Gadis Kecil Itu…

 (Sisri yang sedang memegang buku)

SISRI. Itulah nama gadis kecil yang kutemui di masjid. Dia adalah salah satu anak kecil yang berada dalam bimbinganku di masjid Al-Jihad. Sisri adalah anak tunggal. Ayahnya seorang dukun patah tulang. Sedangkan ibunya sedang merantau ke Arab, menjadi TKW. Sisri sudah ditinggal ibunya sejak ia masih bayi. Beberapa bulan setelah melahirkan Sisri, ibunya langsung pergi ke Arab. Dan, hingga saat ini –Sisri sudah berumur 4 tahun- Sisri belum pernah bertemu langsung dengan ibunya. Ayahnya sibuk dengan para pasien. Sisri tumbuh menjadi anak dalam asuhan alam. Rumahnya berada di tengah sawah. Jauh dari jalan raya.

Sisri baru sekarang –sekitar 4 bulan terakhir- ikut belajar agama di masjid. Itu pun karena diajak oleh teman sepermainannya yang sudah sekolah. Sisri anak yang lucu dan cerdas. Itu yang kutangkap dari sinar matanya. Banyak orang yang iba padanya. Sudah ditinggal ibunya sedari bayi. Sehingga Sisri sering mendapat baju dan mukena yang dihibahkan dari beberapa orang di sekitar masjid Al-Jihad.

Sisri sering menjadi bahan ledekan teman-teman seumurnya. Aku tak pernah tau pasti, mengapa ia sering sekali dicemooh bahkan dipukul oleh anak-anak kecil yang lain. Analisaku sebagai mantan anak kecil yang sering dicemooh, mungkin karena Sisri tidak sama seperti anak-anak yang lain, rumah Sisri di tengah sawah, ayah Sisri hanya seorang tukang pijat patah tulang.

Beberapa bulan setelah memerhatikan si gadis kecil nan lucu itu, aku menemukan sosok yang tangguh dan pemaaf. Darinya aku banyak belajar untuk menahan marah dan tidak dendam. Yap. Sisri tak pernah membalas sedikit pun ledekan dan pukulan yang acapkali diarahkan padanya. Oh tidak! Dia pernah sekali membalas ledekan dan menangkis pukulan. Tepat di depan mataku. Seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki yang sebaya dengannya bersekongkol untuk menganiaya Sisri –anak kecil jaman sekarang sudah terpengaruh oleh sinetron. Perempuan kecil itu mencubit Sisri dan yang laki-laki melempar sandal jepit ke arah Sisri sambil meledeknya. Namun, Sisri tetap diam. Mungkin karena gemas melihat ekspresi Sisri yang tidak sesuai harapan mereka, aksi mereka pun semakin menjadi. Dengan penuh rasa geram, mereka berdua menarik mukena Sisri dan mulai menjambak rambutnya. Kali ini Sisri tak diam. Sisri langsung menangkis dan mendorong dua anak kecil –korban sinetron. Aneh sekali. Seharusnya Sisri yang nangis, tapi malah 2 orang bocah itu yang menangis. Meraung-raung seolah mereka yang dianiaya oleh Sisri. Mungkin 2 bocah rese itu merasa harga dirinya jatuh, karena misi mereka untuk  membuat Sisri nangis GaTot, alias GAGAL TOTAL!

Ibu-ibu dari kedua orang tersebut terbirit-birit keluar dari dalam masjid, menghampiri 2 orang bocah yang berada di teras masjid. Para ibu berusaha menenangkan 2 bocah rese itu. aiiih… masih kecil, 2 bocah itu bisa bermuka dua. Dengan memasang wajah polosnya, mereka mengadu seolah mereka yang menjadi korban  dan meminta ibunya untuk memukul dan memarahi Sisri. Ibunya bertanya pada Sisri, “benarkah Sisri?”. Sisri dengan suara tenang menjelaskan kronologis diakhiri dengan senyuman. subhanaLlaah… sungguh gadis kecil yang dewasa di usianya yang masih sangat muda. Sekali lagi aku katakan, aku banyak belajar darinya. Aku jadi penasaran, bagaimana yang terjadi di dalam hatinya. Teman-teman sebayanya lebih banyak menghabisi waktu bersama ibu tercinta, sedangkan dia hanya seorang diri. Jika anak lain merasa tersakiti oleh orang lain, bisa mengadu pada sang ibu. Sedangkan Sisri hanya memendamnya seorang diri. Tak ada tangis, tak ada amarah, tak ada airmata. Yang ada hanyalah senyuman dan gelak tawanya yang renyah. Oh… ataukah dia tak pernah mengenal rasa sedih? Ataukah dia hanya berusaha untuk kuat? Mungkin alam telah mendidiknya untuk lebih tegar. Aku benar-benar kagum pada gadis kecil itu. semoga dia bisa menjadi generasi penerus Islam yang pemaaf dan penuh kasih. Lindungilah iman, islam, dan hidupnya, Wahai Allah yang Maha Penjaga.

