‘Sindrom Kertas Kosong’

Hampir satu hahun aku mandeg ide
Tiada yang bisa kutulis
Bukan, bukan karena tiada kegelisahan
Hanya saja semua kata membeku
Sekonyong-konyong aku seperti terserang sindrom
Sindrom kertas kosong, kusebut begitu
Dengan simtom berbentuk rasa grogi
Grogi jika bertatap wajah dengan kertas kosong
Semua persediaan kata seolah lenyap dari nuerotransmitter
Seperti gajah yang kehilangan gading
Layaknya Harimau yang copot taringnya
Bahkan untuk menulis sebait puisi
Sebait puisi yang penuh arti
Puisi yang datang dari hati
Ah… aku tak kuasa

Hai Nyonya!
Bukankah sekarang kau telah menulis di blogmu
Dan sudah ada keberanian untuk mengunggahnya
Kata demi kata mulai mencair
Benar yang perempuan itu katakan padamu, Nyonya!
Tulislah, tulis apa saja
Sekalipun hanya sekedar bercerita tentang ke-mandeg-an
Meskipun tulisanmu tak bermakna
Teruslah gali kata – kata yang membeku
Kata-kata yang tersimpan di dalam amigdala pun butuh peregangan
Semakin dalam kata yang kau gali
Akan kau temukan kembali kata-katamu yang kaya arti
Teruslah menulis, Nyonya!
Agar kau tak ditelan sejarah

image

(Konstalasi Orion . Kamis, 16 November 2017. 11.15 pm)

Advertisements

Hikmah Di Balik 25 Minutes 

Alkisah, sepasang kekasih berpisah karena pihak laki-laki menghianati pihak perempuan, dengan melibatkan perempuan lain di dalamnya (klise banget ya?).  Sebenarnya, mereka masih saling cinta. Hanya saja, ego laki-laki yang ingin memiliki banyak wanita, dan ego wanita yang tak ingin berbagi cinta. Mereka pun terpisah lama, dengan memendam rasa yang sama. Bertualang sendiri-sendiri, berteman kenangan dan sepi. Hingga akhirnya, sang wanita menemukan tambatan hatinya, seseorang yang mampu menyembuhkan lukanya. Cintanya 

masih ada, tapi ia tepis demi masa depan hidup dan hatinya. seseorang, yang ia tahu, tak kan membagi cintanya dengan siapapun. Sedangkan sang lelaki, merenung setiap hari, menyadari bahwa hatinya masih menghangat setiap kali memikirkan wanita itu.

After some time I’ve finally made up my mind

She is the girl and I really want to make her mine

I’m searching everywhere to find her again

To tell her I love her

And I’m sorry ’bout the things I’ve done

Tuhan, sudah sekian lama, dan hatiku masih hangat tiap kali mengingat tentang dirinya. Dialah seseorang itu, seseorang yang selama ini kucari, namun kusiakan saat telah kumiliki. Kini ia menghilang, aku tak tahu ia tinggal di mana, nomor telpon pun berganti. Teman-temannya, seolah melindungi, tak mau memberiku informasi. Biarlah. Kucari ia ke seluruh pelosok negeri, ke tempat-tempat yang mungkin ia kunjungi. Kuubek-ubek jejaring social, tak ada dirinya, tak ada tanda-tandanya. Aku ingin memilikinya lagi. Dialah perempuan terbaik untukku. Pemilik kecupan terindah di hatiku. Seseorang yang mampu mengerti aku tanpa harus kujelaskan. Aku ingin menemukannya, aku ingin mengatakan padanya bahwa aku masih mencintainya, dan akan kusampaikan padanya, betapa aku menyesal pernah melukainya. Dia tak ada di mana-mana. Aku hanya bisa mengadu padaMu, Tuhan, karenanya kukunjungi rumahMu, dan kutemukan ia di sana.

I find her standing in front of the church

The only place in town where I didn’t search

She looks so happy in her wedding dress

But she’s crying while she’s saying this
Aku  melihatnya berdiri di depan rumahMu, tempat yang tak pernah kudekati selama ini. Mataku hampir-hampir tak mengenalinya. Dia cantik luar biasa. Gaun putih panjang berenda, rambutnya tersanggul rapi, berhias mahkota bunga putih yang mungil. Make upnya sederhana, lehernya yang jenjang hanya berhias mutiara. Ia cantik, sungguh cantik. Dan ia, kelihatan bahagia. Perutku seperti ditonjok melihatnya. Ia, sedang melemparkan bunga pada para undangan, berkaca-kaca waktu melihatku diantara mereka. Ia menghampiriku, menangis, dan dengan menyesal berkata, bahwa ia sudah dimiliki orang lain.

Chorus:

Boy I missed your kisses all the time but this is

Twenty five minutes too late

Though you travelled so far boy I’m sorry you are

Twenty five minutes too late

Ia bilang, andai aku datang dua puluh lima menit lebih awal, aku mungkin masih bisa menyelamatkan suasana. Tapi tidak, katanya. Ia sudah memilih jalan ini. Ia sudah memutuskan untuk menikah. Ia tahu kalau aku masih mencintainya, dan ia masih mencintaiku. Ia bilang, aku juga lelaki terbaik dalam hidupya, yang member kecupan terindah di hatinya. Terlambat dua puluh lima menit, dan dia sudah ada yang punya.

