MBLEGEGEG UGEG-UGEG SAKDULITA HMEL HMEL

Hai, temans! Kamu sedang sedih, kecewa, bingung, merasa terpuruk? Mungkin tulisan sederhana ini bisa menghiburmu. Hampir sepenuhnya aku menyalin kembali caption di akun instagram salah satu penulis favoritku: Fahd Pahdepie

Sebelumnya, aku akan membahas siapa itu Semar. Barangkali yang membaca blogku ada yang belum tau sekilas tentang Semar. Jujur, saat masih kecil nonton TVRI di hari Minggu. Ada siaran tentang wayang manusia. dan aku yang belum menangkap alur cerita, merasa serem dan takut lihat sosok wayang semar. PAdahal sekarang aku baru paham, bahwa banyak sekali makna hidup yang diperankan oleh tokoh semar.

Semar salah satu tokoh wayang punakawan versi Islam. Sunan Kalijaga menciptakan tokoh punakawan sebagai sarana untuk menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Semar (meski sudah ada sejak masa kerajaan Majapahit) diperkirakan berasal dari bahasa Arab, yaitu simaar atau ismarun yang berarti paku. Paku adalah alat untuk menancapkan suatu barang agar tegak dan kuat. Ismaya merupakan nama lain Semar yang berasal dari kata asma-Ku atau simbol kemantapan dan keteguhan.

Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan ekspresi, persepsi dan pengertian tentang Ilahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual. Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.

download

Semar itu punya sesanti, tagline, yang luar biasa.   “Mblegegeg, ugeg-ugeg, sakdulita, hmel-hmel. Eee… Lelo lelo.”

Banyak orang mengira kata yang diucapkan Semar adalah ‘mbegegeg’ yang berarti ‘berdiri diam tanpa bicara’. Tetapi, kata yang tepat  adalah ‘mblegegeg’, dibentuk dari dua kata ‘bleg’ atau ‘ambleg’ yang berarti jatuh dan ‘begegeg’ yang berarti diam tak bisa bicara. Kadang, kita ini adalah manusia yang jatuh lalu tak berdaya. Dijatuhkan hingga tak berkutik, tak bisa apa-apa lagi, tak bisa lari ke manapun, karena memang kita diminta untuk diam dan menerima.

Tetapi, ‘ugeg-ugeg’, teruslah bergerak. Meskupun jatuh itu sakit, membuat kita tak berdaya, teruslah berbuat melakukan sesuatu. Saat kita sudah ‘ambleg’ sekalipun, sudah nyungsep di kedalaman tanah, teruslah ‘ugeg-ugeg’ untuk mencari jalan keluar. Mendengar penjelasan itu aku seperti mendapatkan energi luar biasa, motivasi yang menjadi api yang bergejolak di dalam diriku.

Sakdulita’,  Ambillah dari sekeliling dirimu ‘sak dulita’, cicipi sedikit saja, secuil saja. Seketika aku melihat gambaran diriku yang rakus, seolah ditampar ribuan kali oleh petuah itu. Dan ‘hmel-hmel’, nikmati semuanya, resapi setiap nikmatnya.

Diam-diam, aku menggumamkan nasihat itu, ‘mblegegeg ugeg-ugeg sadulita hmel-hmel’. Tetapi ternyata ada lanjutannya, “E… Lelo leloooo…”. “Ingatlah bahwa semua yang kau lakukan itu ‘lelo’… ‘lelo’… Lillah, lillah… Untuk Allah saja.” Aku ingin menangis sejadi-jadinya.

Betapa luar biasa para ulama zaman dahulu menggunakan wayang sebagai medium nasihat. Betapa cemerlang Sunan Kalijaga menggunakan wayang untuk menyebarkan agama bagi masayarakat Jawa. Aku yang mendengar berabad jarak setelahnya saja, dengan pemahaman bahasa yang serba terbatas, masih tergetar mendengarkan sesanti-sesantinya.

Tiba-tiba ada energi besar yang mengalir deras dalam diriku. Mendesak-desak keluar. Aku seolah menjadi individu yang berbeda. Bagiku, caption sederhana Fahd Pahdepie di Instagram, ribuan kali lebih berharga dari pelajaran siapapun motivator paling hebat di dunia, jutaan kali lebih berharga dari kemewahan manapun di dunia.

 ‘Mblegegeg ugeg ugeg sadulita hmel hmel. Ee.. lelo lelo…’

untitled

(Liqojune. Senin, 23 April 2018. 06.30 am. Konstalasi Orion)

 

