Berbagi Jodoh

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Dewasa ini, aku semakin menyaring setiap hal yang akan kutulis. Berhati-hati dalam becanda atau bertutur kata. Dan kali ini, aku sengaja membuat tulisan tidak ada maksud untuk menggurui. Hanya sekedar berbagi pengalaman. Tulisan ini pun dibuat sebagai sebuah jawaban atas sebuah pertanyaan yang sama dari beberapa temanku.

Sebelum menikah, konsep jodoh suami masih abu-abu bagiku. Terlalu banyak definisi tentangnya. Itu salah satu penyebab munculnya kegalauan pada hati ini. Ditambah lagi invasi pertanyaan yang bertubi-tubi dari keluarga dan kerabat, pertanyaan yang bahkan saat itu aku pun tidak tau sama sekali jawabannya. Pertanyaan yang semakin ekstrim intensitasnya seiring semakin banyaknya koleksi angka pada umurku.

Ada beberapa orang teman yang bertanya kepadaku pasca aku menikah.

“Lika, gimana caranya agar bisa cepat mendapatkan jodoh yang baik?”

Aku terkadang menjawabnya dengan becanda, tanpa sebuah keseriusan. Karena, aku pun termasuk telat mendapatkan jodoh jika dibandingkan dengan hidupku yang telah kurencanakan.Namun, jika dibandingkan dengan masa ta’arufku dengan suami, bisa dibilang cepat untuk menuju pernikahan. Hidupku penuh kriteria, saat itu. Tapi ketika memasuki umur 20, dan dipertemukan dengan pengembara yang hanya sekedar singgah memberikanku pelajaran, aku semakin pasrah dalam arti berserah, bukan menyerah. Setelah itu, aku hanya mempunyai modal keyakinan bahwa Allah pasti telah menyediakan jodoh yang baik untuk saling memperbaiki diri yang belum baik.

Percayalah, manusia hanya bisa menentukan rencana, target, atau harapan. Pada akhirnya Tuhan lah Yang Maha Menentukan.

Meyakinkan diri sendiri akan keberadaan Tuhan bukan merupakan hal mudah. Nabi Muhammad saja membutuhkan waktu belasan tahun untuk mendakwahkan ajaran agamaNya. Karena hal paling esensial dalam beragama adalah mempercayai, Dengan hati, lisan, dan perbuatan.

Begitu juga dengan urusan jodoh. Seperti halnya hujan, seberat apapun awan menggantung di udara, segelap apapun langit saat siang, toh tidak ada seorang manusia pun yang tau apakah benar akan turun hujan. Kita boleh saja menuliskan harap tentang masa depan. Tentang usia berapa kita idealnya menikah, atau menimang anak pertama, atau mengantar mereka ke sekolah. Tidak ada yang melarangnya sama sekali. Namun, akan lebih baik jika itu semua dibalut dalam doa yang tulus. Dengan segenap rasa pasrah akan kebesaran kuasa Tuhan.

Untuk mencapai titik pasrah yang sebenarnya adalah untuk merelakan apa yang sudah terjadi. Mengejawantahkan usaha ikhlas paling murni.

Aku yakin, semua orang punya masa lalu. Punya harapan yang belum terkabul. Punya kenangan yang belum sepenuhnya diajak berdamai. Dan tentu saja punya banyak jalan yang belum dan masih akan harus terlewatkan.Yang di setiap tikungannya menawarkan pengalaman baru. Kesempatan yang lebih segar dan tak terduga.

Dari itu semua itu, kita seharusnya berdiri lebih tegap. Bukan dalam arti menantang datangnya jodoh, tapi memberikan diri ruang lebih lapang untuk berkontemplasi. Kemudian merengkuh rasa pasrah yang tidak bikin gerah. Pasrah yang ikhlas dan menenangkan. Yang bukan menyerah, tapi berserah.

Hampir semua yang bertanya senada padaku, menjawab hal yang sama saat aku bertanya balik kepada mereka atas kondisi hati mereka saat ini.

“Di hatimu saat ini, masih menyimpan perasaan mendalam pada seseorang kah?”

