Nisa dan Al-Qur’an

Kegiatan rutinku setelah shalat Maghrib adalah menemani anak-anak kecil untuk membaca Al-Qur’an di teras Masjid, bercerita akan sejarah Islam, dan terkadang diselingi dengan mendengar curahan hati mereka masalah di sekolah atau masalah dengan teman-temannya di madrasah. Sekalipun kegiatanku dari pagi hingga sore sangat padat dan terkadang baru selesai ketika adzan maghrib bergema, entah ada energi darimana, aku selalu ingin bertemu mereka di masjid. Mungkin aku mulai jatuh cinta dengan duniaku sekarang, ataupun aku mulai bisa menerima kehidupan. Sehingga aku tak pernah mengenal lagi sang lelah dan si letih.

 

Cinta yang terindah ketika cinta kita seperti gayung bersambut. Tidak bertepuk sebelah tangan. Aku menjadi orang yang istimewa di antara anak-anak yang membalas cintaku. Mereka membalas cintaku tanpa syarat. Senyuman nan polos yang selalu kurindukan yang bergelayut di wajah mereka. Aku menemukan optimisme dan semangat hidup yang selalu terpatri pada sinar mata mereka.

 

Aku selalu membagi waktu dalam belajar. 15 menit untuk mengaji, dan sisanya untuk bercerita serta tanya jawab hingga adzan Isya berkumandang. Namun ada salah seorang yang menarik perhatianku. Dia selalu izin pulang ke rumah setelah membaca Al-Qur’an. Padahal neneknya selalu menitipkannya kepadaku  untuk dididik. Justru yang membuat anak-anak lain bertahan hingga adzan Isya, karena aku selalu memberikan snack atau permen di akhir belajar. Akan tetapi, dia tak menghiraukan semua jurus rayuanku. Dengan hati yang teguh, dia tetap pulang.

 

NISA. Nama salah seorang muridku. Seorang gadis kecil yang berumur 9 tahun. Sejak lahir dia telah diadopsi oleh sepasang suami istri yang telah lama mendambakan kehadiran seorang anak. Meskipun anak adopsi, kasih sayang yang diberikan untuk Nisa tak bedanya seperti anak kandungnya. Ayah angkat Nisa orang Sunda dan Ibunya orang Jawa.

 

Kemarin sore saat pulang ke rumah, aku bertemu dia di jalan. Seperti biasa, aku menyapa mereka dengan salam dan menghampiri mereka untuk berjabat tangan. Aku berusaha untuk mendidik mereka dengan memberikan contoh, tidak hanya teori.

 

“Assalamu’alaykum wa rahmatullaah… neng geulis.” Aku pun turun dari motor dan menghampiri 2 orang anak yang sedang duduk di teras rumah.

 

“Wa’alaykumussalaam, teh Iko.” Mereka bangkit dan menyambut tanganku.

“Teh Iko darimana? Baru pulang yaa?” saut salah seorang di antara mereka. Dia lah Nisa.

“Iya. Neng Nisa. Teteh baru pulang.” Aku pun tersenyum.

“Teh Iko, Nisa mau setor hapalan Al-Baqarah nih. udah lama ga nyetor.” Tukas Nisa sedikit protes.

“Iya nih. teh Iko sekarang susah ditemui, bisa ketemu  Cuma habis maghrib aja. Padahal kami kan tiap ba’da Ashar mau nyetor.” Ira pun menimpali perkataan Nisa.

“Waaah… atuhlah maaf, neng. Teteh sekarang mah sudah padat. Hayu atuh sekarang saja ke rumah teteh, mumpung belum adzan maghrib.” Akhirnya aku mengjak mereka ke rumahku.

