Hai Senja Dan Jingga!

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

 

Hai Senja! Selamat memasuki fase baru dalam hidupmu.

 

Akhirnya aku sanggup menulis ini tanpa ada derai air mata. Tanpa ada cubitan yang menyayat di benda kecil dalam rongga dadaku. Tanpa ada sembilu yang menusuk. Bagiku, ini sebuah kekuatan besar dan keajaiban dari doa. Aku tak pernah membayangkan sebelumnya, bisa tersenyum bahagia saat menulis ini. Bahkan aku sudah lupa bagaimana caraku mengagumimu. Justru yang ada sekarang adalah aku sedang menikmati kebahagiaan yang berbeda dari kebahagiaan yang pernah aku rasakan sebelumnya. Definisi kebahagiaan kali ini semakin luas. Aku memang sedang berbahagia karena telah bertemu dengan sesosok lelaki baik yang telah mengambil hati ayahku, dan di sisi lain aku juga bahagia karena melihat caramu mencintai istrimu.

 

Akhirnya alamat pertanyaanmu yang selama beberapa tahun ini mencari alamatnya, tiba juga dengan selamat kepada seorang perempuan nan baik. Perempuan baik itu sangat mirip denganmu. Mungkin itu yang orang bilang jodoh. Conan Edogawa pun akhirnya bersama Ai Haibara tanpa harus bertransformasi menjadi Shinichi Kudou. Bagiku ini bukan sebuah akhir, Senja. Ini sebuah awal baru bagi kita semua. Beberapa tahun yang lalu aku pernah bilang bahwa takdir kita seperti dua buah rel kereta api. Meski bersama akan selalu berseberangan dan tak akan pernah saling bertemu di satu titik. Memang yang terbaik seperti itu. Karena apa jadinya jika di satu titik ujung rel itu saling bertemu? Akan banyak korban dan kecelakaan kereta api. Semua perjalanan pun jadi terhambat. Sungguh mengerikan jika aku membayangkannya. Untungnya, Tuhan kita Maha Tau segalanya. Sungguh Tuhan Maha Baik. Menyelamatkanku dari kecelakaan dan kehancuran diriku dan generasi-generasiku. Alhamdulillaahi Rabbil ‘Aalamiin.

 

Akhirnya aku benar-benar akan berhenti menulis tentangmu, Senja. Ini adalah tulisan terakhirku untukmu. Tulisan yang selama ini aku tunggu untuk bisa mempostingnya. Tulisan terakhir dari seorang temanmu yang sempat tak bisa menjaga hatinya. Tulisan yang tidak ada maksud apa-apa, hanya sekedar ingin menyampaikan selamat dan ekspresi kebahagiaan kepada kalian berdua. Doakan aku untuk bisa segera meyempurnakan sebagian imanku dan menyelesaikan studiku.

 

Dan akhirnya, kita kembali seperti pertama kali. Seperti sebelum kita saling mengenal. Itulah pengabulan dari doaku bertahun-tahun, Senja. Rasanya ringan, tanpa beban. Semoga kalian berdua berbahagia di jalan Tuhan yang penuh dengan kebenaran ūüėÄ Semoga Berbahagia Senja dan Jingga ^_^

japanese

(Zindegi, 08112014. Sabtu. Konstalasi Orion)

 

Advertisements

Bahtera Ini Akan Selamat (Bersama Atau Tanpa Kamu)

Senja, jarak yang harus kamu ambil denganku adalah serupa bentang samudra. Harus jauh membentang. Tidak perlu tanggung-tanggung, dekat tidak-jauh juga tidak. Jauhlah sekalian. Jika kamu memang berniat menyeberanginya (untuk satu peta denganku), persiapkanlah bahtera yang kuat karena akan banyak badai di perjalanan. Persiapkan bekal yang cukup. Atau jika kamu memilih jalur udara, persiapkan pesawat yang tangguh untuk melintasi samudra non-stop. Pastikan avturnya cukup atau kamu akan jatuh di lautan.

 

Jika pun kamu nekat berenang, tidak masalah. Aku hanya ingin melihat kesungguhanmu. Jika ingin memanfaatkan ilmu yang kamu geluti, rancanglah software untuk membangun jembatan penyeberangan dalam sehari. Silakan. Aku hanya ingin melihat kesungguhanmu. Karena jarak yang jauh dan rintangan yang besar akan membuat padam nyali orang yang tidak berani. Aku membuat mundur orang yang tak cukup ilmu. Akan membuat takut orang yang tak cukup percaya kepada kebenaran janji Tuhan.

