Asuransi Dunia Akhirat, Solusi Masa Depan Umat

Dalam menjaga keselamatan dan kelangsungan hidup manusia di dunia, di jaman moderen sekarang banyak yang mendaftarkan diri untuk ikut asuransi bahkan dengan membayar uang per bulannya. Dari yang ratusan ribu hingga jutaan Rupiah, tergantung level dan kelasnya. Dari asuransi jiwa, harta, pendidikan, jaminan hari tua, dan lain-lainnya. Sebagai manusia memang wajar, berusaha untuk menggaransikan hidupnya dan segala yang dimilikiya di dunia. Karena manusia sadar bahwa hidup di dunia ini dinamis dan fana. Sehingga manusia berusaha sedemikian rupa untuk mempertahankan dan melindungi segala aset yang sedang dimilikinya. Tak heran, asuransi-asuransi yang ditawarkan justru disambut baik oleh sebagian manusia di akhir jaman.

 

Dalam konsep Islam, ada asuransi untuk menjaga segala sesuatu yang dicintainya (warisannya), bahkan juga akan menjaga dan menyelamatkan tak hanya di dunia, tetapi juga di alam kubur hingga alam akhirat. Apakah asuransi yang ditambah dengan lebel syari’ah atau syar’i?

Pemerintah Diminta Bentuk BUMN Asuransi Syariah

Ternyata yang ada lebel syari’ah atau syar’i tidak mampu menjaminnya.  Sedekah dan infaq adalah asuransi yang akan menyelamatkan warisan (harta dan keturunan). Tak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Seperti sabda Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

“Tidaklah orang yang bersedekah dengan baik, kecuali Allah memelihara kelangsungan warisannya.” (HR. Ahmad)

Dan dikuatkan pula oleh perkataan Allah subahanahu wa ta’ala dalam Alqur’an surah Attaubah ayat  103:

“Ambillah (sebagian) dari harta benda mereka guna membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketentraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar Maha Mengetahui.”

Dari ayat tadi, maka Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam membentuk baitul mal untuk mengelola zakat dan infaq. Sebab posisi beliau sebagai utusan Allah mempunyai hak untuk mengelola pengorbanan harta umat.

 

Bagaimana dengan umat Islam di akhir jaman pasca 14 abad berlalunya Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam dan para khulafaur rasyidin? Siapa yang berhak mengatur seluruh pengorbanan harta umat islam? Kewenangan tersebut ditentukan oleh siapa?

 

Jawabannya masih tetap sama dengan kondisi pada jaman Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Kewenangan tersebut ditentukan oleh Allah Ta’ala kepada utusan-Nya. Imam Mahdi lah utusan Allah di akhir jaman. Sebab, 3 tahun terakhir sebelum kewafatan Imam Mahdi ‘alayhissalaam, Allah Ta’ala pada tahun 1905 memberikan solusi kepada beliau yang ditulis di buku Alwasiyat.

 

Apakah gerakan Alwasiyat hanya sekedar “asuransi” untuk mendapat jaminan kuburan yang layak saat meninggal kelak?

 

Alwasiyat bukan semata berbicara pada tanah 2 x 1 meter saja. Lebih dalam dari itu, Alwasiyat merupakan sebuag gerakan pengorbanan harta (infaq) 1/10 sampai 1/3 dari kekayaan yang kita miliki untuk dikelola oleh baitul mal (Anjuman Alwasiyat). Tak hanya itu, syarat lain setelah mengikuti “asuransi” Alwasiyat adalah harus senantiasa berusaha semasa hidup selalu menjauhi syirik, berproses menjadi muttaqi, menjauhi segala yang haram, muslim yang benar dan bersih, serta secara dawam membayar (premi) candah wasiyat, 1/10 sampai 1/3 dari penghasilan per bulan. Tergantung level dan kelas yang kita inginkan.

 

Semua itu demi memancing kasih sayang Allah Ta’ala agar kita diberikan garansi di dunia dan di akirat. Sudah jelals, menginfaqkan sebagian dari harta ke dalam gerakan Alwasiyat merupakan “asuransi” yang sangat kokoh dan tidak ada keraguan. Justru banyak sekali keuntungan yang kita dapat.

 

“Dan perbanyaklah sedekah dan infaq di waktu sunyi dan ramai, niscaya kalian akan dilimpahkan rezeki dan mendapatkan pertolongan.” (HR. Ibnu Majah)

 

“Dari Abu Hurairah ra. seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam: ‘Ya Rasulullah, sedekah apakah yang palling besar pahalanya?’ Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam menjawab: ‘kamu bersedekah dalam keadaan sehat, masih menginginkan harta, ada ketakutan menjadi miskin, berangan-angan kaya raya. Dan janganlah menunda-nunda hingga ajalmu hampir tiba, maka barulah kamu mengatakan bahwa harta ini untuk si fulan, dan harta ini untuk si fulan. Padahal sesungguhnya harta itu sudah menjadi milik si Ahli waris.” (HR. Mutafaq ‘Alayhi Misykat)

 

Jika kita merasa masih dalam ciri-ciri pada hadits tersebut, maka segeralah daftar menjadi member Alwasiyat. “Asuransi” yang penuh dengan keuntungan. Keuntungan-keuntungan yang ditawarkan oleh Alwasiyat melebihi keuntungan yang ditawarkan oleh asuransi-asuransi lain, di antaranya:

  1. Melindungi jasmani dan rohani diri sendiri dan keluarga.
  2. Melindungi harta benda.
  3. Memberikan manfaat untuk penyebaran Islam.
  4. Menolak petaka dan musibah.
  5. Melindungi dari siksa alam kubur dan api neraka.
  6. Melipatgandakan rezeki yang diterima hingga 700 kali lipat.
  7. Memberkahi kehidupan.
  8. Mendapatkan pahala.
  9. Mendekatkan diri kepada Allah.
  10. Menumbuhkan sikap empati.
  11. Membuang sikap egois dan tamak.

