Cornelo Oh Cornelo…

Sabtu kali ini agenda padat, meski sakit karena peluruhan dinding endometrium masih terasa. Benar-benar harus berbagi waktu dan pikiran. Di akhir kesibukan hari ini, aku baru terkoneksi lagi dengan teman sepermainan waktu jaman ke-unyu-an dan ke-alay-an berada pada titik tertinggi (baca: SMP). Dia memposting salah satu foto saat jaman itu, ketika kami disibukan dengan Ujian Nasional dan sejenisnya (baca: percintaan masa ABG) 😀

Memang di situ mau UN, di situ juga kita sibuk cari kenalan lawan jenis dari tempat yang berbeda. Caranya? Cukup sederhana, tapi dibutuhkan kreatifitas yang tinggi: mengotak-atik angka pada nomer ponsel pirbadi. Untung-untungan sih. Kadang nyasar ke nomer cowok yang seumuran, mahasiswa, suami orang, bahkan kakek-kakek. Responnya dari yang dicuekin, direspon, kenalan, ketemuan, bahkan diomelin pakai bahasa daerah -yang tidak kita pahami. Sebenarnya semua itu hanya usaha agar dianggap ABG yang “normal”. Secaraaa, teman seumuran di sekolah hampir semua punya pacar dengan mudah. Sedangkan kami hanya bermain berempat. Kuliner, baca komik, lihatbintang saat malam minggu di lobi dormy. Bahkan yang mengenaskan dari kami adalah jalan-jalan keliling komplek setiap malam minggu hanya untuk cie-cie-in teman-teman yang lagi pacaran, ngelirik gebetan-gebetan dan senior yang main bola di lapangan beringin, atau hanya sekedar untuk update berita tentang pasangan baru di minggu itu. Ngenes kan? Walhasil, kami sibukan diri kami di Palang Merah Remaja dan Pramuka. Lebih bermanfaat, setidaknya aku bisa merasakan keliling aceh gratis dan dikasih uang saku. Hyahaha.

Sebenarnya aku dan ketiga teman-temanku itu bukan orang yang freak kok. Mereka cantik dan manis. Mungkin ada juga lawan jenis yang naksir kami. Hanya saja mereka segan untuk mendekati atau mungkin kami yang kurang peka. Resa yang pintar sang juara kelas, Cici yang ramah, Chika yang supel, dan aku? Ah aku mah yang gini-gini aja. Aku yakin, saat itu ada yang menyimpan perasaannya kepada teman-temanku itu. Hehe. Pede banget deh. Tak peduli, yang penting kami sangat menikmati masa ABG dengan bahagia, meski sedikit ngenes masalah cinta.

Dari sekian banyak kisah yang dilewati bersama mereka, ada satu momen saat kelas 3 SMP. Di dormy ada salah satu cowok yang baru kami lihat. Wajahnya ganteng banget (saat itu yaa). Kegantengannya disetujui oleh kami berempat. Walhasil, karena tak tau siapa nama abang itu, kami menamainya “Abang Cornelo”. Sebab, wajahnya mirip bintang iklan di eskrim Cornelo tahun 2006. Pesonanya membuat kami gak bisa membedakan siang dan malam, gak bisa lihat sikon, dan membuat kami lebih rajin dari biasanya. Bayangkan saja, siang bolong pulang sekolah dan masih berseragam, kami membersihkan taman dan kolam yang sudah terbengkalai bertahun-tahun, airnya saja sudah hijau gak jelas. Padahal bersihin rumah kalau diomelin sama mama. Hehe. Itu semua kami lakukan di luar kesadaran kami, semata agar dilirik sama Abang Cornelo yang jendela kamarnya menghadap ke kolam. Abang itu sering duduk di jendela sambil main gitar, diwajarkan saja kami salah tingkah seperti itu. Mendadak rajin main bulu tangkis di siang bolong. Kenapa? Jawabannya sama. Jendelanya tepat menghadap ke lapangan bulu tangkis. Strategis kan? Hyahaha. Masih banyak lagi tingkah kami yang aneh. Semakin berusaha kutulis kisah ini, membuatku semakin rindu mereka. Sudah 6 tahun tak bersua dengan mereka.

Mungkin Tuhan membuat kita seperti itu karena ingin menjaga kita dan cita-cita kita. Chika yang berkali-kali gagal pacaran dengan anak band sekolah, Tuhan menjaganya hingga ia menggapai mimpinya menjadi seorang perawat di Rumah sakit. Cici yang terlalu polos, dijaga Tuhan agar tak ditipu para lelaki yang kurang baik, dan sekarang kerja di Bank. Resa yang hobi baca buku, pandai menjaga perasaanya seperti dia menjaga dengan rapih buku-bukunya. Yap, Allah menjaganya hingga sekarang menjadi dokter gigi yang sedang berjuang dalam koasnya. Dan aku? Aku masih gini-gini aja. Belum bisa sehebat mereka. Meski begitu, Tuuhan masih menjagaku untuk takdirku.

Semoga di suatu masa, Tuhan menjodohkan kita kembali untuk bersua. Dalam kondisi dan kisah yang lebih baik dari hari ini. Peluk sayangku dari jauh untuk kalian semua~ sangat bersyukur karena Allah pernah mempertemukan kita.

image

Salam hangat,
Lika.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s