Bunga Desember Terakhir yang Bersemi Di November

Image

Abah yang sedang disuapin bubur oleh saya, tiba-tiba mengatakan, “bunganya sudah kuncup. bentar lagi mekar. Disimpan, ntar ada yang ambil.” telunjuk abah pun menunjuk ke teras rumah. saya dan abah saat itu sedang duduk di ruang keluarga. Dari ruang keluarga memang ada jendela. Lewat jendela tersebut bisa terlihat pemandangan teras rumah. Di teras rumah ada beberapa jenis tanaman. Bukan saya yang menyukai tanaman (bunga), tapi abah yang sangat menyukai bunga-bunga.

Abah yang saat itu sedang sakit, masih tetap saja memperhatikan bunga-bunga yang berada di teras rumah. Saat itu abah sudah divonis mengidap tumor otak ganas stadium 3. Sudah tak bisa jalan, tapi bicaranya masih jelas. Mungkin salah satu cara untuk membunuh rasa jenuh karena tidak bisa keman-mana, abah selalu memandang dan memperhatikan keindahan warna-warni bunga di teras. Maklum saja, sebelum divonis dokter terkena tumor otak, Abah adalah seorang laki-laki yang sangat gesit dan sangat memanfaatkan waktu dengan kegiatan yang bermanfaat. Dahulu hal yang jarang terjadi adalah abah jarang di duduk berpangku tangan di rumah, ada saja yang dikerjakannya. bahkan saat matahari terbenam, abah masih tetap di sawah dan mengolahnya. Abah termasuk petani yang handal dan gigih. Jejak-jejak kerja kerasnya  masih terlihat di badannya, meski pun tumor tersebut sedikit demi sedikit menggerogoti tubuhnya, tapi bentuk tubuh yang kekar masih terlihat jelas.

Dan kini saya nyaris tak percaya. Sebuah pot berwarna biru di teras rumah terdapat batang dan kuncup bunga yang tersembul dari dalam tanah. Pot yang hampir saya buang, karena hanya terisi tanah. hanya tanah. tak ada bunga. dahulu, ketika abah masih bisa jalan, abah selalu menyiram pot tersebut. saya merasa aneh saja. apa-apaan ini? kegilaan nomer berapakah ini? menyiram pot tanpa satupun tanaman di dalamnya. hanya ada tanah. seiring berjalannya waktu, kini saya paham. inilah buah kesabaran abah yang setiap pagi menyiram pot tersebut, meski sering saya ledek abah telah melakukan hal yang sia-sia.

Kala itu bulan November. November awal. Bunga itu mulai kuncup di awal November. bentuk bunga tersebut belum jelas. yang saya amati, batang bunga tersebut tak berkambium. seperti batang keladi. Saya tak tau nama bunga itu secara ilmiah. namun, abah pernah menyebut bunga itu dengan nama “Bunga Desember”. Belum sempat saya bertanya banyak tentang bunga tersebut, kesehatan abah mulai memburuk. Malam itu -setelah melihat bunga desember kuncup-, abah mengalami kejang-kejang hingga tak sadarkan diri dan dibawa ke rumah sakit. Padahal saat paginya, abah sempat berpesan kepada saya agar tidak membuang pot tersebut dan terus menyiramnya serta menyimpannya di dalam rumah, karena bunga itu sangat langka dan hanya setahun sekali berbunga.

Setelah malam-malam itu, saya kehilangan abah yang dulu. Kejang-kejang itu membuat abah susah bicara. hanya bisa berkata terbata-bata. Kondisi abah berubah drastis. Abah seperti balita umur 1 tahun. Kini ia berbaring terus di tempat tidur. Tak bisa lagi diajak bicara tentang kehidupan. Rasanya sangat sedih dan kehilangan. Dahulu abah yang selalu mengingatkanku untuk dawam shalat fardu serta shalat tahajjud dan dhuha, Abah yang selalu mengaji di sampingku kala shubuh dan malam sebelum tidur, abah yang merawat saya ketika saya sakit parah dan mama tak bisa pulang ke rumah. namun, itu semua tak bisa lagi saya saksikan. Kini semua harus kulakukan mandiri, kini semua terbalik. Abah yang selalu kuingatkan serta kubimbing shalat, saya sekarang membacakan ayat-ayat Al-qur’an di saat shubuh dan di saat abah mau tidur. sesekali abah meraung kesakitan. tumornya sedang bereaksi dengan obat, sehinggat tiap beberapa jam sekali abah merasakan sakit kepala yang sangat dahsyat.

kini saya kehilangan seorang abah, tapi hadir sosok bayi di rumah ini. Awalnya saya belum bisa menerima keadaan seperti ini, tapi inilah siklus hidup yang harus diterima dan dihadapi. saya mulai terbiasa dengan kondisi abah yang kembali menjadi seorang bayi. hingga cara saya pun berbicara dengan abah seperti berbicara kepada seorang bayi. akan tetapi, yang membuat saya takjub, abah selalu mengingat waktu-waktu shalat. ketika tiba waktu shalat dan mendengar adzan, abah lekas menari atau menepuk tangan saya yang selalu berada di sisinya. itu tandanya dia ingin tayamum dan shalat. abah masih memiliki keinginan yang kuat untuk shalat, tapi apa daya, kata dokter memori abah yang tersisa kini tinggalah memori ketika ia masih muda. memori-memori yang lainnya sudah nyaris tertutup oleh tumor. subhanallaah! ternyata jika shalat sudah mendarah daging, meski memori telah rusak, tetap saja  masih tertanam sebagai kewajiban.

