Darah Orang Ahmadiyah Halal (?)

Sabtu Malam tak jauh berbeda dengan malam yang lain. Aku masih saja berkutat dengan deadline dan berbagai jenis tugas. tak seperti orang lain yg mainstream. Mereka menyambut Sabtu dan Minggu dengan agenda liburan yang menyenangkan. Meski begitu, aku sangat menikmati ketidaknormalan ini. Di antara setumpuk tugas, aku berusaha untuk me-refresh otak yang sudah mulai terasa jenuh. Menulis di blog ini salah satu cara yang kugemari. Kali ini bukan ingin menumpahkan perasaan hati atau tentang Senja. Hanya ingin berkomentar dengan  yang tertulis seperti di judul pada postingan ini. Baiklah.

Akhir Januari kemarin, saya dan beberapa rekan dari redaksi Buletin Kita telah mengikuti pelatihan membuat dokumentasi audio video. Pelatihan yang dibimbing dari Perkumpulan 6211merupakan pelatihan yang pertama dan akan berlanjut setiap bulannya secara berkala. Kali itu, tugas pertama kami adalah membuat tahap persiapan sebelum membuat sebuah video singkat tentang masalah yang pernah dan sedang dihadapi pada komunitas kami (baca: Ahmadiyah).

Kuakui. Untuk menjadi Seorang Ahmadi Muslim tak mudah. Taruhannya adalah nyawa. Bahkan untuk mengumandangkan adzan saja, tak diizinkan menggunakan speaker. Mereka memaksa kami untuk mengucapkan syahadat yang berbeda. padahal syahadat kami adalah: ASYHADU A(N)LLAA ILAAHA ILLA-ALLAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMAD RASULULLAAH. Banyak kesulitan yang kami hadapi. dari Penyegelan Masjid-Masjid yang dibangun dari swadaya orang ahmadi, KUA tidak mau  menikahkan kami sebagai orang islam, Tidak boleh mencantumkan agama Islam pada KTP, dan (awalnya) yang membuat bulu romaku berdiri adanya beberapa ulama yang mengatakan bahwa darah orang ahmadiyah halal. Hingga 3 orang Ahmadi Indonesia syahid dikeroyok orang yang mengatasnamakan orang-orang yang mencintai Rasulullaah Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Sedari kecil aku juga sudah merasakan bagaimana rasanya diintimidasi hanya karena aku mengakui bahwa Imam Mahdi telah datang. Nilai agamaku pun ditindas. haha. tak masalah. Sekali pun dunia menjauhiku, tak akan membuat ku gentar untuk menyampaikan kebenaran. Allah ta’ala selalu menemaniku.

Baiklah. kembali lagi ke pelatihan audio video yang sedang membahas tahap persiapan. Kami disuruh membuat naskah yang akan diucapkan saat peliputan nanti. Salah seorang rekan mengambil topik tentang DARAH ORANG AHMADIYAH HALAL. Baru saja ia menyebutkan topiknya saat presentasi, bulu kudukku kembali berdiri. merinding. Aku membayangkan kembali kejadian syahidnya 3 orang ahmadi di cikeusik. Aku pun teringat kembali dengan ceramah-ceramah di radio dan di masjid ketika aku masih berdomisili di Lhokseumawe. Pokoknya, semua kejadian buruk itu terputar kembali di amigdalaku.

Ehtapi, semua yang dipresentasikan oleh rekanku, tak seseram judulnya. Jika ditilik dari judulnya, sejenak pikiran kita ke arah yang negatif. darah itu dalam bayanganku berarti pembunuhan. pertumpahan darah. eits! jangan su’uzhan dulu. Benar sih yang “difatwakan” oleh sebagian ulama bahwa darah orang ahmadiyah itu halal. Hingga di organisasi Islam Ahmadiyah memiliki kebiasaan rutin setiap bulan untuk mendonorkan darahnya. dan setiap cabang Ahmadiyah baik di Indonesia atau pun di negara lain, membentuk KDD (Keluarga Donor Darah). Setiap kegiatan besar pun, Ahmadiyah sering membuka posko untuk donor darah. dan itu semua dilakukan secara sukarela tanpa meminta bayaran. Bahkan Palang Merah Indonesia ketika kekurangan stok darah, tak segan untuk meminta langsung kepada orang Ahmadi yang golongan darahnya sesuai dengan yang mereka butuhkan. Di cabang Manislor saja, sekali diadakan aksi donor darah, minimal 100 labu darah yang telah berada dikantong PMI. itu hanya satu desa, belum lagi di desa dan kota bahkan negara yang lain. Donor Darah kini menjadi gaya hidup orang Ahmadi Muslim.

Di sini terbukti bahwa fatwa itu diterapkan oleh seluruh orang. Darah Orang Ahmadiyah memang Halal dan sangat halal. Buktinya dipakai dan disumbangkan bagi orang yang bukan Ahmadiyah.Mungkin, kalian yang sedang membaca tulisan ini, bisa jadi telah memakai darah yang disumbangkan oleh orang ahmadiyah. Dan tak perlu diragukan lagi, Ulama telah melabel bahwa darah orang Ahmadiyah itu halal. 🙂

Ternyata selama ini aku terlalu berpikir negatif dengan perkataan tersebut. Padahal jika dihadapi dan dipikirkan dengan tenang tanpa prasangka apapun, justru ada hikmah yang dapat diambil. jika LOVE FOR ALL HATRED FOR NONE yang menjadi moto organisasi Ahmadiyah dapat dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, baik perilaku atau pola pikir, maka tak akan ada prasangka buruk yang akan membuat bulu romaku merinding lagi. Karena kita semua bersaudara.

