. Aiiih.. aku pun jadi malu. Kuliahku saja belum kelar. Itu yang menjadi senjata pamungkas bila ada yang bertanya dengan nada menggoda.

Begitu shalat Isya berjama’ah usai, aku melihat seorang anak kecil yang sedang lari di teras mushala dengan anak kecil yang lainnya. Lah… itu kan Aulia. Cepat sekali dia bangun. Memang anak kecil. Dengan mudahnya bisa tidur dan dengan mudahnya bangun serta tertawa kembali. Belum ada beban dan pikiran, mungkin itu penyebabnya. Kehidupan yang mereka tau hanya tidur, makan, dan bermain. Belum memikirkan tanggung jawab dan resiko atas keputusan dan tindakan mereka.

Berada di antara anak kecil, semangatku pun menjadi penuh lagi. Dan aku yakin bahwa bahagia dan keceriaan itu berbentuk gelombang. Bisa merambat ke orang yang berada di dekat sumber keceriaan itu. makanya ada hadits yang pernah kubaca, yang intinya adalah, temui saudara-saudaramu yang lain dengan wajah yang ceria. Keceriaan dan semangat Optimis itu dapat menular. Dan hanya anak kecil yang memiliki semangat dan keceriaan yang belum terkontaminasi oleh intrik-intrik lain. Inilah salah satu alasan yang membuatku ingin menjadi guru. Selalu berada di antara anak-anak yang memiliki semangat dan keceriaan. Sehingga saat usiaku telah lanjut, aku masih tetap berjiwa dan memiliki semangat muda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s