Ingat Itu, Tuan!

PERINGATAN: ORANG YANG GALAU, DILARANG BACA TULISAN INI!

 

Hai, Tuan Pengembara yang sempat meraja!

Larilah, kakimu masih kuat untuk mengejar restu walinya

Kau tau, ada yang menunggumu di persimpangan jalan sana

Pastikan kau tersenyum manis saat berjumpa dengannya

 

Cukup. Cukup Allah saja yang tahu dan memahami. Cukup orang-orang terdekatku saja yang memahami. Bahkan saat kau ingin tau tentang hatiku, cukup tanyakan hatimu saja. Cukuplah itu menjawabnya.

Dan, tak perlulah aku banyak bicara menjelaskan tentang persepsiku. Hatimu tentu punya jawabannya. Oh, aku lupa. Kau manusia tak punya hati. Hanya logika yang selalu meragu.

 

Simaklah, aku adalah aku. Dan nyatanya, kamu telah memainkan keyakinanku.

 

Maka biarkan saat ini aku kembali menulis dengan iramaku yang lalu, yang kusimpan rapi, jauh dari jangkaumu.

 

Maka biarkan aku kembali menyanyikan lagu-lagu dalam alunan nada-nada yang mungkin akan sumbang.

 

Maka biarkan aku kembali pada duniaku yang mungkin tak seindah dunia yang kau katakan (dulu), yang mungkin tak akan ada pelangi yang kau lukis bersama balon-balon dan pecahan-pecahan partikel dari galaksi andromeda, tuan. Tapi, tetap saja tak bisa disamakan dengan keindahan aurora yang Senja tawarkan padaku (dulu).

 

Tahun lalu, digantikan hari kemarin. Hari kemarin pun tergantikan oleh hari ini. Dan ku tau, hari ini kan terganti hari esok. Masih yakin esok akan terganti lusa. Dan ada masanya,  luka-luka akan mengering dan kemarahan akan berhamburan, terganti oleh bertaburnya bintang di konstalasi orion. Kuyakin, Tuhanku akan memeberikan keindahan kerlip cahaya dalam gelap, mungkin salah satunya ada yang masih bersinar dari jaman nabi Adam: Polaris.

 

Aku yakin esok pagi akan datang menggantikan gelapnya malam. Meski aku tidak bisa menjamin, masihkah bisa melihat lewat jendela kamarku matahari terbit dari timur (?) Tapi, ingin kudapati diriku selalu tersenyum benderang sehangat matahari esok pagi. Sekalipun raga tak lagi bernyawa.

 

Ohya, ini September…

Saat segala percaya diruntuhkan. Saat pecahnya keyakinan dipertaruhkan. Saat nama dicoreng tanpa noda. Saat hati disayat tanpa belati. Saat takdir dianggap mainan. Saat janji layaknya waktu, terlupakan.

Lantas September…

Apa ada lagi pertanyaan? Apa ada lagi yang kamu keluhkan? Ada  yang menerima jalanmu seperti yang kamu harapkan? Ada yang berani mengorbankan hidupnya untuk kamu? Semoga ada, semoga dia adalah Nona.

Bacalah keyakinan tanpa tafsir, tanpa debat, tanpa diskusi. Hanya baca tanpa persepsi, tanpa positif tanpa negatif. Tak perlu mengerti keyakinanku ini,  karena sesungguhnya kamu mengerti, kamu tau dan kamu sadari.

 

Duhai September…

Aku tak punya apa-apa kecuali sebuah keyakinan, yang tercampakan sebelum sempat utuh terutarakan.

 

Dan di September, telah kukatakan:

Aku bukan pilihan, tapi aku adalah tujuan. Ingat itu, tuan!

*******

(Zeest – Senin, 17092013 – 1.03 am – Konstalasi Orion)

One thought on “Ingat Itu, Tuan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s