Racaua Ramadhan #6

Mengapa rinai hujan kali ini terasa berbeda? Tak seperti biasanya, hujan yang mesra dan penuh kesyahduan ini bagai menyimpan kehilangan yang begitu mendalam. Kudengar angin yang semilir menemani jatuhnya hujan malam ini. Mengapa desau anginnya juga sanggup menghadirkan pilu di rongga dadaku? Hujan kali ini seolah mengisyaratkan kerinduan yang terpendam bagai di ruang penjara bawah tanah. Dingin. Gelap. Lembab. Kosong. Senyap…Hujan kali ini seolah mengantarkan bisikan cinta yang akan segera berpisah. Hujan kali ini menaburkan wangi kegusaran, kegelisahan, dan kecemasan yang pilu, hingga membuat ranting pepohonan bambu pun berderak. Ramadhan… kerinduan ini belum jua terobati. Kini kepergian dikau tinggal hitungan jari kananku. 11 bulan ke depan akan kulewati tanpa kehadiran Ramadhan. Kuatkan aku, Tuhan.

Aku suka Ramadhan, duhai hujan. Hanya Ramadhan yang mampu mengubah orang-orang menjadi lebih baik, sekalipun hanya sebuah kesementaraan. Ramadhan selalu membawa energi positif, kasih sayang Tuhan dan keajaiban doa sangat terasa di kala Ramadhan. Orang mampu mengkhatamkan Alquran dalam sebulan, minimal. Siaran di televisi lebih adem. Dari hafizh quran sampai film kisah Rasulullaah dan para sahabat. Masih banyak lagi pengaruh positif dari Ramadhan, terlepas dari niat kepura-puraan. Ramadhan, tetaplah di sini. Jangan pergi. Ah tapi apalah dayaku untuk menahan. Kupasrahkan saja pada Tuhan, yang kasih sayang-Nya melebihi rintik hujan di penghujung Ramadhan. Semoga iman dan syukurku tetap bertahan. Sekian.

(27 Ramadhan 1435 H – Jum’at wada – Hujan di penghujung Ramadhan)

Advertisements

Racauan Ramadhan #5

Malam ke 15 Ramadhan kulihat bulan purnama

Sinarnya indah nan mempesona

Menerangi namun tidak menyilaukan

Memukau terhadap yang memandangnya

Kau datang ketika malam menjelang

Menerangi bagi yang kegelapan

Dikagumi bagi yang beriman

Mencari makna dibalik bulan purnama

Ada rahasia bagi yang meperhatikan

Bacalah Al Qamar telah mengisahkan (Q:54)

Kehancuran kaum Nuh yang mendustakan(Q:54.9)

Kehancuran kaum ‘Ad juga mendustakan(Q:54.18)

Kehancuran kaum Samud mendustakan(Q:54.23)

Kaum Luth karena mendustakan peringatan (Q:54.33)

Dan peringatan bagi keluarga Fir’aun(Q:54.41)

Mengapa peringatan itu ditunjukkan?

Adakah kita termasuk kaum yang diperingatkan?

Itulah cara Allah menguji kaumnya

Siapa yang mengimani dan mengambil pelajaran

Siapa yang  tak pedulikan dan mendustakannya

Mencari kesempatan di dalam kegelapan

Bagai srigala di bulan purnama

Merubah malam romantika jadi petaka

Merubah keindahan jadi menakutkan

Saat setan mengambil kesempatan

Menyesatkan bagi yang mau disesatkan

Suara burung hantu di rerimbunan

Mengiringi malam yang semakin mencekam

Semakin khusu’ doa bagi yang beriman

Semakin asyik bagi yang sesat melakukan kegiatan

Hingga jelas ketika pagi menjelang 

Siapa yang mendustakan peringatan

Dan siapa yang mau mengambil pelajaran
image

(Purnama terakhir – 15 Ramadhan 1435 H – Sabtu)

Racauan Ramadhan #4

Mengapa obat rasanya pahit?

