Elegi Cinta Tata Surya

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

13 Juni 2012. Rabu Pagi dengan semangat yang (semoga) masih tetap menggebu. Pagi yang cerah ditemani dengan semilir angin gunung yang menusuk kulit. Mentari masih tetap menyapa bumi dari arah timur. Perlahan tapi pasti, mentari mulai meninggi dan cahayanya mulai terasa panas. Tak terasa. Sudah 17 hari hidupku terkatung-katung di lembah yang tak pernah kuduga sebelumnya. Aku terjebak di sini. Tak tau arah jalan pulang. Rembulan yang membawa ku ke tempat yang asing, lembah keambiguan. Lantas dalam seketika ia pergi begitu saja meninggalkan permainan yang baru saja dia mulai. Apa-apaan iniiih? Ternyata aku hanya menjadi kelinci percobaan rembulan akan penasarannya selama ini. Rembulan sempat mengatakan: “Jangan bermain api.” Halooo? Yang main api duluan siapa coba? Sekuat tenaga kusimpan dan kuabaikan isyarat dari Tuhan tentang mu dan penggenapannya. Namun apa yang terjadi? Kau datang memberikan sinyal. Terus? Setelah itu kau menyalahkan ku karena telah memberatkan langkahmu? Aku tak pernah berniat untuk bermain api, apalagi dengan mu yang notabenenya penerang malam. Mungkin memang seperti ini prosesnya kali yaaa. Haha. Perempuan memang sumber fitnah (cobaan), makanya harus menjaga diri. Benar adanya petuah dari mama. *menarik nafas – menghela nafas – kemudian tertidur. Zzzzz*

Kali ini aku akan bercerita tentang beberapa anggota tata surya dan fenomenanya. Bumi, Rembulan, Bintang, Mentari, dan Senja. Hm… tapi aku bingung harus memulai dari mana. Semua berawal dari Senja. Yaa. Bumi dan Senja.

Bumi masih setia berotasi pada porosnya. Suatu ketika, di keheningan sore di langit sebelah barat, Senja menyapa Bumi. Meski cahayanya redup, Bumi merasa tentram setiap kali petang datang. Senja selalu setia berbincang-bincang dengan Bumi hingga Maghrib tiba. Bahkan pernah suatu masa, Senja dan Bumi lupa bahwa malam telah datang. Karena saling merasa nyaman dan Bumi mendapat isyarat dari Sang Pencipta, mereka memiliki harapan yang sama. hingga suatu malam nan syahdu, Senja menawarkan keseriusannya kepada Bumi yang kala itu sedang sakit. Bumi sangat senang dan terharu. Baru kali ini ada yang memintanya untuk serius. Namun apa daya, Bumi menyadari posisinya yang serba salah. Senja dan Bumi beda dunia. Dan hal ini pun disadari oleh Senja. Perlahan tapi pasti, Bumi dan Senja membuat jeda. Agar dapat berpikir jernih. Jeda yang tak tau kapan harus diberi titik. Karena harapan itu masih ada. Cinta bersambut, namun Bumi dan Senja memiliki peta yang berbeda.

Selama musim hujan yang panjang, Bumi tak lagi bersua dengan Senja di kala petang. Bumi berusaha untuk memberikan titik. Tapi tetap saja. Setiap kali diberi titik, ada saja hal yang membuat titik itu terhapus. Padahal Bumi sadar betul bahwa kemungkinan harapannya kan jadi nyata hanyalah 0,1%.

Bumi menutup semua pintu dan menguncinya dengan rapat. Bumi tak ingin memberikan kesempatan lagi. Bumi ingin fokus membenahi kehidupannya. Agar siapa pun yang berkunjung merasa nyaman dan betah untuk tinggal selamanya bersama Bumi. 2 tahun lebih pintu itu terkunci rapat. Berkali-kali ada yang berusaha untuk membukanya, tapi mereka menyerah. Pintu ini sangat kuat untuk dibuka. Hingga Tuhan membuat skenario untuk Bumi. Tuhan mengirimkan Rembulan yang awalnya sebagai penerang bumi di kala malam tiba. Ternyata, rembulan merupakan penggenapan dari isyarat-isyarat yang didapatkan ketika Bumi mengasingkan diri di ruangan vakum udara di kala ramadhan tahun lalu.

Bumi hanya menyimpan semua rahasia isyarat itu. karena Bumi tau bahwa Rembulan sudah memiliki bintang kecil di seberang sana. Namun keadaan itu menjadi berubah drastis ketika Rembulan menyapa Bumi sebagai pribadi bukan sebagai “penerang”. Bumi merasa bahwa Rembulan memberikan sinyal-sinyal. Semua menyeret Bumi ke dalam lembah keambiguan. Bumi merasa bingung, hingga menghambat Bumi berotasi pada sumbunya. Rembulan menganggap semua yang telah terjadi seperti sebuah permainan.

Hey Rembulan! Hidup ini memang sebuah permainan. Akan tetapi, bukan berarti mempermainkan keseriusan beginiiih. Karena sikapmu, akan ada hati yang terluka. Kalau bukan Bumi, pasti Bintang kecil itu.”

