Berbagi Jodoh

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Dewasa ini, aku semakin menyaring setiap hal yang akan kutulis. Berhati-hati dalam becanda atau bertutur kata. Dan kali ini, aku sengaja membuat tulisan tidak ada maksud untuk menggurui. Hanya sekedar berbagi pengalaman. Tulisan ini pun dibuat sebagai sebuah jawaban atas sebuah pertanyaan yang sama dari beberapa temanku.

Sebelum menikah, konsep jodoh suami masih abu-abu bagiku. Terlalu banyak definisi tentangnya. Itu salah satu penyebab munculnya kegalauan pada hati ini. Ditambah lagi invasi pertanyaan yang bertubi-tubi dari keluarga dan kerabat, pertanyaan yang bahkan saat itu aku pun tidak tau sama sekali jawabannya. Pertanyaan yang semakin ekstrim intensitasnya seiring semakin banyaknya koleksi angka pada umurku.

Ada beberapa orang teman yang bertanya kepadaku pasca aku menikah.

“Lika, gimana caranya agar bisa cepat mendapatkan jodoh yang baik?”

Aku terkadang menjawabnya dengan becanda, tanpa sebuah keseriusan. Karena, aku pun termasuk telat mendapatkan jodoh jika dibandingkan dengan hidupku yang telah kurencanakan.Namun, jika dibandingkan dengan masa ta’arufku dengan suami, bisa dibilang cepat untuk menuju pernikahan. Hidupku penuh kriteria, saat itu. Tapi ketika memasuki umur 20, dan dipertemukan dengan pengembara yang hanya sekedar singgah memberikanku pelajaran, aku semakin pasrah dalam arti berserah, bukan menyerah. Setelah itu, aku hanya mempunyai modal keyakinan bahwa Allah pasti telah menyediakan jodoh yang baik untuk saling memperbaiki diri yang belum baik.

Percayalah, manusia hanya bisa menentukan rencana, target, atau harapan. Pada akhirnya Tuhan lah Yang Maha Menentukan.

Meyakinkan diri sendiri akan keberadaan Tuhan bukan merupakan hal mudah. Nabi Muhammad saja membutuhkan waktu belasan tahun untuk mendakwahkan ajaran agamaNya. Karena hal paling esensial dalam beragama adalah mempercayai, Dengan hati, lisan, dan perbuatan.

Begitu juga dengan urusan jodoh. Seperti halnya hujan, seberat apapun awan menggantung di udara, segelap apapun langit saat siang, toh tidak ada seorang manusia pun yang tau apakah benar akan turun hujan. Kita boleh saja menuliskan harap tentang masa depan. Tentang usia berapa kita idealnya menikah, atau menimang anak pertama, atau mengantar mereka ke sekolah. Tidak ada yang melarangnya sama sekali. Namun, akan lebih baik jika itu semua dibalut dalam doa yang tulus. Dengan segenap rasa pasrah akan kebesaran kuasa Tuhan.

Untuk mencapai titik pasrah yang sebenarnya adalah untuk merelakan apa yang sudah terjadi. Mengejawantahkan usaha ikhlas paling murni.

Aku yakin, semua orang punya masa lalu. Punya harapan yang belum terkabul. Punya kenangan yang belum sepenuhnya diajak berdamai. Dan tentu saja punya banyak jalan yang belum dan masih akan harus terlewatkan.Yang di setiap tikungannya menawarkan pengalaman baru. Kesempatan yang lebih segar dan tak terduga.

Dari itu semua itu, kita seharusnya berdiri lebih tegap. Bukan dalam arti menantang datangnya jodoh, tapi memberikan diri ruang lebih lapang untuk berkontemplasi. Kemudian merengkuh rasa pasrah yang tidak bikin gerah. Pasrah yang ikhlas dan menenangkan. Yang bukan menyerah, tapi berserah.

Hampir semua yang bertanya senada padaku, menjawab hal yang sama saat aku bertanya balik kepada mereka atas kondisi hati mereka saat ini.

“Di hatimu saat ini, masih menyimpan perasaan mendalam pada seseorang kah?”

“Iya, Lik. Aku menyimpan rasa terhadap seseorang selama bertahun-tahun. Kamu kok tau?”

Jelas aku tau. Sebab aku pernah ada di fase itu. Dan itu yang paling menghambat doa-doaku selama ini. Aku tak bisa menolak fitrah kita sebagai manusia untuk menyukai seseorang lawan jenis. Akan tetapi, jangan sampai perasaan suka yang sangat mendalam itu menjadi penghambat datangnya jodoh yang sebenarnya.

