Hai Tuan Ahmad

 

Hasil gambar untuk gambar perempuan muslimah menulis

 

Hai Tuan Ahmad…

Bersamamu aku menjadi perempuan yang paling istimewa

Bersamamu aku merasa bersinar seperti bintang polaris

Bersamamu aku merasakan kedamaian yang menetap

Layaknya polaris yang damai menetap di Utara

aku bahagia tiada terkira

iya, aku bahagia karena menjadi alasanmu tersenyum

wpid-img_8908.jpg

 

Hai Tuan Ahmad…

kau selalu berkata aku yang terindah dari sudut pandangmu

bagiku kaulah alasan dari kesendirianku selama 24 tahun

seharusnya aku menuntutmu

telah membuatku menunggu selama itu

namun bahagia yang kurasa

membuatku lupa telah menunggu lama

Hasil gambar untuk gambar menunggu di taman

 

Hai Tuan Ahmad…

di mataku engkau bagai langit yang selalu menaungi hatiku

di hatiku engkau bagai pelangi yang menghiasi duniaku

bersamamu aku merasa bahagia yang sesungguhnya

sungguh, aku bahagia tiada terkira

langit

Hai Tuan Ahmad…

Kesehatanmu adalah kebahagiaanku
aku tak akan bisa tidur nyenyak jika hatimu merasa resah
dan ketika kamu marah duniaku terasa sempit dan susah
sayangnya duniaku tak pernah
Karena stok kesabaran di hatimu berlimpah
Hasil gambar untuk gambar suami istri muslim kartun
Hai Tuan Ahmad…
Kamu membantuku untuk menggapai surgaku
Dalam cintamu terdapat kecintaan Allah
Dalam ridhamu terdapat keridhaan Allah
Aku ingin hidup bersamamu hingga ke Syurga-Nya
Karena hadirmu adalah manifestasi cinta Allah kepadaku
Hasil gambar untuk gambar kartun cinta suami istri muslim
Hai Tuan Ahmad…
engkau sang mujahid nafkah halal penuh keberkahan
Tetap jadikan Alquran sebagai pedoman
Tetap ikuti Assunnah dan Alhadits sebagai panutan
Agar bahtera kita tak limbung kebingungan
Tetaplah setia kepada Tuhan
Di jalan Kebenaran
Sekian.
Hasil gambar untuk gambar kartun alquran
_______________________________
(Kisytinuh. Selasa. 14032018. Konstalasi Orion. 01.30 am)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Jangan) Cintai Aku Apa Adanya

Hai Senin! Lama tak mendarat di Kisytinuh. Pasca nikah, sibuk sana sini. Dan rasanya malas banget pegang lapito untuk menulis. Tapi suamiku punya trik yang akhirnya mampu membuatku semangat menulis lagi. 3 hari terakhir, dia mengirimkan lagi kalimat-kalimat sederhana yang jauh dari romantis dan gombalan, tapi mampu memicu hormon endorphin dalam tubuhku saat membaca email-email darinya.  oke, itu saja muqaddimahnya. To the point yaa.

Waktu sebelum menikah, aku masih bingung dengan lagunya Tulus – Jangan Cintai Aku Apa Adanya. Anti-Mainstream banget. Di saat semua orang nyaris berpikir Cintailah apa adanya, Tulus malah bilang Jangan Cintai Aku Apa Adanya. Aku sempat berpikir, adakah lelaki yang berpikir seperti lagunya Tulus? Ah, mungkin saja itu hanya ada di lagu. di kehidupan nyata? Aku ragu. Jika memang ada, sungguh seru. Betapa aku akan sangat bersyukur jika salah satunya bisa menjadi suamiku.

Sering aku mendengar dari beberapa lelaki yang mengeluhkan bahwa banyak perempuan yang matre, banyak mau-nya, menuntut ini dan itu. Banyak juga teman-temanku yang lelaki, bercerita bahwa salah satu kriteria calon istri mereka adalah seorang perempuan yang seiman dan mampu mencintai dan menerima dia apa adanya. Pernyataan tersebut lambat laun menjadi sebuah mindset. Tetiba, munculah lagunya Tulus:

Tak sulit mendapatkan mu
Karena sejak lama kau pun mengincarku

Tak perlu lama-lama
Tak perlu banyak tenaga
Ini terasa mudah

Kau trima semua kurangku
Kau tak pernah marah bila ku salah
Engkau selalu memuji apapun hasil tanganku
Yang tidak jarang payah

