Racauan Ramadhan #2

image
Malam Kamis tanpa gerimis, sedikit menyisakan hati yang teriris jika mengingat waktuku di dunia ini semakin menipis. Setiap malam otakku selalu terpikir tentang kematian. Semakin bertambah koleksi angka umurku, semakin nyata bayangan kematian dan kehidupan setelah mati. Malam ini pun aku kembali teringat, ada sebuah hukum yang berlaku di dunia, namun jarang dipahami manusia. yaitu bahwa di dunia ini segalanya fana. ‘Fana‘ berarti tidak sejati, dapat berubah-ubah, bersifat sementara, tidak kekal, datang dan pergi, berawal dan berakhir. Selain Allah Subhaanahu wa Ta’ala, sesungguhnya tiada sesuatu apapun di dunia ini yang abadi, yang bisa menjadi milik kita untuk selamanya. Kefanaan dunia adalah salah satu perangkap terhalus bagi manusia. Bermilyar umat manusia hidup ditengah kefanaan dunia, dan hampir semua orang terjebak di dalamnya. Aku adalah satu di antaranya.

Hukum kefanaan dunia begitu sulit untuk diinsafi, karena warna-warni yang ditawarkan dunia sungguh indah menggoda. Begitu indahnya, hingga kita tak sempat berpikir bahwa itu semua sesungguhnya fana. Setelah terjebak ke dalam lingkaran nafsu yang membelenggu dan pemuasan indera, semakin sulit untuk menyadari, apalagi untuk bangkit dan berpaling ke dalam diri.

Di tengah kehidupan, manusia sibuk dari pagi hingga malam, dari muda hingga tua. Mengejar dan terus mengejar, meraih dan terus meraih, hingga jiwa melekat dan terjerumus dalam samsara. Kita mengejar kekayaan harta benda, memoles dan menghalalkan segalanya agar jasad terlihat cantik, terobsesi dengan popularitas, kekuasaan dan segala kenikmatan, seakan di situlah kebahagiaan yang bisa dimiliki selamanya. Seumur hidup manusia letih mengejar sesuatu yang pada akhirnya harus dilepaskan. Di mata hati kecilku, inilah yang dinamakan kebodohan batin. Saat jiwa ini harus meninggalkan raga, saat tangan harus kembali hampa, yang tersisa kelak adalah jiwa yang penuh kemelekatan, yang tak mampu merelakan. Inilah penderitaan klise manusia.

Kata ayahku, orang suci akan memahami bahwa kehidupan di dunia bagaikan sebuah mimpi. Kala ajal tiba, saat itu manusia bagaikan terbangun dari mimpinya. Hidup sebagai orang kaya bukanlah kaya yang sesungguhnya, melainkan kisah mimpi singkat sebagai orang kaya, karena di saat mati kekayaan itu bukan lagi miliknya. Hidup sebagai orang berkuasa berarti tengah bermimpi sebagai orang yang berkuasa, dan saat mati nanti kita bukan lagi orang yang berkuasa. Hidup sebagai orang cantik hanyalah mimpi sebagai orang cantik, karena tiada cantik – buruk rupa ketika sang roh meninggalkan tubuh. Hidup sebagai orang populer adalah mimpi tentang popularitas. Namun setelah mati, popularitas jadi tak berarti. Setelah mati,yang tersisa adalah realitas roh yang sejati dan abadi, yang tidak mengenal kaya-miskin, cantik-jelek, kuasa-jelata, ataupun populer – hina. Semua dualisme itu hanya berlaku di dunia, tak hanya dualisme gelombang saja yang ada.

Yap. Realitas roh hanya mengenal tingkat kesadaran nurani: sadar cemerlang atau penuh dengan dosa dan kemelekatan. Dunia adalah fana. Puluhan tahun hidup di dunia bagaikan mimpi sekejap, karena itu aku tak rela membiarkan diriku terikat dan dipermainkan oleh mimpi. Kata ayah, orang Suci hidup di dunia namun tak membiarkan hatinya diikat oleh dunia. Tetapi manusia awam justru menganggap hidup ini bagaikan abadi. Setelah kaya, manusia melekat dengan kekayaan yang dianggapnya abadi. Orang yang terlalu mengagungkan kecantikan fisik, sedikit keriput di wajah saja baginya bagaikan bencana. Bagi manusia yang memiliki kuasa, ia tak rela saat harus melepaskan kekuasaannya. Seorang bintang yang populer suatu hari akan sulit menerima kenyataan bahwa tiada lagi orang yang mengelu-elukannya. Ah, aku masih berada pada fase ini. Masih sering muncul kekhawatiran untuk kehilangan semua itu kala waktuku di dunia telah berakhir