 

Akan tetapi, masih banyak yang belum siap untuk mendaftakan diri ke dalam Alwasiyat. Kebanyakan dengan alasan masih banyak kekurangan dan kelemahan, belum menjadi seorang muslim(ah) yang istiqamah dalam beribadah. Padahal, berwasiyat itu diibaratkan seperti halnya kita berbaiat atau masuk islam. Bukan menjadi tujuan akhir atau sebuah hasil, namun sebuah proses untuk menjadi muslim(ah) sejati. Komitmen saja dulu, baru sedikit demi sedikit bellajar menerapkan segala syarat-syaratnya.

 

Dalam keuntungan poin ke-6 tidak semata bualan di siang bolong. Dasarnya ada dalam surah al-Baqarah ayat 261:

“Perumpamaan orang yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah, seperti sebutir biji yang menumbuhkan 7 tangkai, pada setiap tangkainya ada 100 biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang dikehendaki dan Allah Maha Luas Maha Mengetahui.”

Misal, kita memberikan Rp 50.000,- di jalan Allah (ALwasiyat),  maka Allah akan menggantikan 700 kali lipat dari itu. Sekitar Rp 35.000.000,- yang akan Allah balas untuk kita. Tak hanya selalu dalam rezeki uang yang jatuh dari langit, bisa berupa kesehatan, keselamatan, keberkahan, kebahagiaan, jodoh dan anak cucu shaleh(ah), kecerdasan, atau keuntungan lainnya yang jika dirupiahkan (minimal) seharga Rp 35.000.000,- bahkan bisa lebih dari itu.

 

Sesungguhnya tak pernah ada kata rugi jika bertransaksi dengan Allah Ta’ala. Masih banyak lagi keuntungan lainnya yang dijelaskan dalam Alquran dan Alhadits, tapi jika dipaparkan semuanya, malah membuat Anda melongo karena kebaikan-kebaikan yang Allah tawarkan dalam “asuransi” tersebut.

 

Seperti pribahasa Indonesia: sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Kita tak hanya mengeluarkan uang setiap bulannya untuk diri sendiri, sekali mengeluarkan kita bisa membantu menyebar agama islam, melindungi dunia akhirat kita. Maka dari itu, tunggu apalagi? Ayo segera daftarkan diri dan orang-orang yang kita cintai untuk ikut “asuransi” dunia akhirat yang sudah Allah janjikan! Seperti kata Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam, jangan sampai nyawa sudah berada di leher. Buruan, sebelum semua terlambat! Dapatkan semua keuntungan, tanpa takut riba. Tenang, Allah Ta’ala Always Listening, Always Understanding.

Innallaaha Laa Yukhliful mii’aad. Sesungguhnya Allah Tidak menyalahi janji-Nya.

-Sekian-

(Konstalasi Orion – 14102015 – 03.15 am – Rabu Tanpa Abu)

 

Nasehat Untuk Sang Puteri

Imam Baihaqi dalam kitabnya, Syu’abul Iman, meriwayatkan sebuah nasehat yang disampaikan oleh seorang ibu kepada puterinya yang baru saja menikah dan akan dilepaskan untuk menemani suaminya. Sungguh merupakan nasehat yang sederhana namun sarat makna dan patut direnungkan oleh para akhwat dan ummahat yang ingin menjaga kestabilan biduk rumah tangga dalam mengarungi samudera kehidupan yang luas tak terkira. Nasehat ini juga dinukil oleh Imam Ghazali dalam kitabnya, Ihya Ulumiddin. Berikut ini terjemahan bebasnya:

Asma’ binti Kharijah Al Fazary berpesan kepada puterinya ketika menikah (sebelum melepaskan kepergiannya menuju suaminya):

“Wahai puteriku sayang, tak lama lagi kau akan keluar meninggalkan ayunan tempat kau ditimang dulu, dan berpindah ke atas ranjang yang belum pernah kau lihat sebelumnya. Kau akan hidup bersama seorang kawan yang belum pernah kau kenal sebelumnya. Oleh karena itu, jadilah bumi tempat ia berpijak, maka ia akan menjadi langit yang menaungimu. Jadikanlah dirimu tempat sandaran baginya, maka ia akan menjadi tiang yang meneguhkanmu. Jadilah pelayan baginya, ia akan menjadi abdi bagimu. Jangan kau merepotkannya sehingga ia merasa kesal. Dan jangan terlalu jauh darinya sehingga ia lupa akan dirimu. Jika ia mendekatimu, maka dekatilah. Jika ia berpaling, maka menjauhlah. Peliharalah pandangannya, pendengarannya dan penciumannya. Jangan sampai ia memandang sesuatu yang buruk darimu. Dan jangan sampai ia mendengar kata-kata kasar darimu. Dan jangan sampai ia mencium bau yang tak sedap darimu. Jadikanlah setiap apa yang ia lihat adalah wajahmu yang cantik berseri-seri. Jadikanlah setiap apa yang ia dengar adalah ucapanmu yang santun dan lembut. Jadikanlah setiap apa yang ia cium adalah aroma wangi tubuh dan pakaianmu.”
image

“Ayahmu dulu berpesan kepada ibumu: Maafkanlah segala kesalahan dan kekhilafanku, niscaya cinta kita akan terus bersemi. Ketika aku marah, janganlah kau memancing lagi amarahku. Karena benci dan cinta takkan pernah bersatu. Saat benci datang, cinta pun kan berlalu.”

Demikian isi nasehat tersebut. Semoga bermanfaat.

Wallahu a’lamu bishshawwab.