Reff:
Jangan cintai aku
Apa adanya
Jangan

Tuntutlah sesuatu
Biar kita jalan
ke depan

Kau terima semua kurangku
Kau tak pernah marah bila ku salah
Engkau selalu memuji apapun hasil tanganku
Yang tidak jarang payah

Reff:
Jangan cintai aku
Apa adanya
Jangan

Tuntutlah sesuatu
Biar kita jalan
ke depan

Aku ingin lama jadi petamu
aku ingin jadi jagoan mu

Reff: 2x
Jangan cintai aku
Apa adanya
Jangan

Tuntutlah sesuatu
Biar kita jalan
ke depan

Saat aku melihat liriknya, aku jadi merubah mindsetku. Apalagi dengan kalimat ini Jangan cintai aku/ Apa adanya/ Jangan// Tuntutlah sesuatu/ Biar kita jalan/ ke depan//. Betapa kalimat ini memiliki makna yang dalam. Bagiku, kalimat ini menunjukan sepasang suami-istri jangan hanya mencintai apa adanya. Bukan hanya menuntut secara materi, tetapi lebih dari itu. Jika kita hanya mencintai pasangan kita apa adanya, lantas kapan kita mau berubah menjadi lebih baik? Sedangkan kita meminta pasangan kita agar puas dengan diri kita yang apa adanya saja. Tidak ada proses belajar. Bukankah pernikahan itu adalah awal dari sebuah proses? Ada kedinamisan di dalamnya. Jika apa adanya, terkesan monoton.
Aku sempat mengkhayal, andai ada lelaki yang mengatakan itu kepadaku: Jangan cintai aku apa adanya, iko. Tuntutlah sesuatu, biar kita jalan ke depan. Bahagia banget rasanya. Di sisi lain, aku menerima apa adanya jodoh kelak adalah seorang manusia berjenis Lelaki. Manusia yang jauh dari kata sempurna. Namun ketidaksempurnaannya bukan berarti membuat lelaki dan diriku berhenti belajar dan berproses untuk memberikan yang terbaik untuk masa depan pasangan.
Aku juga sempat berpikir bahwa lelaki yang mampu berpikir sama seperti lagu tulus adalah lelaki yang gentle-man. Lelaki pekerja keras dan bertanggung jawab, mau mengusahakan sesuatu untuk kelangsungan hidup masa depan pasangannya. Baik berproses menjadi imam yang shaleh dan taat, menjadi pasangan yang bisa memahami apa yang dibutuhkan istrinya, berusaha menjadi tempat ternyaman dan teraman bagi keluarga kecilnya, dan tentu saja tidak akan membuat keluarganya kelaparan, sekalipun keringat deras mengalir karena harus banting tulang.
Itu pemahamanku tentang lagunya Tulus. Dan aku tak pernah menduga sedikit pun, Tuhan membuat nyata lelaki yang ada di lagunya Tulus. Tuhan menganugerahkan kepadaku lelaki yang memiliki pola pikir seperti lagu itu. Betapa bahagianya aku, apa yang kupikirkan telah menyata kini. Lelaki itu kini menjadi suami.
Aku masih teringat perkataannya sewaktu jalan-jalan di tepi pantai bersamanya. Dia mengatakan senada dengan lagunya Tulus, saat aku katakan bahwa aku mencintai apa adanya dia. Dia menjelaskan bahwa dia penuh dengan kekurangan dan kelemahan, makanya dia menikah agar berproses menjadi seorang lelaki yang lebih baik, tugasku sebagai istri yang mengingatkan dia agar berubah. Dan jangan hanya mencintai dia apa adanya sekarang. Sebab, hanya akan membuatnya malas untuk berubah menjadi suami yang lebih baik.
Sepoi angin pantai sore  itu, menyampaikan gelombang dari pita suaranya ke gendang telingaku.
“Dampingi selalu akang untuk berproses menjadi suami yang lebih baik untuk iko. ingatkan akang dan tuntutlah akang, jika akang mulai apa adanya.”
oh Tuhan, dia memang bukan seorang pangeran berkuda putih yang memiliki istana megah. tapi dia mampu menjadikanku ratu setiap harinya. Airmata haruku selalu menetes setiap mengingat momen itu. Sejak saat itu, setiap kali lihat video klipnya Tulus, aku selalu menangis haru sampai sesenggukan, karena nikmat Tuhan yang tak mampu kudustakan.
Betapa Allah Ta’ala sangat mendengarkan apa yang dibutuhkan hamba-hamba-Nya. Rasanya, seribu Alhamdulillah tak mampu mewakili rasa syukurku. Penantianku selama 23 tahun, doaku sejak usiaku 9 tahun, tak pernah sia-sia. Allah tidak tidur, kawan. Sekian.