 

Jarak sejauh samudera ini membutuhkan ilmu. Ilmu navigasi. Ilmu yang akan menyelematkanmu. Biar kamu mencapaiku dengan rute tercepat dan terbaik. Agar kamu bisa menghindari badai atau membaca tanda-tanda langit.  Jarak yang harus aku ambil terhadapmu aku pilih sejauh mungkin. Meski begitu, masih ada kemungkinan di antara jarak sejauh samudera. Bukan seperti jarak sejauh lapisan langit ketujuh.

 

Well, di ujung jarak yang terbentang, kuikuti selasarnya malam menuju satu titik di ujung tentu. Dan kutatap rembulan fase purnama awal di batas malam. Menyentak biasnya. Ada tersirat muram di kelamnya malam. Namun aku tak peduli, tak kutoleh sedikitpun.

 

Kulanjutkan saja ¬†yang tersisa sepenggal. Berharap ada risalah yang akan mengisi ruang. Dan dapat kujadikan bekal perjalanan selanjutnya. Andai dapat kuterjang batasnya. Aku yakin pasti akan terlampaui, apa yang kuanggap usai. Dan nanti di kemudian, akan kudapatkan selarik arti yang lebih pasti. Tentang kisah pelayaran kita dengan peta yang berbeda. Kini belajar menikmati arusnya. Kadang searah, pun menerjang. Yakinlah! Di sebalik layar terkembang, pasti ada warna nan indah akan terkuak. Hingga suatu masa, bahtera pun ‚Äėkan tiba di tujuan-Nya. Selamat tanpa karam. Baik bersama atau tanpa dikau, Senja.

DSC_0443

 

*******

 

(Zeest ‚Äď Rabu, 18092013 ‚Äď 11.50 pm ‚Äď Konstalasi Orion)

 

 

 

 

Have A Wonderful Wednesday!

Rabu dini hari. Sepertinya Rabu memang jadwalku menulis. Baik untuk di blog, buletin, atau sekedar di kertas selembar. Ada yang berbeda pada Rabu di minggu akhir bulan Maret. Serangkaian k e b e t u l a n¬†yang telah Allah rencanakan, bersua kembali dalam hidupku. Semua berawal dari seorang sahabatku, sekaligus salah satu dari pengabulan doaku sejak SMP. Nisa, namanya. Kami acapkali berjodoh, meski pun jarang bertemu. sangat jarang bahkan. Nisa, Teh Lisa, Teh Agan, dan sahabatku yang lainnya merupakan pengabulan doaku dari Allah Ta’ala. Aku telah dikumpulkan dengan orang-orang yang mencintai-NYA dan kecintaan mereka melebihi kecintaanku kepada-NYA. yang selalu mengingatkan dalam hal keimanan ketika salah satu sedang goyah benteng pertahanannya. Sedari dulu aku sangat mendambakan sahabat-sahabat yang bisa berjuang bersama dalam berkhidmat untuk agama, tak hanya dunia.

 

Rabu kali ini juga merupakan awal untuk kembali bersemedi. Ingin meminta wangsit dari Allah Ta’ala. Semua akses komunikasi sementara divakumkan. Awal minggu ini kembali didera oleh Androphobia yang lumayan membuat sistem tubuhku jadi sporadis. Syoknya masih terasa hingga sekarang. Masih belum bisa berpikir dengan benar. Bahkan efek baru muncul. Dua hari aku tidak merasa lapar, padahal hanya segelas susu dan beberapa gelas air putih yang diterima oleh tubuh. Beginilah ketika Androphobiaku kambuh secara tak terkendali. Aku benar-benar lupa cara mengendalikannya. Biasanya setelah shalat dua rakaat dan baca Al-quran langsung normal kembali. Akan tetapi kali ini aku harus benar-benar menjauhi dulu sumber yang menyebabkan Androphobia kambuh.

 

Rabu kali ini juga bukan rabu yang biasa. Karena Rembulan berada dalam fase purnama. fase yang sedari dulu sangat kusukai. Setiap melihat rembulan pada fase ini, selalu mengingatkanku dengan mimpi setahun silam yang selalu muncul secara berkala. Pun juga rembulan pada fase ini mungkin sangat disukai oleh Sang Pencitra. Karena terangnya sinar rembulan memantulkan siluet masa lalunya.