Advertisements

Keajaiban Dari Sebuah Keyakinan

Beberapa bulan lagi aku akan meninggalkan usia seperempat abad. Semakin hari, aku benar-benar semakin berhati-hati memposting tulisan. Banyak tulisan yang sudah kuketik, akhirnya hanya tersimpan di dalam folder pribadiku. Kuurungkan untuk diposting karena makin banyak hal yang kupertimbangkan. Terlebih lagi, banyak hal yang akhir-akhir ini terjadi di sekitarku. Banyak sekali pelajaran hidup yang kudapat. Intinya, Allah Ta’ala akan menguji kita dengan semua yang telah kita tulis dan kita ucapkan. Dan Allah Ta’ala akan menguji kita tidak hanya dengan kesedihan, tapi juga dengan kesenangan. Tidak hanya menguji dengan kekurangan, tapi juga menguji kita dengan kelebihan. Sesungguhnya, pada dua hal tersebut membutuhkan kesabaran ketawadhuan. Berbahagialah bagi kita yang bisa lulus dari dua jenis ujian tersebut. Jujur, kebanyakan dari kita justru sangat lengah pada saat menghadapi ujian kesenangan. Tak sedikit dari kita yang sulit untuk sabar dan tawadhu dari kesenangan yang dirasakan. Tak jarang dari kita sulit untuk meneteskan air mata saat berada pada ujian jenis ini. Bahkan terkadang kita lupa bersyukur terhadap Zat Yang Maha Pemberi kesenangan tersebut. Ya, itu termasuk aku.

 

Kali ini, aku ingin cerita ringan tentang keyakinan yang kupegang dari jaman SMP kelas 2. Entah mengapa, aku tetiba teringat obrolanku dengan teman sekelasku yang selalu juara umum saat itu. Keinginan untuk menulis dan mempostingnya di blog sangatlah besar. Seperti ada desakan kuat di dalam diri untuk berbagi cerita ini. Padahal sudah hampir tiga minggu kupendam dan kubiarkan begitu saja keinginan tersebut. Bukannya menghilang, desakan tersebut semakin kuat. Hingga akhirnya aku buat tulisan ini dan mempostingnya. Daripada aku harus selalu dihantui dengan desakan tersebut. Membuatku merasa bersalah karena menyimpan kebaikan dan nikmat Allah yang telah diberikan kepadaku.

Namanya, Annifa Iqramitha. Mitha, nama yang ia kenalkan kepadaku saat aku menjadi siswa pindahan. Kala itu, Mitha selalu menjadi juara umum. Anaknya yang freak, tetap menjadi incaran para siswa yang malas belajar untuk mencontek tugas-tugas dari guru. Bahkan saat Ujian pun, Mitha tak pernah pelit memberikan lembar jawaban untuk disebarkan ke seluruh siswa di kelas. Kini, aku tak pernah berkomunikasi lagi dengannya karena jarak dan kesibukan masing-masing. Selenting kabar Mitha telah menikah dengan seorang lelaki yang saat SMP adalah teman sekelas kami. iya, dia menikah dengan pacar pertamanya. Mitha pun sudah menjadi seorang dokter.

Bukan, aku bukan menceritakan siapa Mitha. Aku hanya akan menceritakan keyakinan kami yang sama. Saat kelas kenaikan kelas dua SMP, dalam hidupnya dia dapat nilai jelek (baca: nilai 7). Dia sedih. Aku bertanya kepadanya, “apakah Mitha lupa belajar?”. Aku rada kaget dengan jawabannya. Dia bilang bahwa selama ini dia tidak pernah belajar. Dia hanya belajar dan menyimak dengan baik saat guru sedang menjelaskan semua materi di kelas. Lepas itu, dia tak pernah membuka buku catatannya di rumah. Justru di rumah dia melakukan hal yang lainnya.

“Aku gak pernah belajar, Lik. Nilaiku kali ini jelek, karena aku sudah jahat sama adikku. gak mau bantuin dia buat PR. Karena aku punya keyakinan, aku akan dicerdaskan dan dilancarkan sekolahku oleh Allah, kalau aku selalu berbuat baik dan melancarkan urusan orang lain.”

Aku sedikit melongo.

“Mitha, kamu memang aneh. Tapi kali ini, kamu menjadi manusia normal. karena Aku pun memiliki keyakinan yang sama sepertimu. Jika dua orang aneh bertemu, maka mereka menjadi dua orang yang normal.”

====================

Semenjak obrolan itu terjadi, hingga detik ini aku memiliki keyakinan yang sama. Dulu, kami meyakini itu berdasarkan hati kecil. Semakin tua, aku semakin yakin karena banyak sekali hadits-hadits tentang hal tersebut.

” Siapa yang menolong  saudaranya yang lain maka Allah akan menuliskan baginya tujuh kebaikan bagi  setiap langkah yang dilakukannya ” (HR. Thabrani).

Sesungguhnya Allah akan menolong seorang hamba-Nya selama  hamba itu menolong orang yang lain”. (Hadits Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi)

Masih banyak lagi hadits-hadits shahih yang mengisahkan tentang kebaikan Allah Ta’ala jika mempermudah orang lain. Dan aku semakin yakin dengan apa yang kuyakini selama ini. Terlebih di awal tahun 2017, aku sangat merasakan buah dari sebuah keyakinan.