Seni (Ujian) Pra Nikah

Konon kabarnya, menjelang pernikahan itu calon pengantin biasanya dihadapkan pada beragam ujian. Orang sunda menyebutnya sok loba hileud (suka banyak ulat). Ujiannya tentu saja beragam, bisa munculnya sensitifitas tinggi diantara pasangan calon pengantin sehingga muncul kesalahpahaman yang berdampak pada pertengkaran, muncul keragu-raguan untuk menikah dengan calon yang telah ditetapkan, munculnya orang ketiga dan seterusnya yang berusaha memalingkan cinta, banyaknya persoalan lain yang menimpa baik masalah keuangan untuk biaya menikah, beribetnya urus-urus persyaratan nikah, bahkan sampai persoalan-persoalan lain yang langsung atau tidak langsung menambah beban mental bagi pasangan calon pengantin.

Banyaknya ujian pada saat akan menikah, tentu saja bentuk atau macamnya berbeda-beda bagi setiap pasangan calon pengantin. Ada yang ujiannya sangat banyak, ada yang ujiannya banyak, ada yang ujiannya sedikit, bahkan ada yang nyaris gak ada ujian sama sekali. Dampaknya pun berbeda bagi setiap calon pasangan pengantin. Ada yang akhirnya pernikahannya gagal, ada yang pernikahannya nyaris gagal, ada yang jadinya sering berantem, ada yang kuat dan teguh sehingga ujian pun bisa diatasi dengan baik, bahkan ada yang justru sinergi calon pasangan pengantin itu semakin tumbuh dengan baik sehingga mereka bisa mengatasi bersama ujian yang melanda mereka dengan indah.

Aku punya teman yang baru sebulanan kemarin telah menikah. Sebelum mereka melangsungkan pernikahan, si perempuan sering curhat mengenai banyaknya masalah yang dia hadapi. Dia pernah melakukan pertengkaran hebat dengan calon suaminya padahal gara-gara hal sepele. Dia juga pernah dimarahi oleh calon mertuanya dan dianggap tidak mampu untuk mengurusi hal-hal yang harus dipersiapkan menjelang pernikahan. Temanku terus saja mengeluh, tersirat nada yang stres meski dia coba ceria. Tapi alhamdulillah, temanku yang satu ini pun akhirnya menikah, dan betapa romantisnya mereka. Ih mauuuuu.

Seorang teman yang telah menikah berkata padaku bahwa ujian pra nikah itu selayaknya kita anggap seni. Jadi ganti kata ujian menjadi seni, ya seni pra nikah. Jika kita anggap ini seni, maka yakinlah ini adalah hal yang indah, yang harus kita hadapi dengan besar hati, harus kita hadapi dengan pikiran jernih. Memang sih, seni pra nikah ini adalah kelas persiapan sebelum kita naik kelas ke kelas berikutnya, yakni kelas rumah tangga. Di mana di sana kita akan dihadapkan pada kemampuan bersinergi dengan baik mengatasi beragam masalah kehidupan. Kalau menjalani kelas pra nikah saja sudah gagal, gimana akan mampu menghadapi kelas rumah tangga, wihhh jangan-jangan malah DO nantinya, hehe.

Seni pra nikah adalah masa dimana kita bisa menjadi lebih dewasa, lebih bijak,  lebih tangguh, lebih sigap, lebih siap dan lebih memahami calon suami/ istri kita. Seni pra nikah adalah seni dimana kita akan semakin menumbuhkan perasaan cinta dan sayang pada sosok yang kelak kita sebut sebagai suami/ istri kita. Karena kita ingat bahwa tak mudah untuk bisa bersanding dengannya, maka kita tak akan mudah untuk melepaskannya. Jadi, jalani seni pra nikah dengan besar hati, agar kelak pasangan kita tetap nyaman berada di luasnya hati kita. Ah indahnya. sekian.

(Selasa Yang Penuh Asa – 03022015 – 10.00 pm – Konstalasi Orion)

Catatan Pra Nikah

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Sebagai seorang muslimah, kita semua tentu mengharapkan pada saatnya nanti akan bertemu dengan pendamping yang akan menjadi pemimpin dalam rumah tangga kita. Harapannya adalah, dapat membentuk sebuah keluarga yang sakinah, mawwadah warrahmah. Berikut ini adalah sebuah artikel yang bagus untuk disimak yang insya Allah bisa menjadi bekal bagi para muslimah pada khususnya, juga seluruh muslimin dan muslimat dimanapun berada pada umumnya, mengenai apa yang harus dipersiapkan menjelang pernikahan. Silahkan disimak.

1. Pendahuluan.

Allah telah menciptakan segala sesuatu secara berpasang-pasangan, tetumbuhan, pepohonan, hewan, semua Allah ciptakan dalam sunnah keseimbangan & keserasian. Begitupun dengan manusia, pada diri manusia berjenis laki-laki terdapat sifat kejantanan/ketegaran dan pada manusia yang berjenis wanita terkandung sifat kelembutan/kepengasihan. Sudah menjadi sunatullah bahwa antara kedua sifat tersebut terdapat unsur tarik menarik dan kebutuhan untuk saling melengkapi.

Untuk merealisasikan terjadinya kesatuan dari dua sifat tersebut menjadi sebuah hubungan yang benar-benar manusiawi maka Islam telah datang dengan membawa ajaran pernikahan Islam menjadikan lembaga pernikahan sebagai sarana untuk memadu kasih sayang diantara dua jenis manusia. Dengan jalan pernikahan itu pula akan lahir keturunan secara terhormat. Maka adalah suatu hal yang wajar jika pernikahan dikatakan sebagai suatu peristiwa yang sangat diharapkan oleh mereka yang ingin menjaga kesucian fitrah.

Dan bahkan Rosulullah SAW dalam sebuah hadits secara tegas memberikan ultimatum kepada ummatnya: “Barang siapa telah mempunyai kemampuan menikah kemudian ia tidak menikah maka ia bukan termasuk umatku” (H.R. Thabrani dan Baihaqi).