 

Rabu kali ini pun Senja kembali menyapaku, meski kali ini kondisinya sudah sangat berbeda. Senja sudah memantapkan jalan hidupnya untuk tak bergabung dalam lembaran pada buku yang sama denganku. Ah! itu sudah tak pernah lagi menjadi urusanku. Tugasku sudah selesai untuk menjelaskan apa yang harus kusampaikan. Aku juga terus berupaya dalam setiap doa.

 

Rabu kali ini pun adalah rabu terlucu. Betapa aku terjebak dalam sebuah obrolan yang serius.Mengapa aku harus bertanya seperti itu? Yasudahlah. Toh semua tak ada yang kebetulan. Allah Ta’ala sudah mengaturnya sedemikian rupa. Untuk yang kesekian kalinya prinsip hidupku diuji kembali. Ujian ini muncul di saat serangkaian cara sedang disusun, agar mimpiku tentang tanah kelahiran mamaku tak jadi nyata. Memang sebuah keharusan bahwa setiap prinsip hidup itu harus diuji, seberapa sabar dan istiqamah dalam menjalani prinsip tersebut. Lembah keambiguan membuat si pencerita hanya mampu beretorika. Sedang sang pencitra bukan pencerita yang baik. Hingga si pencerita terjebak (kembali) dalam zona abu-abu. Sesungguhnya bukan karena sang pencitra yang tidak bisa bercerita. Namun semua karena isyarat-Nya yang telah dikantongi oleh si pencerita setahun silam kala berada dalam ruang vakum duniawi.

kokoliqo

Kondisi (terancam) seperti ini bisa membuat benteng pertahanan secara otomatis kembali menutup. Gembok-gembok yang sempat terbuka, kini mulai mengunci kembali.Bahkan lebih rapat dari yang sebelumnya. si pencerita tak kuasa akan dirinya sendiri. Allah yang Maha Pemilik Hati dan Nyawanya saja yang mampu membolak-balikan keadaan ini.

 

*********

tak mengapa Senja berlalu dari diriku
tak mengapa sang awan terus memayungi sang alam
karena memang… Embun bukan untuk bumi ketika pagi
namun… untuk sang Bulan yang ada di atas sana

Kehidupan ini akan terus merangkak perlahan
berjalan apa adanya
tanpa pernah terputus sedetik pun
karena itu…nikmatilah hidup ini, Bumi
dengan sejuta karya Sang Pencipta yang indah dan mempesona

Aku berjalan ke barat.. matahari mengikutiku di belakang
Ku ikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
Pernah terpikir apakah aku atau matahari yang menciptakan bayang-bayang?
Tak peduli aku atau matahari kah yang harus berjalan di depan. Namun barat adalah arah pasti. dan bayang-bayang menunjukkan arah hingga pada kesimpulan.

Karena hidup bagaikan teka teki, dan takdir pun telah dimulai. Bagai sebilah mata pisau yang dua sisinya sangat tajam. matanya yang kadang redup tapi tiba-tiba hidup. dan mampu mengiris segalanya. Aku hanya segumpal daging merah. dan sedikit darah. Ingin ku tatap segalanya yang penuh dengan isyarat-isyarat dari-Nya. yang timbul dan tenggelam di sela-sela gema dan larik-larik kehidupan.

Perjalanan dan pergerakan Bumi…
Seluruh hidup sepertinya berlangsung dalam sebuah kotak
Sudah berotasi dan berevolusi kemana sajakah Bumi?
Apa yang telah Bumi lakukan…
Lalu siapakah yang meletakkan kotak ini disini? mengurung Bumi di alam bebas atau kah kotak tersebut mampu memberikan kebebasan bagi  Bumi?
Pertanyaan retoris itu terungkap lirih diantara gerak bisu
Lengkap sudah semua yang telah DIA hadirkan dan takdirkan
Tinggal blog inilah yang tersisa, kawan!