Against the wind I’m going home again

Wishing be back to the time

when we were more than friends

Still I see her in front of the church

The only place in town where I didn’t search

She looks so happy in her wedding dress

But she’s cried while she’s saying this

Aku lesu. Ingin memaki tapi tak mampu. Harusnya saat mencari, sudah kupikirkan kemungkinan ini. Tapi hatiku menolak, karena yakin ia akan mengerti dan kembali padaku. Kuputuskan untuk pulang meski ia mengundangku untuk berpesta. Air mataku berderai saat berkendara kembali, tersapu angin, mongering, menyisakan rasa dingin di pipi. Kukenang kembali kebersamaan kita, dan aku ingin mengulang masa-masa itu, saat kita berkencan dan mesra. Tapi, sekarang ia sudah ada yang punya. Ia tampak bahagia, meski menangis saat berkata, bahwa cintanya untukku masih ada.

Out in the streets

Places where hungry hearts have nothing to eat

Inside my head

Still I can hear the words she said

I can still hear what she said

Di jalanan ini, terus terngiang kata-katanya, andai aku datang 25 menit lebih awal, aku bisa memperbaiki suasana, membatalkan segalanya. Tuhan, iiinkan aku memutar kembali waktu, saat ia mengucapkan ikrar sehidup semati dengan lelaki itu, dan kan kuseret ia keluar, kuhujani  dengan kecupan, hingga ia bersedia kembali padaku, karena aku tahu, kami masih memiliki rasa yang sama.

Copas from http://arti-lirik-lagu.blogspot.co.id/2014/02/25-minutes-michael-learns-to-rock.html

Rabu ini suhu tubuhku 39ºC. Mengendap lagi di kamar ditemani lagu favoritku dari MLTR yang berjudul 25 minutes. Aku suka liriknya. Penuh makna dan pembelajaran dalam sebuah hubungan. Makna lagu tersebut kurang lebih seperti yang aku kutip di atas. Boleh copas dari blog orang lain, sebab aku malas ketik di tablet. Aku mau fokus menulis pembelajaran yang bisa diambil dari lagu tersebut. Aku buatnya dalam poin-poin aja yaa. Lagi tak sanggup berpikir banyak dan capek juga mengetik.hyahaha. Baiklah, berikut ini hikmah yang bisa kita pelajari dari lagu ini:

PEREMPUAN

  1. Jangan membuang waktu untuk seseorang yang tidak memberimu kepastian
  2. ‘Lelaki yang memberikan kepastian’ lebih berarti daripada ‘lelaki yang hanya melambungkan perasaan kemudian menjatuhkannya ‘
  3. Jagalah dirimu baik-baik. Sebab pacaran sebelum pernikahan hanya akan melukaimu
  4. Cinta yang muncul sebelum pernikahan hanya perasaan semu yang akan hilang, cinta sejati hanya ada setelah pernikahan
  5. Jangan menerima pinangan yang lain jika kamu telah dikhitbah oleh seorang lelaki.
  6. Jangan pacaran, biar gak ada mantan. Meminimalkan kenangan. Biar hatimu seutuhnya bisa diberikan untuk suamimu
  7. Sabar dalam penantian jodoh yang tepat. Sekali gagal, move on. Life must go on, sistah.
  8. Cinta akan tumbuh karena terbiasa, setelah menikah perasaanmu akan semakin berkembang untuk suami yang baru dikenal.

PRIA

  1. Tundukan ego dan nafsumu yang akan mebuat dirimu menyesal di akhir. Sebab kalau di awal namanya bukan penyesalan, tapi pendaftaran 😀
  2. Jika telah menemukan sosok perempuan yang mampu memahamimu dan kau mencintainya, rawatlah dia dalam sebuah ikatan yang lebih kuat: pernikahan.  Datangi orangtuanya.
  3. Cari kabar secepatnya. Jangan membuat dia menunggumu. Karena dia butuh kepastian. Jangan hanya berdiam diri dalam penyesalan.
  4. Jangan ragu untuk meminta maaf atas kekhilafan dan kelemahan diri 
  5. Jika semua usaha telah dilakukan, dekatkan diri pada Tuhan. 
  6. Harus Rajin ke masjid atau tempat ibadah tepat waktu. Bisa jadi ketemu dia di sana
  7. Jangan ganggu calon istri orang yang dulu mantanmu. 
  8. Kalau dia sudah menikah, jangan ganggu hidupnya. Biarkan dia bahagia.
  9. Ikhlaskan semuanya. Makanya jangan pacaran sebelum menikah. Kan gak enak punya mantan. Gimana coba kalau mantanmu bakal jadi besanmu di masa depan? Sedangkan kamu masih menyimpan kenangan bersamanya? Kikuk loh.
  10. Ayok move on! Berarti dia tidak cocok untukmu, ada perempuan lain di luar sana yang ditakdirkan Tuhan untuk menjadi jodohmu. Agar bisa saling memberi kebaikan dan keberkahan.
  11. Jika sudah bertemu jodohmu, jaga hatinya seperti kamu menjaga barang antik yang langka dan mahal.
  12. Dan ingat, fitnah wanita itu sangat berbahaya. Makanya, sibukan dirimu dalam kegiatan keagamaan. Bisa jadi jodohmu menunggumu di sana. Jangan sampai terlambat 25 menit lagi yaa~I

