ocehan menjelang dini hari

Hey Rabu! Ini aku dengan semangat yang masih menggebu 😀 April sudah hampir habis. Malam ini rembulan berfase Purnama. 2 tahun yang lalu, April adalah masa terberat dalam hidupku. Membuat sebuah keputusan yang mungkin mengecewakan keluarga besar. April setahun yang lalu, aku juga pertama kali bertemu dengan Rembulan sebagai salah satu isyarat dari-Nya yang jadi nyata. Dan, April tahun ini penuh dengan kisah serta keajaiban doa terjadi. Ternyata juga, April tahun ini sudah setahun aku berjuang dengan teman-teman di dalam bahtera yang terdampar di kaki gunung Ciremai. Well, betapa Allah mempunyai segudang rahasia yang tak pernah sanggup kuduga. Hingga akhirnya aku pasrah. Menikmati saja setiap proses dan alurnya. Seperti daun yang jatuh ke Bumi. Tak melawan takdirnya. Mengikuti hembusan angin. Sebenarnya, banyak sekali yang ingin kubagikan di blog ini. April kali ini sangat penuh kisah dan pembelajaran. Tapi rasanya tak pantas untuk kuceritakan semua di sini. Dan akhirnya, kisah yang ingin kubagi adalah tentang Kodrat Perempuan. Insya Allah Sekitar 7 minggu lagi, umurku berubah menjadi angka kembar. Biasanya, mama selalu memberikan masukan di hari lahirku. Tapi untuk tahun ini, mama sudah memberikan wejangan sebelum bulannya. Terutama untuk bulan April. Setiap nelpon mama selalu mengatakan banyak hal tentang tugas seorang perempuan yang sudah masuk fase dewasa. Bagaimana harus bersikap dan banyak hal lainnya. Meski sudah mahasiswa, mama tetaplah guru pertamaku hingga detik ini. Tadi saat pulang dari Bank, aku melihat beberapa perempuan dari berbagai profesi. Ada yang menjadi PNS, ada yang menjadi saleslady, ada yang sedang berjualan di pasar, dan ada juga yang lebih dari itu. Menjalankan perannya sebagai Ibu Rumah Tangga: Menjemput anaknya pulang sekolah. Tadi juga menemukan pemandangan yang mencuri perhatianku. Seorang perempuan berseragam rapih layaknya wanita karir, berjalan di trotoar menggendong anaknya dengan kain. Anaknya yang masih bayi dan tas yang mungkin dipenuhi dengan atribut si anak, membuat langkahnya tergopoh-gopoh. Di tengah hiruk pikuk jalan saat jam istirahat kerja, wanita karir yang membawa anaknya tersebut membuatku terharu. Jadi teringat beberapa nasehat mama. Perempuan itu kodratnya harus lebih sabar dan ikhlas. Berusaha untuk memahami dan mengerti, apalagi jika sudah berkeluarga. Harus menahan ego dan keinginan, agar bisa memenuhi kebutuhan anak-anaknya, terutama secara psikis. Jangan berharap untuk dipahami dan dimengerti, sebelum kita memahami dan mengerti orang lain. Setinggi apa pun pendidikan dan jabatan, kodrat perempuan adalah menjadi ibu rumah tangga, merawat anak-anaknya, menjadi istri yang shalehah bagi suaminya, menjadi guru pertama bagi anak-anaknya, dan mengatur urusan rumah tangga: sumur, kasur, dan dapur. Tugas perempuan juga sebenarnya harus lebih giat mendoakan kemajuan ruhani dan jasmani suami dan anak-anaknya. Dan di balik kesuksesan seorang suami, pasti ada istrinya yang selalu mendoakannya dengan tulus. Setelah menikah jangan takut miskin. Karena tidak akan pernah, Tuhan Yang Maha Kaya mengurangi jatah rezeki hamba-hambaNya yang telah ditetapkan. Ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang lebih mulia dari semua pekerjaan. Balasannya berkah, tak lagi berbicara uang. Sedangkan kuliah tak sekedar menjadi alat untuk meraup kekayaan materi. Tapi sebagai bekal untuk mendidik anak-anak kelak. Jangan serahkan semua pendidikan anak-anak ke sekolah dan orang lain. Sekolah hanyalah tambahan sampingan. Pendidikan utama berada di rumah: Ibu. Jika setiap perempuan sudah memahami dan menjalankan kewajiban serta tanggungjawabnya dengan benar, begitupun dengan lelaki, maka tak akan ada yang namanya perceraian. Biasanya mama hanya membahas masalah yang ringan, untuk tahun ini mama mulai berbicara lebih serius dari biasanya. Dan ini membuatku tersadar bahwa diriku semakin tua. Oh tidaaaak! Aku ingin menjadi anak kecil saja yang kerjaannya Cuma main dan belajar, dapat raport dan nilai, terus liburan bareng ayah dan mama. Tapi kata mama, mau mengelak sejauh apapun, tetap saja kodrat perempuan di fase dewasa harus dihadapi. Karena inilah hidup yang dinamis. Baiklah, Henshiiiiin! >__< Mau nulis apalagi yaa? Jadi lupa begini kalau sudah berhadapan dengan layar kosong. Ditambah lagi dengan resensi mabahits fii ulumil hadits yang belum kelar-kelar. (Oya, Terimakasih untuk pemberian mushaf Alqurannya. Maaf juga sudah becanda yang kaya anak muda mainstream. Kita masih partner kan? Hyahaha. Semoga dirimu lekas sembuh. Kite orang cinte damai) ^___^v

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s