Racauan Ramadhan #1

Ketika senja berakhir hari itu, yang aku cari adalah segaris lengkung cahaya tipis di ufuk timur. Lebih tipis dari senyummu. Hilal, namanya. Berdiri condong seperti penampang samping layar perahu yang tengah gigih di tiup angin menuju tengah samudera. Adakah ia, telah menjadi pertanda awal putaran waktu? Sebuah titik tempat aku mulai berhitung dari angka satu pada bulan yang baru lahir.

Siapa pun yang melihatnya untuk pertama kali dan mengabarkannya, aku percaya pada tatapan matanya. Tiba saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal Sya’ban. Ibarat pengembara, aku telah sampai pada permulaan Ramadhan. Mungkin ada sebuah rumah yang tak kuketahui batas dindingnya, namun sebidang pintunya yang putih telah berada di depan langkahku.

Aku akan dan barangkali harus memasuki rumah itu. Begitu berat langkah diayunkan seolah punggung menanggung banyak beban perjalanan. Begitu letih sejarah yang kini terseret memanjang ke belakang. Sewaktu menengok ke arah barat, kelam sejarah sedang mengikuti. Ia bagai buku harian tebal yang menghimpun banyak gulungan awan hitam. Di dalamnya terdapat halaman penuh dengan coretan, cahaya kandil yang padam, suara cerca yang tak kunjung berhenti. Begitu gempitanya mereka mencoba menghapus pucuk-pucuk kearifan yang pernah ditanam pada padang luas yang kumiliki. Benarkah tak satu pun benih tumbuh mengejar matahari?

Setiap kali letih tersaruk pada jejak yang menyimpang, jauh ditelan rimba gelap, ada yang setia mengingatkan dan memanggil untuk kembali. Suara yang lebih terdengar oleh hati nurani itu kadang-kadang membuat gentar. Seperti menyadarkan aku dari peran-peran sandiwara yang telah dipertunjukkan. Sebagai siapa aku di panggung itu? Ada sejumlah pilihan yang pernah aku ambil untuk menempuh liku-liku jalan, saat rambu kian samar dan sebagian besar sengaja didustakan. Merasa berprestasi kala berhasil mengubah ukuran moral sesuai dengan tafsir sendiri.

Pintu itu masih tegak di depan langkah. Pintu yang mirip sampul buku. Keduanya, pintu maupun buku, menunggu dibuka. Ia tak pernah peduli siapa aku: pengembara dengan sejuta luka atau manusia yang merasa bersih dari noda. Ia hanya mengucapkan selamat datang dengan senyum tipis hilal, cahaya putih yang mengatasi warna langit. Tetapi aku yang pandir ini, kerap menjadi salah tingkah. Rasa malu menggelayuti hati.

Mungkinkah keangkuhan masih tersisa pada diri, ketika seharusnya seluruh jubah dilepaskan? Pakaian yang selama ini membuat kita merasa berbeda dengan yang lain. Selimut yang perlahan-lahan membuat kemanusiaanku imun terhadap setiap peristiwa kesengsaraan di muka bumi. Busana yang dalam sebuah dongeng tentang raja yang lupa diri, justru membuat  “telanjang” mempertontonkan aib.

Aku masih berdiri dan ragu melangkah, menanti isyarat yang membuat berani memasuki halaman di balik pintu itu. Memandang beribu orang bersujud syukur, lantaran diberi kesempatan bertemu kembali dengan sang pembagi rahmat. Memergoki orang-orang yang bersuka cita hendak meraih banyak hadiah sepanjang dua puluh lima hari ke depan. Menyaksikan air mata haru pada pipi-pipi ranum umat yang bagai menemukan oase di tengah gurun panjang perjalanannya. Lantas aku ini golongan yang mana yaa?

image

Sebuah tirai pembatas tempat kami mulai mengubah peran: dari yang palsu menjadi yang polos. Siapa pun yang menjadi sahabatk, menjelang dengan keindahan hati. Mengulurkan tangan untuk dijabat erat, demi mengurai seluruh jelaga. Runtuh kerak dendam, terlepas rahang murka, mencair bekuan prasangka buruk, terbatalkan niat jahat, tercuci setiap caci maki. Lalu, melepaskan rantai-rantai trauma masa lalu yang selama ini terseret langkah ke mana-mana, di antaranya ke yang tak ingin membayangkannya kembali.

Setiap bertemu dengan wajah orang lain, yang tersirat dan tersurat adalah senyum kebahagiaan. Senyum yang mengikis kesombongan perlahan-lahan. Senyum yang membuatku harus ziarah pada rasa kemanusiaan yang sudah lama terkuburkan. Bagaimana cara mewarisi nilai-nilai yang nyaris hilang itu? Kembali senyum itu berusaha mengumpulkan batu-batu yang terserak menjadi pondasi untuk kupijak kembali. Kekuatan yang disusun dengan cinta dan keikhlasan yang membuat malu untuk menafikan.

Pintu itulah yang tersenyum, ramah sebagai tuan rumah. Siapakah yang seharusnya mengucapkan selamat datang? Buku putih yang tiba di depan wajah kita atau kita yang ingin segera memeluknya dengan rindu? Siapakah tamu agung yang sebenarnya? Ramadhan dengan bulan sabit itu atau aku yang coreng-moreng oleh leluka perang kemanusiaan?

image

(Rabu, 4 Ramadhan 1435 H. Konstalasi Orion. Zind)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s