“Iya, Lik. Aku menyimpan rasa terhadap seseorang selama bertahun-tahun. Kamu kok tau?”

Jelas aku tau. Sebab aku pernah ada di fase itu. Dan itu yang paling menghambat doa-doaku selama ini. Aku tak bisa menolak fitrah kita sebagai manusia untuk menyukai seseorang lawan jenis. Akan tetapi, jangan sampai perasaan suka yang sangat mendalam itu menjadi penghambat datangnya jodoh yang sebenarnya.

Menikah itu memang masalah perasaan, tapi libatkan logika di dalamnya agar seimbang. 5 tahun lebih aku memiliki perasaan yang mendalam dan hanya kupendam seorang diri kepada seseorang, yang akhirnya dia pun menikah dengan orang lain. Selama 5 tahun, doa-doaku dalam hal jodoh sedikit memaksa kepada Allah Ta’ala. Doa-doaku masih penuh obses tanpa ada kepasrahan dalam berserah diri. Hingga suatu ketika, Allah memberikanku sebuah pemahaman baru. Sebuah sudut pandang baru yang mengubah caraku berpikir.

Hampir semua dari kita, aku yakin selalu berdoa agar diberikan jodoh terbaik. Namun di saat yang bersamaan, hati kita masih compang camping. Hati kita masih condong kepada satu nama. Secara logika, mana mungkin Allah Yang Maha Penyayang mendatangkan jodoh terbaik saat kondisi hati kita masih seperti itu. Allah pasti akan melindungi dan menjaga hati si jodoh terbaik itu. Allah tidak ingin si dia hanya mendapatkan remehan hati kita yang masih kacau. Bagiku, ini kunci utama sebelum kita berdoa meminta jodoh. Dan aku merasakannya. Aku pun begitu. Begitu aku ikhlaskan semua perasaan yang kupendam 5 tahun, keajaiban doa pun terjadi. Sekarang kembali lagi kutanyakan kepada hati kecil kita, apakah kamu mau dijodohkan dengan orang yang belum bisa mengikhlaskan masa lalunya?

Lelah berikhtiar? Jengah dengan pertanyaan kapan nikah? Itu manusiawi. Nikmati saja.

“Lika, aku kadang merasa lelah. Aku sudah berikhtiar, gak nikah-nikah. Sedangkan temanku yang santai bahkan mungkin biasa saja, pada cepat nikah.”

Pada dasarnya aku sedikit kurang sependapat dengan ungkapan “lelah berikhtiar”. Namun, yang namanya manusia, rasanya naif jika aku menafikan hal itu. Sebab aku pun pernah berada di fase itu. Pasti ada perasaan menyerah dan lemah atas segala usaha yang telah dilakukan.

Tapi, memangnya usaha apa saja yang telah dilakukan? Berkenalan dengan seribu lawan jenis? Atau memasang foto paling keren di sosial media? Atau menanyakan perihal jodoh kepada seluruh kerabat? Atau bahkan ikut serta dalam kegiatan biro jodoh? Jika itu semua telah dilakukan namun hasilnya nihil, mungkin ada baiknya kita melakukan ikhtiar yang lebih mendasar dan sederhana.

Mematut diri di depan cermin. Menenggelamkan diri sedalam-dalamnya ke masa lalu. Tentang apa yang telah kita lakukan untuk menjadi pribadi yang lebih shalih/shalihah. Tentang sejauh mana pengatahuan kita mengenai agama dan hukum muamalah. Tentang seberapa arif kita melerai masalah hidup. Tentang bagaimana hari-hari kita di mata orang lain.

Sabar menunggu dengan istiqamah berdoa dan memantaskan diri dengan sedekah dan istighfar.

Demi Tuhan! Ini memang sulit. Aku tau mengetik kalimat “Sabar menunggu dengan istiqamah berdoa dan memantaskan diri dengan sedekah dan istighfar” jauuuuhhh lebih mudah dibanding melaksanakannya. Sebab aku pernah berada di fase itu. Aku tau benar itu. Untuk bersedekah dan beristighfar secara lisan sangatlah mudah. Istighfar di sini tak hanya sekedar lisan, tapi dalam bentuk amalan.

