Surat Cinta-NYA [Al-Fatihah: 5]

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

[Al-Fatihah: 5]

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”

Pada kesempatan yang berbahagia, perkenankanlah saya yang awam berusaha untuk menggali sepuing makna dari salah satu ayat dalam Al-Qur’anul Kariim, seperti yang telah dicantumkan pada awal tulisan ini. Mungkin ayat ini terkesan sangat singkat, tetapi memiliki khazanah makna yang begitu luas.

Dalam Al-qur’an Tafsir Ahmadiyah menjelaskan bahwa:
ayat ini mengandung makna tentang IBADAH. dimana ibadah itu berarti merendahkan diri, penyerahahan diri, ketaatan dan berbakti sepenuhnya. Dengan kata lain, ibadah tak lepas dari beriman kepada tauhid ilahi. Dan yang dikatakan Iman adalah yang diucapkan secara lisan, dibuktikan dengan perbuatan, serta diyakinkan oleh hati. Sehingga ibadah adalah salah satu pembuktian iman melalui perbuatan. Di dalam ibadah manusia akan menerima kesan dari sifat-sifat Ilahi dan berusaha untuk meresapkan serta mencerminkan sifat-sifat Ilahi di dalam dirinya.

Dari tafsir yang telah saya paparkan di atas, SANGAT JELAS bahwa manusia harus benar-benar yakin dan mengimani ketauhidan Ilahi secara kaffah. dalam dewasa ini, telah terjadi fenomena-fenomena pada generasi muda yang sangat memiriskan hati. Banyak generasi muda tak memahami kandungan dari isi Al-Qur’an. Banyak yang hanya bisa membaca Al-Qur’an dengan bagus, tanpa mengetahui ruh dari ayat-ayat yang dibacanya. Hal ini masih bisa ditolerir, tetapi yang lebih parahnya ada yang tak tau maknanya dan tak bisa membacanya dengan tajwid yang benar. selain itu, jangankan untuk memahami keseluruhan dari ini Al-Qur’an, (mungkin) masih banyak umat muslim yang belum memahami makna dari surah Al-Fatihah (yang dibaca sehari minimal 17 kali). Saya pribadi termasuk di dalamnya. Astaghfirullaahal ‘Azhiim…

Sehingga banyak dari generasi Muslim yang membebek gaya hidup dari umat lain. Generasi Muslim akhir zaman ini pun salah bercermin pada sosok yang tidak patut untuk ditiru. Hingga hadirlah generasi muda yang GALAU, ABABIL, ALAY, dan sejenisnyalah.

Jika fenomena ini tetap dibiarkan dan dianggap hal yang lumrah, hal tersebut akan semakin membuat generasi Muslim mengalami kemunduran baik dalam kualitas jasmani maupun kualitas rohaninya. padahal, tanpa disadari perbuatan tersebut telah melunturkan ketauhidan kepada ALLAH Ta’ala. Na’udzubillaahi min dzalik.

Telah sepantasnyalah kita sebagai generasi muda Islam bercermin pada suatu landasan yang benar, yaitu Al-Qur’anul Kariim (surat cinta yang dikirimkan ALLAH Ta’ala) untuk dipelajari dan dipahami, agar kita dapat mengenal sifat-sifat-NYA dan menerapkan dalam diri sendiri sebagai bekal untuk mengarungi kehidupan di dunia nan fana ini.

Dalam ayat ini dijelaskan juga:

Hanya Engkaulah kami sembah ditempatkan sebelum hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan, menunjukan bahwa manusia harus mengetahui dengan benar akan kebesaran sifat-sifat-NYA, sehingga akan muncul dalam hati untuk beribadah kepada-NYA. Dengan kata lain, tak ada hal sekecil pun yang kita lakukan tanpa memohon pertolongan dari ALLAH Ta’ala. Bahkan untuk beribadah kepada-NYA saja, manusia memerlukan pertolongan dari ALLAH Ta’ala. Subhanallaah..

Jadi, betapa lemahnya kita sebagai manusia. tak ada daya dan upaya tanpa pertolongan dari Allah Ta’ala. Tak ada lagi alasan bagi manusia untuk menyombongkan diri dan bertingkah Ujub. Marilah kawan, kita berusaha untuk mengajak orang lain melangkah bersama di jalan ALLAH Ta’ala. Semoga Iman dan Islam kita diridhai oleh ALLAH Subhanahu wa Ta’ala. Aamiin Allaahumma Aamiin…

SubhaanaKa-llaaHumma wa bihamdiKa asyhadu a(n) laa ilaaha illaa ANTA astaghfiruKa wa atuubu ilayk(a).

——-

Sebenarnya catatan ini sudah lama saya tulis. ditulis ketika ada acara Kegiatan sejenis pesantren kilat yang dilaksanakan saat anak-anak sekolah liburan semester ganjil. saya yang ditunjuk sebagai koordinator acara, memiliki agenda untuk lomba pidato yang diperuntukan untuk anak-anak SMP dan SMA. Saya merasa jika lomba pidato menggunakan format yang konvensional, tak ada tantangannya. Sehingga saya memutuskan untuk menetapkan salah satu ayat Al-Qur’an untuk dikaji dan dikaitkan dengan kehidupan. Hal ini bertujuan untuk mengasah dan melatih daya kaji serta membuat para pemuda untuk membuka Tafsir Al-Qur’an. lagi pula ditentukan satu ayat untuk dikaji, agar semua pendengar fokus pada satu materi, dikarenakan lomba pidato memiliki durasi yang relatif singkat. Saya mencanangkan kegiatan tersebut, membuat saya tertarik untuk mengikut sertakan karya saya dalam lomba pidato. karena umur saya sudah expired (hehe), jadinya tulisan saya dibacakan oleh adik saya yang baru masuk SMA. Memang nampak nepotisme, tapi hasil benar-benar fair. saya tidak terlibat dalam penilaian dan penjurian. Alhamdulillaah tulisan yang berawal dengan niat yang iseng, mendapat juara. Banyak faktor yang membuat juara, tidak semata karena tulisan saya. akan tetapi, penampilan adik saya yang kharismatik serta intonasi suaranya yang baik dan dia tidak canggung berdiri di hadapan ratusan orang, itulah faktor lain yang membuat dia juara. bukan masalah juara atau tidak. bagi saya, yang terpenting bisa menumbuhkan rasa cinta pada Al-Qur’an dan memancing mereka untuk tidak hanya membacanya saja, tetapi memahami maknanya, sehingga generasi Muslim akan mengalami kemajuan dan kemenangan baik dari segi rohani maupun jasmani di masa depan.

——-
Sang Musafir kehidupan, Petarung waktu, dan Pemulung hikmah – hanyalah seorang manusia yang ingin dimanusiakan dan memanusiakan manusia lain dengan cara yang manusiawi
(Andromeda, di awal musim hujan. Desemeber Akhir 2011)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s