Sekian

(Konstalasi Orion – Rabu 16 nov 2016 | 15 safar – 08.00 am)

Ruang Kosong Antara Kita

Ada
lelaki yang secara tidak wajar berteman dengan perempuan
lalu masih kemudian jatuh cinta pada perempuan lainnya

Ada
perempuan yang dekat dengan lelaki terlampau jauh
lalu kodratnya tidak pernah bisa menganggap pertemanan itu wajar

Ada
lelaki yang tak tahu diri
Ada
perempuan yang lelah karena hati

 

Kau benar, ini berlalu secepat waktu. Secepat Rembulan yang sudah terbit sore ini selepas Ashar, tanpa harus menanti Lazuardi menjadi pekat.  Baru saja sesaat lalu aku hanya mengenal namamu. Baru saja aku mengukir apriori tentangmu kala itu.

6 bulan akan segera berlalu. Masih kuingat diriku yang begitu takut akan kenyataan. Selama ini selalu berdiam di zona phobia. Tetiba keadaan memaksa harus keluar dari sana.

Tapi keadaan ini pun yang memaksaku melihat segalanya dari dekat. Perlahan dihapuskanlah apriori yang pernah menguasai hati. Kali ini, aku mengenalmu. Bukan hanya tau nama, tapi aku pun bisa bertanya kau kini ada di mana.

Mereka mungkin benar. Jalani saja semua ini dengan sabar. Tapi aku tidak ingin menjalaninya tanpa nurani. Aku mau setiap detik hidupku berarti. Ini bukan ambisi, obsesi, ataupun halusinasi. Tidak ingatkah itu tugas kita dari Illahi? Beribadah sampai mati?

Semoga kita selalu diberi-Nya kekuatan menjaga iffah masing-masing. Karena pada setiap langkah, kita selalu menyebutnya atas nama Allah Ta’ala. Allah tidak hanya di sisiku, tak pula di sisimu. Tapi di antara kita.

Lantas…

Kau bertanya tentang ruang kosong yang selalu tercipta di setiap obrolan. Aku hanya diam dan tertawa getir. Anggap saja itu jawabanku. Tapi kau sempat bertanya lagi, (si)apa yang kutunggu agar ruang kosong itu terisi(?) Aku terdiam dan  lagi-lagi tertawa datar. kau terus menerus bertanya hal yang sama, dan aku berkali-kali menjawab dengan tawa datar dan getir, atau bahkan mengalihkannya.

Kau bertanya lagi, apakah aku sengaja mengosongkan ruang itu. Aku diam dan memandang langit biru dari jendela kamar. Ah, indah sekali bukan jika sore nanti kau melihatnya? Tapi itu jika dan hanya jika. Jika nanti di siang hari aku mati, sore dan lembayung Senja yang aku idamkan tak akan lagi kulihat.

Kau juga  menanyakan hal serupa di kala malam. Lalu, aku menjawab sambil menghitung bintang-bintang. Banyak sekali, bukan? Apa kau bisa pastikan aku menghitung seluruh bintang? Ataukah ada satu bintang yang barangkali tak terlihat?

Kau bertanya, apakah aku baik-baik saja setelah ruang kosong itu tercipta? Lalu aku diam sedetik, berpikir bagaimana menjawabnya. Sedetik kemudian aku bicara soal seseorang yang menangis karena barang kesayangannya hilang, tapi hilangnya besok. Orang itu menangis sambil memegang barang yang katanya akan hilang, besok.

Kau lagi-lagi bertanya, apakah aku baik-baik saja jika kau yang mengisi ruang itu. Lalu aku tertawa. Aku bilang, aku akan mengendapkan jawabannya. Kau bahkan tidak tahu apa fungsi dari ruang kosong yang selalu kau tanyakan itu. Bagaimana jika ruang itu berisi barang bekas yang siap dibuang?

 

—————-

(ZG – Konstalasi Orion, 16.01 WIB. Selasa, 6 Ramadhan 1434 H)

Tuan Pengembara, Tidak Kah Engkau Lelah?

Hey Kamis yang masih masih terasa manis. meski tak semanis kismis 😀 ini hari kelima aku berada di angka kembar. Tak ada yang berbeda dariku. nothing special lah. Hanya mereka yang di sekitarku saja yang berubah dalam merespon atau memperlakukan diriku. baiklah. Tak terlalu kuambil pusing. Agenda Juni akhir pun semakin padat merayap. Namun, terkadang di sela agenda padat, selalu saja terlintas pikiran random. Salah satunya obrolan santai nan serius dengan mama beberapa hari yang lalu.

 

Apa yang mama bicarakan sabtu malam itu, obrolan antara perempuan dengan perempuan. Terasa asing sekaligus terasa sangat benar sih. Aku hidup di tengah-tengah keluarga perempuan. Saudariku perempuan. Di rumah ini pun, ayahku adalah laki-laki satu-satunya di tengah-tengah 3 orang perempuan, aku-mama-adikku.

 

Setiap mama atau ayah, atau siapa pun hendak berbicara ke arah serius sebagai manusia dewasa, timbul rasa canggung. Kata mereka, responku terlihat dingin. Sesungguhnya, aku tak tau harus berekspresi seperti apa. Apalagi jika sudah menyangkut pasangan hidup. Hingga detik ini masih saja berada di zona terheran-heran telah berada di fase ini.

