Ocehan Shubuh: Menikah

Image

Selasa kemarin, aku menemani teteh sepupu untuk fitting gaun pengantin untuk akad nikahnya di bulan Juni. Ini pertama kalinya aku ikut membantu dalam hal persiapan untuk menikah. Dulu, kukira menikah itu yang penting semua syarat sah nikah sudah terpenuhi. Ternyata tidak sesederhana otakku menduga. Kata ayah menikah itu kan yang terpenting akadnya. Tapi pada kenyataannya, bahwa menikah itu sangatlah rumit dan ribet.

Sebenarnya yang membuat pernikahan itu ribet adalah tradisi dan adat. Sedangkan islam itu sangat memudahkan prosesi pernikahan. Tak memberatkan. Tapi gengsi dan prestis lah yang membuat semuanya jadi tak sesederhana yang kupikir. Adat dan ibadat masih saja berada di zona abu-abu. Tidak ada garis tegas pembatas. Seharusnya, dalam ibadat itu hanya ada zona hitam atau putih. Tidak mengenal abu-abu. Karena kata ayah, tinggalkan zona abu-abu.

Atau aku yang terlalu aneh, hingga detik ini belum bisa memahami kultur yang berkembang di masyarakat tentang pernikahan. Entahlah. Aku hanya berpedoman pada Al-Qur’an dan belajar dari kisah pernikahan ayah dan mama. Yang menurutku, pernikahan mereka berdua (berusaha) mengikuti sunnah Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Hingga resikonya adalah “dikafirkan” oleh masyarakat karena tidak mengikuti tradisi yang ada. Tak masalah, kata mereka. Toh, Islam akan terasa asing bagi ummatnya di awal dan di akhir zaman. Sudah sepantasnya kita sebagai generasi muda, berani mendobrak kebiasaan lama yang mendarah daging ini. Karena, jika adat dilakukan secara turun temurun, pada keturunan yang kesekian akan menganggap adat itu suatu kewajiban yang harus dilakukan layaknya ibadat. Untuk berwacana seperti ini, memang mudah. Tapi ya itu tadi, butuh keberanian untuk memutuskan rantai ini. Karena akan ada friksi dengan masayarakat dan lingkungan. Seperti melawan arus. Dan semua itu harus dimulai dari diri sendiri.

Tahun 2013 ini tahun tergalau bagiku. Karena di tahun ini beberapa temanku memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya. Bukan karena iri tak bisa seperti mereka yang sudah menemukan jodohnya. Tapi merasa kehilangan dan sedih. Sudah tidak ada lagi teman untuk bermain atau sekedar kongkow, bercerita tentang banyak hal. Setelah menikah, mereka bakal berubah. Karena status mereka sudah menjadi suami/istri orang lain. Terikat. Ditambah lagi teteh sepupu yang umurnya hanya beda setahun lebih tua dariku, juga akan mengakhiri masa lajangnya di tahun ini. Bahagia sih, tapi sedih. L

Sejujurnya, aku merasa kagum dan salut kepada teman-teman yang memutuskan untuk menikah di usia yang relatif muda. Menikah itu sebuah keputusan besar, bagiku. Bukan keputusan main-main. Karena menikah itu tak sekedar menyatukan dua orang yang saling mencintai (karena Allah), tapi juga ada visi misi besar yang diemban dalam sebuah pernikahan.

Aku juga kagum pada mereka yang menikah muda. Mereka berarti sudah siap untuk menghadapi semua kewajiban baru yang akan dijalani setelah menikah. Mereka akan selalu melihat wajah pasangannya setiap hari. 24 jam, 365 hari. seumur hidup.

Mama pernah bilang, ketika memutuskan untuk menikah, jangan hanya karena berdasarkan karena cinta sesaat. Cinta itu hanya bertahan 5 tahun. Tapi butuh pengertian, perhatian, dan pemahaman di dalamnya. Dan mental pun harus benar-benar siap. Karena setelah menikah, (khususnya perempuan) akan dihadapkan dengan segudang kewajiban yang akan akan berdampak pada masa depan generasi penerus. Setelah menikah harus siap untuk mendidik anak-anak hingga mereka cukup umur. Ibu adalah guru pertama bagi anak-anaknya. Jangan serahkan pendidikan utama mereka pada orang lain. Ini berarti, kita akan “terkurung” minimal 17 tahun untuk fokus mendidik anak. Dalam proses tersebut, banyak keinginan pribadi yang harus ditahan agar anak-anak kita menjadi generasi yang dapat menjalankan roda kehidupan kala kita renta. Anak dan suami itu amanah. Harus totalitas dalam mengurusnya. Mereka amanah yang akan kita pertanggungjawabkan kepada Allah Ta’ala di hari akhir. Salah mendidik atau mengarahkan, kacaulah dunia.

