Kala Dokter Telah Memvonis

Setelah dokter memvonisnya, semua pun berubah drastis. padahal sebelum chekc up, keadaannya jauh lebih baik dari sekarang. Niat hati hanya ingin mengetahui penyakit apa yang tengah dideritanya, ternyata berita dari dokter hanya membuat lelaki tua itu semakin stress. Harusnya dokter tidak memberitahu hasil Lab di depan Abah. Namun, apa mau dikata. Semua terlanjur diketahui oleh ayah dari mamaku. aku tak tega melihat lelaki yang telah kurus di makan usia duduk termenung senidirian. Entah apa yang sedang ia pikirkan. kulihat dari kedua bola matanya, jauh sekali ia berpikir. seorang phlegmatis yang melankolis, sang pemikir ulung.

 

inilah yang membuat ku tidak suka dengan rumah sakit dan dokter. bukannya membuat sembuh, justru malah membuat orang tidak semangat lagi menjalani hidupnya setelah mendengar vonis yang diberikan. akan tetapi, aku pun tidak adil jika memvonis dokter seperti itu. begitulah tugas dokter, pikirku dalam hati.

 

Sejujurnya, aku pun paranoid setelah mendengar vonis itu. beberapa orang yang kusayangi meninggal karena vonis yang sama. sebenarnya vonis itu hanya penyebab saja. semua makhluk yang bernyawa pasti akan mati. begitulah janji ALLAH ta’ala yang tak bisa kueelak. seperti yang ayahku pernah katakan, sangat mengerikan jika orang meninggal tanpa ada penyebabnya. justru penyakit atau sejenisnya membuat kita tidak kaget dalam menghadapi kematian. kematian itu memang dekat. sangat dekat. belum tentu mereka yang sudah divonis oleh dokter, meninggal lebih dulu. bisa saja aku yang lebih dulu mendahului mereka. itu sebuah kebolehjadian dalam hidup.

 

Abah saja yang baru divonis oleh dokter, sudah memikirkan terus hingga tidak bisa tidur. apalagi mereka yang hidupnya sudah divonis oleh dokter tinggal beberapa waktu lagi? ah! tak bisa kubayangkan perasaan yang bercokol di dalam hati mereka. dari sini aku paham. mengapa kematian itu dirahasiakan oleh ALLAH. supaya kita selalu siap sedia jika suatu saat ALLAH mengambil kembali nyawa dari jasad nan fana ini. agar kita fokus dalam menjalani hidup nan sebentar di dunia yang fana ini. jika semua orang telah mengetahui kapan ajalnya tiba, rasanya aneh saja. di sinilah tantangannya. mempercayai sesuatu yang pasti di dalam sebuah ketidakpastian. seperti halnya kita beriman kepada ALLAH. jika ALLAH berwujud, tidak ada tantangannya. karena fitrah manusia percaya terhadap sesuatu yang tampak dan berwujud. kita beriman kepada ALLAH ta’ala yang ada di dalam ketiadaan (wujud-Nya).

 

kadang aku termenung. enak sekali dokter itu. memvonis dan menentukan umur orang seenak jidatnya. bukankah yang memiliki hidup ini adalah ALLAH ta’ala? tapi (lagi-lagi), itulah tugas manusia (baca: dokter). dengan ilmu yang dititpkan kepada segelintir manusia (baca: dokter), mereka hanya berusaha menduga. namun tetap saja, yang menentukan hasil akhirnya, tombol mana ¬†yang harus ditekan adalah kehendak ALLAH Subhannahu wa ta’ala. YES/ NO/ CANCEL.¬†kita manusia hanya berusaha dan berdo’a.

 

Ayo Abah dan para orang yang telah divonis oleh dokter, tetap semngat dalam menjalani hidup! penyakit itu hanya alasan saja. semangat hidup adalah segalanya. jangan bersedih lagi yaaa… Bisa saja yang duluan menghadap ALLAH adalah orang yang sehat bugar. Kita Buktikan bahwa vonis dokter itu tak selamanya tepat dan benar.

 

 

(Manislor. Sang Petarung waktu – Musafir kehidupan – Pemulung Hikmah)

Advertisements