Sketsa Rembulan di Keheningan Ramadhan

Ada sunyi. Ada cahaya purnama. Ada keindahan yang terasakan namun tak terucapkan. Bulan menyampaikan rindunya pada bumi yang menanti dalam kelam malam. Sebuah musik alam. Sebuah pancaran harapan. Dan sosok-sosok yang bergerak, bergegas untuk menjumpai apa yang ingin diraihnya. Kita adalah sosok-sosok yang bertautan namun lelap dalam kesunyian masing-masing. Kita bagaikan cahaya purnama yang menyinari langit malam namun sering tak menyadari cahaya yang kita sembahkan bagi dunia. Kita adalah cahaya, terasakan namun tak terucapkan.

Bergerak dalam hening, kita mencari namun sering menemukan betapa sianya segala apa yang kita hasratkan itu. Kita hidup dalam duka dan suka, mengusahakan yang terbaik tetapi sering terperangkap dalam keinginan yang bahkan kita sendiri tak menyadari kegunaannya. Kita ingin. Kita mencari. Kita menemukan. Namun betapa banyaknya yang bisa kita hasratkan sehingga kadang kita melupakan untuk apa semua keinginan itu. Kita adalah rembulan yang perlahan akan berubah diri, dari cahaya purnama ke kegelapan untuk bangkit kembali menjadi purnama, berputar dalam siklus abadi, hingga kelak kita akan sirna dari alam nan indah ini.

Keberadaan kita. Kesadaran kita. Kepastian kita. Nyata tetapi juga semu. Bagaikan cahaya purnama yang dapat kita saksikan keindahannya malam ini, namun tak mampu kita tuturkan dengan kata-kata tanpa kita alami sendiri. Ah, demikian pula hidup ini. Derita. Sukacita. Tangis. Gelak tawa. Hanya dapat kita rasakan sendiri. Mutlak sendiri. Apa yang tersimpan dalam hati kita, dapatkah kita bagi kepada orang lain yang dengan sepenuh hati mampu memahami apa yang kita rasakan? Tidakkah senantiasa terjadi pencampuran antara kisah yang kita tuturkan dengan pengalaman mereka yang mendengarkan atau membaca penuturan kita?

Ada keheningan. Ada cahaya. Ada langit yang bercahaya dengan purnama dan bintang yang berkelap-kelip jauh di atas. Dan udara sejuk yang memeluk kulit tubuh kita. Sesuatu bergejolak dalam hati kita. Sesuatu yang mampu kita rasakan namun tak dapat kita utarakan. Sesuatu yang mutlak milik kita sendiri. Maka di saat-saat seperti ini, sungguh bahasa kehilangan kemampuannya. Kita adalah sosok yang sepi sendiri, jauh di dalam tersuruk dalam keberadaan kita yang sunyi dan terkadang hampa. Terkadang hampa. Namun bukankah kita tetap ada dan bersinar bagi sesama? Sadar atau tidak, kita terlihat, nyata dan tak mungkin dihilangkan. Tak mungkin disirnakan begitu saja.

Purnama di langit kelam. Sendirian mengarungi langit. Dan jauh, jauh melintas samudra semesta, berkelap-kelip milyaran bintang-bintang dan planet. Demikianlah, kita ada sendirian tetapi tidak sendiri. Kitalah purnama kehidupan yang terkadang bersinar terang dan terkadang pula redup dan tak terlihat, tetapi kita ada. Dan selalu ada. Hingga akhir tiba.

