B A L O N

B A L O N. Entah mengapa, sejak akhir 2013 aku mulai suka dengan benda yang identik dengan anak kecil. Benda yang sangat terkenal di setiap masa, bahkan diabadikan dalam sebuah lagu.

Balon seperti membawa kebahagiaan tersendiri. Balon terbang begitu ringan, begitu bebas dan begitu tinggi menggapai langit. Balon selalu saya analogikan dengan pengharapan , mimpi dan usaha. Jika kita hanya punya satu balon maka kita begitu sulit untuk menggapai langit. Karena satu balon biasa tidak mampu menerbangkan kita. Tetapi ketika kita mempunyai beribu balon, maka kita bisa terbang menggapai langit.

Mungkin juga, kepergian bisa sepola juga dengan balon. “Sudah waktunya”, bisa jadi satu jawaban ketika ada yang terbang ke langit atau menyusut dimakan masa. Saat balon hilang, ada yang menangis, ada juga yang melambaikan tangan. Tidak ada yang tau balon-balon itu akan berhenti dimana. Rasanya seperti dimakan langit dan ditelan saja. Berikan pada langit jika memang sudah waktunya. Kita boleh menangis dan melambai. Setelah itu, kita kembali berlarian suatu sore yang jingga atau pagi yang sejuk dengan balon lain yang akan diberikan oleh Tuhan, lagi dan lagi.

image

Balonku tinggal empat
Kupegang erat-erat

(LV – 03.15 am – konstalasi orion)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s