 

Setelah menyimak dan memperbaiki hapalan mereka, kami pun bercengkrama di ruang tamu. Seperti biasa, mereka selalu menceritakan kekesalan mereka kepada teman-teman di sekolah yang selalu menjahili mereka. Memang dua anak ini adalah anak-anak yang selalu jadi objek penderita di sekolah. Lagi-lagi alasannya karena mereka BERBEDA. Ira yang terlahir subur, sehingga perawakannya tidak seperti anak-anak perempuan di sekolah yang kurus-kurus. Kalau Nisa, karena anak-anak yang lain tahu  bahwa Nisa adalah anak adopsi. Perbedaan itulah yang membuat mereka selalu dihina dan dipojokan. Begitulah anak-anak. Belum dewasa dalam menghadapi perbedaan. Ternyata fenomena ini selalu ada di setiap generasi. Aku kira hanya ada ketika aku masih kecil. Rupanya sudah membudaya. Jadi, jika ada orang yang tidak bisa menghadapi perbedaan dengan bijak, tak ubahnya seperti anak kecil yang masih ingusan.

 

Sekonyong-konyong, rasa penasaranku mencuat kembali. Aku bertanya kepada Nisa, mengapa ia selalu pulang setelah membaca Al-Qur’an. Tak kuduga. Jawabannya meleset jauh dari dugaanku. Semenjak Jemaat Ahmadiyah menganjurkan program bagi seluruh generasi untuk 3M (Mari Maghrib Mengaji, Matikan TV, Menghapal Al-Qur’an), aku berusaha untuk menerapkan program itu di Masjid Al-Jihad. Aku kira Nisa hanya ikut mengaji saja, lalu pulang ke rumah karena ingin menonton TV. Akan tetapi, semua perkiraanku salah. Jawabannya membuatku tercengang dan haru.

 

‘Teh, Nisa mintaa maaf yaa… setiap habis ngaji, Nisa selalu pulang ke rumah.”

“Memang kenapa kamu pulang?” aku masih penasaran.

“Soalnya Nisa harus ngajarin mama ngaji, teh.”

“hah? Kok kamu yang ngajarin mamamu?”

“mama belum bisa ngaji teh. Tapi, alhamdulillaah sekarang mama bisa ngaji. Sudah Iqra’ 2.” Dia pun tersenyum bahagia.

 

Jreg. Aku benar-benar tak menemukan sinar kebohongan di matanya. Dan aku baru sadar, mengapa neneknya selalu memohon padaku untuk mendidik Nisa dan mengajarkan Nisa membaca Al-Qur’an, ternyata mamanya buta aksara Arab. Sedangkan ayahnya merantau ke Jakarta. Sehingga Nisa hanya belajar di madrasah dan di Masjid. Muncul rasa prihatin. Seharusnya seorang perempuan, sekalipun hidupnya hanya di kasur, dapur, dan sumur, harus memiliki ilmu yang lebih. Karena sebagai bekal untuk mendidik keturunannya.

 

Aku baru tau. Ternyata mamanya Nisa baru bergabung dengan Organisasi Islam Ahmadiyah setelah menikah dengan ayahnya. Aku pun tak heran lagi jika ia buta aksara Arab. Karena di luar sana masih banyak orang yang hanya Syahadat dan Shalat, tapi cuek dengan Al-Qur’an. Sedangkan di Jemaat Ahmadiyah, sangat fokus dan membuat program agar anggota-anggotanya tidak cuek dengan Al-Qur’an dan Agama Islam.

 

Aku salut dengan gadis kecil itu. Dia berusaha untuk mengajarkan Al-Qur’an dengan kemampuannya yang terbatas. Dia berusaha menerapkan hadis yang selalu saya bacakan ketika belajar. “Khayrukum man ta’allamal qur’an wa ‘amalahu”. “sebaik-baiknya kamu adalah yang mempelajari All-Qur’an dan mengajarkannya (kepada orang lain).”

 

Semoga Allah selalu memberkahinya dan memberikan karunia. Semoga dia tergolong anak yang Shalehah. Aamiin Allaahumma Aamiin. Dan Adzan Maghrib pun bergema di sebelah barat rumahku. Keheningan Senja berubah menjadi syahdu karena sudah waktunya memenuhi panggilan Allah sebagai rasa syukur akan nikmat hari ini.

 

 

(Manislor. Sang Petarung waktu – Musafir kehidupan – Pemulung hikmah)