Aku ingin ikhlas dan belajar menerima apa adanya, tapi kata yang kurangkai ternyata salah.
Benarkah engkau yang di ujung sana?
Semesta diam tak ada yang mampu terucap
Dan tak ada satu pun pertanyaanku yang bisa terjawab
Hingga shubuh menjelang

*******

Dan aku berkeinginan mencapai tiada yang lain, hanya Yang MAHA TINGGI. ~Hibatunnaeem

Zindegi – Musafir Kehidupan – Konstalasi Orion

Rabu, 2.30 am 27 Maret 2013

Senja Tak Selamanya Jingga

sepanjang malam itu
ku menunggumu seperti tahun lalu
di tempat yang sama dan ternyata kau di sana
namun tak sendiri tapi tak denganku
ku terlukakau acuhkan aku
di saat diri
berharap masih kau seperti yang dulu

(KLBK by Yovie Nuno)

 
Saat ini mentari tengah hilang dalam kelamnya malam. Biasanya kehidupan seakan hilang tertutup oleh hitamnya cahaya dibalik bintang. Aku disini tetap menanti munculnya terang di pagi buta, kala ayam jago masih terlelap. Dahulu, aku berpikir bahwa dunia ini hanya cukup satu bulan untuk menerangi malam atau satu mentari sebagai cahaya siang, hingga nanti aku bisa melihat jalan yang akan kulalui, kutempuh, dan menjaga langkah ini agar tak salah tapak. Namun ketika mentari mulai terbenam serta bulan hilang di balik cahaya mentari, aku yakin cahaya hidupku tak hanya ini, cahayaku harus kucari agar tetap terang menyertai gelak dan kesahku, bermain dalam imaji dangkal yang bisa pupus akan satu cahaya yang kadang tak menyertai hari ini.
 
 
 
Kebingungan acap kali terasa, ketika mentari ada, Aku amat merindukan bulan. Dan ketika gelapku kembali, hidup ini seakan berakhir seiring terbenamnya mentari dalam senja yang musnah saat ku melihat kemuningnya disudut hari. Aku disini tetap menanti, hingga nanti siap mencari dan memantapkan hati.
 
 
 
Ohya, Ini entah tulisan kesekian kalinya tertuju untuk Senja. ¬†Sudah lama rasanya tak menulis untuk Senja. Aku pun tak menyapanya. Karena tak ingin kecewakan hati jika salamku tak terbalas. Tak ingin membuat tanganku bolak-balik memeriksa layar hanya ingin memastikan bahwa Senja tak lagi diam. Tapi percuma saja. Senja tetap diam menyambut kelamnya malam. Itu yang sangat kuhindari. Akan tetapi, entah mengapa pagi buta ini rasanya aku ingin menyapa Senja. Semoga saja ketika petang tiba, Senja membacanya. Aku yakin itu. (PEDE jreng sekaleh yah dirikuh inih. fu fu fu fu fu ūüôā ūüėÄ )
 
 
 
Senja, apa kabar kau di sana? Masih ingatkah denganku? Yap. aku yang sempat singgah dalam kehidupanmu, menggoreskan cerita. Aku teringat obrolan renyahmu, aku teringat dengan celetukanmu yang menginspirasi masa remajaku, aku teringat dengan ulah-ulah kecil yang kamu ciptakan. Apalagi dengan kekonyolan yang sering kamu timbulkan. Sederhana namun indah. Terkenang ūüôā
 
¬†coba buat cover tulisan karya temanku si chichi ‚ÄúSurat Untuk Pangeran Cahaya‚Ä̬†
 
Saat itu, aku dapat merasakan kebahagiaan menjadi remaja yang normal (baca: jatuh cinta). Merasakan dinamika anak remaja. Semua bercampur jadi satu. Otakku sudah tak mampu mengingat kenangan-kenangan kita. Aku baru sadar, ternyata itu hanya cerita sesaat. Sudah tak ada lagi KITA kala petang tiba.
 

Senja, tak banyak harapanku untukmu. Aku tak mau lagi menyakiti diri sendiri karena telah mengharapkanmu, seseorang yang tak akan mungkin berada di sampingmu. Meski acapkali Senja muncul di alam bawah sadarku. Penuh isyarat. Aku tak tau pasti apakah itu hanya sekedar obsesiku semata ataukah Allaah Ta’ala punya kabar suka untuk kemajuan ruhanimu dan keluargamu di masa mendatang? Aku tahu itu walau tak ada yang tak mungkin disini. Namun rasa yang mewarnai benda kecil dalam rongga dada itu sudah (kupaksakan) (meng)hilang. Keadaanku akan lebih baik jika seperti ini. Sepertinya.