Hingga akhirnya Rembulan sadar akan kesalahannya. Sebenarnya niatnya baik, tapi cara yang Rembulan pilih tidak tepat. (Lagi-lagi) Bumi memilih untuk mengalah. Biar semua layu sebelum berkembang. Dan Rembulan berusaha untuk memperbaiki orbital yang sempat ia porak-porandakan. Rembulan masih ingin membuka pintu yang terkunci. Namun dia akan bersanding dengan bintang. Walhasil ia meminta mentari untuk melanjutkan permainan yang baru saja Rembulan mulai. Bumi merasa berada di wilayah yang sangat tidak nyaman. Hingga benteng pertahanan itu ia kokohkan kembali.

Tak dinyana. Gunung Es yang menutupi pintu itu mulai mencair. Dengan cahaya Mentari yang selalu sabar menyinari Bumi setiap pagi. Bumi mendapat selentingan kabar yang dikicaukan burung bahwa Mentari terlalu silau dan panas. Jangan memberikan kunci pintu itu sebelum Bumi bertemu langsung dengan Mentari. Yang setiap pagi Bumi lihat adalah cahanya. Bukan wujud aslinya. Selentingan kabar itu membuat Bumi untuk membekukan kembali gunung es yang sempat mencair. Bumi tak ingin bermain api untuk yang kesekian kalinya.

Hingga malam tiba, Bumi berusaha mencari Mentari di antara deretan-deretan kata. Ingin meneropong Mentari dari kejauhan agar bisa terlihat wujud aslinya. Namun benar dugaan Bumi sebelumnya. Bahwa Mentari terlalu silau untuk menemani hidupnya. Perlahan Bumi mundur dan tidak akan melanjutkan permainan ini. Bumi berusaha unttuk bersikap normal. Berotasi pada porosnya dan mengorbit pada orbital yang telah Tuhan tentukan untuknya.

Bumi sadar betul. Dirinya bukanlah seperti bintang kecil yang dapat memancarkan cahaya sendiri. Bumi hanya mampu merawat kehidupan yang Tuhan amanatkan kepadanya. Bumi tak pantas bersama Mentari, karena Mentari mencari bintang yang mampu bersinar. Jangankan bersinar, untuk berpijar saja Bumi tak mampu. Sedangkan Rembulan? Dia hanya bisa menyalahkan Bumi karena telah memberatkan langkahnya.

Dulu Rembulan datang dan berdiri di antara Bumi dan Senja. Hingga Bumi mampu memberikan titik pada Senja. Bukan jeda. Namun tanpa disadari, Bumi secara tidak langsung telah berada di antara Rembulan dan Bintang. Rembulan pun membenarkan orbital yang paradox ini. Bumi disandingkan dengan Mentari oleh Rembulan. Bumi justru memilih untuk mundur. Dan kini, Bumi memilih untuk menyendiri dan tetap berotasi pada porosnya.

Biarlah kini Rembulan menyinari Bumi di malam hari dan Mentari menyinari Bumi di pagi hari. Menjadi penerang memang itu kewajiban mereka toh. Cukup! Dan mungking masih takdirnya aku berada di lembah ini. Sekuat apapun aku berusaha untuk keluar dari sini, jika memang takdirnya harus masih di sini, aku akan tetap di sini meski seorang diri.  Tetaplah berbaik sangka pada Allah Ta’ala, koko! Allaahu ma’ana. ^_^ semoga Allaah tetap membekukan hati ini, membutakan mata ini dan menulikan telinga ini dari segala yang sia-sia serta tidak halal.

Purnama yang terbit dari timur itu ternyata pantulan cahaya mentari yang datang dari barat. Dan kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi pada orbital kita esok hari. Sepenggal kisah di pertengahan musim kemarau.

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya.

(Surah Yunus ayat 5)

Aku bisa terima…
Meski harus terluka
Karena kuterlalu,mengenal hatimu

Aku telah merasa..
Dari awal pertama
Kau tak kan bisa lama,berpaling darinya..

Ternyata hatiku benar
Cintamu hanyalah sekedar..
Tuk sementara..

Akhirnya kita harus memilih
Satu yang pasti
Mana mungkin terus jalani
Cinta begini

Kar’na cinta tak akan ingkari
Tak kan terbagi
Kembalilah pada dirinya
Biarku yang mengalah
Aku terima…

Saatnya kembali,nurani bicara

Ku tak bisa terima
Bila terus tak setia
Mengkhianati dia,menduakan cinta

Ternyata hatiku benar
Cintamu hanyalah
Sekedar…..Tuk sementara

Sebentar kutelah kecewa
Biarlah aku pergi
Nikmati luka ini
Perih ini….sendiri…

~Tangga – Cinta Begini

(Sang Musafir kehidupan, Petarung waktu, dan Pemulung hikmah – hanyalah seorang manusia yang ingin dimanusiakan dan memanusiakan manusia lain dengan cara yang manusiawi)

Advertisements

4 thoughts on “Elegi Cinta Tata Surya

  1. Ah! Pagi-pagi gini, sudah bikin postingan galau. Untung bacanya sambil makan pisang goreng dan menyeruput 1 mug teh manis-panas. Semangat pagi. Mari jadikan galau sebagao pembangkit energi hari ini. Jia-you (semangat)…!! ^_^

    • Semangat pagi juga^_^ biar tulisannya galau, tapi semangatnya mah gak galau kok. hehe. tulisannya mah semalam sesuai pesanan teman. baru sempat dipostingnya sekarang. terimakasih telah dibaca. semoga gak tertular galaunya. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s