Ikat Hati Dengan Doa

Laxyta nge-hang lagi. Setelah Re-boot dan instal aplikasi jejaring sosial dan chatting, langsung nge-hang. Jadi kehilanan kebiasaan untuk celoteh kapan pun dan dimana pun. tanpa harus buka blog. Walhasil, kembali kepada kebiasaaan lama. Curcol di sini ūüėÄ

 

Terinspirasi dari mama dan ayah yang genap 23 tahun (29/09) mengikrarkan janji setia di hadapan Allah Subahanaahu wa Ta’ala.

 

Ini perkara hati. Hati bukan tentang menemukan yang lebih baik. Hati adalah tentang menjaga. Mengapa mama bisa sayang sama ayah yang (dulunya) hanya seorang putus kuliah dan sempat kerja serabutan (jadi tukang parkir, kurir layar tancap, dan punya adik banyak)? Masih setia menanti ketika ayah diterima kerja di pulau seberang, meski tiada kabar selama 1 tahun. Karena mama menjaga hatinya. Padahal kata ayah: “mama cantik dan baik, bisa aja cari yang lain dan lebih baik.”

Tapi hati tidak seperti itu. Kenangan tentang duka-suka dengan satu orang, jauh lebih baik daripada menemukan hati yang baru. Hukum sebab akibat ada di dunia ini. Kalau kita sekarang meninggalkan seseorang karena menemukan yang lebih baik, maka suatu saat semesta akan melakukan hal yang sama terhadap kita. Begitu pun ketika mengkhianati kesetiaan, semesta akan bersikap dengan jujur kepada si pengkhianat. Berhati-hatilah kepada hati, karena hati yang tak hati-hati kepada hati-hati yang lain, hatinya akan sakit hati oleh hati-hati yang berbeda. sekian

 

sumber : @ayosholawat

(konstalasi orion – 23092013 – 5.45 pm – Senin – Zeest)

Menerima (Kehidupan) Dia

Untuk Kamu yang memilihku sebagai tujuanmu, Untuk mereka yang mencintaiku dan yang kucintai ^___^ Selamat Memahami Tulisan ini.

Image

Hakikatnya, ketika orang mencintai orang lain. Maka sejatinya ia harus bisa mencintai kehidupannya, kehidupan orang yang dia cintai tersebut. Ketika ia memutuskan menerimanya. Ia tidak seharusnya mencintainya sebagai satu individu yang berdiri sendiri, namun satu individu dengan kehidupannya.

 

Kehidupan itu meliputi masa lalunya, masa depannya, masa sekarangnya. Meliputi keluarganya, teman-temannya, pekerjaannya, impian dan cita-citanya. Jika ia mencintai seseorang sebagai individu tunggal. Maka sejatinya ia hanya mencintai jasad, bukan jiwa.

 

Kenyataan di kehidupan berkata lain. Banyak yang mencintai seseorang namun sulit menerima masa lalunya. Sulit menerima bagaimana kondisi keluarganya. Sulit menerima pekerjaannya/ profesinya. Sulit menerima apapun selain dirinya  sebagai seseorang yang terlepas dari semua itu.

Akibatnya banyak yang kemudian sibuk menyembunyikan masa lalu, rendah diri dengan pekerjaannya, tidak mau mengenalkan keluarganya yang mungkin dianggapnya tidak berada/tidak baik, rusak (broken home), atau apapun yang menurutnya bisa membuat orang lain enggan dekat dengannya.

 

Mencintai seseorang adalah mencintai orang lengkap dengan kehidupannya. Sang Muhammad pun mengisyaratkan memilih kriteria agama. Itu adalah isyarat yang sangat baik karena agama (apabila seseorang tersebut memegang teguh) maka kehidupannya yang lain akan menjadi baik sebab tuntunan agama menjadi pegangannya.

 

Namun, sebagai manusia. Memilih seseorang pun mari lihat sebagai seorang manusia yang lengkap dan lebih manusiawi. Masa lalunya, impiannya, dan lain-lain. Orang yang belum baik, bisa diperbaiki. Maka, saya khawatir ketika seseorang mengamalkan saran nabi yang baik itu dengan satu sudut pandang saja. Sehingga akan sangat banyak kehidupan yang mungkin tidak bisa diselamatkan.

 

Jika saja laki-laki shaleh mau memperbaiki agama perempuan yang belum baik, maka akan ada satu kehidupan yang terselamatkan. Atau bisa sebaliknya. Ini hanya sudut pandang yang lain dan sangat subjektif menurut saya sendiri.

