E M P A T

Untitled

Selamat Pagi, Semesta! Seminggu lebih tidak membuka blog ini. Tenggelam dengan berbagai proyek yang harus selesai sebelum aku menikah. Hitung-hitung sebagai hadiah terakhirku di masa lajang. Salah satunya sedang menata blog baru untuk menampilkan tulisan-tulisan para pemuda di tanah surga πŸ˜€ Lalu, tetiba merindu kisytinuh. Kusempatkan singgah, dan tadaaaaa~ ada ucapan selamat dari Mimin WordPress-nya. Ternyata Kisytinuh sudah 4 tahun (hidup) bersamaku. Baru kemarin rasanya aku menulis di sini. Ternyata Kisytinuh sudah mulai dewasa, sudah waktunya masuk TK kalau manusianya mah πŸ˜€

 

Mungkin memang seperti itu. Kisytinuh sebagai saksi bisu, cermin diri, atau apalah sebutannya. Kisytinuh mengikuti setiap fase pola pikir dan sudut pandangku. Yaa, meski sampai saat ini pola pikirku belum berubah terlalu banyak dari 4 tahun yang lalu. Setidaknya, dulu diriku yang terjebak dalam lembah keambiguan dan kegalauan, sekarang malah nyaris lupa bagaimana menulis kalimat yang galau. Sejujurnya, galau itu tidak sirna semua, hanya saja bertransformasi dalam bentuk yang lain.

Kisytinuh juga menjadi rekaman tertulis atas semua rasa yang pernah kurasakan. Marah, sedih, kecewa, bahagia. Teman setia dalam mengkatarsis pikiranku di saat diriku sakit dan dunia seolah menjauhiku. Bahkan karena seringnya intensitas galau, salah satu blog yang kudapat saat aku sengaja googling, mendefinisikan bahwa Kisytinuh merupakan kumpulan buku harian yang kelam. Sebegitu kelamnya kah tulisanku selama 4 tahun yang lalu? hehe, it doesn’t matter. Namanya juga perjalanan hidup. Banyak hikmah yang kudapat dari situ bahwa kekelaman itu menyimpan dan menyerap cahaya. Seperti Blackhole. Sedangkan Supernova terlihat sangat terang, padahal dibalik terang yang menyilaukan mata, di saat yang sama terjadi ledakan dan sebuah kematian pada bintang. Sehingga berbahagialah siapapun yang pernah atau sedang menghadapi masa kelam. Begitu banyak cahaya, kekuatan, dan hikmah yang tersimpan serta terserap pada fase itu. Nikmati, hingga datang suatu masa saat Tuhan menyingkap tabir di balik kekelaman. Akan banyak syukur dan kebahagiaan yang (mungkin) dulu sempat kita keluhkan dan sesalkan.

 

Ternyata kita semakin tua. Kisytinuh ada saat adikku masih SMA, sedangkan adikku sudah berubah status menjadi Mahasiswa semester dua. ah, jadi tertawa dan geli sendiri setiap membaca tulisanku di Kisytinuh. Betapa naifnya pikiranku. Seorang pemimpi yang betahun-tahun terobsesi dengan Senja, dan nyaris loncat dari Bahtera yang telah “dihadiahkan” oleh kedua orangtuaku. Seorang yang hobi menulis, namun belum pernah menerbitkan buku. Namun, tahun ini setidaknya (insya Allah) aku akan menerbitkan buku dan menandatanganinya: Buku Nikah. Aamiin Allahumma aamiin πŸ˜€ Terimakasih untuk kalian yang telah hadir dalam hidupku dan menjadi objek dalam tulisanku di Kisytinuh, meski seringnya jarang minta izin terhadap si Objek. Maaf jika kurang berkenan telah kujadikan Objek. Hapunteun pisan yaa (Maaf banget yaa) πŸ˜€

 

Intinya, Selamat Ulang tahun Kisytinuh. Abadilah engkau bersama tulisan-tulisanku. Dewasalah engkau bersama pikiran-pikiran random-ku. Dan semoga bermanfaat bagi semesta. Setialah bersamaku hingga rambutku pun tak hitam lagi, gigiku tinggal dua, kulitku keriput, dan jemariku sudah tak sanggup mengetik sendiri. Tuhkan, ternyata pikiranku masih naif πŸ˜€ hyahaha.

 

Terakhir yang bukan sebuah akhir: Semoga Kisytinuh segera melahirkan anak-anak dalam bentuk buku. Semoga Tuhan “membaca” kalimatku yang ditebalkan dan berbaik hati mengabulkannya. Semoga πŸ˜€

Ribuan detik kuhabisi
Jalanan lengang kutentang
Oh, gelapnya, tiada yang buka
Adakah dunia mengerti?

Miliaran panah jarak kita

Tak jua tumbuh sayapku
Satu-satunya cara yang ada
Gelombang tuk ku bicara

Tahanlah, wahai Waktu
Ada “Selamat ulang tahun”
Yang harus tiba tepat waktunya
Untuk dia yang terjaga menantiku

Tengah malamnya lewat sudah
Tiada kejutan tersisa
Aku terlunta, tanpa sarana
Saluran tuk ku bicara

Jangan berjalan, Waktu
Ada “Selamat ulang tahun”
Yang harus tiba tepat waktunya
Semoga dia masih ada menantiku

Mundurlah, wahai Waktu
Ada “Selamat ulang tahun”
Yang tertahan tuk kuucapkan
Yang harusnya tiba tepat waktunya
Dan rasa cinta yang s’lalu membara
Untuk dia yang terjaga
Menantiku

Kisytinuh - 2015

(Lika Vulki – Konstalasi Orion – 27 Februari 2015 – Jum’at –Β  02.30 am)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s