Karena obat berfungsi untuk menjadi jalan kesembuhan bagi orang yang meminumnya. Dan begitu pula dengan kehidupan yang sedang kita jalani hingga detik ini. Terkadang kita berjumpa dengan kepahitan-kepahitan dalam beberapa detik waktunya. Kepahitan yang semoga, saat kita menikmatinya, maka ia dapat menjelma sebagai obat bagi hati kita yang ‘mungkin‘ seringkali sakit. Yap, agar hati kita yang tidak lagi sempurna itu, menjadi terjaga selalu dan terpelihara dari berbagai macam penyakit. Penyakit-penyakit yang dapat menggerogotinya.

Malam ini, aku minum obat. Dan sebelum menelannya benar-benar, ia sempat menempel di pangkal lidahku. Sehingga obat yang pahit itu, akhirnya aku rasakan juga. Sungguh tidak enak, memang. Karena ia pahit. Namun, aku yakin, bahwa kepahitan yang ia bawa, akan memberikan perubahan pada ragaku, beberapa saat kemudian. Dan dengan keyakinan ini, aku abaikan saja rasanya yang pahit. Lalu, ia pun melaju dengan lancar ke dalam tubuhku.Semua tentang keyakinan dan kepercayaan. Apabila kita yakin dan percaya, maka kita dapat menemukan hikmah dari apa yang kita yakini dan kita percayai. Hanya saja, terkadang kita terlalu ramai bercengkerama dengan diri kita sendiri. Sampai membuatnya tidak beryakin-yakin atas beraneka kepahitan yang ia alami. Ya, kita terkadang tidak yakin bahwa kepahitan itu adalah obat penyakit hati.

Apakah pernah terluka?

Bahkan hati pernah menderita karena pahit yang ia alami? Poleslah ia segera, dengan ingatanmu pada makna yang ia bawa. Jadikan kepahitan itu sebagai obat. Jadikan ia sebagai jalan untuk merawat hati yang terluka tadi. Jadikan ia (kepahitan itu) sebagai sebuah rasa yang memang perlu kita nikmati. Bersama keyakinan, bahwa kita akan mengalami kesembuhan setelah menelannya benar-benar. Jangan ragu-ragu lagi. Beryakinlah dengan sepenuhnya. Percaya bahwa engkau akan sembuh, maka engkau sembuh. Karena dengan keyakinan serta percaya, kita akan bersungguh-sungguh.

Jangan langsung puas apabila telah usai menjalani satu kepahitan, iko. Karena bisa saja satu kepahitan itu belum dapat menyembuhkanmu. Walaupun  telah menikmati waktu saat bersamanya. Dengan demikian, kita sedang dalam persiapan yang paripurna, untuk kepahitan yang berikutnya. Dan kita akan lebih siap menghadapinya.

Hiduplah dengan keyakinan penuh. Jalani kepahitan dengan keteguhan yang semakin teguh. Maka lama kelamaan, kepahitan itu akan mengantarkan pada kemanisan. Ya, segalanya akan berujung, kan? Sebagaimana hari ini, pagi buta. Ia tidak selamanya. Karena akan berganti dengan sore, lalu malam. So, nikmatilah waktu. Hayati pesan yang ia sampaikan. Walaupun ada kepahitan, sekalipun. Rasa-rasai lebih awal, hingga kita rasakan benar-benar. Intinya adalah, “Jangan lupa, bahwa semua berpasangan. Ada pahit – ada manis.” Ketika kita pernah merasakan kepahitan, maka kita pun akan merasakan kemanisan. Yakin dan percayalah, iko.

(Konstalasi Orion – 13 Ramadhan 1435 H)

Racauan Ramadhan #3

Salah satu hal yang saya resapi dari perjalanan kemarin adalah pelajaran selama ini tentang sabar. Tema besar dari perjalananku selama 3 tahun belakangan ini adalah mengenal sabar, bisa bertindak sabar, melakukan sabar, mengerti sabar, memberikan sabar dan menjiwai sabar.Saya masih mengingat jatuh bangunnya aku dalam “pendidikan” ini. Yang semuanya seperti terjadi dalam hitungan detik. Semuanya serba cepat dan ekstrim. Sering merasa tidak punya kesempatan untuk sekedar mengambil napas dan mengobati diri sendiri.

