MBLEGEGEG UGEG-UGEG SAKDULITA HMEL HMEL

Hai, temans! Kamu sedang sedih, kecewa, bingung, merasa terpuruk? Mungkin tulisan sederhana ini bisa menghiburmu. Hampir sepenuhnya aku menyalin kembali caption di akun instagram salah satu penulis favoritku: Fahd Pahdepie

Sebelumnya, aku akan membahas siapa itu Semar. Barangkali yang membaca blogku ada yang belum tau sekilas tentang Semar. Jujur, saat masih kecil nonton TVRI di hari Minggu. Ada siaran tentang wayang manusia. dan aku yang belum menangkap alur cerita, merasa serem dan takut lihat sosok wayang semar. PAdahal sekarang aku baru paham, bahwa banyak sekali makna hidup yang diperankan oleh tokoh semar.

Semar salah satu tokoh wayang punakawan versi Islam. Sunan Kalijaga menciptakan tokoh punakawan sebagai sarana untuk menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Semar (meski sudah ada sejak masa kerajaan Majapahit) diperkirakan berasal dari bahasa Arab, yaitu simaar atau ismarun yang berarti paku. Paku adalah alat untuk menancapkan suatu barang agar tegak dan kuat. Ismaya merupakan nama lain Semar yang berasal dari kata asma-Ku atau simbol kemantapan dan keteguhan.

Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan ekspresi, persepsi dan pengertian tentang Ilahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual. Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.

download

Semar itu punya sesanti, tagline, yang luar biasa.   “Mblegegeg, ugeg-ugeg, sakdulita, hmel-hmel. Eee… Lelo lelo.”

Banyak orang mengira kata yang diucapkan Semar adalah ‘mbegegeg’ yang berarti ‘berdiri diam tanpa bicara’. Tetapi, kata yang tepat  adalah ‘mblegegeg’, dibentuk dari dua kata ‘bleg’ atau ‘ambleg’ yang berarti jatuh dan ‘begegeg’ yang berarti diam tak bisa bicara. Kadang, kita ini adalah manusia yang jatuh lalu tak berdaya. Dijatuhkan hingga tak berkutik, tak bisa apa-apa lagi, tak bisa lari ke manapun, karena memang kita diminta untuk diam dan menerima.

Tetapi, ‘ugeg-ugeg’, teruslah bergerak. Meskupun jatuh itu sakit, membuat kita tak berdaya, teruslah berbuat melakukan sesuatu. Saat kita sudah ‘ambleg’ sekalipun, sudah nyungsep di kedalaman tanah, teruslah ‘ugeg-ugeg’ untuk mencari jalan keluar. Mendengar penjelasan itu aku seperti mendapatkan energi luar biasa, motivasi yang menjadi api yang bergejolak di dalam diriku.

Sakdulita’,  Ambillah dari sekeliling dirimu ‘sak dulita’, cicipi sedikit saja, secuil saja. Seketika aku melihat gambaran diriku yang rakus, seolah ditampar ribuan kali oleh petuah itu. Dan ‘hmel-hmel’, nikmati semuanya, resapi setiap nikmatnya.

Diam-diam, aku menggumamkan nasihat itu, ‘mblegegeg ugeg-ugeg sadulita hmel-hmel’. Tetapi ternyata ada lanjutannya, “E… Lelo leloooo…”. “Ingatlah bahwa semua yang kau lakukan itu ‘lelo’… ‘lelo’… Lillah, lillah… Untuk Allah saja.” Aku ingin menangis sejadi-jadinya.

Betapa luar biasa para ulama zaman dahulu menggunakan wayang sebagai medium nasihat. Betapa cemerlang Sunan Kalijaga menggunakan wayang untuk menyebarkan agama bagi masayarakat Jawa. Aku yang mendengar berabad jarak setelahnya saja, dengan pemahaman bahasa yang serba terbatas, masih tergetar mendengarkan sesanti-sesantinya.

Tiba-tiba ada energi besar yang mengalir deras dalam diriku. Mendesak-desak keluar. Aku seolah menjadi individu yang berbeda. Bagiku, caption sederhana Fahd Pahdepie di Instagram, ribuan kali lebih berharga dari pelajaran siapapun motivator paling hebat di dunia, jutaan kali lebih berharga dari kemewahan manapun di dunia.

