Racauan Ramadhan #4

Mengapa obat rasanya pahit?

Karena obat berfungsi untuk menjadi jalan kesembuhan bagi orang yang meminumnya. Dan begitu pula dengan kehidupan yang sedang kita jalani hingga detik ini. Terkadang kita berjumpa dengan kepahitan-kepahitan dalam beberapa detik waktunya. Kepahitan yang semoga, saat kita menikmatinya, maka ia dapat menjelma sebagai obat bagi hati kita yang ‘mungkin‘ seringkali sakit. Yap, agar hati kita yang tidak lagi sempurna itu, menjadi terjaga selalu dan terpelihara dari berbagai macam penyakit. Penyakit-penyakit yang dapat menggerogotinya.

Malam ini, aku minum obat. Dan sebelum menelannya benar-benar, ia sempat menempel di pangkal lidahku. Sehingga obat yang pahit itu, akhirnya aku rasakan juga. Sungguh tidak enak, memang. Karena ia pahit. Namun, aku yakin, bahwa kepahitan yang ia bawa, akan memberikan perubahan pada ragaku, beberapa saat kemudian. Dan dengan keyakinan ini, aku abaikan saja rasanya yang pahit. Lalu, ia pun melaju dengan lancar ke dalam tubuhku.Semua tentang keyakinan dan kepercayaan. Apabila kita yakin dan percaya, maka kita dapat menemukan hikmah dari apa yang kita yakini dan kita percayai. Hanya saja, terkadang kita terlalu ramai bercengkerama dengan diri kita sendiri. Sampai membuatnya tidak beryakin-yakin atas beraneka kepahitan yang ia alami. Ya, kita terkadang tidak yakin bahwa kepahitan itu adalah obat penyakit hati.

Apakah pernah terluka?

Bahkan hati pernah menderita karena pahit yang ia alami? Poleslah ia segera, dengan ingatanmu pada makna yang ia bawa. Jadikan kepahitan itu sebagai obat. Jadikan ia sebagai jalan untuk merawat hati yang terluka tadi. Jadikan ia (kepahitan itu) sebagai sebuah rasa yang memang perlu kita nikmati. Bersama keyakinan, bahwa kita akan mengalami kesembuhan setelah menelannya benar-benar. Jangan ragu-ragu lagi. Beryakinlah dengan sepenuhnya. Percaya bahwa engkau akan sembuh, maka engkau sembuh. Karena dengan keyakinan serta percaya, kita akan bersungguh-sungguh.

Jangan langsung puas apabila telah usai menjalani satu kepahitan, iko. Karena bisa saja satu kepahitan itu belum dapat menyembuhkanmu. Walaupun  telah menikmati waktu saat bersamanya. Dengan demikian, kita sedang dalam persiapan yang paripurna, untuk kepahitan yang berikutnya. Dan kita akan lebih siap menghadapinya.

Hiduplah dengan keyakinan penuh. Jalani kepahitan dengan keteguhan yang semakin teguh. Maka lama kelamaan, kepahitan itu akan mengantarkan pada kemanisan. Ya, segalanya akan berujung, kan? Sebagaimana hari ini, pagi buta. Ia tidak selamanya. Karena akan berganti dengan sore, lalu malam. So, nikmatilah waktu. Hayati pesan yang ia sampaikan. Walaupun ada kepahitan, sekalipun. Rasa-rasai lebih awal, hingga kita rasakan benar-benar. Intinya adalah, “Jangan lupa, bahwa semua berpasangan. Ada pahit – ada manis.” Ketika kita pernah merasakan kepahitan, maka kita pun akan merasakan kemanisan. Yakin dan percayalah, iko.

(Konstalasi Orion – 13 Ramadhan 1435 H)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s