Fashbir Shabran Jamiilan (Bersabarlah dengan sebaik-baik sabar)

Wa li Rabbika Fashbir (Maka bersabarlah untuk Tuhanmu)

Tolong jangan hakimi aku karena dengan begitu mudahnya menulis hal demikian. Karena aku  yang tidak tau apa-apa ini nyatanya belum menemukan jawaban atau kalimat paling tepat untuk tema tulisan ini. Hanya kalimat itu yang aku rasa pantas menjadi penutup tulisan ini. Semoga menginspirasi dan menguatkan. Sekian.

 

==================

*gambar-gambar dari berbagai sumber yang lupa linknya*

(Konstalasi Orion – 16062016 – Kamis – 03.15 am)

Advertisements

Ada Kisah Di Kereta Malam

Rabu. Semua orang masih saja berbicara tentang fenomena alam yang menunjukan kebesaran Allah ta’ala. Ada 3 jenis golongan yang menyikapi fenomena ini. Pertama, orang-orang yang sibuk mencari tempat yang strategis untuk bisa menikmati gerhana. Baik itu untuk hiburan semata, atau berjualan dadakan untuk tambahan pendapatan. Kedua, orang yang santai dan mungkin nyaris tidak peduli. Toh menurutnya, gerhana atau tidak tetap saja masih sama. Tetap saja masih jomblo yang ngelembur dan judul skripsi ditolak berkali-kali. Dan yang ketiga, orang-orang yang berkumpul di masjid untuk berjamaah shalat kusuf (gerhana).

Bagiku, Rabu itu waktunya quality time dengan suami. Setelah beberapa hari ditinggal kerja dan pulangnya selalu larut malam karena ada sedikit masalah di tempat kerjanya, akhirnya bisa menghabiskan seharian penuh bersama-sama. Dia pun bertanya kepadaku mau jalan-jalan ke mana, tapi aku tidak tega untuk jalan-jalan karena kondisi kesehatannya lagi menurun. Aku memutuskan untuk di rumah saja. Tetiba, ba’da ashar suami (yang sudah rapih dan kegantengannya naik 200%) membangunkanku yang sedang tidur siang. Katanya ingin jalan-jalan naik commuter ke rumah adiknya ayah. Oke, semua yang dadakan selalu jadi. Padahal di luar rumah, awan sudah mendung-mendung manja.

Suamiku orang yang sangat terencana hidupnya. Akan tetapi, dia sangat tau bagaimana membahagiakan istrinya yang seorang sanguinis. Sesuatu yang dadakan selalu menyenangkan bagi istrinya. Selama perjalanan banyak sekali drama yang terjadi.

1. Melakukan hal yang gila, kami mencoba sistem keamanan stasiun. Kami membeli tiket sampai tanah abang, tapi kami naik commuter sampai ke sudimara. Kami berpikir hanya modal Rp 4.000 bisa melakukan perjalanan sejauh 2 jam. Tidak ada yang menegur kami, mulus. Drama dimulai saat di gate out sudimara. Kartunya tidak berfungsi, dan kami didatangi oleh satpam stasiun. Setelah diceramahi oleh sang satpam mengenai aturan mainnya, kami bisa keluar dari stasiun, meskipun uang jaminan hangus. Yap, Rp 20.000 melayang. Aku dan suami tertawa sambil jalan kaki menuju rumah adiknya ayah yang tidak jauh dari stasiun. Yang membuatku tertawa adalah suami bisa juga diajak melakukan kekonyolan bersamaku, jauh dari karakternya. Dan sistem keamanan di stasiun sangat bagus dan teratur.

2. Tetiba hujan saat kami melangkah 20 meter dari stasiun. Hujan deras. Kami basah kuyup ketika tiba di rumah adiknya ayah. Allah ta’ala gak pernah salah dalam mengabulkan doa. Yap, semua adalah ketidaktepatanku dalam berdoa. Aku berdoa tanpa henti saat di perjalanan agar tidak hujan sampai ke stasiun sudimara. Aku memanfaatkan posisiku yang sedang jadi musafir untuk berdoa yang baik-baik. Karena kata ayah, doanya musafir itu sangat mustajab. Benar, sangat mustajab. Aku seharusnya berdoa jangan hujan sampai tiba ke rumah lagi. Oke, bisa dibayangkan kami pun pulang dalam kondisi kedinginan.