Menikah itu memang masalah perasaan, tapi libatkan logika di dalamnya agar seimbang. 5 tahun lebih aku memiliki perasaan yang mendalam dan hanya kupendam seorang diri kepada seseorang, yang akhirnya dia pun menikah dengan orang lain. Selama 5 tahun, doa-doaku dalam hal jodoh sedikit memaksa kepada Allah Ta’ala. Doa-doaku masih penuh obses tanpa ada kepasrahan dalam berserah diri. Hingga suatu ketika, Allah memberikanku sebuah pemahaman baru. Sebuah sudut pandang baru yang mengubah caraku berpikir.

Hampir semua dari kita, aku yakin selalu berdoa agar diberikan jodoh terbaik. Namun di saat yang bersamaan, hati kita masih compang camping. Hati kita masih condong kepada satu nama. Secara logika, mana mungkin Allah Yang Maha Penyayang mendatangkan jodoh terbaik saat kondisi hati kita masih seperti itu. Allah pasti akan melindungi dan menjaga hati si jodoh terbaik itu. Allah tidak ingin si dia hanya mendapatkan remehan hati kita yang masih kacau. Bagiku, ini kunci utama sebelum kita berdoa meminta jodoh. Dan aku merasakannya. Aku pun begitu. Begitu aku ikhlaskan semua perasaan yang kupendam 5 tahun, keajaiban doa pun terjadi. Sekarang kembali lagi kutanyakan kepada hati kecil kita, apakah kamu mau dijodohkan dengan orang yang belum bisa mengikhlaskan masa lalunya?

Lelah berikhtiar? Jengah dengan pertanyaan kapan nikah? Itu manusiawi. Nikmati saja.

“Lika, aku kadang merasa lelah. Aku sudah berikhtiar, gak nikah-nikah. Sedangkan temanku yang santai bahkan mungkin biasa saja, pada cepat nikah.”

Pada dasarnya aku sedikit kurang sependapat dengan ungkapan “lelah berikhtiar”. Namun, yang namanya manusia, rasanya naif jika aku menafikan hal itu. Sebab aku pun pernah berada di fase itu. Pasti ada perasaan menyerah dan lemah atas segala usaha yang telah dilakukan.

Tapi, memangnya usaha apa saja yang telah dilakukan? Berkenalan dengan seribu lawan jenis? Atau memasang foto paling keren di sosial media? Atau menanyakan perihal jodoh kepada seluruh kerabat? Atau bahkan ikut serta dalam kegiatan biro jodoh? Jika itu semua telah dilakukan namun hasilnya nihil, mungkin ada baiknya kita melakukan ikhtiar yang lebih mendasar dan sederhana.

Mematut diri di depan cermin. Menenggelamkan diri sedalam-dalamnya ke masa lalu. Tentang apa yang telah kita lakukan untuk menjadi pribadi yang lebih shalih/shalihah. Tentang sejauh mana pengatahuan kita mengenai agama dan hukum muamalah. Tentang seberapa arif kita melerai masalah hidup. Tentang bagaimana hari-hari kita di mata orang lain.

Sabar menunggu dengan istiqamah berdoa dan memantaskan diri dengan sedekah dan istighfar.

Demi Tuhan! Ini memang sulit. Aku tau mengetik kalimat “Sabar menunggu dengan istiqamah berdoa dan memantaskan diri dengan sedekah dan istighfar” jauuuuhhh lebih mudah dibanding melaksanakannya. Sebab aku pernah berada di fase itu. Aku tau benar itu. Untuk bersedekah dan beristighfar secara lisan sangatlah mudah. Istighfar di sini tak hanya sekedar lisan, tapi dalam bentuk amalan.

Fashbir Shabran Jamiilan (Bersabarlah dengan sebaik-baik sabar)

Wa li Rabbika Fashbir (Maka bersabarlah untuk Tuhanmu)

Tolong jangan hakimi aku karena dengan begitu mudahnya menulis hal demikian. Karena aku  yang tidak tau apa-apa ini nyatanya belum menemukan jawaban atau kalimat paling tepat untuk tema tulisan ini. Hanya kalimat itu yang aku rasa pantas menjadi penutup tulisan ini. Semoga menginspirasi dan menguatkan. Sekian.

 

==================

*gambar-gambar dari berbagai sumber yang lupa linknya*

(Konstalasi Orion – 16062016 – Kamis – 03.15 am)

Advertisements

One thought on “Berbagi Jodoh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s