Jangan Cintai Aku Apa Adanya – Tulus

(Konstalasi Orion – 05102015 – Senin – 07.15 am)

penantian akad

Ditahanlah cinta di hati, menanti waktu yang mesti pasti. Karena setelah waktu itu tiba, maka semuanya akan diungkap tanpa hijab.

Sang perempuan menuliskan bait-bait cinta di lapito usangnya, sebuah catatan harian tentang cinta yang tertahan. Cinta yang akan ditumbuhkan seiring keikhlaskan,  cinta yang akan diwajarkan, agar tetap bermuara pada penghambaan terhadap Tuhan.

Begitu pun juga, setiap hari menulis rangkaian kalimat cinta yang tak terkikis. Disimpan di draft yang kelak akan dipublish pada saat akad nikah, ialah tulisan yang sedang dibaca ini. Tinggal menanti saat yang telah Tuhan ridhai. Saat dimana kelak tak hanya hatinya yang bertaut, tapi juga tangannya bisa memeluk erat tanpa takut.

Sang lelaki tersenyum diujung malam, menanti saat pagi yang akan menghampiri dan membuatnya tenggelam bersama janji sucinya di hadapan Tuhan. Tenggelam dalam kebahagiaan pernikahan.

Sang perempuan sulit terpejam hingga lewat pertengahan malam. Jantungnya berdegup kencang mengeja kerinduan. Kerinduan saat akad itu dengan indah terlafalkan. Dan semuanya terhalalkan.

Lelaki dan perempuan, menjadi benar-benar romantis saat ijab qabul terbacakan. Dan kini mereka bertugas tuk membuktikan, bahwa cinta bukan sekedar menggairahkan, tapi juga memadukan segala kelebihan dan kekurangan, agar menjadi kekuatan yang terpadukan, tuk mampu bersinergi, agar tetap berada di jalan yang Tuhan ridhai.

Oh indahnya.
image

(Foto pasca akad nikah, 19 Juli 2015 Minggu)

(Konstalasi Orion – 17 Juli 2015 – 1.11 am – 2 hari lagi menuju pernikahan)

Untuk Calon Nahkoda

Wahai Engkau yang kelak akan ku panggil suamiku, tahukah kau tentangku yang kelak akan kau panggil isteriku. Aku bukanlah orang yang sempurna begitu banyak kekurangan yang aku miliki, entah berapa banyak.

Aku orang yang malas, aku orang yang ceroboh, aku orang yang mudah berubah perasaan secara tiba-tiba, jadi jangan heran jika aku yang semula tertawa gembira tiba-tiba berurai air mata. Calon suamiku, bersabarlah denganku ketika aku mulai keraskepala dan egois, suka menang sendiri. jangan lupa senantiasa bimbinglah aku.

Dengan wajah merona aku menulis sebuat surat sederhana ini, seperti apapun dia tetap mempunyai ketampanan hati yang luar biasa, yang teguh , yang istiqomah, yang tawadhu’ yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, yang mencintai kedua orang tuanya, yang menyayangi saudara seiman, dan juga merindukanku.

Sunguh…

Aku masih di balut rasa malu, namun engkau harus tau, engkau harus mengerti bagaimana perasaanku. Dan surat ini hanya untumu, Ahmad, untukmu yang (Semoga selalu) mewakafkan dirimu sepenuhnya di jalan Allah.

Duhai.. pemilik tulang rusukku..

Aku tidak mencari seorang pendamping yang sempurna. Sebagaimana pun diriku, tak luput dari cela. Di dunia ini, tak ada satupun manusia yang sempurna, yang ada hanyalah manusia yang selalu berusaha memperbaiki diri dan meningkatkan kapasitas diri secara terus menerus, hingga tiba saat terlepasnya ruh dari jasad.