Sudah hampir sebulan aku menjadi perantara antara anggota dengan sang khalifah waqt. Di grup whatsapp, para ibu-ibu yang baru punya hape cerdas berkeluh kesah dan kebingungan untuk berkirim surat ke Huzur. Salah satu di antara mereka langsung meminta tolong kepadaku. Kata almarhum Abah, sebuah kepercayaaan dari orang lain kepada kita adalah sebuah karunia yang tidak boleh ditolak. Akhirnya aku menyangggupi, meski aku sadar dengan keterbatasan bahasa inggrisku yang ala kadarnya. Di sisi lain, aku mau karena melihat keinginan yang sangat kuat dan antusias yang sangat besar dari mereka. Yap, aku pun jadi semangat.

Setelah itu, aku kembali menjadi kalong di malam hari  untuk mengetik satu per satu surat dari mereka. Aku mengirimnya. Setiap Minggu ada 50 surat yang kuterima. Sudah sebulan aku selalu mengaminkan doa-doa mereka saat aku sedang menerjemahkan surat-surat mereka. Tak jarang aku terharu dan menangis membaca kalimat-kalimat mereka yang berantakan dan tulisan tangan yang acak kadut, tapi sangat tulus. Bahkan ada beberapa nama yang tak pernah masuk dalam hitunganku, ternyata nama-nama tersebut masih ada benih-benih cinta kepada sang Khalifah. Mereka yang kukira tak ada minat untuk menikah dengan orang-orang satu organisasi, ternyata di hati kecil mereka pun masih ada keinginan tersebut.

Dan kini, aku sangat merasakan segala kemudahan yang Allah berikan pasca aku menerjemahkan surat-surat dari saudara-saudara rohaniku untuk sang Khalifah. Omset bisnisku melonjak naik, Rejekiku mengalir dari banyak arah, aku jadi sehat wal afiat (padahal sebelumnya aku sakit-sakit terus, selalu konsumsi obat), suamiku mendapatkan kemajuan di tempat kerjanya, dan aku semakin disayang mertua. Hidupku semakin berwarna. Semua urusanku yang dulu sempat mandeg,  Alhamdulillaah sekarang dipermudah begitu saja. Yap, semua berkat Allah Ta’ala dan sugesti yang kuat dari dalam diriku tentang kebenaran dari apa yang kuyakini.

Sebelumnya, aku sempat sedikit lupa. Lupa bahwa Allah Maha Berkuasa. Aku terlalu mengandalkan pada hidupku sendiri. Aku terlalu mengandalkan manusia. Aku sempat merasa bahwa semua nikmat yang kudapatkan karena ikhtiarku. kadang  kita yang masih lebih “mempercayai apa yang ada ditangan kita, ketimbang apa yang ada di tangan Allah”.

11142969_771851076244850_43651199_n

Padahal seluruh hidupku, jiwa ragaku, ada di tangan Allah. Tapi aku sempat lebih mempercayai apa yang ada di tanganku, ketimbang apa yang ada di tangan Allah. Aku sempat pada titik lebih mempercayai akal pikiran /logikaku.

Padahal Allah Ta’ala Yang Maha Menggenggam segala sesuatu, Allah Ta’ala Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi nantinya, seperti, apa yang akan terjadi bila Allah memberikan pertolongan dan apa yang akan terjadi bila Allah menunda untuk memberikan pertolongan, yang sebenarnya Allah mampu untuk menolong.

Allah Ta’ala Maha Memudahkan, Maha Menyaksikan, Maha Mengatur segalanya. Maha Meninggikan, Maha merendahkan. Allah Ta’ala yang Maha  Kuasa Memberikan apa saja kepada siapapun yang dikendaki-Nya dan menarik atau mengambil apa saja, dari siapapun yang dikendaki-Nya. Kekuasaan Allah Ta’ala tidak terbatas dan tidak terhingga.

Sebaiknya kita menjadi seorang hamba yang benar-benar bisa “mempercayai apa yang ada di tangan Allah, ketimbang apa yang ada di tangan kita sendiri”. Dan sebaiknya kita benar-benar bisa menjadi hamba Allah yang lebih mempercayai Ilmu Pengetahuan Allah yang Maha Meliputi segala sesuatu, ketimbang akal pikiran/logika kita yang sangat terbatas, agar kita tidak ragu terhadap segala kemungkinan yang terjadi bila kita memberikan bantuan pertolongan terhadap seseorang.

Aku semakin sadar; bahwa semua, seluruh hidup kita ini, berada dalam genggaman-Nya. Allah yang Maha Menggenggam segala sesuatu, Mengatur segala sesuatu. Jangan sampai akal pikiran kita yang terbatas serta kecemasan kita memikirkan “bagaimana atau apa yang akan terjadi pada kita, kedepannya nanti bila kita memberikan pertolongan” membuat kita menjadi hamba Allah yang tidak perduli dan enggan memberikan pertolongan walau sebenarnya kita mampu.

Ketika kita mempermudah, menolong, dan berbuat baik kepada orang lain; sesungguhnya kita sedang berbuat baik untuk diri kita sendiri.

Janganlah mengundang kesulitan dalam hidup kita, jangan mempersempit urusan kita, dan jangan mengundang azab dan murka Allah. Tapi undanglah kemudahan, kelapangan urusan, cinta, kasih sayang dan pertolongan dari Allah, dengan memberikan bantuan, pertolongan kepada orang yang membutuhkan. Sekian.