(Sang Musafir kehidupan, Petarung waktu, dan Pemulung hikmah – hanyalah seorang manusia yang ingin dimanusiakan dan memanusiakan manusia lain dengan cara yang manusiawi) ~ Pertengahan Musim Kemarau – 12 Ramadhan 1433 H

Advertisements

Elegi Cinta Tata Surya

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

13 Juni 2012. Rabu Pagi dengan semangat yang (semoga) masih tetap menggebu. Pagi yang cerah ditemani dengan semilir angin gunung yang menusuk kulit. Mentari masih tetap menyapa bumi dari arah timur. Perlahan tapi pasti, mentari mulai meninggi dan cahayanya mulai terasa panas. Tak terasa. Sudah 17 hari hidupku terkatung-katung di lembah yang tak pernah kuduga sebelumnya. Aku terjebak di sini. Tak tau arah jalan pulang. Rembulan yang membawa ku ke tempat yang asing, lembah keambiguan. Lantas dalam seketika ia pergi begitu saja meninggalkan permainan yang baru saja dia mulai. Apa-apaan iniiih? Ternyata aku hanya menjadi kelinci percobaan rembulan akan penasarannya selama ini. Rembulan sempat mengatakan: “Jangan bermain api.” Halooo? Yang main api duluan siapa coba? Sekuat tenaga kusimpan dan kuabaikan isyarat dari Tuhan tentang mu dan penggenapannya. Namun apa yang terjadi? Kau datang memberikan sinyal. Terus? Setelah itu kau menyalahkan ku karena telah memberatkan langkahmu? Aku tak pernah berniat untuk bermain api, apalagi dengan mu yang notabenenya penerang malam. Mungkin memang seperti ini prosesnya kali yaaa. Haha. Perempuan memang sumber fitnah (cobaan), makanya harus menjaga diri. Benar adanya petuah dari mama. *menarik nafas – menghela nafas – kemudian tertidur. Zzzzz*

Kali ini aku akan bercerita tentang beberapa anggota tata surya dan fenomenanya. Bumi, Rembulan, Bintang, Mentari, dan Senja. Hm… tapi aku bingung harus memulai dari mana. Semua berawal dari Senja. Yaa. Bumi dan Senja.

Bumi masih setia berotasi pada porosnya. Suatu ketika, di keheningan sore di langit sebelah barat, Senja menyapa Bumi. Meski cahayanya redup, Bumi merasa tentram setiap kali petang datang. Senja selalu setia berbincang-bincang dengan Bumi hingga Maghrib tiba. Bahkan pernah suatu masa, Senja dan Bumi lupa bahwa malam telah datang. Karena saling merasa nyaman dan Bumi mendapat isyarat dari Sang Pencipta, mereka memiliki harapan yang sama. hingga suatu malam nan syahdu, Senja menawarkan keseriusannya kepada Bumi yang kala itu sedang sakit. Bumi sangat senang dan terharu. Baru kali ini ada yang memintanya untuk serius. Namun apa daya, Bumi menyadari posisinya yang serba salah. Senja dan Bumi beda dunia. Dan hal ini pun disadari oleh Senja. Perlahan tapi pasti, Bumi dan Senja membuat jeda. Agar dapat berpikir jernih. Jeda yang tak tau kapan harus diberi titik. Karena harapan itu masih ada. Cinta bersambut, namun Bumi dan Senja memiliki peta yang berbeda.

Selama musim hujan yang panjang, Bumi tak lagi bersua dengan Senja di kala petang. Bumi berusaha untuk memberikan titik. Tapi tetap saja. Setiap kali diberi titik, ada saja hal yang membuat titik itu terhapus. Padahal Bumi sadar betul bahwa kemungkinan harapannya kan jadi nyata hanyalah 0,1%.

Bumi menutup semua pintu dan menguncinya dengan rapat. Bumi tak ingin memberikan kesempatan lagi. Bumi ingin fokus membenahi kehidupannya. Agar siapa pun yang berkunjung merasa nyaman dan betah untuk tinggal selamanya bersama Bumi. 2 tahun lebih pintu itu terkunci rapat. Berkali-kali ada yang berusaha untuk membukanya, tapi mereka menyerah. Pintu ini sangat kuat untuk dibuka. Hingga Tuhan membuat skenario untuk Bumi. Tuhan mengirimkan Rembulan yang awalnya sebagai penerang bumi di kala malam tiba. Ternyata, rembulan merupakan penggenapan dari isyarat-isyarat yang didapatkan ketika Bumi mengasingkan diri di ruangan vakum udara di kala ramadhan tahun lalu.

