Tak Hanya Sekadar Di Atas Secarik Kertas

Kata Bai’at mengandung makna yang sangat luas, dan derajatnya merupakan derajat suatu hubungan paling tinggi yang sesudahnya tidak ada suatu hubungan apa pun lagi. Bai’at merupakan serapan dari bahasa Arab, berasal dari kata Baa’a – Yabi’u yang artinya menjual. Sedangkan Bai’at berarti penjualan atau jual beli. Menurut istilah ialah suatu perjanjian terhadap Allah s.w.t. yang wajib dipenuhi dan dipatuhi oleh seorang hamba Allah. Bukti kuat bahwa Bai’at pernah dilakukan pada zaman Rasulullaah s.a.w. Q.S. Al-Fath (48): 11

“Sesungguhnya orang-orang yang bai’at kepada engkau sebenarnya mereka bai’at kepada Allah. Tangan Allah ada di atas tangan mereka, maka barangsiapa melanggar janjinya, maka ia memutuskannya untuk kerugian dirinya sendiri dan barangsiapa menyempurnakan apa yang dia telah janjikan kepada Allah, maka Dia segera akan memberinya ganjaran yang besar.”

Rasulullaah s.a.w. juga mewasiatkan kepada umat beliau agar berbai’at kepada Imam Mahdi yang merupakan KhalifatullaahApabila kamu melihatnya, maka kamu Bai’at kepadanya, walaupun harus merangkak di gunung salju, karena dia adalah Khalifar Allah al-Mahdi.” (Sunan Ibnu Maajah, Kitaabul Fitan, hadits no. 4084).

Kemudian Rasulullaah s.a.w. juga berpesan: “Barangsiapa mati sedang hidupnya tidak ada ikatan Bai’at, maka ia mati secara jahiliyyah.” (Shahih Muslim).

 

Setelah berbai’at atau melakukan perjanjian langsung dengan Allah s.w.t. tidak lantas membuat kita puas begitu saja. Bai’at bukanlah akhir dari tujuan, tapi sebuah pintu gerbang untuk memulai perbaikan kesucian hidup. Setelah terjadi kesepakatan di atas kertas untuk senantiasa menaati 10 syarat bai’at, tak lantas merubah hidup kita menjadi suci. Perlu adanya perbaikan-perbaikan akhlak setiap hari, dibantu dengan do’a dan bertaubat serta diisi oleh amal-amal yang shaleh. Semua itu harus dibungkus di dalam keteguhan iman dan keistiqamahan dalam menjalani hari-hari setelah berbai’at.

 

Tiada daya upaya manusia tanpa kekuatan dari Allah ta’ala. Bahkan untuk istiqamah saja kita harus meminta dan memohon kepada-Nya. Istiqamah berada di dalam ikhtiar Allah s.w.t. Istiqamah artinya keteguhan dalam memegang janji. Berjanji itu mudah, namun memegang dan melaksankannya agak sulit. (Istiqamah dalam) beriman ibarat sebuah tanaman yang ditanam pada tanah keikhlasan. Dan melalui amal-amal shaleh pengairannya dilakukan, jika tidak dijaga sepenuhnya dengan memerhatikan waktu dan musim, maka akhirnya akan hancur dan musnah. Lihatlah sobat, betapa pun bagusnya tanaman (iman) yang ditanam di kebun (hati), namun setelah ditanam lupa disiram dan tidak diairi tepat waktu, atau tidak dipupuk serta dipagari, maka akhirnya tanaman tersebut akan mati atau dicuri maling.

 

Tanaman iman membutuhkan amal-amal saleh bagi pertumbuhan serta perkembangannya. Dan di mana pun iman Al-Qur’an suci menyinggung soal iman, di sana Al-Qur’an telah memasang persyaratan amal-amal shaleh. Sebab, apabila timbul kekacauan pada iman, maka ia sama sekali tidak layak untuk diterima di sisi Allah. Seperti halnya makanan yang basi atau busuk, tidak ada yang menyukainya. Demikian pula riyaa/pamer, sombong, takabur, adalah hal-hal yang membuat amal-amal menjadi tidak layak diterima. Amal-amal shaleh yang terbentuk bukanlah hanya sekedar dari usaha manusia sendiri, tapi terjadi dengan proses khusus dari karunia Allah ta’ala.