3. Di perjalanan pulang, jam 10 malam, kami duduk bersebalahan dengan seorang lelaki tua yang wajahnya kemerah-merahan. Lelaki itu menggunakan baju koko putih dan celana bahan cokelat susu. Aku dan suami sibuk mengobrol tentang banyak hal. Lelaki itu berada di sisi kanan suamiku, dan aku berada di sisi kiri suami. Sesekali aku melirik ke lelaki itu yang mulutnya komat kamit. Kulirik lagi tangannya, ternyata jemarinya sedang disibukan bertasbih. Kulebarkan pandanganku ke sekeliling ruangan, di antara semua penumpang yanh sibuk main gadget, lelaki iu sibuk berdzikir. Aku berinisiatif untuk mengakhiri obrolan dengan suami, karena aku malu hati di samping kami ada yang sedang berdzikir. Kami lalai berdzikir karena kebahagiaan hari Rabu. Di tengah keheningan antara aku dan suami, tetiba lelaki tua yang tidak pernah kuketahui namanya itu menyapa kami.

“Sudah malam, kereta tetap penuh yaa. Padahal hari ini tanggal merah. Ohya, adik2 ini pacaran kah?”

“Kami sudah menikah, pak.” Jawab suamiku.

“Alhamdulillaah, tanpa harus saya tanyakan lagi, kalian berdua pasti orang islam, karena you (sambil nunjuk ke aku) memakai kerudung.” Katanya.

Kami hanya tersenyum karena orang itu sangat asing. Tetapi lelaki itu melanjutkan perkataannya yang seperti ceramah dari tanah abang menuju depok baru. Sebab lelaki itu turun di depok baru. Intinya saja yang akan kutulis di sini.

Beliau menjelaskan hak dan kewajiban suami dan istri. Keutamaan menjadi istri dan kemuliaan menjadi suami. Tetapi beliau selalu mengulang berkali-kali agar jangan pernah meninggalkan shalat dan jangan pernah memakan riba, serta jaga selalu kehormatan dan kesucian diri.

Pesan untuk you (nunjuk ke suami):
– jaga istrimu lebih daripada menjaga diri sendiri. Karena perempuan yang berstatus istri, pesonanya lebih terlihat oleh beberapa orang lelaki di luar sana.
– Istri punya kelemahan malas shalat, tegakan selalu shalat dalam kelurga, insya Allah semua permasalahan akan hilang, Allah pun akan melindungi kalian dari zina dan perbuatan keji lainnya,
– berikan uang yang banyak kepada istri menurut kemampuan you. Maksudnya, lebihkan uang untuk belanja, agar istri tidak bermain dengan riba, tidak menjadi korban peminjaman uang keliling,
– jangan sekalipun menceritakan tentang kecantikan perempuan lain di depan istri. Sebab itu akan mengikis cintanya istri, sama istri pun jangan begitu.

Pesan untuk istri nih:
– jangan bermanis suara selain kepada suami.
– jangan tinggalkan shalat
– takutlah hanya kepada Allah, hingga terhindar dari perbuatan keji
– jangan hanya menggunakan jilbab jika berpergian jauh saja, tapi gunakan jilbab di sekitar rumah, dan saat ada tamu dari temannya suami.
– banyaklah bersyukur agar tidak kufur dari nikmat yg Allah berikan.

Sebenarnya masih banyak lagi obrolan di kereta malam itu. Tapi tak mungkin kujelaskan secara rinci di blog. Selain itu beliau menjelaskan tentang fiqih, tentang psikologi, tentang bagaimana mendidik anak. Beliau juga mengatakan bahwa generasi islam dirusak dari 2 hal: riba dan pernikahan. Bersyukurlah kalian yang menikah dengan yang seiman, ingatkan kerabat dan famili agar tidak menikah yang berbeda iman.