Mencintai seseorang itu berarti mencintai kehidupannya. Seandainya kehidupannya belum baik, sejauh mana ia bisa menerimanya. Jika masa lalunya begitu kelam, sejauh mana ia bisa melihat masa depannya. Jika hatinya tersesat dalam kehidupan, sejauh mana ia berani mengambil keputusan untuk membimbing. Jika keluarganya tidak begitu baik, sejauh mana dia bisa menerima semua itu. Jika kebiasaan sehari-harinya tidak berkenan di hati, sejauh mana ia bisa meluruskan. Jika agamanya kurang baik, sejauh mana ia mau memperbaiki.

 

Menerima seseorang lengkap dengan kehidupannya sangatlah sulit. Hal ini tidak akan terjadi dalam proses cinta ala remaja yang penuh kamuflase. Memperlihatkan yang terbaik dan menutup rapat-rapat semua keburukan. Memperkenalkan yang baik-baik saja dan hanya mau menerima yang baik-baik saja.

 

Maka coba pertanyakan pada diri masing-masing, ketika pun rasa itu masih dipendam dalam diam yang sunyi. Sejauh mana kamu bisa menerima orang itu lengkap dengan seluruh kehidupannya, atau jangan-jangan kamu hanya kagum pada kebaikannya. Dan, menutup mata pada kehidupannya yang lebih luas.

Image

Mari kita koreksi masing-masing. Sejauh mana kita bisa sanggup menerima semua itu.

 

*******

 

(KG – Konstalasi Orion)

Semua Tanya Akan Menemukan Jawaban Terbaik-Nya

Hai semesta! Halo Sabtu yang selalu membawa perasaan menjadi tak menentu. Mau meracau setengah waras. Dulu, ketika baru puber, aku pernah memiliki keinginan untuk menikah dengan si jenius nan cupu dan bahagia sampai tua. Dan belakangan ini kabarnya si jenius nan cupu telah berubah menjadi seorang¬†Programmer¬†muda nan ganteng yang Hafizh beberapa juz Al-Qur’an.

Bayangkan bila Allah¬†Subhaanahu wa Ta’ala¬†mengabulkan keinginan anak ingusan baru puber, yang masih belum ngerti apa-apa saat itu. Semisal, sudah ada pemberitahuan dari malaikat bahwa nanti di umur 25, aku akan menikah dengan si jenius nan cupu. Lalu apa yang terjadi padaku? Ada dua kemungkinan. Bisa jadi aku santai kaya di pantai, dan berubah jadi orang woles. Malas mengupgrade diri karena sudah jelas jodohnya si¬†Programmer¬†Muda, jenius. Hafizh pula. Kemungkinan yang lain, bisa jadi aku¬†down¬†dan menyesal karena baru tahu, tidak ada lelaki yang sebaik dia. Sepertinya dua kemungkinan ini tidak ada yang baik. Dan aku tak mau keluar dari bahtera ini. T-I-T-I-K!

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Luqman: 27)

Ada yang tidur di rumah seharga fantastis, sementara yang lain tidur di bawah kolong jembatan. Ada yang dilahirkan di rumah sakit, dan ada yang dilahirkan oleh dukun beranak. ada yang dilahirkan sebagai lelaki dan ada yang dilahirkan sebagai perempuan. Ada remaja yang sedang belajar dengan serius di depan meja belajarnya, sementara remaja yang lain harus menjadi buruh kasar di dermaga.

Pada dasarnya, di dunia ini terlalu banyak ketetapan Allah¬†Subhaanahu wa Ta’ala¬†yang belum kita pahami dan ketahui. Sebagai seorang muslim(ah), kita harus selalu ber-husnuzhan kepada semua ketetapan yang telah Allah¬†Subhaanahu wa Ta’ala¬†gariskan kepada kita. Bahwa semua tulisan yang telah mengering di¬†lauhul mahfuz¬†adalah yang terbaik untuk kita.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 216)

Bahkan saat kita tersandung batu dan kaki kita berdarah bisa jadi itu bukan musibah. Bisa jadi itu adalah mekanisme Allah mengeluarkan racun yang terdapat di kaki kita. Karena jari kita adalah pusat rangsang refleksi yang berhubungan dengan syaraf ke otak. Jika racun itu tidak dikeluarkan, maka akan mengganggu kerja tubuh. Jadi semua ketetapan dari ALLAH itu sudah tentu yang terbaik untuk kita.¬†Subhaanallaah…

Sering kita dengar ungkapan, jika segala sesuatu telah ditakdirkan maka kita pasrah dan menjalani hidup ‚Äúlet it flow‚ÄĚ saja? Tanpa perlu usaha. Tanpa perlu berdoa.