 

Jadi dari itu hendaknya dipahami, segala sesuatu yang dianugerahkan, selama di dalamnya tidak ada dukungan Samawi, selama itu pula manusia berada dalam keadaan tidak berguna. Betapa pun tulusnya hati manusia menerima perkara, namun selama tidak ada karunia Ilahi. Maka manusia tidak dapat berdiri tegak di atasnya.

 

Akhir kata, agar Bai’at kita tak hanya sekadar di atas secarik kertas, kita harus memiliki modal dan terus mengumpulkan modal tersebut. DUIT. DUIT yang akan membuat Bai’at kita bukan hanya Perjanjian biasa. (berDo’alah, Usaha yang gigih untuk beramal shaleh, Istiqamah, Taubat). Ternyata tak hanya kehidupan jasmani saja yang memerlukan duit, tapi kehidupan ruhani pun memerlukan DUIT agar terpenuhinya perjanjian dengan Allah ta’ala.

 

 

10 Syarat Bai’at yang harus dilaksanakan hingga ajal menjemput: 

 

1. Di masa yang akan datang jika masuk kedalamku akan selalu senantiasa menjauhi syirik.

2. Akan senantiasa menghindarkan diri dari segala corak  bohong, zina, pandangan birahi terhadap bukan muhrim, perbuatan fasik, kejahatan, aniaya, khianat, mengadakan huru hara dan memberontak. Serta tidak akan dikalahkan oleh hawa nafsunya meski pun bagaimana kuat dorongan kepadanya.

3. Akan senantiasa mendirikan salat lima waktu semata-mata karena mengikuti perintah Allah Taala dan Nabi Muhammad Rasulullahualaihiwasalam. Dan senantiasa dengan sekuat tenaga mendirikan shalat tahajud, dan mengirimkan salawat kepada junjungannya Yang Mulia Nabi Muhammad Rasulullahualaihiwasalam. Dan memohon ampun dari kesalahan dan mohon perlindungan dari dosa. Agar ingat setiap saat kepada nikmat-nikmat Allah, lalu mensyukurinya dengan hati tulus dan memuji serta menjunjungnya dengan hati penuh kecintaan.

4. Tidak akan mendatangkan sesat apapun yang tidak pada tempatnya. Terhadap mahkluk Allah umumnya, dan kaum muslimin pada khususnya.

5. Akan tetap setia kepada Allah baik dalam segala keadaan susah atau senang, duka atau suka, nikmat atau musibah, pendeknya akan rela dengan keputusan Allah Taala. Dan senantiasa akan bersedia senantiasa menerima segala kehinaan dan kenistaan di jalan Allah. Tidak akan memalingkan mukanya dari Allah Taala ketika ditimpa suatu musibah. Bahkan akan terus melangkah ke muka.

6. Akan berhenti dari adab yang buruk, dan hawa nafsu, serta benar-benar menjunjung tinggi perintah Al Quran suci di atas dirinya. Kiriman Allah Taala dan sabda rasulnya itu akan menjadi pedoman dalam setiap langkahnya.

7. Meninggalkan takabur dan sombong. Akan hidup dengan merendahkan diri, beradab lemah lembut, berbudi pekerti yang halus, dan sopan santun.

8. Akan menghargai agama, kehormatan agama, dan mencintai Islam lebih daripada jiwanya, hartanya, anak-anaknya dan segala dari yang dicintainya.

9. Akan selamanya menaruh belas kasihan terhadap mahkluh Allah umumnya dan akan sejauh mungkin mendatangkan faedah kepada umat manusia dengan kekuatan dan nikmat yang dianugerahkan Allah Taala kepadannya.

10. Akan mengikat tali persaudaraan dengan hamba ini yaitu Imam Mahdi semata-mata karena Allah Taala dengan pengakuan taat dalam al ma’ruf.  Dan akan berdiri di atas perjanjian ini hingga mautnya. Dan menjunjung tinggi ikatan perjanjian melebihi ikatan duniawi, baik ikatan keluarga, ikatan persahabatan atau pun ikatan kerja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s