Welcome June: Nikah Perkara Yakin, Bukan Cinta Atau Usia

Malam ini detik-detik terakhir menghabiskan Mei. Semoga bisa bertemu kembali dengan Mei dalam kondisi yang lebih baik dari sekarang. Juni pun sudah mengetuk pintu rumah. Aku masih belum ada persiapan untuk menyambutnya. Masih banyak janjiku tahun  lalu yang belum dilaksanakan. Sedangkan Juni sudah kembali datang menagih. Apalagi tahun ini Juni membawa angka kembar untukku dan sekoper tugas psikis yang harus kutuntaskan. Tapi tugas psikis fase yang kemarin, belum kutuntaskan semua. Serasa dikejar oleh seabreks tugas psikis yang memang harus dituntaskan, agar tak jadi beban dan masalah untuk fase angka kembar. Salah tugas yang belum tuntas: menemukan partner hidup yang tujuan akhirnya adalah pernikahan. Baiklah. Memang itu yang masih menjadi topik utama. Terutama di tahun 2013. 😀  

Pulang dari rapat evaluasi redaksi, diriku beli makanan ke jalan besar. Ketika di parkiran sedang menunggu pesanan, ada seorang lelaki dan perempuan yang menyapaku. Mataku yang daya fokusnya mulai berkurang, harus terdiam beberapa detik untuk mengenali dua wajah yang tersenyum padaku. dan ternyata! Perempuan itu adalah tetanggaku yang umurnya lebih muda dariku. Dia juga sempat jadi guru jahitku saat tahun 2011. Meski lebih muda dariku, dia memiliki keahlian yang memang belum dikuasai oleh diriku. Karena semenjak lulus SMP, dia tidak melanjutkan pendidikan formal. Dia fokus menggeluti bidang tata busana. Lantas, siapa lelaki yang ada di sampingnya itu? Seingatku, dia tidak punya abang dan adik lelakinya  masih SMP. Jadi siapa gerangan lelaki berjaket hitam itu?  

“Assalaamu’alaykum, teh. Kenapa sendirian?” sapa si perempuan yang menyodorkan tangannya kepadaku.

“wa’alaykumussalaam. Iya nih. Habis rapat, kelaparan. Hehe. gak sendirian kok, kan bareng si merah.” Aku menjawabnya sambil nyengir.

“ih si teteh beranian yaa jam segini ke sini sendirian.”

“yaa, mau tak mau sih. begini nasib jadi anak kostan.”

“Hey Lika! Apa kabar?” tukas lelaki yang sedari tadi berada di samping perempuan itu.

“Alhamdulillah baik. Maaf, kok kenal nama saya ya?” aku mengernyitkan dahi.

“kamu lupa ya? Saya kan teman SD dulu. Kamu Lika yang dulu siswa pindahan dari Aceh kan?” Dia malah menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lagi. Dan dengan penuh ketenangan.

“Iya. Ya Allaaah… kamu Mr. G yaa?” sebut saja namanya adalah Mr.G.

“iya.”

“pangling ih. Saya mah beneran gak kenal lagi wajahnya. Terakhir ketemu kan pas saya pindah lagi ke Aceh.” Saya terbawa euforia karena bertemu teman lama.

“kamu sekarang lagi dekat sama tetanggaku?” lanjutku kepada Mr. G.

“Iya.” Jawabnya santai.

“mohon doanya ya teh.” celetuk si perempuan.

“wah! Berarti sudah ke arah serius dong?”

“insya Allah. Nanti habis lebaran datang yaa ke pernikahan kami.” Jawab si perempuan sambil tersipu malu.

Wooow! Teriakku dalam hati. Usia perempuan itu jauh lebih muda dariku, dan Mr. G yang masih seumuran denganku. Mereka sudah memiliki keyakinan dan keberanian untuk melangkah ke arah yang serius. N-I-K-A-H. Salute!

“Idul Fitri kah? Ini serius kan?” tanyaku yang masih belum percaya.

“iya, teteh. Makanya, teteh buruan cari, betah banget sih melajang terus. Sudah waktunya loh.” Jawab dia meyakinkan dan setengah mengomporiku. Oh tidak! Tidak setengah mengomporiku. Tapi sangat memprovokasiku.

“hyahaha. Alhamdulillaah. Segera halalkan kalau sudah bertemu jodohnya. Tunggu apalagi. Ehtapi, serius loh. Saya salut dengan kalian.”

“Biasa aja lik. Lagi pula kalau niat nikah ditunda, yang ada nanti lupa waktu. Keasikan dengan kerja.” Jawab Mr. G masih dengan nada santai.

“Iya sih. duh! Saya kemana aja ya, baru tau sekarang kalau tetanggaku bakal nikah dengan teman lamaku. Mr. G, saya gak sangka loh dirimu termasuk lelaki di angkatan kita yang memutuskan untuk nikah muda. Mubarak!”

“Lik, nikah itu kan bukan masalah usia, juga bukan karena cinta.” Jelasnya.

“terus karena apa dong?” tanyaku.

“Karena saya yakin kepadanya, meski usianya masih muda. Keyakinan yang memang gak tau datang darimana, saya bisa melihat bagaimana masa depan bersamanya.” Ia masih tersenyum menoleh ke calon istrinya, yang tak lain adalah tetanggaku.

“neng, tadinya saya masih bingung aja kenapa dirimu mau menerima Mr. G. Tapi saya paham, kenapa kamu mau melangkah serius bersamanya.” Aku merangkul perempuan itu sambil tersenyum penuh rasa kagum kepada sepasang kekasih yang akan mengikat janji suci tahun ini. Insya Allah.