Kata orang India, Nehi, nehi! Justru karena semua ketetapan ALLAH masih rahasia, kita harus terus berusaha dan berdoa. Karena kita belum tau seperti apa takdir kita.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS. Al-Baqarah: 216).

Karena Allah tidak pernah membebani hamba-hamba-Nya di luar batas kemampuannya, maka kita kudu terus berikhtiar hingga batas kemampuan kita dalam menjemput takdir kita. Karena pada hakikatnya Allah memberikan kemudahan pada tiap hambaNya untuk menjemput takdirnya masing-masing.

Rasulullah¬†shallallaahu ‘alayhi wa sallam¬†ditanya: Wahai Rasulullah! Apakah sudah diketahui orang yang akan menjadi penghuni surga dan orang yang akan menjadi penghuni neraka? Rasulullah¬†shallallaahu ‘alayhi wa sallam¬†menjawab: Ya. Kemudian beliau ditanya lagi: Jadi untuk apa orang-orang harus beramal? Rasulullah¬†shallallaahu ‘alayhi wa sallam¬†menjawab: Setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang telah menjadi takdirnya.¬†(Shahih Muslim No.4789 dari Imran bin Hushain¬†rhadiyallaahu ‘anhu).

Wa- Allaahu A’lam Bishshawwab

 Image

*******

Pada dongeng yang belum sampai
menyentuh kepada paripurna
menelusur setiap asa
Pada janji-janji yang terpatri
dan menggantung di langit
tapi, belum berkata pada nyata
Semua tanya nantinya akan berujung
menunaikan segala jawab yang masih menggantung
masih di sini, masih memeluk takdir kedua
akan aku bayar apa yang telah hilang dari takdir
walau jalan memutar
walau angin tak berarah
kini aku berdiri di penghujung petang
melepas  Senja yang tak kunjung datang
dengan bayanganku yang memanjang
waktuku yang tak lagi banyak
aku…
masih memegang layang-layang yg pernah dirancang bersama
 Di bawah rembulan fase punrama yang tersipu
Beranda masjid itu saksi bisu
Melihatku memalu pada masa lalu

(Zeest – Sabtu, 21092013 – 11.50 pm – Konstalasi Orion)

Bahtera Ini Akan Selamat (Bersama Atau Tanpa Kamu)

Senja, jarak yang harus kamu ambil denganku adalah serupa bentang samudra. Harus jauh membentang. Tidak perlu tanggung-tanggung, dekat tidak-jauh juga tidak. Jauhlah sekalian. Jika kamu memang berniat menyeberanginya (untuk satu peta denganku), persiapkanlah bahtera yang kuat karena akan banyak badai di perjalanan. Persiapkan bekal yang cukup. Atau jika kamu memilih jalur udara, persiapkan pesawat yang tangguh untuk melintasi samudra non-stop. Pastikan avturnya cukup atau kamu akan jatuh di lautan.

 

Jika pun kamu nekat berenang, tidak masalah. Aku hanya ingin melihat kesungguhanmu. Jika ingin memanfaatkan ilmu yang kamu geluti, rancanglah software untuk membangun jembatan penyeberangan dalam sehari. Silakan. Aku hanya ingin melihat kesungguhanmu. Karena jarak yang jauh dan rintangan yang besar akan membuat padam nyali orang yang tidak berani. Aku membuat mundur orang yang tak cukup ilmu. Akan membuat takut orang yang tak cukup percaya kepada kebenaran janji Tuhan.

 

Jarak sejauh samudera ini membutuhkan ilmu. Ilmu navigasi. Ilmu yang akan menyelematkanmu. Biar kamu mencapaiku dengan rute tercepat dan terbaik. Agar kamu bisa menghindari badai atau membaca tanda-tanda langit.  Jarak yang harus aku ambil terhadapmu aku pilih sejauh mungkin. Meski begitu, masih ada kemungkinan di antara jarak sejauh samudera. Bukan seperti jarak sejauh lapisan langit ketujuh.

 

Well, di ujung jarak yang terbentang, kuikuti selasarnya malam menuju satu titik di ujung tentu. Dan kutatap rembulan fase purnama awal di batas malam. Menyentak biasnya. Ada tersirat muram di kelamnya malam. Namun aku tak peduli, tak kutoleh sedikitpun.