 

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

Artinya:

“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”.

images

(Konstalasi Orion – 07022017 – 15.15 – Selasa Penuh Asa)

Asuransi Dunia Akhirat, Solusi Masa Depan Umat

Dalam menjaga keselamatan dan kelangsungan hidup manusia di dunia, di jaman moderen sekarang banyak yang mendaftarkan diri untuk ikut asuransi bahkan dengan membayar uang per bulannya. Dari yang ratusan ribu hingga jutaan Rupiah, tergantung level dan kelasnya. Dari asuransi jiwa, harta, pendidikan, jaminan hari tua, dan lain-lainnya. Sebagai manusia memang wajar, berusaha untuk menggaransikan hidupnya dan segala yang dimilikiya di dunia. Karena manusia sadar bahwa hidup di dunia ini dinamis dan fana. Sehingga manusia berusaha sedemikian rupa untuk mempertahankan dan melindungi segala aset yang sedang dimilikinya. Tak heran, asuransi-asuransi yang ditawarkan justru disambut baik oleh sebagian manusia di akhir jaman.

 

Dalam konsep Islam, ada asuransi untuk menjaga segala sesuatu yang dicintainya (warisannya), bahkan juga akan menjaga dan menyelamatkan tak hanya di dunia, tetapi juga di alam kubur hingga alam akhirat. Apakah asuransi yang ditambah dengan lebel syari’ah atau syar’i?

Pemerintah Diminta Bentuk BUMN Asuransi Syariah

Ternyata yang ada lebel syari’ah atau syar’i tidak mampu menjaminnya.  Sedekah dan infaq adalah asuransi yang akan menyelamatkan warisan (harta dan keturunan). Tak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Seperti sabda Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

“Tidaklah orang yang bersedekah dengan baik, kecuali Allah memelihara kelangsungan warisannya.” (HR. Ahmad)

Dan dikuatkan pula oleh perkataan Allah subahanahu wa ta’ala dalam Alqur’an surah Attaubah ayat  103:

“Ambillah (sebagian) dari harta benda mereka guna membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketentraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar Maha Mengetahui.”

Dari ayat tadi, maka Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam membentuk baitul mal untuk mengelola zakat dan infaq. Sebab posisi beliau sebagai utusan Allah mempunyai hak untuk mengelola pengorbanan harta umat.

 

Bagaimana dengan umat Islam di akhir jaman pasca 14 abad berlalunya Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam dan para khulafaur rasyidin? Siapa yang berhak mengatur seluruh pengorbanan harta umat islam? Kewenangan tersebut ditentukan oleh siapa?

 

Jawabannya masih tetap sama dengan kondisi pada jaman Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Kewenangan tersebut ditentukan oleh Allah Ta’ala kepada utusan-Nya. Imam Mahdi lah utusan Allah di akhir jaman. Sebab, 3 tahun terakhir sebelum kewafatan Imam Mahdi ‘alayhissalaam, Allah Ta’ala pada tahun 1905 memberikan solusi kepada beliau yang ditulis di buku Alwasiyat.

 

Apakah gerakan Alwasiyat hanya sekedar “asuransi” untuk mendapat jaminan kuburan yang layak saat meninggal kelak?

 

Alwasiyat bukan semata berbicara pada tanah 2 x 1 meter saja. Lebih dalam dari itu, Alwasiyat merupakan sebuag gerakan pengorbanan harta (infaq) 1/10 sampai 1/3 dari kekayaan yang kita miliki untuk dikelola oleh baitul mal (Anjuman Alwasiyat). Tak hanya itu, syarat lain setelah mengikuti “asuransi” Alwasiyat adalah harus senantiasa berusaha semasa hidup selalu menjauhi syirik, berproses menjadi muttaqi, menjauhi segala yang haram, muslim yang benar dan bersih, serta secara dawam membayar (premi) candah wasiyat, 1/10 sampai 1/3 dari penghasilan per bulan. Tergantung level dan kelas yang kita inginkan.

 

Semua itu demi memancing kasih sayang Allah Ta’ala agar kita diberikan garansi di dunia dan di akirat. Sudah jelals, menginfaqkan sebagian dari harta ke dalam gerakan Alwasiyat merupakan “asuransi” yang sangat kokoh dan tidak ada keraguan. Justru banyak sekali keuntungan yang kita dapat.