Selama ini aku terus mengikuti semua “pelajaran” ini tanpa banyak bertanya “kenapa? Mengapa?”. Yakin dan percaya bahwa tidak ada yang kebetulan. Aku sudah berjanji untuk setia pada pelajaran-Nya, dengan mengurangi protes terhadap alur kisah hidupku. Bahwa apapun dan betapapun yang terlihat di depan mata, di belakangnya ada pelajaran yang luar biasa. Dan terkadang diperlukan kesabaran untuk menunggu sampai pelajaran itu muncul dalam keseluruhan bentuknya.

Bersabar pada diri sendiri terkadang lebih sulit daripada bersabar kepada orang lain. Pada saat fitrah kita memanggil dari jalan berkelok yang kita tempuh, perjalanan ke jalan lurus sering lebih besar tantangannya. Pada saat kita kembali tergelincir dan menyerah pada jalan yang gelap, kita sering tak sabar pada diri sendiri untuk kembali mengikuti jalan yang terang. Akhirnya menyerah. Membiarkan diri lepas kembali, mengikuti arus. Meniti kembali jalan yang sebenarnya ingin ditinggalkan.Kalau hanya mengandalkan diri sendiri, maka kesabaran kepada diri sendiri itu memanglah jalan yang berat. Tapi mengapa harus merasa sendirian, apabila masih ada Allah Subhaanahu wa Ta’ala yang lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Yang selama ini masih menahan murkaNya atas segala yang telah kita lakukan ?

Bersabarlah dengan diri sendiri dalam kasih sayang-Nya. Pada saat sesama manusia meragukan, Allah tidak pernah ragu pada kita. Karena, manusia telah diciptakan oleh-Nya dalam bentuk yang seindah – indahnya. Yang telah diperintahkan-Nya seisi alam ini untuk kehidupan manusia. Bersabarlah pada diri sendiri dalam mengikuti jalan-Nya, karena di depan sana ada Dia. Sebaik – baiknya tempat kembali.

 
Dalam perenunganku di perjalanan kemarin. Aku kembali dipahamkan oleh-Nya. Apa yang sebenarnya ingin dipahatkan Allah dalam hatiku, kesabaran dan keikhlasan. Pelajaran – pelajaran yang seperti kepingan puzzle, perlahan menyatu dan membentuk gambar yang jelas. Selama ini sering terasa berat untuk sabar dan ikhlas. karena masih berharap dari selain Dia. Masih belum yakin bahwa kesabaran dan keikhlasan akan membuka pintu ridha-Nya. Kalau Allah sudah ridha, apalagi yang aku butuhkan? Yap. tidak ada lagi yang perlu aku risaukan. Sekian.
 
 

(Zeest – 11 Ramadhan 1435 H – Selasa, 00.25 am – Konstalasi Orion)

Racauan Ramadhan #2

image
Malam Kamis tanpa gerimis, sedikit menyisakan hati yang teriris jika mengingat waktuku di dunia ini semakin menipis. Setiap malam otakku selalu terpikir tentang kematian. Semakin bertambah koleksi angka umurku, semakin nyata bayangan kematian dan kehidupan setelah mati. Malam ini pun aku kembali teringat, ada sebuah hukum yang berlaku di dunia, namun jarang dipahami manusia. yaitu bahwa di dunia ini segalanya fana. ‘Fana‘ berarti tidak sejati, dapat berubah-ubah, bersifat sementara, tidak kekal, datang dan pergi, berawal dan berakhir. Selain Allah Subhaanahu wa Ta’ala, sesungguhnya tiada sesuatu apapun di dunia ini yang abadi, yang bisa menjadi milik kita untuk selamanya. Kefanaan dunia adalah salah satu perangkap terhalus bagi manusia. Bermilyar umat manusia hidup ditengah kefanaan dunia, dan hampir semua orang terjebak di dalamnya. Aku adalah satu di antaranya.

Hukum kefanaan dunia begitu sulit untuk diinsafi, karena warna-warni yang ditawarkan dunia sungguh indah menggoda. Begitu indahnya, hingga kita tak sempat berpikir bahwa itu semua sesungguhnya fana. Setelah terjebak ke dalam lingkaran nafsu yang membelenggu dan pemuasan indera, semakin sulit untuk menyadari, apalagi untuk bangkit dan berpaling ke dalam diri.