(Manislor. 9092011. 5.30 pm. sang musafir kehidupan – petarung waktu – pemulung hikmah)

Advertisements

20th Syndrome

KAPAN NIKAH?
 mungkin pertanyaan ini yang sering ditanyakan kepada mereka yang belum menikah disaat usia mereka menginjak 2o tahun keatas.  pertanyaan ini bahkan menjadi beban jika datangnya dari orang tua.  Belum lagi ketika ada teman atau kerabat yang mengadakan pesta pernikahan, pasti akan ada pertanyaan “kapan nyusul? atau “ko calonnya ga di ajak?” atau pertanyaan “kapan nih nyebar undangan?”.  Untuk sebagian dari mereka pertanyaan ini sebenarnya memberatkan atau malah membuat sedih, bukan sedih karena mereka belum menikah tetapi sedih karena memikirkan keinginan keluarga terutama orang tua yang menginginkan anaknya segera menikah, tapi banyak pula yang dari mereka yang menanggapi pertanyaan tersebut dengan santai, jika ada pertanyaan:
“kapan nyusul?”
(dengan senyum mereka menjawab)
“Insya Allah taun depan” (kalau pertanyaannya diajukan bulan Desember)
atau pertanyaan:
“ko calonnya ga diajak?”
(dengan gaya sok punya pasangan mereka menjawab)
“iya orangnya lagi sibuk nguras samudra pasifik”
dan untuk pertanyaan:
“kapan nih nyebar undangan?”
mungkin ada yang menjawab seperti ini:
“undangan sih udah ada cuma orang percetakannya bingung, soalnya nama calon mempelai prianya selalu di tipex hehe…”
Seorang teman atau sahabat yang baik mungkin pernah berkata ” udah jangan pilih-pilihlah…”
lha…ya piye toh mba yu, kami–perempuan yang belum menikah–bukan mencari seorang tukang kebun yang hanya dengan persyaratan bisa memotong rumput langsung di terima, tapi kami mencari seorang laki-laki untuk dijadikan seorang suami.  Seorang laki-laki yang bisa menjadi imam dan yang mau bertanggungjawab atas kami di dunia maupun di akhirat–serem ya bawa-bawa akhirat–tapi itulah semua perempuan pasti mencari yang seperti itu.  Pada saat seseorang memutuskan untuk menikah dengan si A dan bukan dengan si B, dia sudah melakukan pilihan, begitu juga pada saat seseorang memutuskan untuk menikah dengan laki-laki/perempuan yang memiliki iman yang sama, itupun juga merupakan proses memilih. Jadi siapa bilang jangan pilih-pilih (?)
Di sebuah pertemuan keluarga mungkin ada paman atau bibi yang berkata “jangan lama-lama, nanti keburu kiamat”.  eleuh-eleeeuh…siapa juga yang mau lama-lama, kalaupun akhirnya kiamat itu datangnya sebelum kita menikah, insya Allah kita akan dipertemukan dengan bidadari disurga (amin…ya Allah masuk surga).
“udah buruan deh married jangan kejar karir terus”
Lha…siapa yang kejar karir, kita ngejar damri kok (gubrak…)
Menikah itu butuh dana, tapi bukan berarti orientasi kita adalah uang (ga nikah-nikah dong kalau nunggu uangnya cukup, karena manusia pasti ga akan pernah merasa cukup). but at least,  kita punya uang untuk bayar penghulu, dan minimal ada aqua plus kue cucur untuk tamu yang datang, ga mau kan menyusahkan orang tua lagi. Orang tua pasti akan membantu, tetapi bagi mereka yang kehidupannya cukup, orang tua mungkin hanya bisa membantu semampu mereka.
Intinya sih jangan sampai salah memilih. Ga mau kan kaya si fulan dan fulanah yang setelah dua tahun pernikahannya mengatakan “kayanya ane ga bahagia deh dengan pernikahan ane”…waw!! gampang banget ngomong itu.
Jodohmu adalah cerminan dari dirimu, jika kita menginginkan pasangan yang berkualitas maka kualitaskanlah dan pantaskanlah diri kita untuknya.  Insya Allah Sang Pemilik cinta sejati akan memilihkan jodoh yang pantas untuk kita.  Ingat laki-laki yang baik hanya untuk perempuan yang baik, begitu juga perempuan yang baik hanya untuk laki-laki yang baik.
Allah menciptakan setiap manusia saling berpasang-pasangan, kita sebagai manusia hanya menunggu waktu yang tepat dan yakinlah bahwa semua akan indah pada waktunya   ^_^
(Manislor. sang musafir kehidupan -petarung waktu -pemulung hikmah)