 

Ibarat buah, akan tiba saatnya dia masak.Dimakan binatang malam, membusuk, jatuh tak terabaikan, atau dipetik dan diranumkan dengan baik. Buah tidaklah bisa memilih kapan dia harus ranum, ada waktunya.

 

“Iko sudah ranum di umur yang sekarang, gadis seusia iko harus lebih peduli tentang pasangan hidup, meskipun bersikeras menolak kehadirannya, Nak”. Mama berkata lembut sembari menata kue di dalam toples, malam itu rumahku sedang kedatangan tamu tamu spesial.

 

“Semakin iko menghindar, iko akan semakin tersesat dan itu akan membahayakan dirimu sendiri. Mengenalnya tidak harus dengan berdekatan. Sejak Adam hingga saat ini, laki-laki itu sama. Ya seperti-seperti itu saja. Baik seperti itu, dan yang buruk pun juga seperti itu. Perubahan yang ada tidak begitu terlihat. Istilahnya belajar dari sejarah lah.” Mama tetap asyik dengan bicarany,  sementara aku malas-malasan mendengarkannya sambil membaca buku di ruang tamu. Hanya kusambut dengan sedikit gumaman.

 

“Dari dulu, laki-laki itu pengelana. Dia adalah pengembara yang selalu berjalan kesana kemari. Singgah sebentar untuk menikmati suasana tempat ia singgah, mencari minum, beristirahat, atau sekedar menyembuhkan luka. Selebihnya dia akan melanjutkan perjalanan. Dan yang bisa memutuskan perjalanan itu hanya satu : P-E-R-N-I-K-A-H-A-N. Kita lah yang memutuskan perjalanan mereka, membuat mereka menetap pada satu tempat dan menikmati kehidupan bersama-sama. Sebelum ada ikatan pernikahan, laki-laki akan tetap menjadi pengembara, meskipun mulutnya bicara ingin tinggal menetap. Perempuan itu harus selalu hati-hati, jangan sampai menjadi tempat persinggahan.”

22679_1192449890864_1216917398_30453523_8116680_n

Mama menghentikan ucapannya dan memperhatikanku. Aku nyengir kuda, senyum terpaksa. Mungkin mama bosan, ceritanya tak lagi berlanjut dan itu membuatku memikirkan kata-katanya. yap. Memang butuh jeda antar kata dan kalimat. Agar terbaca maknanya.

 

Pengembara, tempat singgah, pernikahan.

 

Ya Allah Yang Maha Pemilik jiwa ragaku. Semoga semuanya berawal dan berakhir dengan baik. Demi Kebaikan dunia dan akhirat.

 

Dan aku masih yakin hingga detik ini. Untuk manusia, Allah tak akan memberikan kisah yang sia-sia.

 

——–
(20062013. Kamis, 03.00 am. Zeest. Konstalasi Orison)

(Mungkinkah) Hujan Di Bulan Juni (?)

HUJAN BULAN JUNI

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

1989

Bulan Juni ini, lagi-lagi salah satu akun do twitland mengingatkan saya pada puisi di atas. Puisi karya salah seorang penyair besar Indonesia, Sapardi Djoko Damono. Karya-karya puisi Om Sapardi cukup dikenal masyarakat, termasuk di antaranya oleh mereka yang bukan termasuk pecinta puisi. Om Sapardi memang dikenal sebagai penyair yang mampu mengolah kata-kata sederhana menjadi sebuah lirik puisi yang sarat makna. Dalam kesederhanaannya, puisi Om Sapardi membuka ruang tafsir yang begitu luas. Salah satunya adalah puisi Hujan Bulan Juni di atas.

Kalau dicerna kata demi kata dan larik demi lariknya, puisi di atas memiliki diksi yang sederhana, bahkan sangat akrab dengan keseharian dalam hidup. kesederhanaan kata-kata tersebut tidak sekedar dirangkai menjadi larik-larik yang sangat indah, tetapi kata-kata tersebut juga diberinya ruh. Sehingga tidak sekedar membaca deretan kata demi kata secara fisik, tetapi juga dibawa masuk dalam suasana tertentu.

Dalam puisi di atas, ‘hujan’ tidaklah sekedar butir air yang jatuh. sama Om Sapardi, ‘hujan’ seolah diberi sebuah jiwa yang memiliki sifat-sifat tertentu (tabah, bijak, arif), dan kemudian dapat pula dilihat perilakunya (dirahasikannya, dihapusnya, dibiarkannya).

‘Hujan’ dapat pula menjadi representasi diri sendiri. Sebab bukan tidak mungkin, kita memiliki rasa yang sama dengan yang dirasakan oleh hujan bulan juni tersebut, yaitu merasakan rindu atau cinta yang ditahan, dirahasiakan, dan sengaja tidak diucapkan. Ya, secara sederhana, puisi tersebut dapat ditafsirkan sebagai sebuah kerinduan yang ditahan, yang dirahasiakan, yang coba dihapuskan, serta yang sengaja untuk tidak diucapkan. Atau lebih jelasnya puisi tersebut menggambarkan seseorang yang memiliki ‘rasa’ – mungkin rindu atau cinta – kepada orang lain, tetapi karena ‘suatu hal’ seseorang tersebut menjadi ragu-ragu, tidak memiliki keberanian, atau bahkan memang merasa tidak mungkin untuk bisa menyampaikannya. Lantas, secara bijak dan arif, keragu-raguannya serta ketidakberaniannya itu membuatnya untuk mencoba menghilangkan/menghapuskan ‘rasa’ yang dimilikinya itu, dan membiarkanya tetap tak tersampaikan.