 

“Dan perbanyaklah sedekah dan infaq di waktu sunyi dan ramai, niscaya kalian akan dilimpahkan rezeki dan mendapatkan pertolongan.” (HR. Ibnu Majah)

 

“Dari Abu Hurairah ra. seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam: ‘Ya Rasulullah, sedekah apakah yang palling besar pahalanya?’ Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam menjawab: ‘kamu bersedekah dalam keadaan sehat, masih menginginkan harta, ada ketakutan menjadi miskin, berangan-angan kaya raya. Dan janganlah menunda-nunda hingga ajalmu hampir tiba, maka barulah kamu mengatakan bahwa harta ini untuk si fulan, dan harta ini untuk si fulan. Padahal sesungguhnya harta itu sudah menjadi milik si Ahli waris.” (HR. Mutafaq ‘Alayhi Misykat)

 

Jika kita merasa masih dalam ciri-ciri pada hadits tersebut, maka segeralah daftar menjadi member Alwasiyat. “Asuransi” yang penuh dengan keuntungan. Keuntungan-keuntungan yang ditawarkan oleh Alwasiyat melebihi keuntungan yang ditawarkan oleh asuransi-asuransi lain, di antaranya:

  1. Melindungi jasmani dan rohani diri sendiri dan keluarga.
  2. Melindungi harta benda.
  3. Memberikan manfaat untuk penyebaran Islam.
  4. Menolak petaka dan musibah.
  5. Melindungi dari siksa alam kubur dan api neraka.
  6. Melipatgandakan rezeki yang diterima hingga 700 kali lipat.
  7. Memberkahi kehidupan.
  8. Mendapatkan pahala.
  9. Mendekatkan diri kepada Allah.
  10. Menumbuhkan sikap empati.
  11. Membuang sikap egois dan tamak.

 

Akan tetapi, masih banyak yang belum siap untuk mendaftakan diri ke dalam Alwasiyat. Kebanyakan dengan alasan masih banyak kekurangan dan kelemahan, belum menjadi seorang muslim(ah) yang istiqamah dalam beribadah. Padahal, berwasiyat itu diibaratkan seperti halnya kita berbaiat atau masuk islam. Bukan menjadi tujuan akhir atau sebuah hasil, namun sebuah proses untuk menjadi muslim(ah) sejati. Komitmen saja dulu, baru sedikit demi sedikit bellajar menerapkan segala syarat-syaratnya.

 

Dalam keuntungan poin ke-6 tidak semata bualan di siang bolong. Dasarnya ada dalam surah al-Baqarah ayat 261:

“Perumpamaan orang yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah, seperti sebutir biji yang menumbuhkan 7 tangkai, pada setiap tangkainya ada 100 biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang dikehendaki dan Allah Maha Luas Maha Mengetahui.”

Misal, kita memberikan Rp 50.000,- di jalan Allah (ALwasiyat),  maka Allah akan menggantikan 700 kali lipat dari itu. Sekitar Rp 35.000.000,- yang akan Allah balas untuk kita. Tak hanya selalu dalam rezeki uang yang jatuh dari langit, bisa berupa kesehatan, keselamatan, keberkahan, kebahagiaan, jodoh dan anak cucu shaleh(ah), kecerdasan, atau keuntungan lainnya yang jika dirupiahkan (minimal) seharga Rp 35.000.000,- bahkan bisa lebih dari itu.

 

Sesungguhnya tak pernah ada kata rugi jika bertransaksi dengan Allah Ta’ala. Masih banyak lagi keuntungan lainnya yang dijelaskan dalam Alquran dan Alhadits, tapi jika dipaparkan semuanya, malah membuat Anda melongo karena kebaikan-kebaikan yang Allah tawarkan dalam “asuransi” tersebut.

 

Seperti pribahasa Indonesia: sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Kita tak hanya mengeluarkan uang setiap bulannya untuk diri sendiri, sekali mengeluarkan kita bisa membantu menyebar agama islam, melindungi dunia akhirat kita. Maka dari itu, tunggu apalagi? Ayo segera daftarkan diri dan orang-orang yang kita cintai untuk ikut “asuransi” dunia akhirat yang sudah Allah janjikan! Seperti kata Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam, jangan sampai nyawa sudah berada di leher. Buruan, sebelum semua terlambat! Dapatkan semua keuntungan, tanpa takut riba. Tenang, Allah Ta’ala Always Listening, Always Understanding.

Innallaaha Laa Yukhliful mii’aad. Sesungguhnya Allah Tidak menyalahi janji-Nya.

-Sekian-

(Konstalasi Orion – 14102015 – 03.15 am – Rabu Tanpa Abu)

 

Selamat Para Pemimpin, Rakyatnya Makmur Terjamin

Akhir-akhir ini, banyak kita jumpai saudara-saudara kita kaum muslimin yang tanpa sadar banyak menghujat dan mendoakan jelek para pemimpin di negeri ini, bahkan tak segan melakukan tindakan anarkis saat demonstrasi. Ketika mereka melihat (menganggap) pemimpin atau pemerintah melakukan kesalahan atau kekeliruan (menurut prasangka mereka), begitu mudahnya kata-kata celaan, hujatan, bahkan doa jelek pun keluar dari ucapan mereka. Padahal sebagai seorang muslim(ah), Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alayhi wa sallam telah menjelaskan bagaimanakah sikap yang benar sebagai rakyat kepada para pemimpin dan pemerintah.