Lalu apa kabar dengan Bunga Desember? saya selalu menyiramnya setiap pulang ke rumah. Bunga Desember pun mengalami siklusnya. Kuncup itu berubah menjadi bunga yang mekar, tapi belum sempurna. setelah sepuluh hari abah dirawat, akhirnya abah pulang ke rumah di saat bunga Desember mekar dengan sempurna. sangat indah. saya pun dibuat takjub lagi. abah bertanya dengan terbata-bata tentang keadaan bunga desember. ketika kutunjukan bunga yang indah itu, abah tersenyum lebar seperti anak bayi yang diberi mainan.

Untuk yang kedua kalinya abah kejang-kejang. jangka waktunya sebulan setelah keluar dari rumah sakit di tengah bulan november. kondisinya semakin parah. badannya semakin ringkih. kini makan pun tak bisa. banyak selang yang masuk ke dalam tubuhnya. abah terlihat kesakitan setiap kali ada cairan yang dimasukan lewat selang yang berada di lubang hidung. tubuh ringkih abah sudah tak berdaya. rasanya saya tak ingin melihat abah yang terlihat menderita. setiap 10 detik sekali abah selalu cegukan. dan kini sakit kepalanya kambuh setiap jam. memang sedari awal, dokter telah mengatakan bahwa tumornya akan berkembang sangat cepat. dan pada akhirnya, si dokter menyerah. katanya umur abah tinggal hitungan hari. saya sangat marah dan tidak terima dengan vonis dokter tersebut. seenak jidatnya saja dia menentukan umur abah. tak ada satu pun manusia dapat memastikan siklus hidup. seperti halnya Bunga Desember. semua orang mengatakan bahwa bunga desember hanya tumbuh di bulan desember, tapi ternyata tidak benar juga. buktinya bunga desember bisa tumbuh di bulan november dan masih tetap bertahan di akhir bulan desember.

ketika dokter menyerah, saya dan keluarga besar memutuskan untuk membawa abah ke rumah dan merawatnya dengan obat HOMEOPATHY. Jenis obat ini belum terlalu dikenal oleh orang Indonesia. dunia kedokteran di Indonesia belum memakai obat jenis ini. Indonesia masih menggunakan jenis obat Allopathy. nanti lain waktu saya akan menjelaskan perbedaan antara kedua jenis obat tersebut. Obat ini tidak terasa pahit, karena ekstrak obatnya di balut oleh globul-globul gula dan hanya dijual di luar negeri seperti Singapura.

Saya yakin, seyakin abah menanti bunga desember itu berbunga, bahwa akan ada keajaiban pada abah. setidaknya, saya bisa berbakti di sisa waktu abah dalam dunia nan fana ini. Keajaiban itu datang. kondisi abah berangsur membaik, meski tak sebaik kondisi dahulu. syaraf abah mulai tersambung dengan memori-memori yang kata dokter telah tertutup. abah mulai bisa diajak ngobrol bahkan abah mengingat semuanya, bahkan mengingat nama saya. Subhanallaah… Allah telah mematahkan vonis dokter. Hari-hari abah ditemani oleh keindahan bunga desember. sebulan telah terlewati dari vonis dokter. dan bunga desember masih tetap terlihat segar. padahal bunga desember tak bisa hidup di bulan januari. keajaibankah ini? mungkin.

ketika minggu keempat di bulan januari, abah layaknya abah yang dulu meski belum bisa jalan. abah masih bercanda dengan cucu-cucunya, memberikan nasihat-nasihat, dan mengajak shalat berjama’ah bersama. akan tetapi, ini semua terasa aneh. ketika tanggal 28 Januari, abah mengatakan dengan tatapan yang menerawang jauh. abah mengatakan, “hidup harus rukun-rukun dengan saudara, damai-damai dengan tetangga  dan orang lain. silih asih, silih asah, silih asuh. jangan tinggalin shalat lima waktu, tahajjud, dhuha. jadi yang bermanfaat untuk bangsa dan agama.” itu kata-kata abah yang membuat saya takjub untuk kesekian kalinya. sedemikian cepatkah perkembangan kesehatan abah? abah bisa berbicara dengan lancar. abah memang memiliki kebiasaan mengeluh dengan asma-asma Allah. tapi sedari awal minggu keempat januari, abah lebih sering mengucapkannya tanpa diingatkan oleh cucu-cucunya. bahkan ia yang mengajakku untuk ngaji yasin berkali-kali.