Di tengah kehidupan, manusia sibuk dari pagi hingga malam, dari muda hingga tua. Mengejar dan terus mengejar, meraih dan terus meraih, hingga jiwa melekat dan terjerumus dalam samsara. Kita mengejar kekayaan harta benda, memoles dan menghalalkan segalanya agar jasad terlihat cantik, terobsesi dengan popularitas, kekuasaan dan segala kenikmatan, seakan di situlah kebahagiaan yang bisa dimiliki selamanya. Seumur hidup manusia letih mengejar sesuatu yang pada akhirnya harus dilepaskan. Di mata hati kecilku, inilah yang dinamakan kebodohan batin. Saat jiwa ini harus meninggalkan raga, saat tangan harus kembali hampa, yang tersisa kelak adalah jiwa yang penuh kemelekatan, yang tak mampu merelakan. Inilah penderitaan klise manusia.

Kata ayahku, orang suci akan memahami bahwa kehidupan di dunia bagaikan sebuah mimpi. Kala ajal tiba, saat itu manusia bagaikan terbangun dari mimpinya. Hidup sebagai orang kaya bukanlah kaya yang sesungguhnya, melainkan kisah mimpi singkat sebagai orang kaya, karena di saat mati kekayaan itu bukan lagi miliknya. Hidup sebagai orang berkuasa berarti tengah bermimpi sebagai orang yang berkuasa, dan saat mati nanti kita bukan lagi orang yang berkuasa. Hidup sebagai orang cantik hanyalah mimpi sebagai orang cantik, karena tiada cantik – buruk rupa ketika sang roh meninggalkan tubuh. Hidup sebagai orang populer adalah mimpi tentang popularitas. Namun setelah mati, popularitas jadi tak berarti. Setelah mati,yang tersisa adalah realitas roh yang sejati dan abadi, yang tidak mengenal kaya-miskin, cantik-jelek, kuasa-jelata, ataupun populer – hina. Semua dualisme itu hanya berlaku di dunia, tak hanya dualisme gelombang saja yang ada.

Yap. Realitas roh hanya mengenal tingkat kesadaran nurani: sadar cemerlang atau penuh dengan dosa dan kemelekatan. Dunia adalah fana. Puluhan tahun hidup di dunia bagaikan mimpi sekejap, karena itu aku tak rela membiarkan diriku terikat dan dipermainkan oleh mimpi. Kata ayah, orang Suci hidup di dunia namun tak membiarkan hatinya diikat oleh dunia. Tetapi manusia awam justru menganggap hidup ini bagaikan abadi. Setelah kaya, manusia melekat dengan kekayaan yang dianggapnya abadi. Orang yang terlalu mengagungkan kecantikan fisik, sedikit keriput di wajah saja baginya bagaikan bencana. Bagi manusia yang memiliki kuasa, ia tak rela saat harus melepaskan kekuasaannya. Seorang bintang yang populer suatu hari akan sulit menerima kenyataan bahwa tiada lagi orang yang mengelu-elukannya. Ah, aku masih berada pada fase ini. Masih sering muncul kekhawatiran untuk kehilangan semua itu kala waktuku di dunia telah berakhir

image
Begitulah realitas manusia yang belum bisa menginsafi hukum kefanaan dunia. Setelah mendapatkan, aku tak rela melepaskan. Padahal badan ini saja kelak harus kutinggalkan. Saat harus bangun dari mimpi, manusia tak menerima kenyataan bahwa segala yang dengan susah payah dikejarnya akan kembali pada kekosongan. Saat itu yang tersisa adalah jiwa yang penuh kemelekatan. Sungguh sebuah penderitaan. Sebenarnya tidak perlu menambah sesuatu apapun pada diri, nurani sendiri sesungguhnya adalah realitas yang kaya akan kebahagiaan. Asalkan jiwa bebas dari segala kemelekatan, dengan sendirinya jiwa damai dan bahagia. Namun dalam ribuan kehidupan, manusia terjebak dalam pengejaran aspek fisik/materi, semakin penuh kemelekatan dan lupa akan hukum kefanaan dunia. Dari sinilah penderitaan berawal. Aku juga tak bisa memungkiri bahwa selama kita hidup di dunia ini tak bisa terlepas dari segala hal yang berbau duniawi. Bagiku, konsep kefanaan dunia bukan mengajak untuk hidup ekstrim sebagai nihilis (menganggap segalanya kosong dan sia-sia) yang menolak berkarya, tidak bersosialisasi, anti teknologi, atau hidup mengucilkan diri. Menginsafi kefanaan bukan berarti tidak boleh memiliki sesuatu. Tetap hidup wajar di dunia, bahkan boleh berbahagia di dalamnya.