2. Persiapan Pra Nikah bagi muslimah.

Seorang muslimah sholihah yang mengetahui urgensi dan ibadah pernikahan tentu saja suatu hari nanti ingin dapat bersanding dengan seorang laki-laki sholih dalam ikatan suci pernikahan. Pernikahan menuju rumah tangga samara (sakinah, mawaddah & rahmah) tidak tercipta begitu saja, melainkan butuh persiapan-persiapan yang memadai sebelum muslimah melangkah memasuki gerbang pernikahan.

Nikah adalah salah satu ibadah sunnah yang sangat penting, suatu mitsaqan ghalizan (perjanjian yang sangat berat). Banyak konsekwensi yang harus dijalani pasangan suami-isteri dalam berumah tangga. Terutama bagi seorang muslimah, salah satu ujian dalam kehidupan diri seorang muslimah adalah bernama pernikahan. Karena salah satu syarat yang dapat menghantarkan seorang isteri masuk surga adalah mendapatkan ridho suami. Oleh sebab itu seorang muslimah harus mengetahui secara mendalam tentang berbagai hal yang berhubungan dengan persiapan-persiapan menjelang memasuki lembaga pernikahan. Hal tersebut antara lain :

A. Persiapan spiritual/moral (Kematangan visi keislaman)

Dalam tiap diri muslimah, selalu terdapat keinginan, bahwa suatu hari nanti akan dipinang oleh seorang lelaki sholih, yang taat beribadah dan dapat diharapkan menjadi qowwam/pemimpin dalam mengarungi kehidupan di dunia, sebagai bekal dalam menuju akhirat. Tetapi, bila kita ingat firman Allah dalam Alqurâ’an bahwa wanita yang keji, adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik. “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik….” (QS An-Nuur: 26).

Bila dalam diri seorang muslimah memiliki keinginan untuk mendapatkan seorang suami yang sholih, maka harus diupayakan agar dirinya menjadi sholihah terlebih dahulu. Untuk menjadikan diri seorang muslimah sholihah, maka bekalilah diri dengan ilmu-ilmu agama, hiasilah dengan akhlaq islami, tujuan nya bukan hanya semata untuk mencari jodoh, tetapi lebih kepada untuk beribadah mendapatkan ridhoNya. Dan media pernikahan adalah sebagai salah satu sarana untuk beribadah pula.

B. Persiapan konsepsional (memahami konsep tentang lembaga pernikahan)

Pernikahan sebagai ajang untuk menambah ibadah & pahala : meningkatkan pahala dari Allah, terutama dalam Shalat Dua rokaat dari orang yang telah menikah lebih baik daripada delapan puluh dua rokaatnya orang yang bujang” (HR. Tamam).

Pernikahan sebagai wadah terciptanya generasi robbani, penerus perjuangan menegakkan dienullah. Adapun dengan lahirnya anak yang sholih/sholihah maka akan menjadi penyelamat bagi kedua orang tuanya.

Pernikahan sebagai sarana tarbiyah (pendidikan) dan ladang dakwah. Dengan menikah, maka akan banyak diperoleh pelajaran-pelajaran & hal-hal yang baru. Selain itu pernikahan juga menjadi salah satu sarana dalam berdakwah, baik dakwah ke keluarga, maupun ke masyarakat.

C. Persiapan kepribadian

Penerimaan adanya seorang pemimpin. Seorang muslimah harus faham dan sadar betul bila menikah nanti akan ada seseorang yang baru kita kenal, tetapi langsung menempati posisi sebagai seorang qowwam/pemimpin kita yang senantiasa harus kita hormati & taati. Disinilah nanti salah satu ujian pernikahan itu. Sebagai muslimah yang sudah terbiasa mandiri, maka pemahaman konsep kepemimpinan yang baik sesuai dengan syariat Islam akan menjadi modal dalam berinteraksi dengan suami.

Belajar untuk mengenal (bukan untuk dikenal). Seorang laki-laki yang menjadi suami kita, sesungguhnya adalah orang asing bagi kita. Latar belakang, suku, kebiasaan semuanya sangat jauh berbeda dengan kita menjadi pemicu timbulnya perbedaan. Dan bila perbedaan tersebut tidak di atur dengan baik melalui komunikasi, keterbukaan dan kepercayaan, maka bisa jadi timbul persoalan dalam pernikahan. Untuk itu harus ada persiapan jiwa yang besar dalam menerima & berusaha mengenali suami kita.

D. Persiapan Fisik

Kesiapan fisik ini ditandai dengan kesehatan yang memadai sehingga kedua belah pihak akan mampu melaksanakan fungsi diri sebagai suami ataupun isteri secara optimal. Saat sebelum menikah, ada baiknya bila memeriksakan kesehatan tubuh, terutama faktor yang mempengaruhi masalah reproduksi. Apakah organ-organ reproduksi dapat berfungsi baik, atau adakah penyakit tertentu yang diderita yang dapat berpengaruh pada kesehatan janin yang kelak dikandung. Bila ditemukan penyakit atau kelainan tertentu, segeralah berobat.

E. Persiapan Material

Islam tidak menghendaki kita berfikiran materialistis, yaitu hidup yang hanya berorientasi pada materi. Akan tetapi bagi seorang suami, yang akan mengemban amanah sebagai kepala keluarga, maka diutamakan adanya kesiapan calon suami untuk menafkahi. Dan bagi fihak wanita, adanya kesiapan untuk mengelola keuangan keluarga. Insyallah bila suami berikhtiar untuk menafkahi maka Allah akan mencukupkan rizki kepadanya. Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari ni’mat Allah? (QS. 16:72) ” Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. 24:32)”.

F. Persiapan Sosial

Setelah sepasang manusia menikah berarti status sosialnya dimasyarakatpun berubah. Mereka bukan lagi gadis dan lajang tetapi telah berubah menjadi sebuah keluarga. Sehingga mereka pun harus mulai membiasakan diri untuk terlibat dalam kegiatan di kedua belah pihak keluarga maupun di masyarakat. “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu. Dan berbuat baiklah terhadap kedua orang tua, kerabat-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin,”Q.S. An-Nissa: 36).