minggu keempat di bulan januari terasa sangat aneh. dari perubahan kesehatan abah yang membaik, ocehan abah yang selalu menyebutkan orang-orang yang telah meninggal, dan abah yang pemberani saat itu menjadi abah yang ingin selalu ditemani. tanggal 29 Januari sore ba’da Ashar, abah mengalami benturan di kepalanya karena berusaha untuk bangun dari tempat tidur. ternyata itu lah penyebab yang membuat abah kembali menuju Penciptanya. kondisi abah kontan memburuk. abah kini tak bisa melihat. kelopak matanya pun tak bisa menutup.karena tidak ada perintah dari syaraf otak. abah pun tak bisa berbicara lagi. badannya telah dingin dan pucat. tekanan darah rendah. 80/70. abah sudah pingsan. dan untuk yang ketiga kalinya masuk ruang ICU. jam 8 malam abah sempat sadar dan sambil menangis abah mengatakan dengan terbata-bata bahwa dirinya sudah tak bisa melihat lagi. tak lama kemudian abah kejang-kejang dan dokter mengatakan bahwa tumor abah sudah stadium 4. memang sudah harus seperti ini. akhir dari sebuah siklus kehidupan. ba’da shubuh, 30 Januari 2012 hari Senin, abah menghembuskan nafas terakhir tepat pukul 6. abah mengakhiri siklus kehidupan di dunia nan fana dalam keadaan tersenyum dan penuh kedamaian. tak ada jeritan ketika sakaratul maut. abah benar-benar meninggalkan dunia fana ini dalam kondisi tubuh yang sudah digunakannya dengan maksimal ketika sehat. akhir hidup di akhir januari, tapi menjadi awal kehidupan abadi abah di dunia lain. abah hanya bisa merasakan 1 bulan  di tahun 2012. itu pun diwarnai dengan rasa sakit yang luar biasa. namun ada yang sangat luar biasa beberapa jam sebelum abah meninggal. sekitar jam 3 pagi, saya antara sadar dan tidak yang saat itu tepat di samping abah, melihat secercah cahaya yang sangat cepat melintas mendekati abah. sangat terang. tak lama kemudian saya terbangun dan merinding serta merasa ruangan ICU ramai dalam kesunyian. Allaahu ‘Alam. semoga Abah ditempatkan di tempat yang terpuji. Aamiin Allaahumma aamiin.

lantas apa kabar dengan bunga Desember? Sehari setelah abah meninggal, bunga itu layu dan esoknya bunga itu gugur menuju tanah. dan kini bunga itu sudah tak terlihat lagi. yang terlihat tinggalah pot dengan tanah tanpa ada tanda-tanda kehidupan. setelah saya mencari data, rupanya bunga tesebut tumbuh di awal musim hujan. tapi sebuah keajaiban, bunga tersebut layu dan mati ketika masih musim hujan. dia sengaja hadir lebih dulu untuk menghibur abah dan mempersembahkan bunga terakhirnya sebelum abah meninggalkan dunia nan fana ini. bunga terakhir untuk abah, yang selalu setia menyiramnya di kala orang lain tak yakin bahwa bunga itu akan bersemi dan mekar.

Selamat jalan abah… sampai jumpa bunga Desember… semoga kita semua dapat bertemu kembali dalam siklus hidup yang akan datang.


——————-

Bunga yang dikenal dengan nama Blood Lily atau dalam bahasa latin dikenal pula dengan Haemanthus muftiflorus ini sebenarnya hanya muncul pada musim hujan dan lenyap saat musim kemarau. Mungkin karena kedua musim ini sekarang tak lagi datang tepat waktu maka bunga ‘Desember’ pun tak lagi mekar tepat waktu.

Untuk bisa menanam bunga ini, ternyata kita cukup menanam umbinya saja, begitu kira-kira kata nenek saya. Humm…buat para pecinta bunga, tidak ada salahnya lho kalau coba menanamnya di depan rumah dan perhatikan saat ia mekar suatu saat nanti, pasti akan ada kebahagiaan tersendiri yang dirasakan.

——————-

Andromeda. di Penghujung Musim Hujan. sang Musafir Kehidupan – si petarung waktu – Pemulung hikmah

Advertisements

6 thoughts on “Bunga Desember Terakhir yang Bersemi Di November

    • nah itu dia, mister. saya tidak tau harus didapatkan dimana. mungkin bisa cari di toko bunga. agak langka sih, soalnya berbunganya setahun sekali dan umur bunganya juga relatif singkat. 😀 jazakumullah udah baca postingan ini. malu, tulisannya masih berantakan. 😀

  1. Subhanallah….syahdu dan indah nian perjalanan bunga desember…..smg Abah mb Tinuh damai di alam penantian….
    Ijin share ya….

  2. kisahnya bikin nyesek …sedih…terharu membacanya…semoga abah khusnul khotimah.
    sy ingat almarhumah kakak sy …dulu suka tanaman suplir…banyak yg sdh ditanam di pot…bahkan pernah ambil di bibir sumur demi kecintaannya pd suplir…tp begitu kanker merenggut nyawanya…tanaman suplirny
    apun kering satu persatu dan mati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s