Penginsafan kefanaan dunia mengajak untuk hidup bersahabat dengan keadaan, iko. Hidup terus berubah, segala sesuatu datang dan pergi. Dengan jiwa yang bebas tuntutan, biarlah segalanya berjalan mengalir sesuai takdir. Sering aku merasa sangat lelah untuk memberontak dalam melawan arus takdiryang tak sesuai ingin nafsuku. Yap. Di kala pikiranku sedang waras sepenuhnya, aku menyadari. Ada kalanya hidup kita di atas, di bawah, lancar, berliku. Ada kalanya kita dipuji, dihina, kaya, miskin. Menginsafi kefanaan berarti belajar menerima kenyataan bahwa segalanya memang dapat berubah sewaktu-waktu, karena itu janganlah hati melekat pada sebuah kondisi tertentu. Hadapi segalanya dengan hati yang wajar, biasa, dan hening. Sedikit kemelekatan berbuah sedikit penderitaan, besar kemelekatan berbuah besar penderitaan. Bagi nafsu manusia umum, kekayaan adalah segala-galanya. Sebaliknya di mata seorang ekstrimis, kekayaan adalah sumber petaka yang menyesatkan. Bagi seorang nihilis, kekayaan tidak bermakna apa-apa, sedangkan di mata orang arif, kekayaan hanyalah sebuah skenario hidup. Kaya atau tidak, seorang yang arif tetap berbahagia dalam realitas nurani. Ia tidak mengeluh dan kehilangan kebahagiaan karena tidak memiliki harta. Namun jika memilikinya, hatinya juga tak terikat pada harta, melainkan memanfaatkannya untuk kebahagiaan sesama. Penginsafan kefanaan dunia membolehkan kita memanfaatkan materi, tapi bukan diperbudak materi. Tidak harus melepaskan, cukup jangan terikat di dalam hati. Letakan dunia cukup di genggaman tangan, bukan diri yang berada dalam genggaman dunia, begitu petuah mama padaku.

image
Lupakanlah, relakanlah… itu sudah berlalu… Saat barang yang aku sayangi hilang, atau seseorang yang aku sayangi jauh meninggalkanku, aku sulit merelakannya, sulit move on dan ikhlas. Mungkin karena aku sudah kepalang menjadikannya sebagai bagian dari diri, atau bahkan jadi belahan jiwa. Saat bertikai, disalahpahami, dikecewakan, dirugikan, aku juga sulit melupakannya. Sebagai manusia yang awam, tanpa kusadari mungkin aku terbiasa mencatat dan memperhitungkannya. Saat dipuji dan berprestasi, hatikj cenderung melekat pada momen tersebut. Lihatlah! Betapa selama ini diri hidup dalam ikatan hati. Hidup adalah mimpi panjang. Saat mati nanti, kehidupan akan memaksaku untuk menyadari kebenaran tersebut. Tapi kenyataan akan menjadi baik kalau sejak sekarang aku melatih kesadaran itu. Setelah satu hari berlalu, awalilah setiap hari yang baru dengan berkata,” Yang kemarin telah berlalu. Baik, buruk, benar, salah…. semua sudah berlalu bagaikan mimpi, karena itu tak usah melekat.” Beban kemelekatan adalah bagaikan bongkahan batu yang selalu kubawa ke mana-mana. Satu minggu mengingatnya, berarti satu minggu batu tersebut memberatkanku. Satu bulan aku mengingat-ingatnya, satu bulan pula aku diberatkannya. Seumur hidup aku memyimpan dendam, seumur hidup jiwaku berada dalam ikatan. Yasudalah yaa. Relakan, lepaskan, lupakan… dan jiwa pun menjadi leluasa untuk menghadapi kehidupan setelah mati. Semoga semua berakhir untuk memulai kehidupan yang abadi, tanpa penyesalan. Sekian.

