(Jangan) Cintai Aku Apa Adanya

Hai Senin! Lama tak mendarat di Kisytinuh. Pasca nikah, sibuk sana sini. Dan rasanya malas banget pegang lapito untuk menulis. Tapi suamiku punya trik yang akhirnya mampu membuatku semangat menulis lagi. 3 hari terakhir, dia mengirimkan lagi kalimat-kalimat sederhana yang jauh dari romantis dan gombalan, tapi mampu memicu hormon endorphin dalam tubuhku saat membaca email-email darinya.  oke, itu saja muqaddimahnya. To the point yaa.

Waktu sebelum menikah, aku masih bingung dengan lagunya Tulus – Jangan Cintai Aku Apa Adanya. Anti-Mainstream banget. Di saat semua orang nyaris berpikir Cintailah apa adanya, Tulus malah bilang Jangan Cintai Aku Apa Adanya. Aku sempat berpikir, adakah lelaki yang berpikir seperti lagunya Tulus? Ah, mungkin saja itu hanya ada di lagu. di kehidupan nyata? Aku ragu. Jika memang ada, sungguh seru. Betapa aku akan sangat bersyukur jika salah satunya bisa menjadi suamiku.

Sering aku mendengar dari beberapa lelaki yang mengeluhkan bahwa banyak perempuan yang matre, banyak mau-nya, menuntut ini dan itu. Banyak juga teman-temanku yang lelaki, bercerita bahwa salah satu kriteria calon istri mereka adalah seorang perempuan yang seiman dan mampu mencintai dan menerima dia apa adanya. Pernyataan tersebut lambat laun menjadi sebuah mindset. Tetiba, munculah lagunya Tulus:

Tak sulit mendapatkan mu
Karena sejak lama kau pun mengincarku

Tak perlu lama-lama
Tak perlu banyak tenaga
Ini terasa mudah

Kau trima semua kurangku
Kau tak pernah marah bila ku salah
Engkau selalu memuji apapun hasil tanganku
Yang tidak jarang payah

Reff:
Jangan cintai aku
Apa adanya
Jangan

Tuntutlah sesuatu
Biar kita jalan
ke depan

Kau terima semua kurangku
Kau tak pernah marah bila ku salah
Engkau selalu memuji apapun hasil tanganku
Yang tidak jarang payah

Reff:
Jangan cintai aku
Apa adanya
Jangan

Tuntutlah sesuatu
Biar kita jalan
ke depan

Aku ingin lama jadi petamu
aku ingin jadi jagoan mu

Reff: 2x
Jangan cintai aku
Apa adanya
Jangan

Tuntutlah sesuatu
Biar kita jalan
ke depan

Saat aku melihat liriknya, aku jadi merubah mindsetku. Apalagi dengan kalimat ini Jangan cintai aku/ Apa adanya/ Jangan// Tuntutlah sesuatu/ Biar kita jalan/ ke depan//. Betapa kalimat ini memiliki makna yang dalam. Bagiku, kalimat ini menunjukan sepasang suami-istri jangan hanya mencintai apa adanya. Bukan hanya menuntut secara materi, tetapi lebih dari itu. Jika kita hanya mencintai pasangan kita apa adanya, lantas kapan kita mau berubah menjadi lebih baik? Sedangkan kita meminta pasangan kita agar puas dengan diri kita yang apa adanya saja. Tidak ada proses belajar. Bukankah pernikahan itu adalah awal dari sebuah proses? Ada kedinamisan di dalamnya. Jika apa adanya, terkesan monoton.
Aku sempat mengkhayal, andai ada lelaki yang mengatakan itu kepadaku: Jangan cintai aku apa adanya, iko. Tuntutlah sesuatu, biar kita jalan ke depan. Bahagia banget rasanya. Di sisi lain, aku menerima apa adanya jodoh kelak adalah seorang manusia berjenis Lelaki. Manusia yang jauh dari kata sempurna. Namun ketidaksempurnaannya bukan berarti membuat lelaki dan diriku berhenti belajar dan berproses untuk memberikan yang terbaik untuk masa depan pasangan.
Aku juga sempat berpikir bahwa lelaki yang mampu berpikir sama seperti lagu tulus adalah lelaki yang gentle-man. Lelaki pekerja keras dan bertanggung jawab, mau mengusahakan sesuatu untuk kelangsungan hidup masa depan pasangannya. Baik berproses menjadi imam yang shaleh dan taat, menjadi pasangan yang bisa memahami apa yang dibutuhkan istrinya, berusaha menjadi tempat ternyaman dan teraman bagi keluarga kecilnya, dan tentu saja tidak akan membuat keluarganya kelaparan, sekalipun keringat deras mengalir karena harus banting tulang.
Itu pemahamanku tentang lagunya Tulus. Dan aku tak pernah menduga sedikit pun, Tuhan membuat nyata lelaki yang ada di lagunya Tulus. Tuhan menganugerahkan kepadaku lelaki yang memiliki pola pikir seperti lagu itu. Betapa bahagianya aku, apa yang kupikirkan telah menyata kini. Lelaki itu kini menjadi suami.
Aku masih teringat perkataannya sewaktu jalan-jalan di tepi pantai bersamanya. Dia mengatakan senada dengan lagunya Tulus, saat aku katakan bahwa aku mencintai apa adanya dia. Dia menjelaskan bahwa dia penuh dengan kekurangan dan kelemahan, makanya dia menikah agar berproses menjadi seorang lelaki yang lebih baik, tugasku sebagai istri yang mengingatkan dia agar berubah. Dan jangan hanya mencintai dia apa adanya sekarang. Sebab, hanya akan membuatnya malas untuk berubah menjadi suami yang lebih baik.
Sepoi angin pantai sore  itu, menyampaikan gelombang dari pita suaranya ke gendang telingaku.
“Dampingi selalu akang untuk berproses menjadi suami yang lebih baik untuk iko. ingatkan akang dan tuntutlah akang, jika akang mulai apa adanya.”
oh Tuhan, dia memang bukan seorang pangeran berkuda putih yang memiliki istana megah. tapi dia mampu menjadikanku ratu setiap harinya. Airmata haruku selalu menetes setiap mengingat momen itu. Sejak saat itu, setiap kali lihat video klipnya Tulus, aku selalu menangis haru sampai sesenggukan, karena nikmat Tuhan yang tak mampu kudustakan.
Betapa Allah Ta’ala sangat mendengarkan apa yang dibutuhkan hamba-hamba-Nya. Rasanya, seribu Alhamdulillah tak mampu mewakili rasa syukurku. Penantianku selama 23 tahun, doaku sejak usiaku 9 tahun, tak pernah sia-sia. Allah tidak tidur, kawan. Sekian.

Jangan Cintai Aku Apa Adanya – Tulus

(Konstalasi Orion – 05102015 – Senin – 07.15 am)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s