Surat Untuk Sang Raja Persia

Untuk Sang Raja Persia
Di Ufuk Barat  

Tuan, bagaimana kabarmu? Masihkah berurusan dengan masa lalumu yang belum tuntas engkau selesaikan? Kuberanikan diri membuat surat terbuka untukmu. Maaf jika telah lancang dan tak tau diri, seorang rakyat jelata mengirim surat untuk Sang Raja Persia. Ini adalah surat kedua yang khusus dibuat, setelah aku membuat surat terakhir untuk Senja. Mungkin inilah upayaku yang tiada daya untuk berbicara langsung di hadapan tuan.  

Tuan, terimakasih telah mengisahkan sebagian masa lalumu. Meski aku sedikit terheran-heran dengan dirimu, baru saja 4.440 jam kita mulai didekatkan takdir, tetapi dirimu berbicara hal yang menurutku tak pantas kau bagikan kepada rakyat jelata sepertiku. Termasuk mengisahkan semua yang pernah dan masih menghuni ruang kecil yang berada di dalam rongga dadamu. Sang Primadona, Nona Rembulan, dan Jelita tanpa nama.  

3 nama yang kukenal dengan baik. 3 nama yang memang wajar membuatmu (sempat) tergila-gila. Jangankan engkau yang lelaki normal, tuan. Sifat mainstreamku juga mengakui akan keelokan nan rupawan dari mereka. Namun, aku masih teringat bagaimana emosinya engkau kala kukatakan malam itu, bahwa Betapa cantiknya Sang Primadona yang berada di atas singgasana. Betapa beruntungnya Pangeran lain yang menjadikannya sebagai Permaisuri. Masih ingatkah engkau, tuan? Baiklah, jika lupa. Akan kuingatkan kembali, kau mengatakan bahwa cantik itu hanya polesan yang akan luntur oleh masa. Cantiknya paras perempuan, tak bisa menjamin keindahan hatinya. Entahlah, tuan. Apakah perkataanmu sebelum fajar terlihat, karena rasa sakit hati atau memang murni begitulah pola pikirmu(?) Sesungguhnya hanya Sang Penciptamu saja yang mengetahui, segala hal yang tidak aku ketahui.  

Nona Rembulan yang katamu merupakan pribadi nan menawan. Hingga aku pernah mengatakan dan bertanya kepadamu, tuan. Masih ingatkah engkau? Baiklah akan kuingatkan kembali. She likes you, you like her. Why do you have to make it so complicated? Lantas engkau menjawab dengan sedikit emosi. Terpampang nyata dari kata yang engkau gunakan. Terselip harapan dan kecewa. ini bukan masalah perasaan suka atau tidak. Tetapi ini adalah masalah prinsip hidup. Jika diawal saja sudah tak seprinsip, bagaimana hendak menjalani kehidupan selanjutnya di kerajaan. Aku pun juga setuju dengan alasanmu. Karena prinsip itu penting. Berharga layaknya mahkota. Layak untuk dijaga.  

Kedua kisahmu dengan Sang Primadona dan Nona Rembulan tak membuatku heran. Karena masih dalam satu galaksi yang sama. Yang membuatku heran, ketika tuan mengisahkan tentang Jelita tanpa nama yang tersimpan di dalam kota(k) kenangan. Sepertinya Jelita tanpa nama masih memiliki tempat tersendiri di dalam hatimu. Terlihat dari frekuensi gelombang bunyi yang dihantarkan ke gendang telingaku saat kenaikan Isa Almasih. Kau begitu larut dalam larutan jenuh yang mengendap lama dalam jiwamu: GALAU. Suaramu lebih parau dan lebih horor dari rumah kosong di depan gubukku. Heran, bukan karena aku kaget mendengar kisah itu. aku sudah menebak ada yang tak biasa di antara kalian sejak dahulu kala. Namun, sebegitu kuatkah rasa yang bercokol di dalam rongga dadamu? Sehingga dirimu tak bisa melangkah ke depan ketika Jelita tanpa nama memanggilmu dari belakang. Padahal kau hanya mengetahui wujudnya yang terekam oleh cahaya. Aku sudah mengenalnya lebih dulu daripadamu, tuan. wujud dan sikapnya terpampang nyata melintasi cakrawala dan mendarat di hadapan ragaku. Sedangkan engkau mungkin baru sekedar mengenalnya lewat gelombang suara atau sekedar menyukainya dari rerimbunan kata yang disampaikan oleh gelombang elektromagnetik.  