Dunia fana ini seperti lolipop. Terasa manis dan warna warninya sangat menggoda. Silakan untuk mencicipi secukupnya, jangan sampai lupa bahwa lolipop bukan hidangan utama. Hanya sekedar cemilan untuk menunggu hidangan utama tiba pada waktunya di hadapan kita.

image
(Rabu. 5 Ramadhan 1435 H. Konstalasi Orion. Musafir Yang Fakir)

Racauan Ramadhan #1

Ketika senja berakhir hari itu, yang aku cari adalah segaris lengkung cahaya tipis di ufuk timur. Lebih tipis dari senyummu. Hilal, namanya. Berdiri condong seperti penampang samping layar perahu yang tengah gigih di tiup angin menuju tengah samudera. Adakah ia, telah menjadi pertanda awal putaran waktu? Sebuah titik tempat aku mulai berhitung dari angka satu pada bulan yang baru lahir.

Siapa pun yang melihatnya untuk pertama kali dan mengabarkannya, aku percaya pada tatapan matanya. Tiba saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal Sya’ban. Ibarat pengembara, aku telah sampai pada permulaan Ramadhan. Mungkin ada sebuah rumah yang tak kuketahui batas dindingnya, namun sebidang pintunya yang putih telah berada di depan langkahku.

Aku akan dan barangkali harus memasuki rumah itu. Begitu berat langkah diayunkan seolah punggung menanggung banyak beban perjalanan. Begitu letih sejarah yang kini terseret memanjang ke belakang. Sewaktu menengok ke arah barat, kelam sejarah sedang mengikuti. Ia bagai buku harian tebal yang menghimpun banyak gulungan awan hitam. Di dalamnya terdapat halaman penuh dengan coretan, cahaya kandil yang padam, suara cerca yang tak kunjung berhenti. Begitu gempitanya mereka mencoba menghapus pucuk-pucuk kearifan yang pernah ditanam pada padang luas yang kumiliki. Benarkah tak satu pun benih tumbuh mengejar matahari?

Setiap kali letih tersaruk pada jejak yang menyimpang, jauh ditelan rimba gelap, ada yang setia mengingatkan dan memanggil untuk kembali. Suara yang lebih terdengar oleh hati nurani itu kadang-kadang membuat gentar. Seperti menyadarkan aku dari peran-peran sandiwara yang telah dipertunjukkan. Sebagai siapa aku di panggung itu? Ada sejumlah pilihan yang pernah aku ambil untuk menempuh liku-liku jalan, saat rambu kian samar dan sebagian besar sengaja didustakan. Merasa berprestasi kala berhasil mengubah ukuran moral sesuai dengan tafsir sendiri.

Pintu itu masih tegak di depan langkah. Pintu yang mirip sampul buku. Keduanya, pintu maupun buku, menunggu dibuka. Ia tak pernah peduli siapa aku: pengembara dengan sejuta luka atau manusia yang merasa bersih dari noda. Ia hanya mengucapkan selamat datang dengan senyum tipis hilal, cahaya putih yang mengatasi warna langit. Tetapi aku yang pandir ini, kerap menjadi salah tingkah. Rasa malu menggelayuti hati.

Mungkinkah keangkuhan masih tersisa pada diri, ketika seharusnya seluruh jubah dilepaskan? Pakaian yang selama ini membuat kita merasa berbeda dengan yang lain. Selimut yang perlahan-lahan membuat kemanusiaanku imun terhadap setiap peristiwa kesengsaraan di muka bumi. Busana yang dalam sebuah dongeng tentang raja yang lupa diri, justru membuat  “telanjang” mempertontonkan aib.