Penjelasan mama tentang pernikahan, membuatku tersadar. Mama membuka mataku tentang realita yang ada. Bukan hanya sekedar cinta picisan, bak di negeri dongeng. Pernikahan itu tak hanya sekedar dua manusia yang saling mencintai. Pernikahan bagiku menyatukan 2 keluarga besar. Pernikahan juga tak sekedar ajang untuk mendapatkan suami. Lebih dari itu. pasangan kita dapat menjadi anak lelaki bagi ayah dan mama, dapat menjadi abang bagi adikku, menjadi sahabatku dalam berkhidmat dan berjuang dalam jemaat dan agama, menjadi perantara untuk semakin dekat dengan Allah Ta’ala. Pasangan kita kelak seharusnya bukan menjauhkan kita dengan keluarga inti, justru menjadikan kita dan keluarga inti semakin dekat. hyahaha. Ketika orang ribet dengan prosesi pernikahan, aku justru ribet dengan pikiranku tentang pernikahan. 😀

Sebenarnya, jika telah dijalani tak akan seribet itu. kita kan punya kekuatan yang dahsyat: DOA. Sehebat apa pun strategi kita saat berlayar dalam bahtera pernikahan, tanpa doa, hasilnya nihil. itu kata mama.

Baiklah. Aku tak akan lagi memusingkan realita pasca pernikahan. Toh, semua itu adalah rencana dan amanah dari Allah Ta’ala. Tak mungkin Allah ta’ala “lepas tangan” begitu saja. Allah ta’ala akan selalu membantu ketika kita menemukan kebuntuan dan masalah. Nikmati saja setiap alur dan proses yang ada. Yang sekarang harus kupersiapkan adalah menguatkan mental untuk menghadapi pertanyaan yang sama, ketika menghadiri resepsi pernikahan teman. Hingga akhir tahun, aku harus siap untuk diinvasi dengan pertanyaan: “kapan lulus kuliah? kapan nyusul  ke pelaminan nih? mana calonnya?”

Hyahaha. Dulu ketika baru masuk zona 20, sempat kaget dengan pertanyaan begitu. Please deh, apa gak ada lagi yaa pertanyaan yang lebih kreatif daripada pertanyaan tersebut? Itu yang selalu bercokol di otak campur rasa dongkol. Ah tapi sekarang, karena sudah terlalu sering diinvasi, aku jadi semakin santai menghadapi serangan pertanyaan itu. 😀 toh, Allah telah menuliskan segalanya di Lauhul Mahfuz. Tak ada yang harus dipercepat ataupun diperlambat. Sekali pun jodoh. Tak akan nyasar dan tertukar. J mungkin saat ini terasa miris, tapi aku yakin semua akan berakhir manis. Boleh jadi, saat ini jodoh, rezeki, dan maut masih ghaib. Tapi cepat atau lambat semua kan jadi nyata.

Selamat menikah untuk teman-teman. Semoga Allah selalu memberkahi pernikahan kalian semua. Semoga diberi kelancaran bagi teman-teman yang sudah menemukan jodohnya, tapi belum mengantongi restu. Dan bersabarlah bagi teman-teman yang jodohnya masih ghaib. Semua akan indah pada waktunya. klise yaa, tapi ya itulah adanya.

ini khusus kupersembahkan untuk teman-teman yang akan dan sudah menikah:

Kupinang engkau dengan Al Quran
Kokoh suci ikatan cinta
Kutambatkan hati penuh marhamah
Arungi bersama samudra dunia

Jika terhempas di lautan duka
Tegar dan sabarlah tawakal pada-Nya
Jika berlayar di sukacita
Ingatlah tuk selalu syukur padaNya

Hadapi gelombang ujian
Sabarlah tegar tawakal
Arungi samudra kehidupan
Ingatlah syukur pada-Nya

(Zindegi – 442013 – 3.00 am – Konstalasi Orion)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s