Racauan Ramadhan #3

Salah satu hal yang saya resapi dari perjalanan kemarin adalah pelajaran selama ini tentang sabar. Tema besar dari perjalananku selama 3 tahun belakangan ini adalah mengenal sabar, bisa bertindak sabar, melakukan sabar, mengerti sabar, memberikan sabar dan menjiwai sabar.Saya masih mengingat jatuh bangunnya aku dalam “pendidikan” ini. Yang semuanya seperti terjadi dalam hitungan detik. Semuanya serba cepat dan ekstrim. Sering merasa tidak punya kesempatan untuk sekedar mengambil napas dan mengobati diri sendiri.

Selama ini aku terus mengikuti semua “pelajaran” ini tanpa banyak bertanya “kenapa? Mengapa?”. Yakin dan percaya bahwa tidak ada yang kebetulan. Aku sudah berjanji untuk setia pada pelajaran-Nya, dengan mengurangi protes terhadap alur kisah hidupku. Bahwa apapun dan betapapun yang terlihat di depan mata, di belakangnya ada pelajaran yang luar biasa. Dan terkadang diperlukan kesabaran untuk menunggu sampai pelajaran itu muncul dalam keseluruhan bentuknya.

Bersabar pada diri sendiri terkadang lebih sulit daripada bersabar kepada orang lain. Pada saat fitrah kita memanggil dari jalan berkelok yang kita tempuh, perjalanan ke jalan lurus sering lebih besar tantangannya. Pada saat kita kembali tergelincir dan menyerah pada jalan yang gelap, kita sering tak sabar pada diri sendiri untuk kembali mengikuti jalan yang terang. Akhirnya menyerah. Membiarkan diri lepas kembali, mengikuti arus. Meniti kembali jalan yang sebenarnya ingin ditinggalkan.Kalau hanya mengandalkan diri sendiri, maka kesabaran kepada diri sendiri itu memanglah jalan yang berat. Tapi mengapa harus merasa sendirian, apabila masih ada Allah Subhaanahu wa Ta’ala yang lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Yang selama ini masih menahan murkaNya atas segala yang telah kita lakukan ?

Bersabarlah dengan diri sendiri dalam kasih sayang-Nya. Pada saat sesama manusia meragukan, Allah tidak pernah ragu pada kita. Karena, manusia telah diciptakan oleh-Nya dalam bentuk yang seindah – indahnya. Yang telah diperintahkan-Nya seisi alam ini untuk kehidupan manusia. Bersabarlah pada diri sendiri dalam mengikuti jalan-Nya, karena di depan sana ada Dia. Sebaik – baiknya tempat kembali.

 
Dalam perenunganku di perjalanan kemarin. Aku kembali dipahamkan oleh-Nya. Apa yang sebenarnya ingin dipahatkan Allah dalam hatiku, kesabaran dan keikhlasan. Pelajaran – pelajaran yang seperti kepingan puzzle, perlahan menyatu dan membentuk gambar yang jelas. Selama ini sering terasa berat untuk sabar dan ikhlas. karena masih berharap dari selain Dia. Masih belum yakin bahwa kesabaran dan keikhlasan akan membuka pintu ridha-Nya. Kalau Allah sudah ridha, apalagi yang aku butuhkan? Yap. tidak ada lagi yang perlu aku risaukan. Sekian.
 
 

(Zeest – 11 Ramadhan 1435 H – Selasa, 00.25 am – Konstalasi Orion)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s