 
Aku bersyukur Allah Ta’ala telah menakdirkan kita untuk saling mengenal. Membuat kita saling mengenal walau hanya sesaat, tahun ini genap enam -entah berapa kali panen jagung.Aku tetap yakin bahwa tak ada sesuatu yang sia-sia, sekecil apapun hal itu. Aku yakin, Allah Ta’ala mengenalkan kita bukan tanpa alasan. Berbahagialah bersamanya yang sedang dalam pencarianmu, dan aku akan menggoreskan lukisan dan tulisan baru dalam kehidupanku. Ehya, aku juga suka sekali dengan cuplikan kalimat dalam novel perahu kertas yang kubaca pada tahun 2009:
 
Dan embun tak perlu warna untuk membuat daun jatuh cinta padanya:) ūüėÄ
 
Begitupun Senja. Senja tak perlu jingga untuk membuat Bumi jatuh cinta padanya. Dan, Senja fenomena sederhana, namun penuh makna. (LV)
 

Redup jiwaku kala Senja menghilang

entah apa yang terlukis dalam lembar kehidupan

semua tak nampak indah di pelupuk mata

tali yang dulu pernah coba diikat

kini mulai tak merekat

iringi perasaan yang tumbuh dan hilang perlahan

Namun…
ukiran namamu masih terpatri indah di memori dan sujudku

raut wajahmu masih menguasai alam bawah sadarku
Haruskah ku buang memori

antara kita yang pernah terjadi

Yang tak mungkin lagi kita paksakaan perbedaan ini…
Aku hanya mampu mengenangmu di sudut ruang masa lalu

Kurasa kau tau, sesungguhnya disini aku masih menantimu

dengan sejuta Impian yang ingin ku bangun bersamamu

Dalam satu bahtera yang sama denganku

(Gubahan karya: Resti nurhayati)

 
 
Ya Allah ampunilah kesalahan, kebodohan dan keterlaluanku dalam segala urusan, dan ampuni pula segala dosa yang Engkau lebih mengetahui daripada aku.
(HR Muslim)
 
 
Tertanda: Zindegi РDi Konstalasi Orion Р03.15 am
 
 
 

Conan dan Shinichi tak sama

Hey Rabu! Semangat masih tetap menggebu! Tanpa Ragu ^__^ Januari 2013 sudah hampir habis. Sudah lama juga tidak menulis di blog. Dari akhir 2012 hingga awal 2013, agenda padat yang diikuti dengan segunung tugas dan deadline. karena jenuh dengan setumpuk tugas, tetiba ingin membuka kotak pandora. membuka kembali file-file penuh kenangan saat jaman Remaja dulu (baca: lulus SMA). senyum-senyum sendiri pas baca tulisan ini. malu dan lucu bercampur jadi satu. ternyata aku dulu memang sangat naif dan aneh. eh masih aneh sih sampai sekarang. sempat juga berada dalam fase alay. hihi. yasudalah. namanya juga hidup. ehtapi, sekarang baru terpikirkan. apa dia yang dulu baca tulisanku di bawah ini tersenyum lucu juga kah? apa dia tau ya bahwa dia adalah orang yang kumaksud? secaraaa, ini tulisan gamblang dan polos ala orang yang lagi jatuh cinte. aih maaak! ūüėÄ hehe.

Image

Saat membuka file2 lama di lapti,aku menemukan gambar2 kartun koleksi waktu masih SMA. Dan ada 1 gambar yg menarik hati ku utk melihat lebih jelas. yap. Gambar shinichi dan conan saling berdampingan. Lagi-lagi imajinasi ku memutar kembali kenangan lama.sehingga tangan dan otak ku tergelitik utk mengetik kata2 di catatan. Padahal,catatan yg lalu belum rampung ku sempurnakan. Hehe.