 ‘Mblegegeg ugeg ugeg sadulita hmel hmel. Ee.. lelo lelo…’

untitled

(Liqojune. Senin, 23 April 2018. 06.30 am. Konstalasi Orion)

 

‘Perjuangan’ Bang Gagah Menjadi Huruf Y Untuk Dekta

Tetiba, aku mendapat undangan pernikahan lewat media viral dari teman di masa putih abu-abu. 1 Maret kemarin dia baru saja mengadakan walimatul ‘ursy. Aku sedikit kaget bahwa yang menikah adalah dia.  Seorang teman yang berani mengambil keputusan menikah di usianya yang belum genap 25 tahun. Sering sekali dia menyebut dirinya Bang Gagah. Sebutan yang sangat jauh dari sosok seorang lelaki gagah yang digambarkan orang pada umumnya. Badannya yang sangat kurus untuk ukuran lelaki seusianya, kulitnya yang putih da bermata sipit kaya Cina (padahal dia punya marga Harahap), dan rambut ikal hitamnya yang dia paksakan untuk lurus itu terkesan kaya orang yang habis terkena setruman listrik. Itu gambaran yang kulihat 6 tahun yang lalu saat temu kangen dengan teman-teman SMA. Lelaki berdarah Batak itu jauh dari gambaran lelaki gagah ala Batak. Lebih terlihat seperti Tomingse yang puasa 40 hari. (Maaf yang Bang Gagah, kapan lagi aku sejujur ini).

 

Aku masih berasa mimpi saat teman-teman yang masih tinggal di Aceh mengirim foto-foto pernikahannya Bang Gagah. Seketika pikiranku melayang ke jaman SMA. Bang Gagah itu termasuk anak yang culun dan polos di kelas, punya teman dekat. Saking dekatnya dan mereka sama-sama tidak punya pacar, teman-teman sekelas sering mengatakan mereka sepasang kekasih. Bang Gagah berusaha untuk ‘normal’ seperti anak seusianya. Aku sempat dengar dia pacaran dengan teman sekelas juga.  Tapi hanya bertahan beberapa hari. Setelah itu, aku tidak pernah mendengar dia dekat dengan seorang perempuan pun hingga undangan pernikahannya terkirim ke grup SMA. Bang Gagah orangnya murah senyum, tapi aku sendiri tidak bisa membedakan antara murah senyum dengan cengar-cengir. Namun pada dasarnya dia anak yang baik, makanya saat SMA ada beberapa teman perempuanku yang terbawa perasaan karena cengar-cegirnya.

 

Siang ini, Bang Gagah menghubungiku. Dia ingin kado dariku sebuah tulisan tentang perjalanan cintanya hingga berlabuh ke pelaminan. Aku yang membaca alur singkatnya, sungguh terharu. Bang Gagah yang terakhir kali kutemui 6 tahun silam sekarang menjelma dalam wujud lelaki dewasa. Penuh keberanian dan kegagahan untuk lelaki seusianya. Aku jadi paham alasan dia tidak langgeng pacaran dan tidak ingin pacaran, karena sejak SMP dia sudah memendam perasaan ke teman SMP yang sekelas dengannya. Bisa dibilang cinta pertamanya. Perempuan itu bernama Dekta.

 

Dekta selalu membuat Bang Gagah Jatuh hati. Dekta seorang perempuan Cantik dan Pintar. Saat SMP, jangan kan untuk mengungkapkan perasaannya, untuk berada di dekatnya saja Bang Gagah tidak berani. Bang Gagah selalu bersembunyi bersama perasaannya untuk Dekta dalam sebuah hubungan yang bernama persahabatan. Bang Gagah bersahabat dengan Dekta. Komunikasi di antara mereka terputus saat mereka memilih SMA yang berbeda. Ditambah lagi saat kuliah semester 4, Bang Gagah memutuskan hijrah ke kota megapolitan, Jakarta. Mereka tidak saling berkomunikasi, meski begitu Bang Gagah masih tetap memiliki perasaan yang semakin besar dan berubah menjadi cinta. Yap, cinta dalam diam. Namun,  Bang Gagah tidak terlena dengan kegalauan memendam cinta kepada Dekta. Bang Gagah memantaskan dirinya. Memapankan Raganya biar beneran gagah, memapankan finansialnya, dan memapankan pendidikannya. Hingga akhirnya dia lulus S1 dan sekarang sedang menjalani S2. Aku salut kepadanya, dia membiayai kuliahnya sendiri.