Aku masih berdiri dan ragu melangkah, menanti isyarat yang membuat berani memasuki halaman di balik pintu itu. Memandang beribu orang bersujud syukur, lantaran diberi kesempatan bertemu kembali dengan sang pembagi rahmat. Memergoki orang-orang yang bersuka cita hendak meraih banyak hadiah sepanjang dua puluh lima hari ke depan. Menyaksikan air mata haru pada pipi-pipi ranum umat yang bagai menemukan oase di tengah gurun panjang perjalanannya. Lantas aku ini golongan yang mana yaa?

image

Sebuah tirai pembatas tempat kami mulai mengubah peran: dari yang palsu menjadi yang polos. Siapa pun yang menjadi sahabatk, menjelang dengan keindahan hati. Mengulurkan tangan untuk dijabat erat, demi mengurai seluruh jelaga. Runtuh kerak dendam, terlepas rahang murka, mencair bekuan prasangka buruk, terbatalkan niat jahat, tercuci setiap caci maki. Lalu, melepaskan rantai-rantai trauma masa lalu yang selama ini terseret langkah ke mana-mana, di antaranya ke yang tak ingin membayangkannya kembali.

Setiap bertemu dengan wajah orang lain, yang tersirat dan tersurat adalah senyum kebahagiaan. Senyum yang mengikis kesombongan perlahan-lahan. Senyum yang membuatku harus ziarah pada rasa kemanusiaan yang sudah lama terkuburkan. Bagaimana cara mewarisi nilai-nilai yang nyaris hilang itu? Kembali senyum itu berusaha mengumpulkan batu-batu yang terserak menjadi pondasi untuk kupijak kembali. Kekuatan yang disusun dengan cinta dan keikhlasan yang membuat malu untuk menafikan.

Pintu itulah yang tersenyum, ramah sebagai tuan rumah. Siapakah yang seharusnya mengucapkan selamat datang? Buku putih yang tiba di depan wajah kita atau kita yang ingin segera memeluknya dengan rindu? Siapakah tamu agung yang sebenarnya? Ramadhan dengan bulan sabit itu atau aku yang coreng-moreng oleh leluka perang kemanusiaan?

image

(Rabu, 4 Ramadhan 1435 H. Konstalasi Orion. Zind)

“Mati” Sebelum Mati

Malam Kamis semanis Teh yang nyaris dingin, meski tak semanis kismis 😀 Tetiba pikiran random saat menyunting beberapa tulisan, muncul. Tentang ceramah shubuh di tempat pengasingan kala Ramadhan. Untuk mencapai fase Baqa dan Liqo’, harus mencapai fase fana fillaah. Dan semua yang ada di dunia ini bersifat fana. Mengetahui dan memahami bahwa dunia ini fana sudah tentu banyak yang bisa, tapi menjalani hidup seolah dunia ini fana, kurasa itu lain perkara.

Bagaimana denganku?

Aku masih meniti di permulaan awal. Sebut saja aku mencari justifikasi, tapi kesadaran ini baru kujahit di dalam hati. Mungkin aku memakai baju kapitalisme atau liberalisme. Mungkin aku menenteng gadget canggih untuk eksistensi atau prestisi, tapi kau tak tahu bahwa aku tak terlalu peduli lagi akan perkembangan teknologi penghias diri. Mungkin aku berbicara segala hal, selayaknya masyarakat kini, tapi kau tak tahu bahwa hatiku tak lagi selera pada gemerlapnya dunia ini.

Sekarang aku selalu berusaha mengingatNya (meski masih sering lalai) dan banyak mempelajari agama (Islam)ku sebagai pengokoh cintaku padaNya. Mungkin arah otakku sudah tidak seperti anak seumuranku. Tak searah lagi denganmu, teman.

Sudahlah, aku hanya ingin berkata, dunia ini fana. Ya, tentunya kepada diriku sendiri. Kukatakan itu. Berulang-ulang.

Kuharap ketika pemahamanku sempurna, aku bisa menginginkan kematianku sendiri. Kematian yang kuinginkan seperti kalian menginginkan kehidupan.

Katakanlah:jika tempat kediaman akhirat di sisi Allah itu semata-mata untukmu, bukan untuk orang lain, maka cobalah kamu mengharap mati, sekiranya kamu orang benar. (QS. Al-Baqarah: 94)

“….Maka barangsiapa mengharap akan bertemu dengan Tuhannya, hendaklah ia beramal shaleh dan janganlah ia mempersekutukan siapa pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Image

Antal maut qoblal maut

(matilah kamu sebelum kamu mati)

———-

(elvi chan – 28082013 – 11.38 pm – Konstalasi Orion)