Kini, meski orang Ahmadiyah selalu dimusuhi atau dituduh sesat dan kafir, namun Tak Akan akan membuatku ragu lagi untuk mendonorkan darah untuk sesama manusia yang memerlukan, apapun agama dan keyakinan mereka. karena darahku dan darah orang ahmadiyah telah memiliki Label dari Ulama: HALAL.  So, siapa yang ingin mencoba kehalalan darah kami? silakan hubungi kami. atau bahkan ingin bergaya hidup seperti orang ahmadiyah yang rutin mendonorkan darahnya? Silakan. temukan kenikmatan baik dari segi psikis atau pun kesehatan raga! Raga Sehat, Orang lain selamat, jadi manusia bermanfaat! 🙂 😀

_____________________________________________

10.15 pm di sudut penantian

Zindegi. Musafir Kehidupan dari negatif tak hingga sampai positif tak hingga. Pemulung Hikmah Kehidupan.

Kala Dokter Telah Memvonis

Setelah dokter memvonisnya, semua pun berubah drastis. padahal sebelum chekc up, keadaannya jauh lebih baik dari sekarang. Niat hati hanya ingin mengetahui penyakit apa yang tengah dideritanya, ternyata berita dari dokter hanya membuat lelaki tua itu semakin stress. Harusnya dokter tidak memberitahu hasil Lab di depan Abah. Namun, apa mau dikata. Semua terlanjur diketahui oleh ayah dari mamaku. aku tak tega melihat lelaki yang telah kurus di makan usia duduk termenung senidirian. Entah apa yang sedang ia pikirkan. kulihat dari kedua bola matanya, jauh sekali ia berpikir. seorang phlegmatis yang melankolis, sang pemikir ulung.

 

inilah yang membuat ku tidak suka dengan rumah sakit dan dokter. bukannya membuat sembuh, justru malah membuat orang tidak semangat lagi menjalani hidupnya setelah mendengar vonis yang diberikan. akan tetapi, aku pun tidak adil jika memvonis dokter seperti itu. begitulah tugas dokter, pikirku dalam hati.

 

Sejujurnya, aku pun paranoid setelah mendengar vonis itu. beberapa orang yang kusayangi meninggal karena vonis yang sama. sebenarnya vonis itu hanya penyebab saja. semua makhluk yang bernyawa pasti akan mati. begitulah janji ALLAH ta’ala yang tak bisa kueelak. seperti yang ayahku pernah katakan, sangat mengerikan jika orang meninggal tanpa ada penyebabnya. justru penyakit atau sejenisnya membuat kita tidak kaget dalam menghadapi kematian. kematian itu memang dekat. sangat dekat. belum tentu mereka yang sudah divonis oleh dokter, meninggal lebih dulu. bisa saja aku yang lebih dulu mendahului mereka. itu sebuah kebolehjadian dalam hidup.

 

Abah saja yang baru divonis oleh dokter, sudah memikirkan terus hingga tidak bisa tidur. apalagi mereka yang hidupnya sudah divonis oleh dokter tinggal beberapa waktu lagi? ah! tak bisa kubayangkan perasaan yang bercokol di dalam hati mereka. dari sini aku paham. mengapa kematian itu dirahasiakan oleh ALLAH. supaya kita selalu siap sedia jika suatu saat ALLAH mengambil kembali nyawa dari jasad nan fana ini. agar kita fokus dalam menjalani hidup nan sebentar di dunia yang fana ini. jika semua orang telah mengetahui kapan ajalnya tiba, rasanya aneh saja. di sinilah tantangannya. mempercayai sesuatu yang pasti di dalam sebuah ketidakpastian. seperti halnya kita beriman kepada ALLAH. jika ALLAH berwujud, tidak ada tantangannya. karena fitrah manusia percaya terhadap sesuatu yang tampak dan berwujud. kita beriman kepada ALLAH ta’ala yang ada di dalam ketiadaan (wujud-Nya).

 

kadang aku termenung. enak sekali dokter itu. memvonis dan menentukan umur orang seenak jidatnya. bukankah yang memiliki hidup ini adalah ALLAH ta’ala? tapi (lagi-lagi), itulah tugas manusia (baca: dokter). dengan ilmu yang dititpkan kepada segelintir manusia (baca: dokter), mereka hanya berusaha menduga. namun tetap saja, yang menentukan hasil akhirnya, tombol mana  yang harus ditekan adalah kehendak ALLAH Subhannahu wa ta’ala. YES/ NO/ CANCEL. kita manusia hanya berusaha dan berdo’a.

 

Ayo Abah dan para orang yang telah divonis oleh dokter, tetap semngat dalam menjalani hidup! penyakit itu hanya alasan saja. semangat hidup adalah segalanya. jangan bersedih lagi yaaa… Bisa saja yang duluan menghadap ALLAH adalah orang yang sehat bugar. Kita Buktikan bahwa vonis dokter itu tak selamanya tepat dan benar.

 

 

(Manislor. Sang Petarung waktu – Musafir kehidupan – Pemulung Hikmah)