Kelebihan dan Kekurangan itu ibarat koin yang selalu berdampingan. Itulah mengapa Allah menitipkan kekurangan di setiap kelebihan. Agar nanti dengan kelebihanmu, engkaulah yang menutupi segala kekuranganku. Begitupun sebaliknya.

Aqidah, Kesholehanmu, akhlaqul kharimah yang ada di dalam dirimu, yang menjadi alasanku menerimamu mendampingi hidupku kelak. Dengan begitu, akan mengingatkanku untuk selalu ta’at pada Allah, juga selalu berbakti padamu.

Membangun keluarga beraroma surga, yang berlandaskan tauhid, bermanhaj ahlus sunnah dengan pemahaman shohabah, dan saling mencintai karena Allah..

Duhai Calon suamiku..

Taukah engkau… Hari-hariku Merayap Lambat, kadamg terasa cepat. Ketika aku hanya bisa bersabar menantimu hingga ikrar suci terlafadzkan, yang menghalalkan kedua insan. Saling menjaga proses ini agar tetap syar’i tak ternoda.

Oleh karena itu, Aku sangat berterima kasih padamu dengan segenap kemampuanmu, menjaga proses ini agar jauh dari fitnah, dan memperhatikan adab-adabnya hingga prinsip yang kujaga bertahun-tahun pun tak rusak.

Duhai calon suamiku…

Aku menyadari pernikahan bukanlah suatu hal yang dipenuhi dengan kegembiraan dan kesenangan semata. kelak akan ada masa dimana keimanan diuji, masalah datang kian menghampiri. Itulah pahit manis rumah tangga. mungkin tanpanya kita tak akan dewasa..

Kelak… saat masa itu datang, semoga kita saling menggenggam tangan untuk menghadapinya bersama dengan berharap pertolongan Allah semata.

Sejak kau mengkhitbahku, Ahmad. Mulai kupersiapkan bekal ilmu untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersamamu kelak. Sedikit demi sedikit mulai kutepis egoku, agar kelak aku menjadi seorang istri yang mampu mengalah dan mampu meredam emosimu di saat kau dilanda amarah. Aku ingin menjadi satu-satunya istri terbaik untukmu. maka dengan mengharap ridha Allah, bimbinglah aku menjadi lebih baik lagi dan lebih dewasa.

Calon suamiku..

Jika suatu saat nanti aku menjengkelkanmu, tegurlah aku dengan kasih sayangmu. Redamlah amarahmu, karena aku adalah tulang rusukmu dengan bentuk yang sudah bengkok. dan bila diluruskan akan semakin patah.

Calon suamiku…

Jika kau pun merindukanku, tetaplah bersabar dalam keta’atan pada Allah. Tetaplah mengokohkan aqidah, tegarlah dalam menegakkan sunnah. Tetaplah istiqomah dalam berakhlaqul kharimah. Karena, Aku pun disini menantimu dengan segenap doa dan kesabaranku. Hingga Takdir Allah mempertemukan kita dalam ikatan yang diridhai-Nya.

Kelak jika tiba saat Allah mempertemukan kita, hari itu adalah hari terindah yang pernah ada dalam hidupku. Hari di saat doa yang kupanjatkan sejak usiaku 9 tahun pun terkabul.

Mencari Sang Pencari

Pengalaman hidup membentuk seseorang. Baik itu cara pandang, bentuk kasih sayang, bentuk kepedulian, kemarahan, sikap, cara berkata dan memilih kata. Semua terbentuk bukan tanpa sebab.

6230_484782524879466_2050083895_n

Setiap orang lahir dalam kondisi yang berbeda-beda. Ada yang sebagai anak sulung, anak tengah, anak bungsu, anak tunggal. Ada yang memiliki orang tua sejak kecil dan merasakan kasih sayang. Ada yang memiliki orang tua namun tidak pernah mendapat kasih sayang. Ada yang tidak memilikinya sehingga tidak pernah merasakan apa itu kasih sayang.

Ada yang lahir dengan paras rupawan, ada yang tidak. Ada yang dicaci sejak kecil sebab fisik yang tidak sempurna. Ada yang terus dipuja-puja. Seolah-olah tiada cacat tiada cela.

Ada yang memiliki keluarga harmonis. Lengkap tiada kurang. Harta selalu berlebih. Ada pula yang tidak memiliki semua itu. Untuk makan sehari pun perlu mengais seluruh tong sampah untuk diganti rupiah. Baru rupiah diganti dengan sebungkus nasi.