“Saya berdoa agar kalian diberikan anak2 yg shaleh(ah), menjadi penerus islam. Semoga rezeki kalian berlimpah, semoga shalat kalian terjaga, semoga terhindar dari riba, dan semoga segala kebaikan Allah selalu tercurah untuk kalian. Saya sudah memberikan hak kalian, kewajiban kalian adalah sebagai penyambung lidah akan pesan yang saya katakan tadi, semoga kita bisa bertemu kembali dalam kebaikan. Kalau tidak di dunia, semoga bertemu di surga-Nya.”

“Jazakallaah bikhayr, pak. Semoga Allah memberikan keberkahan yang berlimpah untuk hidup keluarga bapak. Aamiin Allahumma aamiin.” Suamiku membalas.

Aku? Aku tak henti mengaminkan setiap kata dan untaian doa yang sangat sejuk di hati. Pesan2nya begitu menamparku. Yap, aku tidak boleh dilalaikan urusan dunia. Begiu indah cara-Mu mengingatkan kami, sungguh indah cinta-Mu kepada kami. Lelaki tua itu malaikat yang diutus oleh Allah untuk menyempurnakan perjalanam kami di Rabu akhir, 11.30pm.

“Assalaamu’alaykum!” Lelaki itu pun meninggalkan kami seraya melambaikan tangan dan tersenyum.

“Wa’alaykumus salaam wa rahmatullaah” kami berdua menatapnya yang keluar dari pintu kereta hingga punggungnya menghilang seiring pintu kereta yang tertutup kembali.

Aku sudah berjanji kepadanya untuk menyambung lidah atas pesan kebaikan darinya. Semoga dengan menulisnya di blog ini, mampu melunasi kewajibanku.

Memang, malaikat itu tanpa sayap, tapi berbaju koko dan bercelana bahan. Sekian.

(09032016 – 11.45pm)

Untuk Kalian Yang Suka Mempertanyakan Kapan Takdir Tiba

19 Nanti, tepat 7 bulan pernikahanku. Banyak hal baru yang sering membuatku kaget. Sebelum menikah, aku punya niat untuk tidak menulis perasaan dan pikiran di blog ini yang menyangkut pernikahanku. Cukup aku dan Tuhan yang tau roller coaster pernikahanku seperti apa, dan  semesta cukup tau bahwa aku dan suami bahagia. Sebab nyatanya demikian.

Hingga kemarin pagi, saat menghadiri walimatul ‘ursy tetanggaku. Aku terusik dengan sebuah pertanyaan sekaligus pernyataan yang selalu tertuju kepadaku dari 3 hari pertama menikah. Awalnya, pertanyaan itu masih merdu terdengar. Bulan kedua, masih bersahabat di gendang telingaku. Bulan ketiga hingga sebelum Minggu pagi (14/02/2016), aku semakin cuek menghadapinya. Kalau lagi mood cukup kujawab “mohon doanya”. Sedangkan kalau lagi badmood, hanya kujawab dengan senyum formal. Sering aku bercerita kepada suamiku tentang pertanyaan itu yang semakin lama kubiarkan, semakin mengganggu di telinga dan bahkan sampai ke hati. Namun suami selalu menenangkanku. Sikap suami yang menguatkanku, dan menjaga kebahagiaan hidup kami yang tak terusik dengan pertanyaan tersebut.

Sampai ketika muncul pertanyaan yang senada dan pernyataan yang beraroma kata kerja perintah. Yang akhirnya mengusikku sedikit Minggu pagiku yang cerah. Keinginan kuat untuk sharing di blog pun muncul. Sengaja kuendapkan tulisan ini beberapa malam. Namun, aku ingin membuka mata siapa saja yang membaca blog ini. Ingin meminta agar mereka sedikit empati akan kondisi orang lain.

“Siapa nih yang bakal hamil duluan? Ayo dong buruan! Lomba dan balap untuk segera punya momongan!” Kurang lebih begitulah kalimat yang kudengar Minggu pagi. Beberapa orang menyatakan hal serupa kepadaku dan kepada pengantin perempuan tersebut. Biasanya hanya kurespon “mohon doanya”, atau tersenyum kecut. Namun, pagi itu aku ingin jujur dan ingin panjang lebar.

