Tuan Pengembara, Tidak Kah Engkau Lelah?

Hey Kamis yang masih masih terasa manis. meski tak semanis kismis 😀 ini hari kelima aku berada di angka kembar. Tak ada yang berbeda dariku. nothing special lah. Hanya mereka yang di sekitarku saja yang berubah dalam merespon atau memperlakukan diriku. baiklah. Tak terlalu kuambil pusing. Agenda Juni akhir pun semakin padat merayap. Namun, terkadang di sela agenda padat, selalu saja terlintas pikiran random. Salah satunya obrolan santai nan serius dengan mama beberapa hari yang lalu.

 

Apa yang mama bicarakan sabtu malam itu, obrolan antara perempuan dengan perempuan. Terasa asing sekaligus terasa sangat benar sih. Aku hidup di tengah-tengah keluarga perempuan. Saudariku perempuan. Di rumah ini pun, ayahku adalah laki-laki satu-satunya di tengah-tengah 3 orang perempuan, aku-mama-adikku.

 

Setiap mama atau ayah, atau siapa pun hendak berbicara ke arah serius sebagai manusia dewasa, timbul rasa canggung. Kata mereka, responku terlihat dingin. Sesungguhnya, aku tak tau harus berekspresi seperti apa. Apalagi jika sudah menyangkut pasangan hidup. Hingga detik ini masih saja berada di zona terheran-heran telah berada di fase ini.

 

Ibarat buah, akan tiba saatnya dia masak.Dimakan binatang malam, membusuk, jatuh tak terabaikan, atau dipetik dan diranumkan dengan baik. Buah tidaklah bisa memilih kapan dia harus ranum, ada waktunya.

 

“Iko sudah ranum di umur yang sekarang, gadis seusia iko harus lebih peduli tentang pasangan hidup, meskipun bersikeras menolak kehadirannya, Nak”. Mama berkata lembut sembari menata kue di dalam toples, malam itu rumahku sedang kedatangan tamu tamu spesial.

 

“Semakin iko menghindar, iko akan semakin tersesat dan itu akan membahayakan dirimu sendiri. Mengenalnya tidak harus dengan berdekatan. Sejak Adam hingga saat ini, laki-laki itu sama. Ya seperti-seperti itu saja. Baik seperti itu, dan yang buruk pun juga seperti itu. Perubahan yang ada tidak begitu terlihat. Istilahnya belajar dari sejarah lah.” Mama tetap asyik dengan bicarany,  sementara aku malas-malasan mendengarkannya sambil membaca buku di ruang tamu. Hanya kusambut dengan sedikit gumaman.

 

“Dari dulu, laki-laki itu pengelana. Dia adalah pengembara yang selalu berjalan kesana kemari. Singgah sebentar untuk menikmati suasana tempat ia singgah, mencari minum, beristirahat, atau sekedar menyembuhkan luka. Selebihnya dia akan melanjutkan perjalanan. Dan yang bisa memutuskan perjalanan itu hanya satu : P-E-R-N-I-K-A-H-A-N. Kita lah yang memutuskan perjalanan mereka, membuat mereka menetap pada satu tempat dan menikmati kehidupan bersama-sama. Sebelum ada ikatan pernikahan, laki-laki akan tetap menjadi pengembara, meskipun mulutnya bicara ingin tinggal menetap. Perempuan itu harus selalu hati-hati, jangan sampai menjadi tempat persinggahan.”

22679_1192449890864_1216917398_30453523_8116680_n

Mama menghentikan ucapannya dan memperhatikanku. Aku nyengir kuda, senyum terpaksa. Mungkin mama bosan, ceritanya tak lagi berlanjut dan itu membuatku memikirkan kata-katanya. yap. Memang butuh jeda antar kata dan kalimat. Agar terbaca maknanya.

 

Pengembara, tempat singgah, pernikahan.

 

Ya Allah Yang Maha Pemilik jiwa ragaku. Semoga semuanya berawal dan berakhir dengan baik. Demi Kebaikan dunia dan akhirat.

 

Dan aku masih yakin hingga detik ini. Untuk manusia, Allah tak akan memberikan kisah yang sia-sia.

 

——–
(20062013. Kamis, 03.00 am. Zeest. Konstalasi Orison)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s