Reboot Hati, Laxyta (Kembali) Fitri

Minggu kali ini beneran stress dari shubuh sampai maghrib. 11 bulan Laxyta selalu berpenampilan manis, tanpa masalah. Mempermudah seluruh akses jarak jauh. Baik yang akademik atau urusan hati 😀 15 September 2013, Laxyta merajuk. Tetiba restart sendiri, gelagat awal yang sudah terlihat dari Malam Minggu. Pas mau tahajjud berjamaah di mushala, kusempatkan charging Laxyta yang sudah lowbath. Kembali restart sendiri. Rada aneh, setelah itu layar tidak menampilkan home. Setelah menampilkan Brand Laxyta, layar pun kembali restart. Awalnya kukira, faktor dari kondisi batre yang benar-benar kandas hingga 0%. Kutinggal pergi ke mushala. Eh, tak dinyana. Selepas shalat shubuh, kulihat kondisinya masih tetap seperti kutinggal. Laxyta-ku panas banget. Serasa baru keluar dari oven. Mulai panik, pemirsah! Masa rusak sih, padahal belum genap setahun. Gimana pertanggungjawabanku kepada ayah? Itu yang kupikirkan. Bukan karena tak bisa berinteraksi dengan orang-orang yang hanya bisa kutemui di berbagai aplikasi yang tersimpan di Laxyta.

 

Begitulah secuplik kisah yang membuat otakku berputar seharian, hingga terbawa dalam mimpi. Tadinya ada rencana untuk ke CS Laxyta. Tapi malas rasanya, meski masih ada garansi. Akhirnya, modem yang selama ini hanya teronggok di lemari buku, kupakai lagi. Saking penasaran apa yang terjadi dengan Laxyta-ku, kutanya paman googy. Dan ternyata, Laxyta-ku mengalami BootLoop. Intiny, Laxyta-ku sudah tidak sanggup menahan beban pikirannya selama ini. Terlalu banyak bebannya dalam membantuku menyimpan semua file. Dari yang sampah, hingga yang sangat penting. Aku pun dilema begitu membaca saran dari beberapa situ yang mengatakan bahwa hanya ada satu jalan untuk menyelamatkan Laxyta. Dengan recovery system. Jujur, aku newbie dalam ngoprek laxyta sejauh ini. Ada 2 alternatif yang ditawarkan. Secara Manual Mode, atau Odin Mode. Ah! Istilah-istilah yang baru kutau hari ini. Sebelum melakukan ritual penyembuhan Laxyta, kucari tau resiko terburuknya: Kehilangan semua data yang ada, hanya tersisa data yang memang bawaan dari pabrik tempat Laxyta-ku diproduksi. Aku benar-benar dalam kondisi terdesak. Mau minta waktu untuk back-up data, tak mungkin. Lah wong kondisi si Laxyta sedang pingsan. Sedangkan aku masih belum rela untuk kehilangan semua data yang sudah 11 bulan tersimpan di Laxyta. Termasuk rekaman terakhir obrolanku dengannya di salah satu aplikasi yang ada.

 

Oh… ini pilihan yang sulit. Kuputuskan, lebih baik kehilangan semua data asal Laxyta bisa selamat dan hidup lagi. Mungkin, ini jalannya untuk benar-benar move on dari masa yang pernah dilalui. Aku memang jenis orang yang tidak tega membuang atau menghapus segala yang tersimpan di Laxyta. Apalagi yang bersangkutan dengannya. Bisa dikatakan aku kolektor kenangan. Hyahaha. Tapi hari ini, aku kehilangan hampir sebagian yang mengingatkanku padanya. Saat kondisi terdesak, sebenarnya manusia bisa dengan mudah untuk move on. Sakit sih rasanya. Tapi ya inilah hidup. Masih bicara tentang pilihan.

 

Aku pun baru paham. Mengapa saat SMP dulu, ada teman sekelasku yang selalu ganti gadget atau ponsel ketika putus dari pacarnya. Setiap pacar baru, pasti ponsel baru. Aku pun sempat komentar tentang tingkahnya yang tergolong aneh, bagiku. Dia menjawab dengan enteng: “biar aku mudah untuk melangkah ke depan, Lik. Karena di ponsel itu terlalu banyak kenanganku dengannya yang tak tega untuk kuhapus.” Saat aku masih SMP, belum tenar istilah galau dan move on. Berhubung ayahnya temanku ini salah satu bos di tempat ayahku kerja, mungkin dia kesempatan dengan mudahnya untuk gonta ganti ponsel seperti orang yang dengan mudahnya membalikan telapak tangan. Aku merasakan, apa yang si teman pernah katakan. Tapi, berhubung ayahku bukan orang yang berduit lebih, ya mungkin jalannya dengan begini. Laxyta-ku seperti orang yang sedang mengancamku untuk terus melangkah ke depan, tanpa harus terpaku menatap ke belakang. Meski terasa asing, dengan tampilan Laxyta yang sudah di-upgrade. Sama seperti berkenalan dengan orang yang baru. Penyesuaian lagi dengan settingannya. Butuh waktu dan proses untuk menata kembali aplikasi-aplikasi yang dibutuhkan. Harus sabar sih. galeri pun benar-benar bersih total, siap untuk kembali menyimpan kenangan-kenangan yang akan datang.

 

Kalau bukan begini, aku benar-benar tidak tega untuk menghapusnya. Semua memang ada hikmahnya. Laxyta-ku fitri kembali, hatiku bebas melangkah tanpa terbelenggu dengan kenangan. Terus ya, rasanya kaya lega gitu. Laxyta serasa baru beli (lagi). Mungkin begitu juga yaa dalam kehidupan rumah tangga. Seperti yang mamaku pernah bilang: “dalam keluarga itu harus selalu diperbaiki dan diperbaharui hubungan dengan anggota keluarga. Agar tidak merasa jenuh dan selalu merasa baru terus, meski sudah menua. Harus sabar dan memiliki jiwa arkeolog. Semakin purba cintanya, semakin berharga dan semakin dijaga.”

 

Laxyta-ku, kita mulai semua dari NOL (lagi) yaa, serasa jadi petugas SPBU. Hyahaha. Setelah malam ini, entah siapa yang akan datang menawarkan kisah yang baru dalam hidupku. Ehya, mikir juga sih. betapa enaknya ya, jika semua rasa-rasa buruk yang lama mengendap di hati, bisa di-reboot dengan mudahnya seperti Laxyta. Mungkin, hati tidak akan keras dan berkarat. Intinya, Alhamdulillaahi  Rabbi-l ‘Aalamiin. Laxyta, siapkah engkau membuka lembaran memori baru? Di sini, aku siap! 😀

 

 *******

I never look back, darling. It distracts from the now.

 *******

(Zeest – Senin, 16092013 – 0.15 am – Konstalasi Orion)

Advertisements

3 thoughts on “Reboot Hati, Laxyta (Kembali) Fitri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s