Aku pribadi sering kesal juga melihat para pemimpin yang kerjanya tak sesuai ekspektasiku. Akan tetapi, mama sering bilang bahwa belum tentu kita bisa lebih baik dari mereka saat diberi kekuasaan untuk memimpin. Bagaimana mereka hendak lebih baik dalam menjalankan amanahnya, sedangkan kita sebagai rakyatnya malah menghujat dan dan sibuk mencari kesalahan mereka. Hujatan dan cacian yang selalu berulang, akan menjadi sebuah doa. Bukankah Allah selalu mengabulkan doa setiap hamba-Nya?

Jangan marah ketika pemimpin belum memberikan seperti yang kita harapkan. Harusnya kita introspeksi ke dalam diri. Mungkin setiap kita juga harus melakukan perbaikan diri dari ruang lingkup kecil, keluarga. Allah tidak akan mengubah seuatu kaum, jika kaum tersebut tidak mau berubah. Kaum itu banyakan loh, bukan hanya terdiri dari pemimpin tok. Kita jangan hanya menuntut para pemimpin untuk berubah lebih baik, tapi harus seiring sejalan dengan perbaikan akhlak diri sendiri. Nah, jelas kan?

Beberapa Bulan yang lalu aku mengikuti sebuah serial film dari Turki. Judulnya Abad Kejayaan (King Sulaiman). Aku banyak mengambil pelajaran dari film tersebut. Salah satunya adalah bagaimana seharusnya sikap para rakyat terhadap pemimpinnya. Selalu mendoakan kebaikan untuk pemimpinnya, mendoakan agar selalu panjang umur, dan mendoakan juga untuk kesehatan pemimpinnya tersebut. Sekalipun mereka tidak pernah bertemu dan mengetahui wajah pemimpinnya. Sekalipun mereka tidak setuju dengan kebijakan dari pemimpinnya. Sekalipun pemimpinnya pernah membuat keputusan yang salah. Doa-doa penuh cinta dan kebaikan selalu terlontar dari mulut para rakyatnya. Makanya, tidak heran King Sulaiman mengalami Kejayaannya. Tak hanya semata berkat kelihaiannya dalam memimpin sebuah negara, tapi juga doa-doa para rakyatnya pun sangat berperan penting dalam kejayaan Dinasti Ottoman.

Lantas, apa kabar dengan kita? Masihkah menghujat dan mencaci kepemimpinan pemimpin kita saat ini? Jika kita ingin kondisi yang lebih baik, doakanlah kebaikan untuk para pemimpin. Biarlah Allah yang akan mengarahkan hati para pemimpin ke arah yang lebih baik.

Pertanyaannya: di film tersebut pemimpinnya kan seiman. Bagaimana dengan yang tidak seiman atau yang zhalim? Pantaskah untuk didoakan kebaiakan atasnya?

Meskipun pemimpin itu zalim dan melampaui batas, misalnya dengan mengambil harta atau membunuh kaum muslimin, maka kita tidaklah berpendapat bolehnya keluar dari ketaatan kepada mereka. Hal ini berdasarkan perintah tegas dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam kepada sahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu,

تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

Engkau mendengar dan Engkau menaati pemimpinmu. Meskipun hartamu diambil dan punggungmu dipukul. Dengarlah dan taatilah (pemimpinmu)(HR. Muslim no. 1847).

pemimpin1

Maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam memerintahkan kita untuk bersabar, bukan memberontak mengangkat senjata atau melakukan demonstrasi. Karena dengan memberontak dan demonstrasi, akan menimbulkan (lebih) banyak kerusakan. Kita harus senantiasa menimbang dengan mengambil bahaya yang lebih ringan dibandingkan dua bahaya yang ada.

Mamaku selalu menenangkanku saat lagi marah melihat tingkah laku para pemimpin yang tidak sesuai: “Sabar dan berdoalah yang banyak agar pemimpin kita lebih baik dari sekarang. Nanti Allah yang akan memperbaiki mereka, jika mereka salah.”

Jadi teringat lagunya siapa yaa… yang liriknya gini:

Selamat para pemimpin

Rakyatnya Makmur Terjamin

Nah, kalau kita mendoakan keselamatan para pemimpin, untung untuk kita juga. karena kemakmuran pun akan terjamin. Masih juga ingin mendoakan kecelakaan untuk para pemimpin? siap-siap saja kita akan terus berada dalam kesengsaraan. Sekian.

(Konstalasi Orion – 05102015 – Senin – 08.00 am)

J O D O H (ku)

J O D O H . Yap, jodoh adalah problema serius. Jodoh serasa ringan diucap, tapi rumit dalam realita. Susah-susah gampang. Kebanyakan orang ketika berbicara soal jodoh selalu bertolak dari sebuah gambaran ideal tentang kehidupan rumah tangga. Otomatis berpikir serius tentang kriteria calon idaman. Nah, di sinilah segala sedu-sedan pembicaraan soal jodoh itu berawal. Pada mulanya, kriteria calon hanya menjadi ‘bagian masalah’, namun kemudian justru menjadi inti permasalahan itu sendiri.

Di sini setiap orang berlomba mengajukan “standarisasi” calon kepada Tuhan: wajah rupawan, berpendidikan tinggi, wawasan luas, orang tua kaya, profesi mapan, latar belakang keluarga harmonis, dan tentu saja kualitas keshalihan.