Bila dikaitkan dengan kenyataan sehari-hari, judul puisi tersebut (Hujan Bulan Juni), sepertinya memang merupakan sesuatu yang hampir mustahil. Sebab, bulan Juni merupakan bulan yang masuk dalam rentang musim kemarau. Sehingga, hujan tidak mungkin turun di bulan Juni. yaaa… Terlebih bila kita melihat angka tahun penciptaan puisi tersebut (1989), saat musim kemarau dan musim hujan masih berjalan secara teratur. Nah, karena itulah, hujan harus menahan diri karena tidak mungkin turun di bulan Juni. Jadi, dapat ditafsirkan bahwa ‘hujan bulan Juni’ merupakan jelmaan dari ‘rindu atau cinta yang ditahan, yang tak mungkin disampaikan’ . tsaaaah.

hyahaha. begitulah penafsiran sederhana, sesederhana diksi yang dipakai oleh Om Sapardi terhadap puisi Hujan Bulan Juni. tetap yaa… masih berbau kegalauan anak muda. iya, diriku masih muda kan? Dilarang protes. Mungkin akan berbeda lagi dengan penafsiran orang lain. 😀

———
Zeest – 01.15 am – Konstalasi Orion

Pesona Abadi Yang Menjelma: Perempuan

Padahal tugas pra-UTS menumpuk. Jurnal Kimia Lingkungan harus diterjemahkan dan wajib hand writing. Jari-jariku rasanya remuk. Jenuh banget. Ini tugas lama banget beresnya. Seperti biasa. Blog itu salah satu tempat pelarian favorit saat deadline tugas mengejarku.

  “Entahlah apa yang terjadi!” Mungkin itu adalah kalimat khas yang selalu dilontarkan sang Raja Persia, setiap ingin memulai cerita tentang keresahan terhadap kondisi kerajaan tempatnya lahir. Entahlah itu hanya sekedar retorika, atau sebuah efek dari rasa pesimis yang kadang menderanya. Eh, kalau engkau membaca tulisanku ini, jangan GR dulu. Jangan senyum-senyum sendiri di depan layar. Tulisan ini tak akan membahas dirimu. Paling hanya ingin meminjam kalimat khasmu tersebut. Mumpung masih gratis, belum daftar hak paten kan? Hyahaha 😀  

Entahlah apa yang terjadi! Dewasa ini aku ingin menulis, meracau, dan berpikir tentang kaumku: Perempuan. Entah aku baru menyadari kodratku sebagai perempuan, atau karena fenomena akhir jaman yang menjadikan kaumku sebagai korbannya. Entahlah. Rasanya banyak kata yang berada dalam setiap syaraf otakku yang berloncat-loncatan. Hobiku akhir-akhir ini mengamati mimik wajah hingga karakter setiap perempuan yang ada di hadapanku. Aku pun selalu terpana akan keindahan khas yang terpancar dari setiap mereka. Perempuan dilahirkan dengan keindahan yang berbeda. Rasanya tak adil, jika membandingkan keindahan yang memiliki ciri khas tersendiri antara satu dengan yang lain.  

Curahan hati ini murni dari lubuk hatiku yang terdalam, setelah mengamati dan mempelajari dari beberapa orang yang kukenal. Mungkin juga, wujud kekagumanku kepada kodrat perempuan. Terlepas dari kenyataan bahwa aku pun seorang perempuan. Terserah mau menyebut ini tulisan yang narsis atau apalah namanya. Yang jelas, aku terjebak dalam Pesona yang Abadi Selamanya: M-U-S-L-I-M-A-H.  

Maha Suci Tuhanku yang telah menciptakan keindahan kepada kaum perempuan. Ibarat mutiara yang memiliki banyak sudut. Setiap sudutnya memancarkan pesona yang berbeda. Keanggunan akhlak yang membuat hati tertawan, sehingga kegelapan beruba kegemilangan jiwa.   Muslimah Shalehah semakin lama kian bertambah keindahan dari perhiasan akhlaknya. Sementara perempuan jelita yang kurang berbudi, kian hari pesonanya pun akan luntur. Wajah polos lagi suci yang bersih dari polesan modern, tanpa kepalsuan. Air muka yang jernih dan sejuk seumpama telaga. Ketulusan selalu terselip di setiap ulas senyumannya.

  Benar adanya. Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam memberi penekanan khusus pada dien-nya (agama-nya) agar selamat dunia dan akhirat. Perkara bahwa kemudian potongannya good looking, kemapanan ekonomi, serta titisan darah biru, hanyalah dekorasi dari syarat utama: AGAMA.