“Lomba? Memangnya Lomba makan kerupuk. Dikira lagi 17an? Maaf ya bu, percaya sam takdir gak? Jodoh, rezeki, momongan, dan maut, itu takdir Allah. Semua kuasa-Nya. Gak ada yang harus dipercepat atau diperlambat, kalau memang sudah waktunya. Tau gak bu? Kalimat ibu tadi mengganggu saya pribadi. Sekarang saya tanya balik, “kapan ibu mati? Ayo bu buruan mati. Lomba mati dengan saya.” Gimana perasaan ibu kalau orang sering bertanya seperti itu?

“Loh kok mati sih? Amit-amit deh mati sekarang. Lagipula mana saya tau kapan saya mati. Bahkan ada yang koma bertahun-tahun, karena takdirnya belum mati, jadi hidup lagi. Itu kan takdir, hanya Tuhan yang tau.”

“Nah! Di situ bu poinnya. Ibu sadar dan paham betul. Tapi kenapa ibu masih saja mempertanyakan takdir yabg tidak bisa dipercepat atau diperlambat oleh manusia? Bukankah kematian dan keturunan merupakan rahasia besar kehidupan yang hanya Allah saja yang tau. Seharusnnya ibu mendoakan kami agar diberi keturunan yang shaleh(ah), kalaupun belum tiba waktunya, ibu seharusnya menyemangati kami dan menguatkan kesabaran kami. Bukan dengan disuruh lomba. Menikah dan memiliki anak itu bukan sebuah ajang perlombaan bu.”

Akhirnya suasana hening, dan aku pergi setelah berpamitan dengan pengantin perempuan. Meninggalkan ibu itu yang sekarang wajahnya dibaluti rasa bersalah. Mungkin dia sedang menyesali pertanyaannya yang selama ini hanya kujawab dengan senyum kecut. Tapi tidak untuk Minggu pagi itu.

Biasanya pertanyaan senada yang selalu menanyakan kapan takdir itu datang, dilontarkan oleh mereka yang gak tau mau bicara apa. Hanya sekedar basa basi yang basi. Hanya karena gak punya pembahasan lain. Mungkin Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam memerintahkan kita untuk diam jika tidak bisa berkata yang baik, salah satunya untuk menghindari pertanyaan atau pernyataan yang (menurutku) banyak mudharatnya.

Siapa yang tidak ingin menikah? Siapa yang tidak ingin memiliki keturunan? Siapa yang tidak ingin memiliki rezeki dan hidup mapan? Siapa yang tidak ingin mati dalam husnul khatimah? Semua orang pasti mau. Tolong jangan bertanya kapan. Sebab jawabannya hanya ada di ujung langit.

Kami yang masih mengusahakan dan menanti takdir, butuh doa dan ketenangan batin. Pertanyaan tersebut sama saja seperti gencatan senjata. Tolong untuk siapapun. Jangan pernah menanyakan yang bahkan dirimu sendiri tak pernah tau jawabannya. Berempati dan hargailah usaha dan perasaan kami. Aku saja yang mau 7 bulan menikah, menjadi sedih dan merasa stress. Bagaimana dengan yang sudah bertahun-tahun dalam penantiannya? Tolong pikirkan perasaan yang lain. Jangan membuat kami menjadi patah arang dengan pertanyaan takdirmu. Apakah kalian ingin menjadi penyebab kami mengkufurkan nikmat Allah dan menjadi penyebab kami menyalahkan takdir Tuhan? Kami sudah terlalu lelah dengan usaha dan doa dalam penantian. Tak usahlah bertanya kapan dan yang sering berujung sebagai nada menyalahkan akan takdir yang belum tiba. Cukup doakan kami dan berikan kekuatan agar kami diberi kesabaran. Itu jika memang kalian benar-benar peduli. Toh jika telah tiba waktunya, kami pun akan berbagi kabar dengan kalian. Tak akan kami sembunyikan. sekian.

(Selasa, 16 Februari 2016)

Satu Purnama Yang Halal

Ternyata benar, bahagia memang bisa terlahir dari hal-hal sederhana.

ditemukanmu, dicintaimu, dan dimilikimu, salah satunya.

Maha Baik Tuhan, memberikan kita restu dalam halalnya cinta.