Adapun persiapan-persiapan menjelang pernikahan (A hingga F) yang tersebut di atas itu tidak dapat dengan begitu saja kita raih. Melainkan perlu waktu dan proses belajar untuk mengkajinya. Untuk itu maka saat kita kini masih memiliki banyak waktu, belum terikat oleh kesibukan rumah tangga, maka upayakan untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya guna persiapan menghadapi rumah tangga kelak.

3. Pemahaman kriteria dalam memilih atau menyeleksi calon suami

– Utamakan laki-laki yang memiliki pemahaman agama yang baik

– Bagaimana ibadah wajib laki-laki yang dimaksud

– Sejauh mana konsistensi & semangatnya dalam menjalankan syariat Islam

– Bagaimana akhlaq & kepribadiannya

– Bagaimana lingkungan keluarga & teman-temannya

Catatan : Seorang laki-laki yang sholih akan membawa kehidupan seorang wanita menjadi lebih baik, baik di dunia maupun kelak di akhirat .

Sekufu

– Memudahkan proses dalam beradaptasi

– Tapi ini tidak mutlak sifatnya, karena jodoh adalah rahasia Allah

– Batasan-batasan siapa yang yang terlarang untuk menjadi suami (QS 4:23-24; QS2: 221)

4. Langkah-langkah yang ditempuh dalam kaitannya untuk memilih calon

a. Menentukan kriteria calon pendamping (suami ). Diutamakan lelaki yang baik agamanya.

b. Mengkondisikan orang tua dan keluarga , Kadang ketidaksiapan orang tua dan keluarga bila anak gadisnya menikah menjadi suatu kendala tersendiri bagi seorang muslimah untuk menuju proses pernikahan. Penyebab ketidak siapan itu kadang justru berasal dari diri muslimah itu sendiri, misalnya masih menunjukkan sikap kekanak-kanakan, belum dapat bertanggung jawab dsb. Atau kadang dapat juga pengaruh dari lingkungan, seperti belum selesai kuliah (sarjana) tetapi sudah akan menikah. Hal-hal seperti ini harus diantisipasi jauh-jauh hari sebelumnya, agar pelaksanaan menuju pernikahan menjadi lancar.

c. Mengkomunikasikan kesiapan untuk menikah dengan pihak-pihak yang dipercaya Kesiapan seorang muslimah dapat dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang dipercaya, agar dapat turut membantu langkah-langkah menuju proses selanjutnya.

d. Taâ’aruf (Berkenalan) , Proses taâ’aruf sebaiknya dilakukan dengan cara Islami. Dalam Islam proses taâ’aruf tidak sama dengan istilah pacaran. Dalam berpacaran sudah pasti tidak bisa dihindarkan kondisi dua insan berlainan jenis yang khalwat atau berduaan. Yang mana dapat membuka peluang terjadinya saling pandang atau bahkan saling sentuh, yang sudah jelas semuanya tidak diatur dalam Islam. Allah SWT berfirman “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” QS 17:32).

Rasulullah SAW bersabda : “Jangan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dengan seorang perempuan, melainkan si perempuan itu bersama mahramnya”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim).

Bila kita menginginkan pernikahan kita terbingkai dalam ajaran Islami, maka semua proses yang menyertainya, seperti mulai dari mencari pasangan haruslah diupayakan dengan cara yang ihsan & islami.

e. Bermusyawarah dengan pihak-pihak terkait , Bila setelah proses taâ’aruf terlewati, dan hendak dilanjutkan ke tahap berikutnya, maka selanjutnya dapat melangkah untuk mulai bermusyawarah dengan pihak-pihak yang terkait.

f. Istikhoroh , Daya nalar manusia dalam menilai sesuatu dapat salah, untuk itu sebagai seorang msulimah yang senantiasa bersandar pada ketentuan Allah, sudah sebaiknya bila meminta petunjuk dari Allah SWT. Bila calon tersebut baik bagi diri muslimah, agama dan penghidupannya, Allah akan mendekatkan, dan bila sebaliknya maka akan dijauhkan. Dalam hal ini, apapun kelak yang terjadi, maka sikap berprasangka baik (husnuzhon) terhadap taqdir Allah harus diutamakan.

g. Khitbah , Jika keputusan telah diambil, dan sebelum menginjak pelaksanaan nikah, maka harus didahului oleh pelaksanaan khitbah. Yaitu penawaran atau permintaan dari laki-laki kepada wali dan keluarga fihak wanita. Dalam Islam, wanita yang sudah dikhitbah oleh seorang lelaki, maka tidak boleh untuk dikhitbah oleh lelaki yang lain. Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Janganlah kamu mengkhitbah wanita yang sudah dikhitbah saudaranya, sampai yang mengkhitbah itu meninggalkannya atau memberinya izin “(HR. Muttafaq alaihi).

5. Pentingnya mempelajari tata cara nikah sesuai dengan anjuran & syariat Islam

Sebenarnya tata cara pernikahan dalam Islam sangatlah sederhana dibandingkan tata cara pernikahan adata atau agama lain. Karena Islam sangat menginginkan kemudahan bagi pelakunya. Untuk itu memahami tata cara pernikahan yg islami menjadi salah satu kebutuhan pokok bagi calon pasangan muslim. Dengan melaksanakan secara Islami, maka sebisa mungkin untuk menghindarkan diri dari kebiasaan-kebiasaan tata cara pernikahan yang berbau syirik menyekutukan Allah). Karena hanya kepada Allah SWT sajalah kita memohon kelancaran, kemudahan, keselamatan dan kelanggengan pernikahan nanti. Untuk beberapa hal yang harus kita ketahui tentang tatacara nikah adalah masalah sbb:

a. Dewasa (baligh) & Sadar

b. Wali , “Tidak ada nikah kecuali dengan wali” (HR.Tirmidzi J.II Bukhari Muslim dalam Kitabu Nikah),

c. Mahar , “Berikanlah mahar kepada wanita-wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan” (QS: 4:4)

– Semakin ringan mahar semakin baik. Seperti sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dari Uqbah bin Amir : “Sebaik-baiknya mahar adalah paling ringan (nilainya).”