 Baiklah, tuan. Jika saja aku diizinkan untuk memberikan saran. Bersikaplah tegas kepada jiwa dan hatimu. Aku yakin, logikamu terlalu kuat untuk dikalahkan oleh masa lalumu. Masihkah kau ingat bagaimana rasanya sakit ketika Jelita tanpa nama menggantung asamu dan berpaling kepada nama lain?  Ataukah engkau sudah lupa semua rasa sakit itu ketika Jelita tanpa nama menyapamu kala sore tiba?  kumohon, ingat kembali semua sakit itu. dan jika engkau melangkah mundur menuju Jelita tanpa nama, akan ada nama lain yang akan merasa sakit seperti yang kau rasakan dahulu kala. Lelaki itu. kau sang Raja Persia yang adil dan bijaksana. Itulah doa yang tersemat di balik rangkaian huruf membentuk sebuah nama. Apakah doa yang tersemat itu hanya akan sekedar menjadi bualan belaka ketika engkau dihadapkan dengan masalah seorang wanita Jelita tanpa nama? Jika benar adanya, penilaianku selama ini salah terhadapmu. Kau tak ubahnya seperti para Raja di luar sana. Taukah engkau, tuan? Banyak raja yang hancur karena harta, tahta, dan wanita. Apakah semua yang telah kau bangun di kerajaan ini akan hancur begitu saja karena seorang Jelita yang tak bisa menjaga dan menghormati dirinya dan kehormatanmu sebagai seorang Raja Persia? Lagi-lagi, apalah dayaku. Aku hanyalah rakyat jelata yang tak tau apa-apa.  

Sang Primadona sudah jelas tak bisa kau miliki, tuan. Kalaupun engkau mau kembali ke masa lalumu, aku lebih senang jika Nona Rembulan lah yang engkau pilih, bukan Jelita tanpa nama. Nona Rembulan lebih jelas dan hanya butuh doa serta waktu saja untuk menaklukan para penjaganya. Bukankah engkau ahlinya dalam berdiplomasi, tuan? Entahlah. Aku seakan tak rela jika engkau kembali dengan Jelita tanpa nama yang sudah diikat tambang oleh pangeran lain. Pengkhianatan yang tak bisa termaafkan. Penasaranmu yang muncul pun adalah asap yang berasal dari api yang telah dinyalakan oleh syaithan-syaithan yang tak pernah diam jika melihat sepasang anak manusia berada dalam ikatan yang belum halal. Jika tuan selangkah saja menuju (kembali) kepada Jelita tanpa nama, maka akan ada yang tertawa penuh kemenangan. Syaithan. Dan engkau adalah orang yang paling lemah, karena bisa dikalahkan oleh dirimu sendiri. Ah tapi, siapalah aku ini, tuan. Hanya rakyat jelata yang baru saja mengenal dirimu sebagai Raja Persia.

  Jujur, tuan. Seperti ada sembilu yang melintang dalam hatiku yang kelu, kala menyimak kisahmu tentang Jelita Tanpa Nama. Karena salahku juga, menyimpan keyakinan  yang sempat tersabda malam itu di dalam hati. Saat gerhana matahari, kuberanikan diri untuk mengalamatkan pertanyaan itu kepadamu. Tuan, tanda  tanyaku (seperti) sudah menemukan jawaban. Kalau benar adanya, beri aku riuh tepuk tanganmu. Karena sedari awal menduga merasa nyata, aku bahkan tak mendapat petunjuk dari sesiapa. Tetapi seperti ada yang membuka jalan, sebuah kebenaran (bukan kebetulan). Tenang saja tuan. Keyakinan ini mungkin akan tetap ada, namun akan kusimpan di kotak Pandora dan sedikit kuberi formalin. Ager awet dan tak tercium aromanya oleh penghuni Bumi. Kotak ini pun sudah terkunci. Dan kuncinya hanya dipegang oleh satu orang: Lelaki yang darahnya mengalir di dalam ragaku. Jika memang engkau tak berminat, keyakinan ini akan kusimpan kepada orang yang memang sungguh-sungguh berani dan bertanggung jawab untuk mengambil kunci dari Kotak Pandora. Aku hanya berusaha untuk menjaga iffahku, dan iffahmu. Tak akan ada yang menyakiti atau disakiti. Dan aku tak ingin membebanimu yang masih berat untuk melangkah dari Jelita Tanpa Nama.  

Tuan, aku berharap hanya kepada Penciptaku Allah Subhaanahu wa ta’ala. aku sudah pernah kecewa karena berharap kepada manusia. Hingga muncul keyakinan bahwa semua kekhawatiranku dalam surat ini hanya sekedar pasukan huruf yang tiada artinya. Aku yakin engkau lebih kuat dan tangguh dari kekhawatiranku. Semoga Allah membuat engkau tetap menjadi seorang Raja Persia yang adil dan bijaksana. Masih banyak rencana-rencana besar kita untuk membangkitkan kembali dinasti kerajaan dari serangan akhir jaman. Bagi seorang raja setingkatmu yang dapat mengalahkan Yajuj-Ma’juj, tak ada gunanya menggalaukan dan dilema akan Jelita tanpa nama yang bukan hakmu (lagi). Mungkin kau merasa dirimu adalah seorang yang kalah karena tak bisa  memenangkan Jelita tanpa nama untuk bersanding di singgasanamu. Namun, di mataku sebagai rakyat jelata, kau adalah pemenang sejati, tuan. Bisa memenangkan yang hak (benar) di atas ego yang berasal dari bujuk rayu syaithan.  

Tak usahlah tertegun di tempat. Maju tidak, untuk mundur pun kau sudah tak bisa. Waktu tinggal sedikit, tuan. Pekerjaan masih banyak. Ayo jalan! 😀      

Tertanda:
Rakyat Jelata
Di Jalan Tuhan
14052013, Selasa. 03.00 am.

Advertisements

7 thoughts on “Surat Untuk Sang Raja Persia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s