  Cekcok anak manusia yang berujung pada pembunuhan, bermula dari soal perempuan. Salah seorang dari putra Adam terjebak pesona lahiriah gadis jelita. Dan ia harus membayar perangkap maut tersebut dengan pertumpahan darah. Begitu yang sering kudengar dari guru agamaku ketika SMP.   Na’udzubillaah! Perempuan jelan bukan biang masalah. Justru kekeliruan mencermati pesonanya menjadi awal dari petaka. Tolong catat dan telaah kalimat tersebut!   Hitler tidak harus sampai membunuh massal jutaan Yahudi kalau terhindar dari trauma soal perempuan. Yang pernah kubaca, semasa kecilnya, sang dictator Jerman sakit hati dengan caci maki perempuan kaya teradap ibunya yang tukang cuci. Celakanya, perempuan tersebut berdarah Yahudi dan dendam pun berbuah darah. Andai yaa, kala itu pesona kelurusan hati yang ditebar sang perempuan Yahudi tersebut, barangkali sejarah akan berbeda. Mungkin.

  Lagi-lagi, jika ditanya perempuan di dunia mana yang memiliki hati yang lurus dan akhlak yang mulia? Maka aku akan tetap menjawab sama: K-H-A-D-I-J-A-H binti Khuwailid. Sungguh mulia Khadijah, perempuan yang paham pesona apa yang dibutuhkan oleh seorang pejuang kebenaran sekaliber Nabi Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Khadijah penuh pengorbanan, begitu tulus tanpa pamrih. Ketika menderita ikut serta sepenuh jiwa. Giliran bahagia, tidak turut merasakan kemenangan. Karena telah wafat.  

Khadijah adalah kekasih sejati yang mencintai Muhammad bukan atas nama harta dan tahta. Kesetiannya teruji oleh penderitaan dan kesengsaraan di awal Islam bermula. Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia. Hyahaha. Jadi nyanyi 😀   Beliau bukanlah sarjana lulusan perguruan tinggi ternama. Hanya Universitas Perjuangan Amal Dedikasi (UNPAD) yang telah memberinya gelar Summa Cum Laude. Orang memang tidak harus bersekolah tinggi untuk berjiwa besar. Usianya yang lebih tua lima belas tahun dari sang suami, berhasil membuahkan kematangan jiwa. Saat diterjang situasi sulit, sayap kasihnya menyelimutkan kehangatan bagi jiwa Muhammad yang gigil. Ketulusan yang menyingkirkan resah dan gelisah yang menerkam suami tercinta.

  Tidak sekeping pun dari selembar kehidupannya kecuali demi meraih cita-cita tertinggi. Perempuan yang mempersembahkan semua keindahan yang dimilikinya demi cintanya kepada Yang Maha Tinggi. Hingga dirinya tak memiliki apa-apa lagi. jiwa, raga, harta, tahta, bahkan hati telah ia gadaikan di jalan Tuhan. Namun ketulusannya itulah yang menebar pesona, hingga abadi selamanya.

Aku selalu berdecak kagum setiap kali membaca kisah perjalanan Khadijah menemani perjuangan sang suami. Sosok Khadijah menjelma dalam wujud yang telah melahirkan dan membesarkanku dengan gigih. Mama. Mama tak pernah menceritakan secara detail dengan lisan tentang Khadijah binti Khuwailid. Tapi, sikapnya lah yang menjelaskan seperti apa menjadi seorang perempuan di setiap fasenya. Setelah membaca kisah demi kisah Khadijah, aku baru sadar. Bahwa sikap-sikap mama adalah pelajaran bagiku. Sebuah tayangan nyata dari buku yang pernah kubaca tentang sosok Khadijah.   Mama yang bertemu dengan ayah karena keyakinannya yang muncul tanpa alasan. Keyakinan yang muncul di saat kondisi keuangan ayah yang tidak meyakinkan. Yakin dengan seorang lelaki yang putus kuliah. Yang hanya kerja serabutan. Siang jadi tukang parkir, malam kurir layar tancap. Hari ini makan, besok puasa. Keyakinan yang muncul kepada orang yang saat itu terlihat suram dibandingkan dengan beberapa pria yang “terlihat” lebih menjanjikan. Tak ubahnya seperti Khadijah yang memilih Muhammad karena keyakinan. Khadijah yang yakin melihat masa depan Muhammad dari Akhlaknya, bukan dari hartanya.

  Ketika pilihan tersebut telah berhenti pada lelaki yang ia yakini, Khadijah selalu mendoakan suaminya. Begitu pun yang kulihat pada sosok mama. Bukannya meninggalkan ayah yang sedang berjuang untuk mengayuh bahteranya agar tidak tenggelam. Menemani sang suami saat melintasi masa-masa tersulit dalam hidup. Huaaah… semakin aku melanjutkan tulisan ini, semakin rinduku tak tertahankan. Hanya doa yang bisa sedikit mengobati kerinduanku ini. Jarak kita terlalu jauh. Mama nan jauh di Aceh, dan Khadijah yang hanya bisa kutemui di setiap pasukan kata dalam buku ini. Jarak harus bertanggung jawab atas kerinduanku ini. Jika dalam pengadilan, jarak adalah terdakwa atas kasus konspirasi rindu yang menggebu. Baiklah. Akan kuakhiri tulisan ini, sebelum rindu semakin menggerogoti malamku.  

dan aku berkeinginan mencapai tiada yang lain, hanya Yang Maha Tinggi. ~ @hibatunaeem

sebuah keputusan bukan berdasarkan keputus-asaan (-@nishanii22), melainkan karena keyakinan yang terkadang tanpa alasan (-kokoliqo)

——-
oya, malam selasa kemarin ada bintang jatuh dari arah barat ke arah selatan. ba’da maghrib pas lagi ngobrol bareng adik adik nashirat. bintang jatuh mengingatkanku akan mimpi 1tahun yang lalu. persis.
——-
Zeest . Selasa, 7052013. 8.57 pm. Konstalasi Orion.