– Bila tak memiliki materi, boleh berupa jasa. Semisal jasa mengajarkan beberapa ayat al-Qur’an atau ilmu-ilmu agama lainnya. Dalam sebuah hadis Rasulullah berkata kepada seorang pemuda yang dinikahkannya : “Telah aku nikahkan engkau dengannya (wanita) dengan mahar apa yang engkau miliki dari Al-Quran” (HR. Bukhari dan Muslim)

d. Adanya dua orang saksi

e. Proses Ijab Qobul , Proses Ijab Qabul adalah proses perpindahan perwalian dari Ayah/Wali wanita kepada suaminya. Dan untuk kedepannya makan yang bertanggung jawab terhadap diri wanita itu adalah suaminya. Syarat-syarat diatas adalah ketentuan yang harus dipenuhi dalam syarat sahnya prosesi suatu pernikahan. Selain itu dianjurkan untuk mengadakan walimatul ‘ursy, dimana pasangan mempelai sebaiknya diperkenalkan kepada keluarga dan lingkungan sekitar bahwa mereka telah resmi menjadi pasangan suami isteri, sebagai antisipasi terjadinya fitnah.

6. Permasalahan seputar masalah persiapan nikah

a. Sudah siap, tetapi jodoh tidak kunjung datang Rahasia jodoh adalah hanya milik Allah, tidak ada satu orangpun yang dapat meramalkan bila jodohnya datang. Sikap husnuzhon amat diutamakan dalam fase menunggu ini. Sembari terus berikhtiar dengan cara meminta bantuan orang-orang yang terpercaya dan berdo’a memohon pertolongan Allah. Juga upayakan senantiasa memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri. Hindari diri dari berangan-angan, isilah waktu oleh kegiatan-kegiatan positif .

b. Belum siap, tetapi sudah datang tawaran Introspeksi diri, apakah yang membuat diri belum siap ?. Cari penyebab ketidak siapan itu, tingkatkan kepercayaan diri dan fikirkan solusinya. Sangat baik bila mengkomunikasikan masalah ini dengan orang-orang yang dipercaya, sehingga diharapkan dapat membantu proses penyiapan diri. Sembari terus banyak mengkaji urgensi tentang pernikahan berikut hikmah-hikmah yang ada di dalamnya.

7. Penutup

Agama Islam sudah sedemikian dimudahkan oleh Allah SWT, tetap masih saja ada orang yang merasakan berat dalam melaksanakannya karena ketidak tahuan mereka. Allah Taâ’ala telah berfirman: “Allah menghendaki kemmudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu” (Q.S. Al-Baqarah : 185)

Kita lihat, betapa Islam menghendaki kemudahan dalam proses pernikahan. Proses pemilihan jodoh, dalam peminangan, dalam urusan mahar dan juga dalam melaksanakan akad nikah. Demikianlah beberapa pandangan tentang persiapan pernikahan dan berbagai problematikanya, juga beberapa kiat untuk mengantisipasinya. Insyallah, jika ummat Islam mengikuti jalan yang telah digariskan Allah SWT kepadanya, niscaya mereka akan hidup dibawah naungan Islam yang mulia ini dengan penuh ketenangan dan kedamaian .

Wallahuâ’alamu bi-shshawwab.

Donor Darah Gayaku, Mana Gayamu?

Kuningan: Tak seperti biasa, Kamis Pagi (04/09) lingkaran Cijoho yang menuju jalan utama kota, sudah dipadati oleh banyak orang dengan pakaian dan atribut yang unik. Alunan musik dan kidung berbahasa Sunda pun terdengar dari keramaian orang yang berkumpul sesuai dengan komunitasnya dari berbagai desa yang berada di Kuningan (Jawa Barat). Dari lingkaran Cijoho hingga Taman Kota yang biasanya digunakan untuk Car Free Day setiap hari Minggu, digunakan untuk Karnaval Hari Jadi Kota Kuningan ke-516. Semua orang yang berada sepanjang jalan tersebut, terjebak dalam euforia.

 IMG_1584

IMG_1576

Karnaval yang dimulai sejak pukul 10.00 WIB, diikuti juga oleh para pemuda Ahmadiyah dari Desa Manislor. 22 Orang lelaki menggunakan kaos berlengan panjang berwarna Jingga, dan 15 Orang Perempuan menggunakan kaos berwarna putih dengan kerudung merah. Mereka menggunakan syal di leher berwarna merah-putih, semakin menambah semarak karnaval. Perpaduan baju yang sangat kontras di tengah teriknya siang. Beberapa orang dari mereka membawa 2 helai spanduk. Spanduk yang bertuliskan KELUARGA BESAR DONOR DARAH MANISLOR, dibawa oleh yang berkaos putih. Sedangkan yang bertuliskan PECINTA ALAM MKAI JAGA BUANA MANISLOR, dibawa para pemuda berkaos jingga. Dan di bagian bawah setiap spanduk bertuliskan LOVE FOR ALL HATRED FOR NONE. Moto yang sudah sangat familiar bagi komunitas Ahmadiyah yang selalu mengusung nilai Cinta agar terciptanya perdamaian dunia.