Ketika ditanya, haruskah seideal itu? Jawabnya ringan, “Apa salahnya? Ikhtiar tidak apa, kan?” Memang, ada juga jawaban lain, “aku tidak pernah menuntut. Yang penting bagiku calon yang shalih saja.” Sayangnya, jawaban itu diucapkan ketika gurat-gurat keriput mulai menghiasi wajah. Dulu ketika masih fresh, sekadar senyum pun mahal. Ada, itu aku. Mungkin.

Tidak ada satu pun dalih, bahwa peluang jodoh lebih cepat didapatkan oleh mereka yang memiliki sifat superior (serbaunggul). Memperhitungkan kriteria calon memang sesuai sunnah, namun kriteria tidak pernah menjadi penentu sulit atau mudahnya orang menikah. Pengalaman riil di lapangan kerap kali menjungkirbalikkan prasangka-prasangka kita selama ini.

Jodoh, jika aku renungkan, sebenarnya lebih bergantung pada kedewasaan kita. Banyak orang merintih pilu, menghiba dalam doa, memohon kemurahan Allah, sekaligus menuntut keadilan-Nya. Namun prestasi terbaik kita hanya sebatas menuntut, tidak tampak bukti kesungguhan untuk menjemput kehidupan rumah tangga.

Mereka bayangkan kehidupan rumah tangga itu indah, bahkan lebih indah dari film-film picisan ala bintang India, Sahrukh Khan. Kita jarang memandang bahwa kehidupan keluarga adalah arena perjuangan, penuh liku dan ujian, dibutuhkan napas kesabaran panjang, kadang kegetiran mampir susul-menyusul; begitulah kata mama kepadaku tentang mahligai pernikahan. Terkadang kita hanya siap menjadi raja atau ratu, tidak pernah menyiapkan diri untuk berletih-letih membina keluarga.

Kehidupan keluarga tidak berbeda dengan kehidupan individu, hanya dalam soal ujian dan beban jauh lebih berat.

Pendidikan, lingkungan, dan media membesarkan generasi muda kita menjadi manusia-manusia yang rapuh, kata ayah sih gitu. Kita sangat pakar dalam memahami sebuah gambar kehidupan yang ideal, namun lemah nyali ketika didesak untuk meraih keidealan itu dengan pengorbanan. Jika harus ideal, kita sering menuntut orang lain yang menyediakannya. Adapun kita cukup ucang-ucang kaki. Kesulitan itu pada akhirnya kita ciptakan sendiri, bukan dari siapa pun.

Kini pemahamanku berada pada fase berbeda bahwa bagaimana mungkin Allah akan memberi nikmat jodoh, jika kita tidak pernah siap untuk itu?

“Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sekadar sesuai kesanggupannya.” (QS Al Baqarah, 286).

Di balik fenomena “telat nikah” sepertiku, sebenarnya ada bukti-bukti kasih sayang Allah Ta’ala.

Ketika sifat kedewasaan telah menjadi jiwa, jodoh itu akan datang sendiri mengetuk pintu rumah kita. Kala itu hati seseorang telah bulat utuh, siap menerima realita kehidupan rumah tangga, manis atau getirnya, dengan lapang dada.

Jangan pernah lagi bertanya, mana jodohku? Namun bertanyalah, sudah dewasakah aku?

Wallahu a’lam bishshawwab.

image

(Konstalasi orion – 18022015 – Rabu – 01.00 am)

Nasehat Untuk Sang Puteri

Imam Baihaqi dalam kitabnya, Syu’abul Iman, meriwayatkan sebuah nasehat yang disampaikan oleh seorang ibu kepada puterinya yang baru saja menikah dan akan dilepaskan untuk menemani suaminya. Sungguh merupakan nasehat yang sederhana namun sarat makna dan patut direnungkan oleh para akhwat dan ummahat yang ingin menjaga kestabilan biduk rumah tangga dalam mengarungi samudera kehidupan yang luas tak terkira. Nasehat ini juga dinukil oleh Imam Ghazali dalam kitabnya, Ihya Ulumiddin. Berikut ini terjemahan bebasnya:

Asma’ binti Kharijah Al Fazary berpesan kepada puterinya ketika menikah (sebelum melepaskan kepergiannya menuju suaminya):

“Wahai puteriku sayang, tak lama lagi kau akan keluar meninggalkan ayunan tempat kau ditimang dulu, dan berpindah ke atas ranjang yang belum pernah kau lihat sebelumnya. Kau akan hidup bersama seorang kawan yang belum pernah kau kenal sebelumnya. Oleh karena itu, jadilah bumi tempat ia berpijak, maka ia akan menjadi langit yang menaungimu. Jadikanlah dirimu tempat sandaran baginya, maka ia akan menjadi tiang yang meneguhkanmu. Jadilah pelayan baginya, ia akan menjadi abdi bagimu. Jangan kau merepotkannya sehingga ia merasa kesal. Dan jangan terlalu jauh darinya sehingga ia lupa akan dirimu. Jika ia mendekatimu, maka dekatilah. Jika ia berpaling, maka menjauhlah. Peliharalah pandangannya, pendengarannya dan penciumannya. Jangan sampai ia memandang sesuatu yang buruk darimu. Dan jangan sampai ia mendengar kata-kata kasar darimu. Dan jangan sampai ia mencium bau yang tak sedap darimu. Jadikanlah setiap apa yang ia lihat adalah wajahmu yang cantik berseri-seri. Jadikanlah setiap apa yang ia dengar adalah ucapanmu yang santun dan lembut. Jadikanlah setiap apa yang ia cium adalah aroma wangi tubuh dan pakaianmu.”
image

