Menerima (Kehidupan) Dia

Untuk Kamu yang memilihku sebagai tujuanmu, Untuk mereka yang mencintaiku dan yang kucintai ^___^ Selamat Memahami Tulisan ini.

Image

Hakikatnya, ketika orang mencintai orang lain. Maka sejatinya ia harus bisa mencintai kehidupannya, kehidupan orang yang dia cintai tersebut. Ketika ia memutuskan menerimanya. Ia tidak seharusnya mencintainya sebagai satu individu yang berdiri sendiri, namun satu individu dengan kehidupannya.

 

Kehidupan itu meliputi masa lalunya, masa depannya, masa sekarangnya. Meliputi keluarganya, teman-temannya, pekerjaannya, impian dan cita-citanya. Jika ia mencintai seseorang sebagai individu tunggal. Maka sejatinya ia hanya mencintai jasad, bukan jiwa.

 

Kenyataan di kehidupan berkata lain. Banyak yang mencintai seseorang namun sulit menerima masa lalunya. Sulit menerima bagaimana kondisi keluarganya. Sulit menerima pekerjaannya/ profesinya. Sulit menerima apapun selain dirinya  sebagai seseorang yang terlepas dari semua itu.

Akibatnya banyak yang kemudian sibuk menyembunyikan masa lalu, rendah diri dengan pekerjaannya, tidak mau mengenalkan keluarganya yang mungkin dianggapnya tidak berada/tidak baik, rusak (broken home), atau apapun yang menurutnya bisa membuat orang lain enggan dekat dengannya.

 

Mencintai seseorang adalah mencintai orang lengkap dengan kehidupannya. Sang Muhammad pun mengisyaratkan memilih kriteria agama. Itu adalah isyarat yang sangat baik karena agama (apabila seseorang tersebut memegang teguh) maka kehidupannya yang lain akan menjadi baik sebab tuntunan agama menjadi pegangannya.

 

Namun, sebagai manusia. Memilih seseorang pun mari lihat sebagai seorang manusia yang lengkap dan lebih manusiawi. Masa lalunya, impiannya, dan lain-lain. Orang yang belum baik, bisa diperbaiki. Maka, saya khawatir ketika seseorang mengamalkan saran nabi yang baik itu dengan satu sudut pandang saja. Sehingga akan sangat banyak kehidupan yang mungkin tidak bisa diselamatkan.

 

Jika saja laki-laki shaleh mau memperbaiki agama perempuan yang belum baik, maka akan ada satu kehidupan yang terselamatkan. Atau bisa sebaliknya. Ini hanya sudut pandang yang lain dan sangat subjektif menurut saya sendiri.

Mencintai seseorang itu berarti mencintai kehidupannya. Seandainya kehidupannya belum baik, sejauh mana ia bisa menerimanya. Jika masa lalunya begitu kelam, sejauh mana ia bisa melihat masa depannya. Jika hatinya tersesat dalam kehidupan, sejauh mana ia berani mengambil keputusan untuk membimbing. Jika keluarganya tidak begitu baik, sejauh mana dia bisa menerima semua itu. Jika kebiasaan sehari-harinya tidak berkenan di hati, sejauh mana ia bisa meluruskan. Jika agamanya kurang baik, sejauh mana ia mau memperbaiki.

 

Menerima seseorang lengkap dengan kehidupannya sangatlah sulit. Hal ini tidak akan terjadi dalam proses cinta ala remaja yang penuh kamuflase. Memperlihatkan yang terbaik dan menutup rapat-rapat semua keburukan. Memperkenalkan yang baik-baik saja dan hanya mau menerima yang baik-baik saja.

 

Maka coba pertanyakan pada diri masing-masing, ketika pun rasa itu masih dipendam dalam diam yang sunyi. Sejauh mana kamu bisa menerima orang itu lengkap dengan seluruh kehidupannya, atau jangan-jangan kamu hanya kagum pada kebaikannya. Dan, menutup mata pada kehidupannya yang lebih luas.

Image

Mari kita koreksi masing-masing. Sejauh mana kita bisa sanggup menerima semua itu.

 

*******

 

(KG – Konstalasi Orion)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s