 IMG_1533 IMG_1659

Meski jumlah pemuda Ahmadiyah yang ikut karnaval tidak sebanyak komunitas dari desa yang lain, hal tersebut tidak mengurangi semangatnya. Pasukan pejalan kaki, diiringi oleh 3 unit mobil pribadi dan 2 unit mini bus dari Palang Merah Indonesia (PMI) cabang Kuningan. Yap, Ahmadiyah dan PMI bergabung menjadi satu komunitas yang mengusung nilai kemanusiaan. Sepanjang jalan, mereka membagikan selembar kertas yang berisi tentang informasi Bank Darah Gratis. Untuk di daerah Kuningan, Ahmadiyah di Desa Manislor sudah memiliki hubungan baik dengan PMI. Setiap beberapa bulan sekali, PMI selalu berkunjung ke Manislor. Di Desa Manislor, tidaklah sulit bagi PMI mengantongi ratusan darah, karena donor darah sudah menjadi gaya hidup bagi anggota Ahmadiyah Manislor.

 IMG_1595 IMG_1578 IMG_1665 IMG_1676

Sepanjang sisi jalan sudah dipadati oleh para penonton dan wartawan yang ingin melihat kemeriahan karnaval. Bupati Kuningan beserta jajarannya juga turut menyaksikan karnaval dari atas panggung yang berada di sisi Taman Kota Kuningan. Dari semua komunitas yang hadir, hanya Ahmadiyah dari desa Manislor yang mengusung nilai Kemanusiaan, menawarkan jasa Bank Darah, serta mengkampanyekan donor darah sebagai gaya hidup. Karena mereka beranggapan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi sekitarnya. Dan belumlah sempurna iman seseorang, jika belum bisa memberikan sesuatu yang paling dicintainya. Salah satunya adalah darah. Sekantong darah yang didonorkan sangat berarti bagi manusia yang lain. Dengan donor darah jiiwa raga sehat, orang lain pun selamat. Seperti jargon yang selalu dipekikan oleh pemuda Ahmadiyah selama karnaval berjalan. “Donor Darah! Sehat Jasmani Rohani!” Sekian. (LV)

IMG_1632

 

 

Sepucuk Surat Untuk Lelaki Shalih

Dear Lelaki Shalih

Di Mana pun Kalian berada

197507_454503971258981_1264828099_n.jpg_480_480_0_64000_0_1_0

Perkenankan saya mewakili suara hati beberapa orang muslimah yang masih belajar untuk menjadi perempuan Shalihah. Surat ini sebenarnya saya khususkan untuk Lelaki shalih yang ada di dalam bahtera yang berlayar di akhir jaman membawa panji Islam, menuju sebuah pulau Kemenangan dengan peta Al-Qur’an. Dan lebih dikhususkan lagi untuk para calon penerang yang masih berada di penjara suci. Maaf kalau sudah lancang menulis sepucuk surat ini di blog.

Duhai Lelaki Shalih…
Tahukah engkau tentang perempuan shalihah? Tak inginkah kau mendapatkannya? Maka bantulah kami para perempuan untuk menjadi shalihah, dengan menghormatinya. Jangan dekati kami sebelum engkau siap meminangnya. Jangan dekati kami dengan cara yang tak diridhai-Nya. Jangan lumpuhkan hati kami dengan rayuanmu yang menjadikannya terlena. Tolong  jaga kelemahan kami itu.

Biarkan kami menjaga cinta di hati hanya untuk Sang Pencipta. Biarkan kami menjaga kesucian hanya untuk pasangan kami yang halal. Biarkan kami menjadi yang teristimewa untuk pendamping hidup kelak.
images
Duhai Lelaki Shalih…
Betapapun kini keberadaan kami memikat hatimu, selama kami belum jadi istrimu, hormatilah kami sebagai saudarimu. Tolong jaga keimanan kami dengan tidak menggoda lewat tawaran cintamu dan sikapmu, yang jelas-jelas engkau belum siap untuk menghadap wali kami. Jaga kesucian kami dalam cinta dalam doa-doamu. Biarkan kami mempersiapkan diri menjadi yang terindah dalam hidupmu.

Tak suka kah engkau bila istrimu adalah seorang muslimah sejati yang mempersembahkan cinta dan kesuciannya hanya untuk suaminya?

Maka… Menjauhlah! Menjauhlah! Jangan nodai cinta yang fitrah dengan nafsu yang tak terkendali karena ingin memilikinya.

Simaklah, duhai Lelaki Shalih..
Perempuan itu lemah. Maka jangan lemahkan iman kami dengan pesona(kata-kata)mu. Jaga keimananmu dan keimanan kami. Jika berkenan, tunggulah saat yang halal agar cinta itu berlimpah berkah.

Jika benar engkau mencintai kami, tolong jaga kami dari dosa-dosa yang akan dipanen ketika menjalin sebuah hubungan (di luar nikah). tegakah engkau membiarkan orang yang engkau cintai mendapat Kemurkaan dari Allah karena menjalin hubungan kasih denganmu?

Sungguh kaum Adam, sebelum kami halal bagimu, kami adalah saudarimu, dan kau tak berhak menyentuh perempuan yang belum Allah izinkan engkau untuk menyentuhnya , sekalipun hati kami.

Dengarlah, Lelaki Shalih…
Aku adalah salah seorang  muslimah (yang masih merangkak untuk shalihah) hanya bisa menangis melihat saudara-saudariku dan diriku tenggelam dalam hubungan yang tak dihalalkan dalam islam. Karena aku hanya mampu mengingatkan (terutama diriku) lewat tulisan sederhana ini. Tak memiliki daya untuk memberi hidayah.

Duhai Lelaki Shalih yang dirahmati Allah Subhanaahu wa Ta’ala
Jika kau benar mencintai seseorang di antara kaumku, tolong muliakan dia dengan menjaga kehormatannya. Jangan mengikatnya dengan hubungan yang tak diridhai hanya karena engkau takut ia tak dapat engkau miliki. Karena dia yang engkau cinta , harus mempertanggung jawabkan hubungan terlarang itu di hari pembalasan kelak. Hubungan yang belum berhak dimiliki sebelum terlaksananya akad suci.
wanita solehah
Lelaki Shalih…
Betatapun hatimu ingin memilikinya, bersabarlah. Bersabarlah. Berpuasalah! Sesungguhnya Allah Subhaanahu wa Ta’ala meninggikan derajat orang-orang yang mau bersabar.

“Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya mereka kekal di dalamnya. surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.” (Q.s. al-Furqaan [25] :75-76)

“Tidak ditemukan jalan lain bagi dua orang yang saling mencintai selain menikah” (HR. Ibnu Majah)

cropped-a

(iko – 8 Ramadhan 1435 H – Minggu, 1.05 am – Konstalasi Orion)

Salam

 

 

 

Kali ini, mau sharing tentang salam. Yap, ini bukan daun salam yang mengharumkan masakan, tapi tentang sapaan salam yang sering kita ucapkan kepada siapa saja di manapun dan kapanpun. Namun dalam penulisan kata salam ini, banyak kita jumpai berbagai versi mulai dari “As”, “Ass”, “Akum”, “Askum”, “Ass. Wr. Wb”, “Mikum”, “Samlekom” dan masih banyak penyingkatan salam dengan berbagai gaya dan bahasa gaul… Tahukah engkau, bahwa itu semua ada yang tidak memiliki arti dan ada yang memiliki arti lain lho…
Padahal salam dalam Islam (Assalaamu’alaikum /ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻴﻜﻢ / as salamu `alaykum) adalah sebuah sapaan yang di dalamnya terdapat doa keselamatan, Assalamu’alaikum ini artinya adalah semoga keselamatan tercurah kepadamu (terselamatkan dari segala duka, kesulitan dan nestapa). Mungkin niatnya mau ngirit ngetik ternyata kata-kata tersebut memiliki arti lain yang mengubah makna salam tersebut.
Coba bandingkan…
Assalaamu’alaikum = Semoga keselamatan tercurah atas kamu.

“As (dalam bahasa Inggris)” malah memiliki arti “sebagai”.

“Ass (dalam bahasa Inggris)” memiliki arti yang sangat parah yaitu keledai, orang bodoh dan (maaf) pantat.

“Akum (gelar untuk orang-orang yahudi)” adalah singkatan dari “Avde Kokhavim U Mazzalot” yang artinya “Hamba-hamba binatang dan orang-orang sesat”.

Ass. Wr. Wb. dibandingkan dengan Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Ass = lihat keterangan atas.
Warahmatullaahi = Dan rahmat Allah (tercurah atas kamu juga)
Wr = tidak di ketahui maknanya

Wabarakaatuh= Dan Berkah Allah (selalu tercurah atas kamu juga)
Wb = tidak di ketahui maknanya

Mikum = tidak diketahui maknanya

Samlekom = matilah kamu (dengar kata orang sih itu artinya).

Jelas sekali penyingkatan yang tertera diatas sangat jauh dari makna doa keselamatan dalam “Assalaamu’alaikum”. Padahal Imam Nawawi, nabi besar kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam telah mengajarkan kita cara salam sesama umat islam dengan 3 ucapan salam, yaitu :

  1. Assalaamu’alaikum ( ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ )
  2. Assalaamu’alaikum Warahmatullaah (ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔُ ﺍﻟﻠﻪِ)
  3. Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh (ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺑَﺮَﻛَﺎﺗُﻪُ)

 

Nah sekarang bagaimana dengan jawaban salam?

Apabila seseorang mengucapkan salam pada kita maka wajib bagi seorang muslim untuk menjawabnya. Nah… beberapa waktu yang lalu, saya menjawab pesan inbox, ternyata ada yang nanya “Jawaban salam yang benar itu Wa’alaikumsalam atau Wa’alaikumussalaam ya?”

jeng jeeeeeng…. Ternyata jawaban yang benar adalah Wa’alaykumussalaam.
Keumuman yang kita dengar, seringkali seseorang menjawab salam dengan WA’ALAIKUM SALAM. Pelafalan seperti ini kuranglah tepat, seharusnya WA’ALAYKUMUSSALAAM.

Coba lihat bahasa arabnya ~> ﻭَﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ
Karena dari segi hukum baca secara tajwid itu salah, lafal ASSALAAM ﺍﻟﺴﻼﻡ disertai  “AL” (alif laam), hamzah pada lafal AL merupakan hamzah washal yang ketika dibaca washal/tidak waqof menjadi tetap tidak berharakat sehingga mengikuti harakat huruf sebelumnya yaitu Dhamah pada huruf Mim lafal WA’ALAYKUMU. Ketika huruf mim bertemu dgn alif laam, maka kata tersebut digabung pengucapannya sehingga menjadi Wa’alaykumussalaam. (Kira-kira begitulah, maaf jika penjelasannya ada yang salah karena kurang pandai menerangkannya, bagi yang bisa membantu menerangkan silahkan bantu dalam komentar).

Jadi  lunas ya janji saya. Mulai sekarang gunakanlah bahasa yang benar dalam menjawab salam dengan WA’ALAYKUMUSSALAAM dan lebih lengkap lebih baik, Wa’alaykumussalaam Warahmatullaahi Wabarakaatuh. ( ﻭَﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺑَﺮَﻛَﺎﺗُﻪُ )…

Jika ingin pengucapan dan penulisan salamnya bernilai ibadah maka mulailah dari sekarang untuk mengubah kebiasaan lama dengan lafaz dan penulisan salam yang benar…

MEMANG SEMUA TERGANTUNG PADA NIATNYA. TAPI ALANGKAH INDAHNYA, JIKA NIAT BAIK DILAKUKAN DENGAN CARA YANG BENAR. Mari memulai untuk menebarkan salam.

 

(Konstalasi Orion – 20052014 – 08.15 pm)