Ada yang masa lalunya bersih-suci-lurus-tertuntun. Ada pula yang masa lalunya hancur berantakan, sebab susila yang tidak terjaga. Hancurnya keluarga. Ketiadaan perhatian. Atau sebab apapun yang menjadikan masa kecil dan masa lalunya tidak seindah orang lain. Yang membekas dan membayang kehidupannya hingga saat ini.

Ada yang dididik beragama. Ada pula yang tidak. Sehingga mereka baru melakukan pencarian dengan pertanyaan-pertanyaan kritis diusia dewasa. Ketika orang lain mungkin sudah tidak bertanya lagi mengapa beragama.

Dalam pencarian itu, ada yang menemukan ada pula yang tidak. Ada yang membuat pilihan ada yang membiarkan dirinya mengalir.

Dan aku, aku adalah orang yang selalu kagum dengan orang yang melakukan pencarian. Pencarian tentang hidup mereka yang sesungguhnya. Pertanyaan-pertanyaan hidup yang kritis, pemahaman hidup yang sangat jauh dari kata dangkal. Cara mereka memilih sikap dan memilih resiko.

Dan aku, aku selalu kagum dengan orang yang melakukan pencarian siapa Tuhannya. Bertanya-tanya mengapa manusia saat ini membuat banyak Tuhan. Sementara mereka adalah manusia yang sama. Akan sangat aneh jika Tuhan ada lebih dari satu dan menciptakan manusia di satu bumi yang sama.

Dan aku selalu kagum dengan orang yang melakukan pencarian tentang kehidupannya. Kehidupan seperti apakah yang sejati. Sebab hidup bukan spekulasi. Seseorang tidak akan tahu kematiannya dan apa yang terjadi setelahnya. Jika setiap tuntunan menjanjikan surga. Maka, sekali lagi hidup bukan spekulasi. Perlu ada pilihan yang diyakini dan konsekuensi yang diambil.

Orang yang mencari apa tujuan hidupnya. Mengapa dia diciptakan dalam kondisi yang seperti itu. Kondisi yang mungkin orang lain sama sekali tidak akan pernah merasakannya. Kondisi yang menempatkannya pada barisan orang-orang yang mencari. Orang-orang yang bertanya-tanya. Orang-orang yang pada akhirnya akan menemukan.

Orang-orang yang memilih karena mencari-memahami-menyadari-lantas mengakui. Tidak sekedar menerima saja keyakinan warisan nenek moyang. Orang-orang yang memilih karena paham apa yang menjadi pilihannya. Tidak sekedar doktrin orang-orang yang dianggap alim dan suci.

Orang-orang yang paham betul bahwa tuntunan tidak selalu tercermin pada penganut. Ketika orang-orang saling membunuh dan berbantah dengan alasan membela Tuhan. Ketika orang menjadikan tuntunannya sebagai benteng dari kesalahannya. Ketika orang membenarkan tindakannya dengan dalih ayat suci. Dia tidak terpengaruh oleh mereka. Sebab tuntunan yang benar akan tetap benar. Hawa nafsu pengikutnyalah yang merusak.

Ketika banyak pengikut yang lebih memilih untuk menyesuikan tuntunan itu kepada cara hidup yang disukainya. Orang-orang yang mencari dan menemukan, ketika menemukan dia memilih untuk menyesuikan cara hidupnya kepada tuntunan yang telah dia pilih. Meski dia harus meninggalkan cara hidupnya yang lama. Sangat berbeda bukan?

Aku selalu kagum dengan orang yang melakukan pencarian. Pencarian yang sangat berisiko. Tidak semua orang mau melakukannya dan lebih merasa aman menerima saja. Maka aku bersyukur, ketika aku menemukan orang-orang yang mencari. Sebab, aku ternyata tidak sendirian.

Semoga pencarian ini menuntun jalannya. Setiap langkah menuju-Nya maka Dia akan mendekat lebih dekat. Dan Dia lah yang akan menuntun langkah kaki. Sejauh, kita percaya bahwa kita menuju Dia yang hanya satu. Dia yang menciptakan langit dan bumi. Dia yang menciptakan manusia.

images (8)

———-

(Kugy – 20012014 – Konstalasi Orion – Musim Hujan di Tamkot Kala Petang)