“Memang kenapa teh?”

“Dulu Mr. G gak kaya gini loh. Isengnya minta ampun. Dia kan sering banget ngerjain saya dan anak-anak kuper lainnya. Beneran gak sangka loh, Mr.G bisa seperti sekarang. Hehe.”

“namanya hidup, Lik. Pasti proses. Hapunteun yaa kalau dulu sering iseng.” Dia senyum dan masih dalam ketenangan yang stabil.

“Kami duluan ya, ditunggu loh kedatangannya. Dan jangan terlalu betah menyendiri, biar keluar malam gak sendirian begini.” Mereka pamit sambil menggodaku.  

Meski mereka sudah enyah dari pandanganku, aku masih tertegun. Mr. G yang 90’ berubah. Sekitar 9 tahun aku tak pernah bertemu langsung dan ngobrol seperti malam ini. Paling hanya berpapasan di jalan jika dia sedang mudik. Itu pun tak kenal lagi wajahnya. Mr. G yang dulu selalu membuatku sakit hati karena sering diledek dan dibully olehnya, kini menjadi seorang lelaki yang tenang dan dewasa dalam berpikir. Pantas saja perempuan muda itu melabuhkan hatinya kepada Mr. G. Semua orang yang kukenal mengalami perubahan dan terlihat lebih baik dari jaman dulu. Namun, aku masih merasa bahwa tak ada yang berubah dalam diriku. Mungkin hanya angka saja yang berubah. Usia, tinggi dan berat badan. Selebihnya, aku masih merasa seperti yang dulu. 😀  

Aku pun masih terngiang dengan apa yang dikatakan Mr. G tadi. Menikah itu bukan karena usia dan cinta, tapi karena yakin untuk menghadapi masa depan bersama seseorang. Sepakat dengan pernyataan Mr. G yang senada dengan apa yang dikatakan oleh teteh sepupuku yang tahun ini pun akan melepas masa lajangnya. Tepatnya sih bulan Juni ini. Sekitar 6 hari lagi. Teh Nde, sebut saja begitu. Teh Nde saat aku sedang main di kamarnya, bercerita banyak hal. Tentang perjalanan cintanya dengan seorang guru muda. Ternyata perjalanan cintanya tak selamanya mulus. Bahkan tawaran komitmen dari guru muda sempat diendapkan oleh teh Nde selama beberapa bulan. Saat itu teh Nde memang tak menyimpan perasaan apapun. Ditambah saat itu teh Nde yang masih merantau di ibukota. Ternyata jeda itu dipakai untuk menyemai benih. Bukan benih cinta, namun benih keyakinan. Keyakinan yang terlebih dulu disemai oleh teh Nde. Karena kata teh Nde, keyakinan yang mengakar lah yang akan membuat suatu komitmen itu akan bertahan meski dihempas badai. Sedangkan cinta akan tumbuh sendiri seiring keyakinan yang semakin kokoh. Keyakinan itu pun muncul tanpa alasan. Yang kuamati, sikap lah yang membuat seseorang yakin untuk melangkah serius. Bukan usia, cinta, harta, atau tahta. Apalagi kalau harta dan tahta, teh Nde selalu bilang kalau itu semua akan mengikuti. Allah Ta’ala sudah menetapkan kadar rezeki setiap jiwa.  

Begitu pun senada juga dengan alasan teh Lisa menikah dengan suaminya. Karena yakin. Bagi teh Lisa, keyakinan itu bagaikan akar. Sedangkan cinta bagaikan bunga. Suatu tumbuhan akan bertahan lama jika memiliki akar. Tumbuhan yang hanya ada bunga, tanpa akar, meski dirawat sebaik apapun hanya akan bertahan sebentar. Kemudian akan layu dan akhirnya mati. Lalu, tumbuhan yang memiliki akar, jika dirawat dengan baik akan tumbuh dan suatu saat pasti akan berbunga. Serasa lagi jadi anak botani. Hyahaha 😀  

Welcome June! Come here, beybeeeh! 😀 June is mine. Yaa, meski masih begini-begini saja. Terhimpit oleh tugas dan deadline 😀 nasib orang hidup sih. meski begitu, bahagiaku melebihi tugas-tugas yang menumpuk. Dapat pelajaran hidup malam ini. Pelajaran yang tak pernah kudapatkan di kampus atau di laboratorium. Dan Minggu ini, bakal berkumpul lagi dengan ayah dan mama, setelah 15 bulan 15 hari dipisahkan oleh selat sunda. Rinduku akan segera terobati. Jarak akan segera dihukum, karena menjadi tersangka utama dari konspirasi rindu ini.  

Hey, tuan sunyi dan nona sepi! Segeralah berkemas. Sudah terlalu lama kalian menemaniku. Waktunya kalian untuk liburan. Tenang saja, aku tak akan memusuhi kalian. Karena suatu saat, kalian harus menemaniku kembali. Menemukan ide dan kegilaan bersama kalian. Mempertajam kembali sensibilitas radar neptunusku. Selamat liburan, tuan sunyi dan nona sepi. 😀  

Jika yakin bahwa keyakinan tersebut datang dari Allah Ta’ala, serahakan saja kepada-Nya. Biar Allah lah yang men jadikan keyakinan tersebut nyata, tak hanya asa. Terkadang ada jeda antara asa dan nyata. Do’a, sebaik-baiknya jeda.  

_________

Zeest – 1 Juni 2013 – Sabtu, 00.15 am – Konstalasi Orion

Advertisements

One thought on “Welcome June: Nikah Perkara Yakin, Bukan Cinta Atau Usia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s