image
Begitulah realitas manusia yang belum bisa menginsafi hukum kefanaan dunia. Setelah mendapatkan, aku tak rela melepaskan. Padahal badan ini saja kelak harus kutinggalkan. Saat harus bangun dari mimpi, manusia tak menerima kenyataan bahwa segala yang dengan susah payah dikejarnya akan kembali pada kekosongan. Saat itu yang tersisa adalah jiwa yang penuh kemelekatan. Sungguh sebuah penderitaan. Sebenarnya tidak perlu menambah sesuatu apapun pada diri, nurani sendiri sesungguhnya adalah realitas yang kaya akan kebahagiaan. Asalkan jiwa bebas dari segala kemelekatan, dengan sendirinya jiwa damai dan bahagia. Namun dalam ribuan kehidupan, manusia terjebak dalam pengejaran aspek fisik/materi, semakin penuh kemelekatan dan lupa akan hukum kefanaan dunia. Dari sinilah penderitaan berawal. Aku juga tak bisa memungkiri bahwa selama kita hidup di dunia ini tak bisa terlepas dari segala hal yang berbau duniawi. Bagiku, konsep kefanaan dunia bukan mengajak untuk hidup ekstrim sebagai nihilis (menganggap segalanya kosong dan sia-sia) yang menolak berkarya, tidak bersosialisasi, anti teknologi, atau hidup mengucilkan diri. Menginsafi kefanaan bukan berarti tidak boleh memiliki sesuatu. Tetap hidup wajar di dunia, bahkan boleh berbahagia di dalamnya.

Penginsafan kefanaan dunia mengajak untuk hidup bersahabat dengan keadaan, iko. Hidup terus berubah, segala sesuatu datang dan pergi. Dengan jiwa yang bebas tuntutan, biarlah segalanya berjalan mengalir sesuai takdir. Sering aku merasa sangat lelah untuk memberontak dalam melawan arus takdiryang tak sesuai ingin nafsuku. Yap. Di kala pikiranku sedang waras sepenuhnya, aku menyadari. Ada kalanya hidup kita di atas, di bawah, lancar, berliku. Ada kalanya kita dipuji, dihina, kaya, miskin. Menginsafi kefanaan berarti belajar menerima kenyataan bahwa segalanya memang dapat berubah sewaktu-waktu, karena itu janganlah hati melekat pada sebuah kondisi tertentu. Hadapi segalanya dengan hati yang wajar, biasa, dan hening. Sedikit kemelekatan berbuah sedikit penderitaan, besar kemelekatan berbuah besar penderitaan. Bagi nafsu manusia umum, kekayaan adalah segala-galanya. Sebaliknya di mata seorang ekstrimis, kekayaan adalah sumber petaka yang menyesatkan. Bagi seorang nihilis, kekayaan tidak bermakna apa-apa, sedangkan di mata orang arif, kekayaan hanyalah sebuah skenario hidup. Kaya atau tidak, seorang yang arif tetap berbahagia dalam realitas nurani. Ia tidak mengeluh dan kehilangan kebahagiaan karena tidak memiliki harta. Namun jika memilikinya, hatinya juga tak terikat pada harta, melainkan memanfaatkannya untuk kebahagiaan sesama. Penginsafan kefanaan dunia membolehkan kita memanfaatkan materi, tapi bukan diperbudak materi. Tidak harus melepaskan, cukup jangan terikat di dalam hati. Letakan dunia cukup di genggaman tangan, bukan diri yang berada dalam genggaman dunia, begitu petuah mama padaku.

image
Lupakanlah, relakanlah… itu sudah berlalu… Saat barang yang aku sayangi hilang, atau seseorang yang aku sayangi jauh meninggalkanku, aku sulit merelakannya, sulit move on dan ikhlas. Mungkin karena aku sudah kepalang menjadikannya sebagai bagian dari diri, atau bahkan jadi belahan jiwa. Saat bertikai, disalahpahami, dikecewakan, dirugikan, aku juga sulit melupakannya. Sebagai manusia yang awam, tanpa kusadari mungkin aku terbiasa mencatat dan memperhitungkannya. Saat dipuji dan berprestasi, hatikj cenderung melekat pada momen tersebut. Lihatlah! Betapa selama ini diri hidup dalam ikatan hati. Hidup adalah mimpi panjang. Saat mati nanti, kehidupan akan memaksaku untuk menyadari kebenaran tersebut. Tapi kenyataan akan menjadi baik kalau sejak sekarang aku melatih kesadaran itu. Setelah satu hari berlalu, awalilah setiap hari yang baru dengan berkata,” Yang kemarin telah berlalu. Baik, buruk, benar, salah…. semua sudah berlalu bagaikan mimpi, karena itu tak usah melekat.” Beban kemelekatan adalah bagaikan bongkahan batu yang selalu kubawa ke mana-mana. Satu minggu mengingatnya, berarti satu minggu batu tersebut memberatkanku. Satu bulan aku mengingat-ingatnya, satu bulan pula aku diberatkannya. Seumur hidup aku memyimpan dendam, seumur hidup jiwaku berada dalam ikatan. Yasudalah yaa. Relakan, lepaskan, lupakan… dan jiwa pun menjadi leluasa untuk menghadapi kehidupan setelah mati. Semoga semua berakhir untuk memulai kehidupan yang abadi, tanpa penyesalan. Sekian.

Dunia fana ini seperti lolipop. Terasa manis dan warna warninya sangat menggoda. Silakan untuk mencicipi secukupnya, jangan sampai lupa bahwa lolipop bukan hidangan utama. Hanya sekedar cemilan untuk menunggu hidangan utama tiba pada waktunya di hadapan kita.

image
(Rabu. 5 Ramadhan 1435 H. Konstalasi Orion. Musafir Yang Fakir)

Advertisements

One thought on “Racauan Ramadhan #2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s