Shinichi dan conan? 2 nama 1 orang. Conan adalah shinichi. Shinichi menjadi conan karena tubuhnya menciut,efek samping dari racun.lalu,conan tinggal bersama kogoro mouri dan putrinya RAN mouri.-cewek yg disukai dan menyukai shinichi-. Tidak ada yg tau bhw conan adalah shinichi,kecuali prof.agasha. Ran merasa sedih,bahwa shinichi menghilang.sampai suatu ketika,shinichi menghubungi Ran bahwa shinichi bakal kembali lg jika semua telah beres.terkadang Ran yg jago karate merindukan shinichi.namun,tanpa dia sadari shinichi sll ada di sampingnya dlm wujud conan.(silakan bc komiknya,utk keterangan lbh jelas).
Nah,dalam kehidupan merasa bahwa cerita remaja q mirip dg cerita Ran dan Shinichi. Tapi itu dulu, namun aq sekarang baru menyadari, bahwa shinichi memang telah pergi ke negri antah berantah.menghilang tanpa jejak.meninggalkan kenangan.hhe. Dan dulu aq sangat berharap dia akan kembali segera.namun,semakin cepat waktu berjalan,aku sadar. Itu sangat tidak mungkin. Lalu, nongol lah manusia berwujud conan. Yg menghibur rasa sedih,dan menguatkan prinsip hidup q. Aq mengira alasan q nyaman berbincang dg nya karena kemiripan sifat dg shinichi.tapi ternyata tidak.tidak mirip secuilpun.dan Sekarang aku tau, bahwa conan dan shinichi tidak sama. Mereka adalah 2 sosok yg berbeda. Sama2 memiliki keunikan dan kelebihan yg khas. Dan lagi-lagi,aq hanya bisa mengatakan TERIMA KASIH.. Terima kasih atas semuanya..
Conan edogawa…shinichi kudou… Sayang jalan yg kita tempuh berbeda..aku hanya bisa berdo’a,supaya kalian mendapatkan Ran mouri versi Aisyah atau Khadijah yg lebih baik..
Tetaplah kalian memecahkan kasus2 kehidupan dan menganalisa hikmah2 di dalamnya.
Keep D.U.I.T. !

(Hhe.kan ngaco lagi. Mengkhayal lagi. Ya setidaknya tulisan ini mampu menyeimbangkan antara otak kiri dan otak kanan q. Loh?! Oiyaa, skrg aq lg mencari orang yg memiliki radar neptunus kayak si KEENAN. Tapi sayang,radar itu belum terdeteksi.hhe. Sepertinya makin ga jelas aja tulisan q. Ga berbobot lagi. -astaghfirullah- udahan yee,ntar kalo di sambung terus,malah nyambung ke mana-mana. Wah,bahayaaa. Antara hidup dan mati. -apaan c?- oke.oke. Subhanaka-llahumma wa bi-hamdika asy-hadu an-laa ilaa-ha illa anta astaghfiruka wa ‘atuubu ilaihi.)

Btw,yg baca ini,dan punya conan yg ke-55,pinjam dong!
ūüėÄ

(15 Desember 2009 jam 11:02)

Gimana? aneh banget khaaan? *gaya ala penyanyi berbulu mata anti badai*

Hey Senja! Conan edogawa itu adalah engkau. dan tahun ini engkau akan mencari Shinee. karena engkau lebih memilih mundur ketika kuhadapkan dengan sejumlah syarat untuk sejalan dengan ku. bekah. (si)apa pun itu yang kau pilih, semoga Allah ta’ala selalu memberkahi hidupmu. Terimakasih ya sudah memberikan banyak kisah dan menjadi inspirasiku dalam menulis. (jiahaha. serasa sudah jadi penulis terkenal saja deh. hehe). lagi ¬†malas untuk menulis yang berat. hanya ingin menulis yang rada¬†selenga-an.¬†Beklah. waktunya kembali ke masa sekarang. Jurnal menanti. tulisan itu bisa menjadi seperti mesin waktu loh. buktinya, sekarang aku sedang melakukan perjalanan dengan¬†mesin waktu¬†ketika membaca tulisan jaman fase Remaja.

(Zindegi. Manusia yang penuh dengan kebiasaan dari negatif tak hingga – positih tak hingga. 22012013. 12.45 pm. Kaki Gunung Ciremai)

!!!

akhirnya orang yang kucintai akan menikah juga. Sejujurnya aku senang dan bahagia mendengar dia akan segera mengakhiri masa lajangnya. Aku senang… karena sebentar lagi dia akan memiliki seseorang yang mencintainya, mengurusnya dan menjadi tempat curahan hatinya. Mungkin… dengan dia menikah, aku lebih tenang. Mempermudahku untuk mengambil langkah kedua dan seterusnya untuk mundur dari namanya.