 

Kulanjutkan saja ¬†yang tersisa sepenggal. Berharap ada risalah yang akan mengisi ruang. Dan dapat kujadikan bekal perjalanan selanjutnya. Andai dapat kuterjang batasnya. Aku yakin pasti akan terlampaui, apa yang kuanggap usai. Dan nanti di kemudian, akan kudapatkan selarik arti yang lebih pasti. Tentang kisah pelayaran kita dengan peta yang berbeda. Kini belajar menikmati arusnya. Kadang searah, pun menerjang. Yakinlah! Di sebalik layar terkembang, pasti ada warna nan indah akan terkuak. Hingga suatu masa, bahtera pun ‚Äėkan tiba di tujuan-Nya. Selamat tanpa karam. Baik bersama atau tanpa dikau, Senja.

DSC_0443

 

*******

 

(Zeest ‚Äď Rabu, 18092013 ‚Äď 11.50 pm ‚Äď Konstalasi Orion)

 

 

 

 

Ingat Itu, Tuan!

PERINGATAN: ORANG YANG GALAU, DILARANG BACA TULISAN INI!

 

Hai, Tuan Pengembara yang sempat meraja!

Larilah, kakimu masih kuat untuk mengejar restu walinya

Kau tau, ada yang menunggumu di persimpangan jalan sana

Pastikan kau tersenyum manis saat berjumpa dengannya

 

Cukup. Cukup Allah saja yang tahu dan memahami. Cukup orang-orang terdekatku saja yang memahami. Bahkan saat kau ingin tau tentang hatiku, cukup tanyakan hatimu saja. Cukuplah itu menjawabnya.

Dan, tak perlulah aku banyak bicara menjelaskan tentang persepsiku. Hatimu tentu punya jawabannya. Oh, aku lupa. Kau manusia tak punya hati. Hanya logika yang selalu meragu.

 

Simaklah, aku adalah aku. Dan nyatanya, kamu telah memainkan keyakinanku.

 

Maka biarkan saat ini aku kembali menulis dengan iramaku yang lalu, yang kusimpan rapi, jauh dari jangkaumu.

 

Maka biarkan aku kembali menyanyikan lagu-lagu dalam alunan nada-nada yang mungkin akan sumbang.

 

Maka biarkan aku kembali pada duniaku yang mungkin tak seindah dunia yang kau katakan (dulu), yang mungkin tak akan ada pelangi yang kau lukis bersama balon-balon dan pecahan-pecahan partikel dari galaksi andromeda, tuan. Tapi, tetap saja tak bisa disamakan dengan keindahan aurora yang Senja tawarkan padaku (dulu).

 

Tahun lalu, digantikan hari kemarin. Hari kemarin pun tergantikan oleh hari ini. Dan ku tau, hari ini kan terganti hari esok. Masih yakin esok akan terganti lusa. Dan ada masanya,  luka-luka akan mengering dan kemarahan akan berhamburan, terganti oleh bertaburnya bintang di konstalasi orion. Kuyakin, Tuhanku akan memeberikan keindahan kerlip cahaya dalam gelap, mungkin salah satunya ada yang masih bersinar dari jaman nabi Adam: Polaris.

 

Aku yakin esok pagi akan datang menggantikan gelapnya malam. Meski aku tidak bisa menjamin, masihkah bisa melihat lewat jendela kamarku matahari terbit dari timur (?) Tapi, ingin kudapati diriku selalu tersenyum benderang sehangat matahari esok pagi. Sekalipun raga tak lagi bernyawa.

 

Ohya, ini September…

Saat segala percaya diruntuhkan. Saat pecahnya keyakinan dipertaruhkan. Saat nama dicoreng tanpa noda. Saat hati disayat tanpa belati. Saat takdir dianggap mainan. Saat janji layaknya waktu, terlupakan.

Lantas September…

Apa ada lagi pertanyaan? Apa ada lagi yang kamu keluhkan? Ada  yang menerima jalanmu seperti yang kamu harapkan? Ada yang berani mengorbankan hidupnya untuk kamu? Semoga ada, semoga dia adalah Nona.

Bacalah keyakinan tanpa tafsir, tanpa debat, tanpa diskusi. Hanya baca tanpa persepsi, tanpa positif tanpa negatif. Tak perlu mengerti keyakinanku ini,  karena sesungguhnya kamu mengerti, kamu tau dan kamu sadari.

 

Duhai September…

Aku tak punya apa-apa kecuali sebuah keyakinan, yang tercampakan sebelum sempat utuh terutarakan.

 

Dan di September, telah kukatakan:

Aku bukan pilihan, tapi aku adalah tujuan. Ingat itu, tuan!

*******

(Zeest ‚Äď Senin, 17092013 ‚Äď 1.03 am ‚Äď Konstalasi Orion)