My Min Jung Ho, Where Are You?

Welcome April! Sampai Jumpa Maret! J Sudah masuk bulan keempat di tahun 2013. Berarti sudah seperempat perjalanan yang telah dilalui pada tahun 2013. Berbagai macam proyek sudah memenuhi buku agenda hingga akhir tahun. Dan aku masih tetap menjadi makhluk malam dengan jam tidur yang tidak seperti orang normal. Hanya 2 jam/ hari. Sedari beberapa tahun yang lalu, aku selalu takut untuk tidur. Takut jika tidak bisa bangun lagi. Sedangkan setumpuk kewajiban dan janji belum terpenuhi. Aku juga merasakan kecemasan, sekonyong-konyong matahari sudah tidak terbit lagi. Ternyata seperti ini yang dirasakan oleh guru bahasa arab ketika aku masih SMP. Saat beliau menceritakan kecemasan itu, aku tak paham apa yang dia cemaskan. Aku merasa guru itu terlalu aneh. Hah! Dan sekarang aku merasakan kecemasan yang dulu sempat kuanggap aneh.

 

 

Well. Sudah sebulan ini aku mengikuti drama korea Jewel In The Palace (JITP). Aku sebenarnya bukan orang yang menyukai Korea-korea-an. Nonton film tersebut karena dari sekian film dini hari, tayangan yang pantas ditonton ya JITP. Selain itu, aku juga penasaran dengan film tersebut. Soalnya waktu SMP dan SMA tak pernah ada waktu untuk mengikutinya. Salah seorang teman SMP pun mengatakan betapa luar biasa kegigihan tokoh utama dalam JITP. Selalu optimis dan tak pernah menyerah sekalipun berbagai tekanan dari semua orang. Kerja kerasnya untuk membuktikan sesuatu yang dia anggap benar, taruhan nyawa pun tak ia hiraukan. Walaupun sebagai manusia normal, Seo Jang Geum, tokoh utamanya, pasti merasakan rasa takut dan cemas, namun ia bisa mengalahkan ketakutannya itu.

 

Pada episode Jang-Geum diasingkan ke sebuah pulau dan statusnya dari dayang kerajaan menjadi Budak, saat itu pula gurunya (dayang utama dapur kerajaan) meninggal dalam perjalanan, mereka difitnah oleh orang-orang yang ingin mendapatkan kedudukan sebagai dayang utama dapur kerajaan, mungkin itu adalah sisi tersedih Jang-Geum. Jang-Geum yang gigih dan tegar, berubah menjadi Jang-Geum yang putus asa dan pesimis. Berkali-kali ia mencoba untuk kabur dari pulau terpencil itu, tapi selalu gagal. Lantas, apakah dia berhenti untuk membuktikan bahwa Dayang Han (guru Jang-Geum) tidak bersalah? TIDAK.

 

Yap. Saat Jang-Geum berada pada titik nadir. Masa-masa tersulit dan didera rasa lelah serta pesimis, datanglah Min Jung Ho seorang panglima muda kerajaan untuk menyelamatkan Jang-Geum dari keputus-asaannya. Jeng Jeeeeeng! 😀 Min Jung Ho sedari dulu selalu melindungi, menemani, dan membantu Jang-Geum. Sebenarnya yaa, Jang-Geum dan Min Jung Ho itu saling menyukai. Tapi yang bikin aku suka dari mereka berdua adalah sikap mereka dalam menghadapi perasaannya itu. Tak ada satu kata Sayang, Cinta, atau pun Suka yang terlontar. Namun sikap mereka yang saling menyemangati dan membantu satu sama lain untuk tetap berjuang merubah keadaan yang ada di kerajaan. Tanpa disadari, Jang-Geum bisa tetap optimis, salah satu faktornya karena Min Jung Ho selalu di sisinya untuk membantu. Meski pun Min Jung Ho sedang ada tugas jauh dari Jang-Geum, Min jung ho selalu mengutus orang kepercayaannya untuk selalu melindungi Jang-Geum.