Bumi hanya menyimpan semua rahasia isyarat itu. karena Bumi tau bahwa Rembulan sudah memiliki bintang kecil di seberang sana. Namun keadaan itu menjadi berubah drastis ketika Rembulan menyapa Bumi sebagai pribadi bukan sebagai “penerang”. Bumi merasa bahwa Rembulan memberikan sinyal-sinyal. Semua menyeret Bumi ke dalam lembah keambiguan. Bumi merasa bingung, hingga menghambat Bumi berotasi pada sumbunya. Rembulan menganggap semua yang telah terjadi seperti sebuah permainan.

Hey Rembulan! Hidup ini memang sebuah permainan. Akan tetapi, bukan berarti mempermainkan keseriusan beginiiih. Karena sikapmu, akan ada hati yang terluka. Kalau bukan Bumi, pasti Bintang kecil itu.”

Hingga akhirnya Rembulan sadar akan kesalahannya. Sebenarnya niatnya baik, tapi cara yang Rembulan pilih tidak tepat. (Lagi-lagi) Bumi memilih untuk mengalah. Biar semua layu sebelum berkembang. Dan Rembulan berusaha untuk memperbaiki orbital yang sempat ia porak-porandakan. Rembulan masih ingin membuka pintu yang terkunci. Namun dia akan bersanding dengan bintang. Walhasil ia meminta mentari untuk melanjutkan permainan yang baru saja Rembulan mulai. Bumi merasa berada di wilayah yang sangat tidak nyaman. Hingga benteng pertahanan itu ia kokohkan kembali.

Tak dinyana. Gunung Es yang menutupi pintu itu mulai mencair. Dengan cahaya Mentari yang selalu sabar menyinari Bumi setiap pagi. Bumi mendapat selentingan kabar yang dikicaukan burung bahwa Mentari terlalu silau dan panas. Jangan memberikan kunci pintu itu sebelum Bumi bertemu langsung dengan Mentari. Yang setiap pagi Bumi lihat adalah cahanya. Bukan wujud aslinya. Selentingan kabar itu membuat Bumi untuk membekukan kembali gunung es yang sempat mencair. Bumi tak ingin bermain api untuk yang kesekian kalinya.

Hingga malam tiba, Bumi berusaha mencari Mentari di antara deretan-deretan kata. Ingin meneropong Mentari dari kejauhan agar bisa terlihat wujud aslinya. Namun benar dugaan Bumi sebelumnya. Bahwa Mentari terlalu silau untuk menemani hidupnya. Perlahan Bumi mundur dan tidak akan melanjutkan permainan ini. Bumi berusaha unttuk bersikap normal. Berotasi pada porosnya dan mengorbit pada orbital yang telah Tuhan tentukan untuknya.

Bumi sadar betul. Dirinya bukanlah seperti bintang kecil yang dapat memancarkan cahaya sendiri. Bumi hanya mampu merawat kehidupan yang Tuhan amanatkan kepadanya. Bumi tak pantas bersama Mentari, karena Mentari mencari bintang yang mampu bersinar. Jangankan bersinar, untuk berpijar saja Bumi tak mampu. Sedangkan Rembulan? Dia hanya bisa menyalahkan Bumi karena telah memberatkan langkahnya.

Dulu Rembulan datang dan berdiri di antara Bumi dan Senja. Hingga Bumi mampu memberikan titik pada Senja. Bukan jeda. Namun tanpa disadari, Bumi secara tidak langsung telah berada di antara Rembulan dan Bintang. Rembulan pun membenarkan orbital yang paradox ini. Bumi disandingkan dengan Mentari oleh Rembulan. Bumi justru memilih untuk mundur. Dan kini, Bumi memilih untuk menyendiri dan tetap berotasi pada porosnya.

