Perempuan Dalam Bingkai Iklan

Hai Senin! Liburan pun dimulai. Banyak yang kata-kata yang berkecamuk di otak. Namun kemarin itu sibuknya gak ketulungan memikirkan tatanama senyawa kompleks. Well, semua tekanan itu pun telah berlalu. Waktunya menulis apa yang ingin kutulis. Meracau dan berceloteh.  

Akhir-akhir ini perkembangan dunia iklan, semakin mendikte citra hidup perempuan. Risih. Bukan saja dijadikan pangsa pasar yang fanatik, jenisku juga dipasang sebagai pelaris dan pemanis. Cukup sulit mencari iklan yang tak menyertakan kaum hawa, langsung ataupun tidak langsung. Kalau ada iklan yang tanpa mengeksploitir perempuan, kasih tau kepadaku yaa!  

Tak sekedar dijebak menjadi pribadi yang sophaholic (gila belanja), iklan juga memposisikan perempuan sebagai penggoda. Misalnya, ABG muda belia yang kehilangan muka karena ketiaknya basket dan burket. Sepeda motor yang hebat membuat dandanan perempuan yang baru pulang dari salon jadi berantakan. Kemanjuran shampoo tergambar pada gadis-gadis berambut lurus nan kemilau, hingga membuat setiap lelaki keren mendekatinya. Bahkan seingatku, dulu sempat ada iklan kedahsyatan baterai dipamerkan berupa gerombolan perempuan yang sedang perang. Mungkin begitulah cara iklan sekarang menghargai citra dan harkat perempuan (Indonesia).

  Entahlah apa yang terjadi. Disadari atau tidak, hanya dengan iklan yang durasinya tidak terlalu lama, berakibat sangat besar. Bisa terjadi pergeseran nilai-nilai norma serta kacau balaunya kriteria baik dan buruk. Dalam iklan, Kerutan di wajah perempuan seperti dosa yang tak termaafkan. Perempuan dicitrakan tak boleh “buruk rupa” dan harus selalu tampil sensual sesuai gambaran yang mereka buat sendiri. Misalnya lagi, seorang gadis remaja akan dianggap cupu dan dikucilkan jika ada jerawatan di wajahnya. Pacar akan direbut orang, jika perempuannya berambut kusam dan ketombean.  

Bagiku, itu semua merupakan terror untuk perempuan yang masih labil. Terror iklan menyebabkan perempuan lekas kehilangan rasa percaya diri. Dengan kata lain, membuat minder perempuan yang tidak mirip seperti yang di iklan. Karena mindset orang adalah perempuan cantik ya seperti di iklan. Padahal kecantikan antara satu perempuan dengan perempuan lain tak boleh dibandingkan. Karena memiliki ciri khas yang berbeda. Ada kegelisahan yang susah dipahami, dan terus menyentak sanubari. Berapa banyak kekurangan fisik yang mesti dipoles dengan kecanggihan produk modernitas(?) lantas, ditempuh solusi pintas, membeli produk-produk hedonis yang ditawarkan iklan walaupun harganya gila-gilaan, agar bisa terlihat cantik yang dijadikan patokan dalam iklan! Hingga aku tak heran ketika mendengar beberapa perempuan yang kukenal mengatakan bahwa CANTIK ITU MAHAL (?)  

Sungguh rumit memenuhi kriteria perempuan ideal versi iklan. Ingat ya, IDEAL VERSI IKLAN. Wanita karir: tubuh langsing berbalut stelan blazer, rok super mini, sepatu hak tinggi. Mereka adalah ibu-ibu sibuk yang menyerahkan perawatan anak kepada Asisten Rumah Tangga. Sangat bergantung pada multi vitamin dan suplemen modern lainnya untuk terlihat cantik tanpa kerutan di wajah.  

Gadis ABG masa kini harus wanginya masih tercium dari jarak 10 meter, modis, “cantik”, dan centil. Busana seksi yang memperjelas segi-segi tubuh. Aksesoris tubuh yang gemerlap. Warna-warni kosmetik yang begitu semarak dan semerbak sebagai bukti penguasaan ilmu bersolek yang nyaris sempurna. Bila berjalan tetap gemulai, sekalipun agak sesak nafas gegara pakaian yang sempit. Kadang suka aneh dengan jenisku, rela menyiksa diri dengan berpakaian yang tidak nyaman agar bisa dibilang cantik oleh orang lain.   Kekuatan sabda iklan benar-benar telah mendikte hingga menjajah citra hidup perempuan. Tak cukup mendandani fisik, iklan juga mengendalikan sisi psikis. Sikap hidup, cara gaul, cita dan impian yang (menurutku) mencangkok kembali budaya jahiliyyah. Persis dan tuntas hingga ke akar-akarnya. Persaingan bisnis yang semakin keras dan kasar, membuat semua cara dibolehkan. Tiada yang mengenal batas halal – haram. Dan, (lagi-lagi) perempuan yang menjadi korban.   Dari fenomena iklan, yang kutangkap adalah adanya gejala pemujaan tubuh dan personifikasi gaya baru. Iklan menjadi sindrom, guna meraih legitimasi “modern”. Perempuan mati-matian menangkal stempel “kuno” yang ditebus dengan resikmahal. Sedih. Perempuan yang menjadi korban iklan, sesungguhnya hanyalah melakukan usaha pura-pura “modern”, padahal telah kehilangan identitas diri. Pura-pura ideal, sementara jiwanya terjajah.    

Kalau kata ayah, meskipun perempuan sudah tampil habis-habisan, perempuan hanya terlihat cantik, tapi belum tentu mempesona. Pribadi yang indah tidak membutuhkan polesan untuk tampil percaya diri. Pesona diri dari seorang perempuan akan terpancar menawan dari kepribadian dan keteguhan sikap hidupnya.  

Sayang disayang. Sementara di lain pihak, dunia kita akan terus dibanjiri kedahsyatan teknologi media massa kontemporer dalam bombasme iklan. Ini lah arus akhir jaman. Dan ketika semua arus berusaha untuk menyeret kaum perempuan menuju pusaran duniawi, hanya perempuan-perempuan yang mawas diri yang mampu melawan arus untuk tetap menjaga iffah (kehormatan diri) selaku manusia merdeka. Semoga Allah selalu menjaga dan melindungi kita dari serangan akhir jaman. Jujur, aku pun belum menjadi perempuan yang sesuai tuntunan Islam. Banyak sekali kelemahan dan kekurangan. Tapi, sedari dulu aku selalu yakin. Mungkin agak naif dan klise. Jika kita saling mendoakan dan saling menguatkan untuk tetap bertahan dalam koridor agama Islam, bi-idznillaah (dengan izin Allah) kita akan terlindungi dari arus akhir jaman yang semakin menggerus kehidupan.    

Zeest. Senin – 13052013 – 12.50 pm. Konstalasi Orion.

Advertisements

2 thoughts on “Perempuan Dalam Bingkai Iklan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s