_______________________

D      U      L     U Р Senja

_______________________

 

Biarlah ku lelah karna menantimu

Asalkan kau tau aku masih menunggumu

Biarlah malam ini sepi tanpa kehadiranmu

Asal kau bahagia di sana bersama rencanamu

Biarlah air mata ini menjadi penghantar tidurku

Asal hati ini tak berhenti merindumu

Biarlah asaku hilang di telan waktu

Asal ku takan pernah membencimu karna egoku

Biarlah aku disini menikmati kesendirianku

Asal esok hari aku masih bisa mendengar kabarmu

Selamat malam Senja(ku)

Sebenarnya,  masih disini menunggu kehadiranmu

Malam ini ,

ku lihat bayang dirimu dalam kegelapan malam

berada diantara tumpukan kata di garis masa yang berserakan

mendekat pada angin malam dalam kegelisahan

Apakah yang telah terjadi ???

Kebisuanmu membuatku tak berdaya, terpaku

habis sudah kata-kata indah dalam labirin otakku

tenggelam bersama ‚Äúkeyakinan‚ÄĚku akan sosokmu

ucapanmu yang slalu ku nanti-nantikan saat kehadiranmu

Bagai hati tersambar petir

saat ku tau, seribu rencanamu

alamat pertanyaanmu tak lagi tertuju untukku

Kenyataan ini yang membuatku getir

Aku tau ,

tetapi mengapa aku tak pernah rela melepas sosokmu

Padahal takdir kita tak mungkin bersatu

Benda di rongga dada ini terasa seperti dicubit sembilu

Ah! Apa boleh dikata, kisah kita berlalu

Dan ada masa kadaluwarsa untuk pertanyaanmu

Aku paham itu

 

aku ingin melihatmu bahagia

agak klise memang nyatanya

tapi begitulah doa untukmu, Senja

 

__________________________

2 tahun yang lalu alamat pertanyaanmu masih tertuju untukku. dan kini segala alamat itu telah berubah haluan. semoga saja pertanyaanmu itu sampai ke alamatnya dengan selamat.

_________________________

 

Image

 

 

(Di akhir malam Jum’at. Sudut Ruangan. Zindegi)

[LAGI] untuk Sang Senja

Ada banyak waktu terlewat
Begitu banyak momen yang tak sempat
Dan segala hati yang tak kau dapat
Tapi ingatlah walau kadang jiwa terbunuh
Jangan kau simpan benci di relung kalbu
Dan harimu ini pastilah jadi lebih indah
Karena rasa hatimu seringan awan
Dan impianmu pun ‚Äėkan jadi nyata

Selamat ulang Tahun Senja

semoga hari ini engkau semakin dewasa

semakin mampu tau kamu siapa

tak perlu menangis sedu jika terluka

dan tak perlu tertawa bangga saat bahagia

hidup untuk memberi

memberi yang berarti

berarti yang tak akan pernah minta kembali

dan kembalilah engkau seperti bayi

sebisamu, semampumu

karena kejujuran itu akan selalu ada

__________________________

Bergerak lah perlahan hai sang waktu
Berhenti lah sejenak walau tuk sekali saja
Karena kali ini tak boleh terlambat
Karena…
Ada¬†ucapan Selamat Ulang Tahun¬†yang harus sampai tepat waktu…
__________________________
Haruskah meniup lilin ketika kamu berulang tahun?
Pentingkah saling melempar kue yang tak termakan?
Perlukah kita membiarkan diri berfoya foya?
Kadang…
Hadiah terbaik datang dari sebuah pemahaman
Maka merenunglah sejenak di hari kelahiranmu
Karena kamu sudah bertambah dewasa sekarang

Selamat ulang tahun aku ucapkan
Biarpun tak semahal berlian
Meskipun tak sewangi bunga mawar
Dan tak seindah rangkaian puisi
Hanya kalimat sederhana yang merangkum semuanya
Dengan doa di setiap sujud

selamat ulang tahun Senja…
di setiap sujud masih selalu ada namamu
Jalani sisa hidupmu penuh semangat
Dan persembahkan cintamu pada hati yang tepat
Di saat tiba hari bahagiamu
Maafkan aku yang tak mampu beri apapun
Tapi izinkan kupersembahkan sesuatu
Walau hanya doa yang tulus di dalam kalbu
Yang terlantun indah untuk kebahagiaanmu

____________
Sampaikan Salam untuk Ummimu

Yang telah melahirkan jiwa nan lugu

Dua Puluh Empat Tahun yang lalu

Merawatmu tanpa ragu

Berbaktilah padanya selalu

________________________

(Zindegi . 24082012. Untuk Senja di Ufuk Timur)