“Ayahmu dulu berpesan kepada ibumu: Maafkanlah segala kesalahan dan kekhilafanku, niscaya cinta kita akan terus bersemi. Ketika aku marah, janganlah kau memancing lagi amarahku. Karena benci dan cinta takkan pernah bersatu. Saat benci datang, cinta pun kan berlalu.”

Demikian isi nasehat tersebut. Semoga bermanfaat.

Wallahu a’lamu bishshawwab.

Seni (Ujian) Pra Nikah

Konon kabarnya, menjelang pernikahan itu calon pengantin biasanya dihadapkan pada beragam ujian. Orang sunda menyebutnya sok loba hileud (suka banyak ulat). Ujiannya tentu saja beragam, bisa munculnya sensitifitas tinggi diantara pasangan calon pengantin sehingga muncul kesalahpahaman yang berdampak pada pertengkaran, muncul keragu-raguan untuk menikah dengan calon yang telah ditetapkan, munculnya orang ketiga dan seterusnya yang berusaha memalingkan cinta, banyaknya persoalan lain yang menimpa baik masalah keuangan untuk biaya menikah, beribetnya urus-urus persyaratan nikah, bahkan sampai persoalan-persoalan lain yang langsung atau tidak langsung menambah beban mental bagi pasangan calon pengantin.

Banyaknya ujian pada saat akan menikah, tentu saja bentuk atau macamnya berbeda-beda bagi setiap pasangan calon pengantin. Ada yang ujiannya sangat banyak, ada yang ujiannya banyak, ada yang ujiannya sedikit, bahkan ada yang nyaris gak ada ujian sama sekali. Dampaknya pun berbeda bagi setiap calon pasangan pengantin. Ada yang akhirnya pernikahannya gagal, ada yang pernikahannya nyaris gagal, ada yang jadinya sering berantem, ada yang kuat dan teguh sehingga ujian pun bisa diatasi dengan baik, bahkan ada yang justru sinergi calon pasangan pengantin itu semakin tumbuh dengan baik sehingga mereka bisa mengatasi bersama ujian yang melanda mereka dengan indah.

Aku punya teman yang baru sebulanan kemarin telah menikah. Sebelum mereka melangsungkan pernikahan, si perempuan sering curhat mengenai banyaknya masalah yang dia hadapi. Dia pernah melakukan pertengkaran hebat dengan calon suaminya padahal gara-gara hal sepele. Dia juga pernah dimarahi oleh calon mertuanya dan dianggap tidak mampu untuk mengurusi hal-hal yang harus dipersiapkan menjelang pernikahan. Temanku terus saja mengeluh, tersirat nada yang stres meski dia coba ceria. Tapi alhamdulillah, temanku yang satu ini pun akhirnya menikah, dan betapa romantisnya mereka. Ih mauuuuu.

Seorang teman yang telah menikah berkata padaku bahwa ujian pra nikah itu selayaknya kita anggap seni. Jadi ganti kata ujian menjadi seni, ya seni pra nikah. Jika kita anggap ini seni, maka yakinlah ini adalah hal yang indah, yang harus kita hadapi dengan besar hati, harus kita hadapi dengan pikiran jernih. Memang sih, seni pra nikah ini adalah kelas persiapan sebelum kita naik kelas ke kelas berikutnya, yakni kelas rumah tangga. Di mana di sana kita akan dihadapkan pada kemampuan bersinergi dengan baik mengatasi beragam masalah kehidupan. Kalau menjalani kelas pra nikah saja sudah gagal, gimana akan mampu menghadapi kelas rumah tangga, wihhh jangan-jangan malah DO nantinya, hehe.

Seni pra nikah adalah masa dimana kita bisa menjadi lebih dewasa, lebih bijak,  lebih tangguh, lebih sigap, lebih siap dan lebih memahami calon suami/ istri kita. Seni pra nikah adalah seni dimana kita akan semakin menumbuhkan perasaan cinta dan sayang pada sosok yang kelak kita sebut sebagai suami/ istri kita. Karena kita ingat bahwa tak mudah untuk bisa bersanding dengannya, maka kita tak akan mudah untuk melepaskannya. Jadi, jalani seni pra nikah dengan besar hati, agar kelak pasangan kita tetap nyaman berada di luasnya hati kita. Ah indahnya. sekian.

(Selasa Yang Penuh Asa – 03022015 – 10.00 pm – Konstalasi Orion)