Rindu, Salah Siapa Ini?

Seperti biasa. Semua berlalu seperti biasa. Tapi aku masih sama seperti dulu.

Berbeda. Ada satu hal yang berbeda. Lelaki itu tidak pernah ada lagi.Aku pun tidak menunggu. Namun, harus kuakui, terkadang aku mengharapkan sosok itu akan muncul lagi. Atau mungkin aku hanya butuh sedikit lebih banyak waktu untuk terbiasa. Mungkin

Aku masih sering teringat pada lelaki itu. Tapi aku tidak ingin membangkitkan kembali rasa yang tidak perlu. Juga tidak ingin kembali tersakiti pada benda kecil di dalam rongga. Setelah mengkaji perasaanku sendiri lebih jauh, aku sadar, aku hanya takut.

Lelaki itu. Lelaki itu berhutang padaku satu hal —sebuah kepastian bahwa dia baik-baik saja di sana. Itu adalah sebuah janji yang tak terucap saat lelaki itu meminta aku pergi. Aku pun pergi membawa ucapan selamat tinggalnya dan dia berlalu menyimpan ucapan terima kasihku. Sebagai satu-satunya kalimat yang kami ucapkan terakhir kali. Lantas, membisu.

Lalu. Aku merasa semua tidak akan pernah sama lagi. Setelah semua air mata dan kenangan yang memelukku diam-diam, aku rela. Meskipun aku selalu merasa sesuatu saat mengeja namanya. Atau mendengar namanya dari orang lain, teman, dan hatiku sendiri. Kemudian aku tau, kadang-kadang aku merindukannya, meski aku pun tidak mau. Tapi aku sadar, bahwa rindu sama sekali tidak pernah tertidur. Salah siapa ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s