Semua Tanya Akan Menemukan Jawaban Terbaik-Nya

Hai semesta! Halo Sabtu yang selalu membawa perasaan menjadi tak menentu. Mau meracau setengah waras. Dulu, ketika baru puber, aku pernah memiliki keinginan untuk menikah dengan si jenius nan cupu dan bahagia sampai tua. Dan belakangan ini kabarnya si jenius nan cupu telah berubah menjadi seorang Programmer muda nan ganteng yang Hafizh beberapa juz Al-Qur’an.

Bayangkan bila Allah Subhaanahu wa Ta’ala mengabulkan keinginan anak ingusan baru puber, yang masih belum ngerti apa-apa saat itu. Semisal, sudah ada pemberitahuan dari malaikat bahwa nanti di umur 25, aku akan menikah dengan si jenius nan cupu. Lalu apa yang terjadi padaku? Ada dua kemungkinan. Bisa jadi aku santai kaya di pantai, dan berubah jadi orang woles. Malas mengupgrade diri karena sudah jelas jodohnya si Programmer Muda, jenius. Hafizh pula. Kemungkinan yang lain, bisa jadi aku down dan menyesal karena baru tahu, tidak ada lelaki yang sebaik dia. Sepertinya dua kemungkinan ini tidak ada yang baik. Dan aku tak mau keluar dari bahtera ini. T-I-T-I-K!

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Luqman: 27)

Ada yang tidur di rumah seharga fantastis, sementara yang lain tidur di bawah kolong jembatan. Ada yang dilahirkan di rumah sakit, dan ada yang dilahirkan oleh dukun beranak. ada yang dilahirkan sebagai lelaki dan ada yang dilahirkan sebagai perempuan. Ada remaja yang sedang belajar dengan serius di depan meja belajarnya, sementara remaja yang lain harus menjadi buruh kasar di dermaga.

Pada dasarnya, di dunia ini terlalu banyak ketetapan Allah Subhaanahu wa Ta’ala yang belum kita pahami dan ketahui. Sebagai seorang muslim(ah), kita harus selalu ber-husnuzhan kepada semua ketetapan yang telah Allah Subhaanahu wa Ta’ala gariskan kepada kita. Bahwa semua tulisan yang telah mengering di lauhul mahfuz adalah yang terbaik untuk kita.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 216)

Bahkan saat kita tersandung batu dan kaki kita berdarah bisa jadi itu bukan musibah. Bisa jadi itu adalah mekanisme Allah mengeluarkan racun yang terdapat di kaki kita. Karena jari kita adalah pusat rangsang refleksi yang berhubungan dengan syaraf ke otak. Jika racun itu tidak dikeluarkan, maka akan mengganggu kerja tubuh. Jadi semua ketetapan dari ALLAH itu sudah tentu yang terbaik untuk kita. Subhaanallaah…

Sering kita dengar ungkapan, jika segala sesuatu telah ditakdirkan maka kita pasrah dan menjalani hidup “let it flow” saja? Tanpa perlu usaha. Tanpa perlu berdoa.

Kata orang India, Nehi, nehi! Justru karena semua ketetapan ALLAH masih rahasia, kita harus terus berusaha dan berdoa. Karena kita belum tau seperti apa takdir kita.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya(QS. Al-Baqarah: 216).

Karena Allah tidak pernah membebani hamba-hamba-Nya di luar batas kemampuannya, maka kita kudu terus berikhtiar hingga batas kemampuan kita dalam menjemput takdir kita. Karena pada hakikatnya Allah memberikan kemudahan pada tiap hambaNya untuk menjemput takdirnya masing-masing.

Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam ditanya: Wahai Rasulullah! Apakah sudah diketahui orang yang akan menjadi penghuni surga dan orang yang akan menjadi penghuni neraka? Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam menjawab: Ya. Kemudian beliau ditanya lagi: Jadi untuk apa orang-orang harus beramal? Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam menjawab: Setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang telah menjadi takdirnya. (Shahih Muslim No.4789 dari Imran bin Hushain rhadiyallaahu ‘anhu).

Wa- Allaahu A’lam Bishshawwab

 Image

*******

Pada dongeng yang belum sampai
menyentuh kepada paripurna
menelusur setiap asa
Pada janji-janji yang terpatri
dan menggantung di langit
tapi, belum berkata pada nyata
Semua tanya nantinya akan berujung
menunaikan segala jawab yang masih menggantung
masih di sini, masih memeluk takdir kedua
akan aku bayar apa yang telah hilang dari takdir
walau jalan memutar
walau angin tak berarah
kini aku berdiri di penghujung petang
melepas  Senja yang tak kunjung datang
dengan bayanganku yang memanjang
waktuku yang tak lagi banyak
aku…
masih memegang layang-layang yg pernah dirancang bersama
 Di bawah rembulan fase punrama yang tersipu
Beranda masjid itu saksi bisu
Melihatku memalu pada masa lalu

(Zeest – Sabtu, 21092013 – 11.50 pm – Konstalasi Orion)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s