M A U T

Allah sedang mendidikku dengan cara-Nya yang begitu istimewa, dalam seminggu 5 orang yang aku kenal meninggal secara beruntun. Rerata semua meninggal karena sakit yang berbulan, bahkan ada yang menahun. Mereka begitu sabar melewati masa masa sakitnya. Bahkan Allah lebih menyayangi mereka daripadaku. Hingga 2 orang di antaranya meninggal di hari Jumat.  Bagiku yang sempat melihat kondisinya sebelum meninggal, menilai bahwa kematian justru lebih baik karena mempersingkat penderitaannya.

Islam mengajarkan beberapa hal tentang penderitaan dan kematian:

Kematian adalah kepastian, dan tidak ada yang bisa menghalangi datangnya saat itu. QS An-Nisa (4:78) menyebutkan: Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh…. Kita tidak bisa melarikan diri darinya karena dia yang akan mendatangi kita: Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu.QS Al Jumuah (62:8).

Musibah adalah bagian dari takdir, karenanya manusia harus menyerahkan semuanya kembali pada Sang Khalik. QS Al Baqarah (2:156): orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun“. Sebenarnya, kalimat yang bermakna semua yang berasal dariNya akan kembali padaNya ini tidak hanya untuk mengikhlaskan kematian, tetapi juga bila kita sendiri tertimpa bencana.

Manusia harus meyakini bahwa semua kejadian di dunia termasuk musibah. QS At-Taghaabuun (64:11): Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Betapa ringkihnya sebenarnya manusia ini, karena manusia tidak bisa menolak bala atau bencana, dan tidak bisa bersembunyi apalagi lari dari kematian. Bahkan rizki yang diidamkan pun bukan hak prerogatifnya untuk bisa diraih sekehendak hati.

Kematian sudah pasti menyedihkan orang yang ditinggalkan, meskipun sebenarnya orang yang mati tidak merasakan lagi duka selama hidup. Aku mulai paham sekarang, kesedihan atas meninggalnya orang yang kita kasihi sebenarnya adalah mengasihani diri sendiri. Kesedihan itu muncul karena tidak akan melihat kerabat yang meninggal, atau karena tidak tau harus bagaimana setelah ditinggal mati, atau khawatir pada penghasilan setelah ditinggal mati, dan seribu alasan kesedihan lainnya. Orang yang tidak berpamrih pada orang yang mati, tentu saja tidak bakal merasakan kedalaman kesedihan.

Kata ayahku, menangisi jenazah secara wajar masih diperkenankan, namun berurai air mata berlebihan, meraung-raung, tidak diijinkan dalam Islam. Alasannya, kematian adalah takdir, dan datangnya pasti dari Allah. Menangisi kerabat yang meninggal secara wajar adalah kesedihan biasa, tapi raungan dan ratapan menunjukkan penolakan pada ketetapan Allah akan umur manusia. Mungkin keikhlasan perlu waktu, -seperti halnya aku baru bisa ikhlas sepenuhnya atas meninggalnya abah (ayahnya mama)-, tetapi keyakinan bahwa garis hidup di tangan Allah harus seketika itu dipahami manusia.

Yang kupahami, Islam mengajarkan umatnya untuk mengambil hikmah dari sebuah bala termasuk kematian, karena tidak ada satupun kejadian buruk yang tanpa ijinNya. Sebuah bencana, misalnya sakit atau kecelakaan, termasuk kematian, pada dasarnya tidak berdiri sendiri. Jika bukan untuk diri orang yang mengalami bala atau kematian, yang harus memetik hikmah adalah orang-orang di sekitarnya.

Kembali pada beberapa kerabatku yang meninggal secara beruntun dalam seminggu, kami yang ditinggalkan hanya bisa menyerahkan semuanya pada Allah seraya mencari hikmah. Di antaranya,  2 orang gadis belia yang baik dan ramah, tidak pernah aku melihatnya membuat orang lain sakit hati. Hingga akhir hayatnya mereka belum mendapatkan cita dan cinta di fase remaja, justru Allah mencobanya dengan kanker yang diidapnya, kanker tulang dan kanker darah. Mungkin buku hidup 2 almarhumah sudah usai, namun kami semua yang ditinggalkan harus memahami alasan semua kontradiksi tersebut dalam rangka mencari pelajaran dari cobaan berat tersebut.

Atau, mungkin kematiannya dimaksudkan untuk kebaikan keluarga besarnya.

Terkadang, Allah mendidik kita dengan mengambil kembali sesuatu dan sesiapa yang paling kita sukai, paling dicintai, dan yang paling diinginkan. Agar kita selalu sadar, bahwa semua itu hanyalah amanah dan titipan. Bukan milik kita.

Wallahu a’lam bishawwab.

image

(Zeest – 24032014 – Senin, 03.00 am – Konstalasi Orion – Awal Kemarau)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s