Lengkap dengan segala bahagia-bahagia.

tumblr_me5co3urYC1qzqp9to1_1280

Aku tidak pernah memimpikan bahagia yang bermewah-mewah.

Bahagia juga tidak harus mengelilingi setiap sudut kota di seluruh dunia.

Cukup bersamamu, di segala tempat dan suasana, bahagiaku seketika itu tercipta.

Aku menyebutmu sebagai rumah.

Tempat memulangkan cinta, rindu, bahagia, dan gelisah.

Tubuhmu sehangat-hangatnya pelukan.

Pun tingkahmu sehangat-hangatnya kerinduan.

Terimakasih, Ahmad.

Karena kau telah ajarkan aku bagaimana membahagiakan bahagia.

Terimakasih, Ahmad.

Karena kau telah memberikan kesempatan kepadaku untuk berperan sebagai seorang istri.

Bersamamu, bahagiaku perlahan tapi pasti tumbuh sempurna.

Dalam kasih cinta.

Dalam hangat doa.

Dan, dalam restu dari-Nya.

Sang Empunya Kehidupan.

-Sekian-

1

(Konstalasi Orion – Rabu – 19082015 – 11.15 pm)

Tata Cara Mengerjakan Shalat Gerhana (Kusuf)

Buletin Kita

Apabila teradi gerhana bulan atau gerhana matahari, Islam menganjurkan pengikutnya agar melaksanakan shalat dua rakaat. Shalat ini disebut shalat Muakkadah, yaitu sunnat yang boleh dikatakan selalu dikerjakan oleh Rasulullah (Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam) bila terjadi gerhana (bulan atau matahari).

Jika gerhana terjadi pada waktu-waktu dimana tidak boleh dilakukan shalat fardu, maka shalat gerhana ini boleh dikerjakan pada waktu tersebut. Demikianlah fatwa Imam Syafi’i dari hadits Rasulullah (Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam).

(Saat hendak) shalat Kusuf, tidak disunnatkan untuk Adzan dan Iqamat. Hanya diserukan kalimat:

الصَّلاَةَ جَامِعَةٌ

(Datanglah Untuk Shalat Bejama’ah)

Tata Cara Mengerjakannya:

Menurut keterangan ulama seperti Imam Malik, Imam Syafi’i dan Laits dari itu, bahwa shalat Gerhana (Kusuf) dilakukan 2 rakaat, dan tiap-tiap rakat mempunyai 2 kali ruku (jadi mempuyai 4 ruku’ dan 4 sujud dalam 1 rakaat).

  1. Ucapkan Takbiratul Ihram, kemudian baca do’a Iftitah seperti bacaan dalam shalat biasa. Lalu membaca Al-fatihah dan ayat Al-Qur’an…

View original post 773 more words

Solusi Referensi Skripsi

Halo, mau sharing buat Pejuang Skripsi dan yang mau skripsi  , salah satu kesulitan yang sering dialami Pejuang Skripsi itu adalah mencari referensi. Entah itu buku atau Jurnal Ilmiah. Ternyata, negeri ini punya e-Resources, dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Di e-Resources ada ratusan ribu buku, jurnal ilmiah, dll yg dapat menjadi sumber referensi untuk skripsi kita. Cara utk mengeksplor e-Resources ini sangat mudah

1. Mendaftar keanggotaan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di http://keanggotaan.pnri.go.id/ atau datang langsung ke Perpustakaan Nasional. Ingat pendaftaran ini GRATIS lho guys

2. Setelah mendaftar, kalian akan mendapat nomor keanggotaan dan password yg langsung dapat digunakan untuk login e-Resources, cukup login di http://e-resources.pnri.go.id/     dan kalian dapat mengakses ratusan ribu bahkan jutaan sumber referensi dari ProQuest, SAGE, Balai Pustaka, American Library Association, dll

3. Info lebih, buka http://www.pnri.go.id/CaraRegistrasiEresource.aspx atau melalui email layanan_eresources@pnri.go.id

Mohon dengan sangat bantu sebar ke sesama mahasiswa, semoga dengan membantu menyebar informasi ini menjadi amal ibadah bagi kita. Hidup Mahasiswa!