Biarlah kini Rembulan menyinari Bumi di malam hari dan Mentari menyinari Bumi di pagi hari. Menjadi penerang memang itu kewajiban mereka toh. Cukup! Dan mungking masih takdirnya aku berada di lembah ini. Sekuat apapun aku berusaha untuk keluar dari sini, jika memang takdirnya harus masih di sini, aku akan tetap di sini meski seorang diri.  Tetaplah berbaik sangka pada Allah Ta’ala, koko! Allaahu ma’ana. ^_^ semoga Allaah tetap membekukan hati ini, membutakan mata ini dan menulikan telinga ini dari segala yang sia-sia serta tidak halal.

Purnama yang terbit dari timur itu ternyata pantulan cahaya mentari yang datang dari barat. Dan kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi pada orbital kita esok hari. Sepenggal kisah di pertengahan musim kemarau.

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya.

(Surah Yunus ayat 5)

Aku bisa terima…
Meski harus terluka
Karena kuterlalu,mengenal hatimu

Aku telah merasa..
Dari awal pertama
Kau tak kan bisa lama,berpaling darinya..

Ternyata hatiku benar
Cintamu hanyalah sekedar..
Tuk sementara..

Akhirnya kita harus memilih
Satu yang pasti
Mana mungkin terus jalani
Cinta begini

Kar’na cinta tak akan ingkari
Tak kan terbagi
Kembalilah pada dirinya
Biarku yang mengalah
Aku terima…

Saatnya kembali,nurani bicara

Ku tak bisa terima
Bila terus tak setia
Mengkhianati dia,menduakan cinta

Ternyata hatiku benar
Cintamu hanyalah
Sekedar…..Tuk sementara

Sebentar kutelah kecewa
Biarlah aku pergi
Nikmati luka ini
Perih ini….sendiri…

~Tangga – Cinta Begini

(Sang Musafir kehidupan, Petarung waktu, dan Pemulung hikmah – hanyalah seorang manusia yang ingin dimanusiakan dan memanusiakan manusia lain dengan cara yang manusiawi)

Rembulan di Bulan Mei

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

28 Mei 2012. Senin Pagi. Dan aku masih berada dalam kebingungan. Mei kali ini merupakan bulan yang penuh dengan kejutan yang benar-benar membuat hati deg-deg-an. Kebetulan-kebetulan beruntun yang nyaris membuat jantungku copot. Hidupku lebih terasa dinamis setelah bertemu seseorang. Orang baru yang hadir di dalam kehidupanku. Sebut saja, Rembulan.

Rembulan punya seribu cara untuk memporak-porandakan suasana hati dan pikiranku. Belum genap sebulan aku mengenalnya, ia mampu membuat ku melupakan Senja. 3 tahun aku menanti Senja untuk berada dalam bahtera yang sama dengan ku. Secara kasat mata, Senja jauh lebih daripada rembulan. Tapi entah mengapa, rembulan mampu melakukan itu semua. Padahal sebelumnya, banyak cinta yang datang dan pergi, ku menolak. Bahkan aku dingin terhadap orang-orang yang berada dalam bahtera ini.

Pada awalnya, aku tak punya hati pada Rembulan. Toh semilir angin telah membisikan ke telingaku bahwa Rembulan telah bersama bintang di seberang sana. Tapi Allah ta’ala yang berhak membolak-balikan hati ini. Dalam waktu yang relative singkat, penantian selama 3 tahun terhadap Senja, akhirnya kuakhiri. Do’a untuk Senja tetap terlantun, namun kini niat kembali kuluruskan untuk tidak melemparkan dirisi sendiri dari bahtera yang membuat ku mengenal Imam Zaman.

Episode demi episode dari skenario Tuhan pun semakin sering kutemui. Setiap hari ada saja hal yang menyangkut antara dirinya dan aku. Padahal, aku tak pernah sedikit pun berupaya untuk mencari tau siapa rembulan. Dari sudut pandangku (entahlah, apakah ini hanya ke-GR-an semata), rembulan selalu berputar mengelilingi orbitnya untuk menemukan letak geografis dan astronomis Bumi.