 

Aku pun jadi berpikir. Mengapa jang-geum dan Min jung ho tidak pernah mengungkapkan perasaan mereka? Analisaku, karena mereka berdua adalah dua orang yang sudah dewasa dalam bersikap. Masalah-masalah yang sedang mereka hadapi sangatlah besar, jadi mereka hanya terfokus pada masalah itu, bagaimana cara untuk memperbaiki kondisi di kerajaan. Bagi mereka ada hal yang lebih besar untuk mereka lakukan daripada sekedar mengungkapkan isi hati mereka berdua. Toh, di sela-sela episode, mereka berdua sudah merasakan  dan mengetahui bahwa sikap satu sama lain yang saling menyemangati adalah wujud dari perasaan hati terdalam. Di film ini, aku merasakan kekuatan cinta yang luar biasa. Cinta dari berbagai sudut pandang. Salah satunya ya cinta terhadap lawan jenis. Dan orang yang seperti Panglima Min Jung Ho, dalam kehidupan nyata sudah langka. Jarang sekali kutemui orang yang seperti Min Jung Ho. J

 

Ada kalimat Min Jung Ho yang membuktikan betapa besar perasaannya kepada Jang-Geum. Ketika mereka berdua dipenjara karena dijebak oleh musuhnya. Jang-Geum merasa bersalah, karenanya Min Jung Ho pun harus ikut dipenjara dan jabatannya sebagai Panglima pun dipertaruhkan. Gini nih yang Min Jung Ho katakan: “Bagiku, dengan bisa membantumu dan melindungimu adalah suatu kebahagiaan tersendiri. Aku berada di sampingmu seperti ini meski harus dipenjara, tak masalah. Asal bisa membantumu untuk memperbaiki kondisi di istana.”

 

Bagiku, bukan sebuah kebetulan aku mengikuti film JITP. Ditambah lagi kondisiku sekarang sama seperti Jang-Geum. Berusaha untuk memperbaiki kondisi dan keadaan di Kerajaan Sweetlord. Menata kembali segalanya pada tempat yang seharusnya menurut syari’ah. Film JITP ini, terutama tokoh yang bernama Jang-Geum, sangat menginspirasi untuk tetap melangkah dan membentangkan layar agar bahtera untuk menyelamatkan kerajaan ini tidak karam. Bukan sebuah kebetulan juga ketika aku harus dipertemukan dengan orang-orang yang kontra, rekan-rekan yang membantu dan bisa diajak kerjasama, serta bisa mengenal sang pencitra. Ini semua merupakan konspirasi semesta yang telah diatur dan dirancang sedemikian rupa oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

 

Lantas, dimanakah sosok Panglima Muda Min Jung Ho? Siapakah yang Allah takdirkan untuk memerankan Min Jung Ho dalam hidupku? Segigih apa pun Jang-Geum, jika hanya seorang diri tanpa Min Jung Ho, Jang-Geum tak akan bisa berbuat banyak. Sama halnya sebuah bahtera. Sekokoh apa pun bahtera itu, jika tak ada yang menahkodainya, bahtera itu cepat atau lambat akan karam juga. Setidaknya ada orang yang bersedia menambal Bahtera yang mungkin mulai bocor karena dihempas oleh ombak di lautan, atau sekedar membuang air laut yang masuk di antara celah-celah Bahtera yang mulai lekang.

 

Rasanya bahagia sangat menjadi seorang Jang-Geum. Perjuangannya didampingi oleh Min Jung Ho. Hah! Lagi-lagi itu hanya sekedar drama yang kisahnya begitu sempurna. Aku tak boleh terjebak dalam alur drama. Karena ada drama yang lebih besar yang harus kuhadapi dan kulakoni: KEHIDUPAN NYATA. Ehtapi, bukankah Allah Subhaanahu wa Ta’ala merupakan sebaik-baiknya Sutradara. Tiada yang dapat menyaingi-NYA. Aku masih sangat yakin bahwa kehidupanku hingga detik ini merupakan SKENARIO TERINDAH dari ALLAH. Ini semua adalah rencana Allah. Allah selalu membimbing dan mendidikku untuk menjalani skenario-Nya. Allaahu a’lam bishshawwab.

 

Ost. Jewel in The Palace: ONARA (DATANGLAH!)

Onara onara aju ona

(Datanglah datanglah selamanya)

Ganara ganara aju gana

(pergilah pergilah selamanya)

Nanari naryodo motnonani

(aku terbang, namun meskipun terbang, aku tidak menikmatinya)

Aniri aniri aninone

(tidak, meskipun aku tidak menikmatinya, aku menyukainya)

Ojido mothana daryogana

(meski ku tak mampu melakukannya, bawalah aku serta)

******

sudah tau hidup ini dinamis, tapi masih tetap saja sibuk mencari pola yang pasti.yang jelas, yang tetap setia pada koordinatnya hanya bintang polar, itu yang sudah pasti sejak jaman nabi adam. sudah tau masa depan itu ghaib, tapi masih tetap saja terobsesi mencari jawaban yang nyata. Terimakasih Maret, telah menjadi perantara. Banyak keajaiban yang kudapatkan dari Allah melalui Maret. Duhai April, tolong antarkan Mei untukku. ingin segera berjumpa dengan mama dan ayah. Setahun, selat memisahkan kami. Mei, serangkaian agenda bersama mereka telah kubuat.  Hey Juni! engkau siap menjadi saksi janji suci dari perjalanan cinta yang telah dirajut selama 5 tahun. Dan Juli, waktunya masuk ruang vakum udara (duniawi). Semoga keluar dari situ bisa mendapatkan jawaban dan penjelasan dari Sang Pencipta. tuhkan! terobsesi banget untuk menemukan jawabannya 😀 Bukan itu sih, sebenarnya sudah sangat merindukan aroma ruang vakum itu. Manusia hanya berencana, toh tombol mana yang akan ditekan adalah kehendak Allaah Subhaanahu wa Ta’ala. YES/ NO/ CANCEL.

(Zindegi – 142013 – Konstalasi Orion)