Catatan hati untuk seorang teman yang jadi istri

Sudah lama tak bersua dengan oknum V pasca pernikahannya di akhir oktober. Meski masih tinggal di satu desa, tapi ada rasa kehilangan yang tersisa di hatiku. Namun, kehilangan itu hanyalah butiran debu di jubah kebahagiaan yang sekarang dipakai. Bahagianya adalah bahagiaku. Begitu yang kurasakan.

Dulu, dia sering bermalam di rumahku. Sekedar diam melepas penat, saling bercerita, atau memasak makanan yang rasanya aneh. Maklum lah, yang masaknya juga dua orang aneh yang berusaha untul normal. Jadi teringat dengan sebuah obrolan dengannya yang diikuti dengan airmataku. Bukan, saat itu bukan aku yang bercerita kisahku. Tapi aku sedang menyimak kisah hidupnya yang sesungguhnya. 15 tahun kami berteman, kali itu adalah kali pertamanya aku mengetahui kisah hidupnya. Kelam dan berat. Hanya saja dia bercerita tanpa beban, ringan. Setetes airmata pun tiada. Kering kerontang bak kemarau panjang di sudut jendela hatinya. Mungkin hujan lebat sudah berlalu baginya. Dia adalah salah satu perempuan kuat dan hebat yang pernah kukenal.

Ketika dia memutuskan untuk menikah di tahun 2014, tak semudah mengucapkan huruf “A”. Dia harus melalui perang batin. Traumanya akan masa kecil yang broken home, membuatnya sedikit takut dengan yang namanya mahligai pernikahan. Bukan masalah tak percaya bahwa Calon Suaminya yang baik, tapi ketidakpercayaannya dengan dirinya sendiri. Mampukah untuk menjadi istri dan ibu yang baik bagi keluarga kecilnya kelak. Pertanyaan itu yang sering menghantuinya. Secara, di benaknya tak ada gambaran dan panutan seorang ibu yang baik. Sekalipun dia punya ibu, tapi tak ada yang meninggalkan kesan panutan di benaknya.

Dia sudah dianggap sebagai anak bagi mamaku. Sebelum menikah, dia menangis. Menangis bahagia akan segera merdeka dan bebas sepenuhnya. Yap, baginya pernikahan adalah proklamasi kemerdekaan dan kedaulatan dari intimidasi masa lalu orangtuanya.

Hal terlucu adalah saat walimahan dia menghubungiku. Dia malah minta jadwal seorang istri dari bangun tidur sampai tidur lagi. Tugas-tugasnya. Menu makanan dari pagi sampai malam. Aku sempat tertawa geli, dia yang sudah menikah bertanya tugas rumah tangga kepada diriku yang belum menikah. Mungkin kalau bertanya jadwal kegiatan pesantren kilat atau silabusnya, aku bisa menjawab. Walhasil, mamaku yang menjawabnya πŸ˜€

Sudah sebulan tak bersua, kudengar kabar bahwa dia rajin memasak sekarang, sekalipun dia sibuk kerja di kantor. Dia pun istri yang sigap saat suaminya sakit. Selalu bertanya ke mamaku apa saja yang harus dia lakukan.

Aku bahagia. Dia memang melakukan dan berusaha keras untuk membangun keluarga yang sakinah mawadda wa rahmah. Karena dulu dia sering mengatakan bahwa terlahir menjadi dirinya sangat berat. Sehingga dia tak ingin anak-anaknya merasakan hal yang sama sepertinya. Dia tak ingin anaknya tak memiliki panutan seorang ibu.

Semoga Allah selalu memberkahi keluargamu yang baru saja kau bangun, Vi. Aku sangat bahagia mendengar kabarmu pagi ini πŸ˜€ jadi rindu sambal buatanmu.
image

Kau semakin cantik saat sedang tidak di pelaminan. Kau semakin cantik saat kulihat kau belanja dengan suamimu.

(28112014 – konstalasi orion)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s