Yap. Bumi itu adalah aku. Burung-burung berkicau padaku. Dari mereka aku mendapat kabar yang belum pasti kebenarannya. Di luar sana ada yang mengatakan bahwa bintang yang selama ini dikabarkan bukanlah bintang. Dia hanyalah bumi yang tak bisa bersinar seperti bintang. Bumi yang masih memerlukan cahaya. Bumi yang tak ada apa-apanya dibandingkan dengan bintang yang dapat berpijar.

Dari hati kecil, sangat senang rasanya jika memang yang diisukan itu benar. Aku bisa semakin kokoh bertahan di dalam bahtera ini dan dapat memberikan sesuatu untuk bahtera ini. Akan tetapi, di sisi lain rasanya cemas. Cemas karena takut melukai hati bintang yang di sana. Toh bukan mau ku untuk seperti ini. Semoga saja isu-isu itu tidak benar adanya. Biarlah rembulan bersama bintang. Bagiku, hanya dengan mengenal rembulan lebih dari cukup. Sangat bersyukur. Karena baru kali ini ada yang mampu membuat ku berpaling dari Senja.

Cara kerja Tuhan memang sangat rahasia dan tak terduga. Semua penuh misteri dan kejutan. Hingga akhirnya aku akan paham bahwa Tuhan telah mengabulkan do’a-do’aku sampai do’a-do’a tersebut telah dikabulkan.

Rembulan, tetaplah berputar pada orbitmu. Tetaplah bersama bintang. Bumi bukanlah (si)apa-(si)apa. Bumi akan tetap berotasi –hingga akhirnya jika takdir berkata lain, kita akan bertemu di satu titik. Namun jika tidak, cukuplah engkau menjadi penerangku di kala malam menyelimuti ku dengan kegelapan. Berbahagialah engkau dengan pilihanmu. Layu sebelum berkembang jauh lebih indah daripada harus ada yang tersakiti.

Rembulan, bukan aku tak mau untuk bersama mu. tapi aku tak terlalu percaya diri untuk kau pilih. bukannya aku meghindar, tapi aku malu untuk bertemu dengan mu. bukannya aku tak suka, tapi aku masih tak siap untuk menghadapi takdir ini.

Bumi, tetaplah gunakan topengmu. Yaaa meskipun sudah menggunakan topeng, rembulan mampu membaca wajah ini. Tapi kali ini rembulan tak akan pernah bisa. Because I’m A good Pretender. Dalamnya lautan dapat diukur, tapi dalamnya hati tak akan pernah ada manusia yang tau. ^_^

Image

Ku akui ku sangat sangat menginginkan mu
Tapi kini kusadar ku di antara kalian
Aku tak mengerti ini semua harus terjadi

Ku akui ku sangat sangat mengharapkan mu
Tapi kini ku sadar ku tak akan bisa
Aku tak mengerti ini semua harus terjadi

Lupakan aku kembali padanya
Aku bukan siapa siapa untukmu
Ku cintaimu tak berarti bahwa ku harus milikimu slamanya

Ku akui ku sangat sangat menginginkanmu
Tapi kini kusadar ku di antara kalian
Aku tak mengerti ini semua harus terjadi

(Di antara kalian – D’masiv)

———-

baru kali ini logikaku dapat dikalahkan oleh perasaan. teteh sepupu pernah mengatakan: “Jangan bohongi hati kecil, karena ia selalu jujur. Kamu sekarang jadi berubah. jauh lebih berwarna, tidak monoton. jauh lebih terbuka, tidak tertutup. rembulan berhasil memberikan pengaruh besar kepada mu lebih indah secara lahir dan batin.” aku tak merasa, sejauh itukah perubahan yang kualami dalam waktu 1 bulan ini? biarlah waktu yang dapat menjelaskan semuanya.

————

(Andromeda. Pertengahan Musim Kemarau. Musafir Kehidupan dan Petarung Waktu)