 

Mereka hanya sebatas bersenyum sapa sekejap, saat Bang Gagah sesekali mudik ke Aceh. Agustus 2015 semua menjadi momen yang akan menjadi awal mula takdir mereka dimulai. Bang Gagah memberanikan diri untuk bertemu dengan Dekta di rumahnya. Pertemuan kedua mereka jalan-jalan ke Goa Jepang, dan Bang Gagah semakin gagah saat pertemuan ketiga. Pada pertemuan ketiga, keberaniannya telah bulat untuk melamar Dekta yang saat itu telah menjadi Bidan di salah satu Rumah Sakit Perusahaan di Aceh Utara. Dekta menguji keseriusan Bang Gagah untuk berani melamarnya langsung ke ibunda dekta. Tanpa ragu dan bimbang, saat idul Adha 2015, Bang Gagah langsung melamar Dekta dan diterima dengan baik oleh orangtuanya. Ibunda Dekta sangat kagum dengan perjuangan Bang Gagah, terutama dengan perjuangan Bang Gagah dalam menjalani pendidikannya. Padahal sebelumnya, banyak lelaki yang berusaha meminang Dekta, tapi Dekta belum mau melabuhkan hatinya.

 

Hanya selang beberapa bulan dari lamaran, mereka melangsungkan akad nikah di akhir Februari 2016. Bang Gagah bercerita kepadaku bahwa cinta terpendamnya selama ini telah menyata. Dan ternyata, dia baru mengetahui setelah akad nikah bahwa Dekta nan cantik ternyata menyimpan perasaan yang sama seperti yang dirasakan oleh Bang Gagah. Akan tetapi, Bang Gagah yang dulu belum gagah seperti sekarang. Makanya Dekta memilih untuk mencintainya dalam diam juga. Seperti kisah Fatimah dan Ali. Terharu.

 

Aku semakin yakin akan kekuatan cinta dalam diam. Karena jika dia yang kita cintai adalah sang jodoh, maka mau dipisahkan sejauh apapun dan tidak ada komunikasi selama apapun, Tuhan akan menyatukan mereka pada waktu yang tepat. Dan jika dia bukan jodoh kita, cinta akan sirna tanpa ada seorangpun yang mengetahuinya.

 

Bersyukurlah Bang Gagah, selama ini Tuhan menjaga dengan berbagai cara agar engkau tidak pacaran sebelum menikah, karena Tuhan ingin hati dan ragamu utuh  untuk sang bidadari halalmu nan cantik jelita.

 

Bersyukurlah keberanian itu baru ada sekarang, sebab kau tidak pernah tau apa yang terjadi jika engkau menyatakan semuanya saat di SMP. Bisa jadi kau malah merusak bidadarimu, hingga membuatnya layu sebelum berkembang.

 

Bersyukurlah Bang Gagah, kini kau telah gagah dalam kedewasaanmu. Telah berani untuk menyempurnakan separuh dari agamamu.

 

Dan teruslah bersyukur, Bang Gagah. Karena nikmat Tuhanmu yang manakah yang hendak engkau dustakan?

 

Selamat dan Berkah untuk pernikahannya. Jaga hati istrimu seperti barang antik langka. Penuh dengan perasaan dan perhatiaan. Sebab, jika sekali saja kau merusaknya, maka tidak akan lagi kau temukan hati yang sama di luar sana. Bang Gagah sekarang telah gagah. Akhirnya Perjuangan Bang Gagah untuk memantaskan diri menjadi huruf Y di antara Nona Dekta telah mendapatkan hasil. N(y)on(y)a Dekta Perjuangan. Sekian.

Hasil gambar untuk bang gagah muslim kartun

(Lika Vulki – Konstalasi Orion – Sabtu 5032016 – 1.10 pm)